Masuk
“Maaf, Dik, belum ada lowongan. Coba Adik datang lagi sekitar sebulan lagi, ya?” jawab pimpinan Satpam di sebuah perusahaan di wilayah Tangsel kepada seorang pemuda yang membawa stopmap yang berisi bahan lamaran.
“Tolong saya, Pak,” ucap pemuda yang berwajah kebule-bulean itu dengan raut wajah sangat berharap, atau lebih tepatnya, memelas. “Saya ini memiliki ketrampilan seni bela diri yang mumpuni dan pernah memenangkan sebuah kejuaraan. Bapak boleh menguji sa ….”
“Maaf, Dik, bukan masalah apa pun, tapi memang lowongan belum buka. Silakan Adik datang kembali bulan depan, jika belum mendapatkan pekerjaan.”
Pemuda itu manggut-manggut cepat namun kecil. “Baik, Pak. Mari …”
“Ya, mari ….”
Wajah pemuda itu yang sebenarnya sangat tampan itu tampak kian layu. Ia membalikkan tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan area itu. Posturnya yang sejatinya tinggi kekar seolah kehilangan rangkanya. Ia seolah putus asa.
“Kok ada ya, Bang, bule yang melamar jadi satpam?” tanya salah seorang anggota Satpam kepada pimpinannya.
“Iya. Bisa jadi dia WNI hasil naturalisasi,” jawab pimpinan satpam dengan suara datar dan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.
“Bisa jadi dia pernah bekerja di suatu perusahaan besar, tapi karena negeri ini sedang dilanda krisis moneter dan banyak perusahaan kolaps pasca reformasi dan referendum, jadi dia terkena PHK,” ucap anggota Satpam lain mencoba menerka-nerka.
“Tapi bule tadi seperti pernah saya kenal wajahnya, tapi di mana, gitu?” Salah seorang anggota Satpam lagi sembari mengetuk-ngetuk pelan dagunya dengan menggunakan jari telunjuk kanannya.
“Paling yang kamu lihat itu turis-turis bule, Bray. Kan wajah mereka mirip-mirip,” seloroh temannya, yang disambut tawa oleh hampir semua petugas satpam dalam pos itu.
“Iya juga sih. Tapi serius, wajah pemuda tadi seperti aku kenal. Tapi di mana, ya?”
Pemuda yang berwajah kebule-bulean yang sedang dibahas saat itu sedang melangkah dengan langkah seolah ragu, mengikuti alur trotoar kota. Wajahnya seperti mati gairah. Entah sudah beberapa perusahaan yang dia datangi, tetapi semua memberi jawaban yang sama: belum ada lowongan!
Setelah melangkah, entah berapa lamanya, Pemuda itu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ekspresinya seperti orang yang sedang kebingungan, atau sedang memikirkan tentang posisi atau keberadaannya saat itu. Ia berdiri di trotoar pada salah satu sisi perempatan jalan. Ia memang sedang menumpang di rumah kontrakan temannya yang berada di wilayah Kalideres Jakarta Barat.
Ia mengangguk pelan. Sepertinya ia baru menyadari, ternyata saat itu ia sedang berada di batas antara wilayah Tangerang dan Jakarta. Daerah di bagian barat itu masih banyak persawahannya yang menghijau. Tapi di kawasan persawahan itu pun sudah berdiri banyak sekali komplek perumahan dan juga pabrik-pabrik. Keadaan itu semakin membuatnya kebingungan, karena ia belum pernah datang di wilayah itu. Kondisi di wilayah itu cukup sepi. Bagaimana mungkin ia akan menemukan proyek pembangunan maupun perusahaan di daerah pinggiran seperti itu?
Sementara terik matahari musim kemarau terasa hendak mendidihkan otaknya. Hanya saja saat itu ia masih memiliki harapan untuk hidup. Pertama, perutnya masih dalam kondisi kenyang, dan sisa uang pemberian seseorang yang baik masih ada dalam saku depan celananya. Celana warna hitam dari bahan polyster.
Di sekitarnya berdiri ada sebatang bohon sonokeling besar dan rimbun. Pemuda itu masih bingung dan belum memutuskan untuk menyeberang ke arah mana.
Sembari menunggu terik agak sedikit reda, pemuda berwajah bule namun berambut hitam itu pun bermaksud untuk berteduh dulu di bawah pohon itu.
Sambil menyandarkan tubuh pada batang pohon dan menikmati hembusan udara siang menjelang sore, otaknya terus memikirkan langkah selanjutnya. Ia masih berharap masih ada perusahaan maupun proyek bangunan yang mau menerimanya. Karena itu, ia tidak memperhatikan secara khusus kendaraan yang lalu lalang di depannya.
Akan tetapi, tiba-tiba pandangan saya teralihkan kepada sebuah mobil Mercedes-Benz biru metalic tiba-tiba berhenti setelah melewati tikungan jalan yang menuju arah selatan sana.
