LOGINSatria dulu memang tidak pernah benar-benar memikirkan seperti apa masa depan rumah tangganya bersama Nadine.Ketika masuk ke dalam keluarga Kertasoedibyo, ia sadar sepenuhnya dengan apa yang sedang dilakukannya. Jujur saja, pada masa itu yang benar-benar memenuhi pikirannya hanyalah bagaimana Rylee Logistics bisa terus berjalan.Perusahaan itu ia bangun dari puing-puing usaha milik papanya yang pernah hancur dan nyaris tidak menyisakan apa pun. Ia membawanya dari Manado, lalu membangunnya kembali sedikit demi sedikit dengan tangannya sendiri di ibukota.Namun ketika akhirnya menjalani pernikahan dengan Nadine, Satria tidak pernah setengah-setengah.Sebagai suami ia mengambil tanggung jawab itu sepenuhnya.Ia menjadikan Nadine pasangan hidupnya. Perempuan yang membutuhkan seorang suami dan rekan.Saat itu Satria benar-benar percaya bahwa ia bisa membawa rumah tangga mereka menuju bentuk keluarga yang selama ini ia inginkan.Sebuah keluarga yang hangat, juga sebuah rumah sebagai tempa
"Karena bekalnya menurutku … terlalu serius."Sheza langsung mengernyit. "Serius gimana?""Kamu bikin bekal buat orang yang bahkan belum pernah makan siang bareng kamu.""Itu kan cuma bekal."Satria menggeleng pelan. "Dengan catatan sederhana itu … buatku itu bukan bekal biasa.”Sheza langsung tertawa. “Itu cuma surat pendek.”"Dan buatku nggak sesederhana itu.” Satria menangkap tangan Sheza yang tadi berada di pahanya. “Aku masih ingat isi surat itu.”"Jangan diulang."Satria malah terkekeh dengan semburat merah tipis di pipinya. Cukup membuat ekspresinya lebih lunak dari biasanya."Aku senang waktu baca surat itu.”Kalimat berikutnya membuat Sheza perlahan diam kembali. Satria menunduk menatap cangkir tehnya. "Sangat senang."Sheza menunggu."Aku bahkan nggak langsung makan bekalnya.""Kenapa?""Aku ditelepon seseorang yang waktu itu kurasa … lebih penting.” Satu sudut bibir Satria terangkat.Sheza memandang Satria yang malam itu sedikit lebih banyak bicara. Pria itu sedang tercenun
Tante Vonny yang tadi sempat diam, kini berkata pelan, “Sat … kamu pernah cinta Nadine, kan?”Pertanyaan itu membuat Sheza membeku di dekat pintu. Bahkan suara jangkrik dari taman seakan ikut menghilang.Satria terdengar kembali menghela napas. Lalu ia meneguk wine-nya lebih dulu dan memandang ke arah kolam yang memantulkan cahaya lampu taman."Aku menghormatinya." Satria kembali diam. "Aku peduli ke Nadine. Di mataku … Nadine nggak lebih kayak anak kecil yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.”"Dulu … meski awalnya aku merespon ide Pak Salim soal perjodohan dengan banyak pertimbangan. Tapi aku berniat jadi suami yang baik. Keberadaan Pak Salim yang mampu menjadi pendengarku, sekaligus mentor, bikin aku kepengin punya orang tua seperti beliau.”"Tapi itu bukan jawaban pertanyaan Tante." Tante Vonny menatapnya lurus.Lama sekali Satria tidak berbicara.Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Cinta itu apa? Saat itu aku bahkan nggak memikirkan soal itu. Bagiku waktu itu … cinta
Obrolan panjang dan rumit di meja makan sampai pada Nadine mengomentari sesuatu tentang strategi bisnis ayahnya. Nada bicaranya sedikit terlalu tajam. Dan ibunya langsung menegur. "Nadine."Ruangan menjadi hening sesaat."Kamu nggak harus mendebat semua hal,” kata Bu Mieke lembut, tapi tajam.Nadine langsung membuang pandangan. Ekspresinya berubah. Lebih terlihat seperti seseorang yang bosan mendengar hal yang sama ketimbang amarah.Saat itulah Satria angkat bicara. "Menurut saya nggak ada yang salah,” ucapnya tenang.Semua orang di meja makan menoleh. Satria lalu meletakkan gelasnya. "Nadine cuma menyampaikan pendapat. Saya rasa … anak muda seperti kami kadang-kadang punya cara penyampaian yang sedikit lebih berani.”Bu Mieke terlihat sedikit terkejut. "Nggak semua orang nyaman dengan cara penyampaiannya."Satria mengangguk. "Mungkin." Lalu ia menoleh pada Nadine. "Tapi isinya masuk akal.”Kali ini Nadine tidak langsung membalas.Tidak mendebat Satria atau menyelanya. Ia hanya meman