Dari dalam mobil keluar seorang bapak-bapak berpakaian stelan jas dan dasi. Penampilan seorang eksekutif. Jika dia bukan seorang pengusaha, ya seorang pejabatlah. Usianya ditaksir sekitar lima puluhan tahun. Keadaan di sekitar itu sepi, karena berada di kawasan yang cukup jauh dengan kompleks perumahan di selatan, utara, dan di timur sana.
Pria paruh baya itu tampak berusaha membuka kap kendaraannya. Begitu kap kendaraan dibuka, asap yang cukup tebal langsung menyeruak keluar. Raut wajah laki-laki itu nampak kebingungan. Bisa ia pastikan jika beliau buta dalam hal mesin kendaraan. Si pemuda melihat bapak-bapak itu berusaha untuk meminta bantuan kepada pengendara yang melintas di depannya dengan isyarat tangan kanannya. Tapi tidak satu pun yang berhenti. Para pengendara itu hanya menoleh sekilas dengan tetap melajukan kendaraan mereka. Mungkin mereka menyangka laki-laki itu hendak menyeberang saja.
Sikap hidup nafsi-nafsi sepertinya masih terasa kental di tempat itu, batin sang pemuda. Ia menggeleng-geleng pelan.
Pemuda itu merasa berempati kepada bapak-bapak itu. Ia pun bangkit berdiri dan hendak melangkah menyeberang jalan. Nampaknya, ia memiliki pemahaman yang baik tentang mesin.
Akan tetapi, belum lagi ia menyeberang, ia melihat dua buah sepeda motor yang masing-masing berboncengan, melaju dari arah selatan. Kedua sepede motor itu langsung berhenti dan memarkirkan kendaraan mereka di dekat mobil Mercy itu. Keempat pria itu saling berkomunikasi, sebelum melangkah mendatangi si bapak-bapak.
Melihat itu, si pemuda pun merasa agak sedikit lega. Ia mengira keempatnya akan membantu problem yang sedang dihadapi oleh pri paruh baya itu. Keempat pria itu terlibat pembicaraan dengan si bapak-bapak. Wajah si bapak-bapak pun tampak tersenyum senang penuh keramahan. Si pemuda terus memandangi ke arah itu.
Namun, di luar dugaan si pemuda, tiba-tiba salah seorang dari keempat pria itu mencengkeram kerah baju berikut dasi si bapak-bapak dengan sangat kuat, sampai wajah si bapak-baak tak mampu mengeluarkan suaranya dengan jelas dan lancar.
Si pemuda sangat kaget dan langsung berpikiran, bahwa ternyata mereka sekelompok berandalan, bahkan mungkin penjambret yang kebetulan melihat mangsa empuknya. Ia pun menegakkan kepalanya. Ia merasa seperti kebingungan juga.
Saat salah satu terus mencengkeram kerah baju si bapak-bapak, ketiga temannya beraksi, berusaha membuka pintu depan mobil mewah itu. Tapi tidak bisa. Dengan penuh emosi dan beringas ketiganya memukul dan menggempur kaca depan mobil mewah itu. Untungnya kaca mobil seri terbaru itu tak mempan untuk dihancurkan dengan pukulan tangan seperti itu. Sepertinya kunci mobil dalam genggaman pemiliknya.
Melihat kesulitan itu, pria yang menceram kerah baju si pemilik mobil terlihat naik pitam dan membentak, “Mana kunci mobilnya, serahkan! Cepaaat!”
Si pemilik mobil menggeleng-geleng sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman si perampok.
“Orang tua bodoh kurang ajar!” bentak si pria dengan geram. Lalu secara tidak berperikemanusiaan, pria itu langsung melancarkan beberapa pukulan keras pada bagian perut dan wajah si bapak-bapak.
Mendapat serangan pukulan seperti itu, si bapak-bapak itu seolah tak berdaya. Ia sama sekali tak mampu memberikan perlawanan. Mungkin juga karena takut dikeroyok oleh keempat pria itu lalu berbuat nekat.
Dan herannya lagi, para pengendara yang lewat dan menyaksikan peristiwa penzaliman seperti itu, sama sekali tidak ada yang berani berhenti untuk melakukan pertolongan terhadap si bapak-bapak. Malah mereka semakin mempercepat laju kendaraannya sembari sekali-sekali menoleh.
Naluri dan sisi kemanusiaan si pemuda bangkit. Dan tanpa memperhatikan kendaraan yang akan lewat, ia pun langsung mengambil langkah seribu untuk menuju TKP. Ia tidak peduli saat itu jalan raya yang ia seberangi sedang tidak sepi.