Beberapa minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Pak Salim, keadaan Rylee Logistics perlahan membaik. Belum sepenuhnya pulih. Namun setidaknya kapal-kapal mereka kembali beroperasi.Salah satu investor baru yang diperkenalkan Pak Salim bahkan sudah menandatangani komitmen pendanaan. Investor lain mulai membuka ruang diskusi. Bank yang sebelumnya menekan juga bersedia meninjau ulang beberapa jadwal pembayaran.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup dalam tekanan, Satria merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Bukan karena dirinya selamat. Melainkan karena perusahaan itu selamat.Puluhan karyawan yang menggantungkan hidup pada Rylee Logistics tidak perlu kehilangan pekerjaan mereka. Para kru kapal masih bisa berlayar. Para sopir masih bisa membawa pulang nafkah.Dan untuk seorang Satria yang membangun semuanya dari nol, itu jauh lebih berarti daripada sekadar angka di rekening perusahaan.Malam itu, sebuah undangan makan malam kembali datang dari Pak Salim. Satria tida
Belasan tahun yang lalu, saat kantor Rylee Logistics belum semegah sekarang dan masih menghuni dua ruko yang sedikit jauh dari pelabuhan. Kawasan tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu mahal.Meski belum sebesar sekarang, tahun itu Rylee Logistics masuk masa stabil setelah beberapa tahun menyesuaikan diri dengan bisnis pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia. Masa stabil yang sebenarnya membuat seorang Satria belum cukup berpuas diri karena ia masih sibuk ke sana kemari menjalin relasi.Belum masuk masa tenang, pikirnya. Hasil usahanya belum mencapai angka yang ia ingin dan obsesinya membesarkan perusahaan shipping dari nol itu belum mencapai titik puasnya.Terlebih ketika suatu pagi keadaan kantor tiba-tiba gaduh. Staf yang baru beberapa orang itu sibuk dengan telepon yang berdering tanpa henti. Beberapa dari mereka mondar-mandir membawa dokumen. Tiga orang staf bahkan berdiri di depan ruang rapat dengan wajah pucat.Satria yang saat itu baru berusia dua puluh lima tahun
Keluar dari restoran Jepang meninggalkan Salim dan putrinya, Satria tahu ia tidak sempat lagi kembali ke kafe di mana Sheza berada. Ia langsung memutar setir ke kantor pusat.Ada jenis tekanan yang, jika ditunda, justru menggerogoti kepala. Dan ini salah satunya.Ia tidak naik ke ruangannya. Langka
Ada keputusan yang terlihat benar saat diambil. Tapi bertahun-tahun kemudian berubah menjadi penyesalan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Satria tidak pernah berniat masuk ke hidup Sheza. Ia hanya ingin satu jam dalam sehari di mana dunia tidak menuntut apa pun darinya. Dua meja kosong d
Satria masih duduk di tepi ranjang dengan jarak yang sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang belum sepenuhnya saling menerima. Jarak mereka saat itu bahkan terasa lebih panjang daripada pelukan kemarin. Saat itu tangan Satria masih berada dalam genggaman Sheza. Wanita itu mengepaln
Sheza tidak pernah berniat jatuh cinta hari itu. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang. Cafe kecil itu bukan tempat istimewa. Letaknya di sudut jalan yang agak masuk dan selalu ramai di jam makan siang. Salah satu alasannya memilih cafe itu bukan karena masakannya enak. Toh, ia kadang membawa bek