Namun tiba-tiba ada SMS yang masuk, dari Bu Kadus. Wanita itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Alex atas semua bantuannya. “Cepat sekali warga taunya. Mereka benar-benar antusias menunggu malam undian itu,” tulis Bu Kadus selanjutnya. “Ya syukurlah, Bu Kadus. Saya dan teman-teman juga merasa senang jika warga merasakan hal yang sama.” “Kok gak dibalas, Say?” pesan SMS Mei masuk. “Maaf, Say, ini ada chat dari keluarga di Jakarta,” ngeles Alex. “Oh iyo. Kalau begitu aku mau tidur duluan, ya? Tapi nanti aku pengen, Say. Semalam kan kita gak bisa main karena Zara ikut tidur di sini.” “Iya, Say. Tapi kira-kira si Zara tidur lagi di sini gak ya malam ini?” “Gak tau, Say. Tapi kayaknya gak. Mudah-mudahan.” “Ok, met rehat dulu, ya? Ummach.” “Ok, say. Ummach.” “Dik Alex sudah tidur ya?” Chat Bu Galuh kembali masuk. Alex belum langsung balas karena ada beberapa pesan SMS juga yang harus ia balas, yaitu dari Tante Lena, dan juga dari
Lalu, di pagi menjelang siang ini, mereka benar-benar sedang memanfaat suasana sepi itu untuk saling memanjakan bi**hi satu sama lain. Ambar memasrahkan semuanya kepada Kulman, dan Kulman ingin memberikan sesuatu yang tidak akan pernah Ambar dapatkan dari suaminya. Hunjaman dan gempuran yang dilakukan oleh Kulman benar-benar membuat Ambar sangat menikmatinya. Dinding-dinding lorong hangatnya yang dipenuhi saraf-saraf sensitif merespon dengan baik, sehingga membuatnya menjerit kecil namun kuat sebelum ia jatuh dengan posisi tengkvrap semabri menumpahkan cairan bening yang sangat membahagiakannya. Dan itu membuat kasur busa tipis menjadi basah. Namun mereka tak pedulikan itu. Kebahagiaan yang Ambar tak berhenti sampai di situ. Sebab Kulman yang sedang on fire langsung mengejar. Pada posisi Ambar seperti itu pun ia langsung menghunjamkan mata bajaknya yang cukup panjang yang membuat leher dan wajah Ambar sontak terangkat. Suara jeritan dan racauan pun kembali terdengar d
Sebenarnya Mei ingin satu mobil dengan sang PIL-nya. Namun tentu tidak mungkin itu dilakukan, karena ia membawa mobil sendiri. Ia bersama Zara, sementara Alan bersama Rudi dan Hanif. Dan memang benarlah. Begitu ketiga mobil itu meninggalkan posko, kedua insan yang dimabuk cinta dan punya sifat sangat gandrung s3x itu langsung menutup pintunya. Kulman langsung membopong bini orang itu ke dalam kamar cowok. Memang semalam mereka uring-uringan nyaris tak bisa tidur karena gairah tinggi mereka tak bisa tersalurkan. Zara ikut-ikutan tidur di luar, di dekat Ambar, dengan alasan dalam kamar katanya agak gerah. Karena itu, ketika posko dalam kondisi kosong seperti itu, mereka akan memanfaatkannya dengan sebaik-sebaiknya. Seperti batin Alex. Keduanya benar-benar sama-sama berkebutuhan besar untuk saling memeberikan kebahagiaan tertinggi di ranjang itu. Jika Kulman lebih tinggi lagi desakan lib*donya karena memang masih laki-laki muda dan lajang, itu wajar. Tetapi Ambar yang suda
Ketika Pak Kadus Hasan sudah berada kembali di rumahnya, Alex dan ketujuh temannya langsung menghadap ke rumah beliau. Selain Pak Kadus Hasan, di sana juga hadir Dik Muhlis, ketua panitia hajatan, Bu Galuh, Bu Kadus, Bu Ema, dan beberapa ketua seksi acara. Pak Alwi belum pulang dari desanya. “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.” Salam Alex langsung dijawab oleh semuanya. “Pak Kadus, Bu Kadus, Bu Galuh, Dik Muhlis, Kang Asep, dan semua hadiri di sini pada sore hari ini yang kami hormati. Dalam kesempatan ini, kami selaku anggota kelompok KKN, ingin menyampaikan satu atau dua hal. Yang pertama, adalah kami ingin menyerahkan sumbangan kami untuk mendukung acara hajatan ini, terutama khusus untuk membeli seekor sapi untuk dipotong.” Mendengar itu langsung disambut dengan ucapan hamdallah dari semuanya. “Semalam Dik Muhlis dan Kang Asep, ya? Pemilik sapi.” “Iya, Kak.” “Iya, semalam Dik Muhlis dan Kang Asep datang ke posko untuk memberitahukan, bahwa suda
Dan karena memang Tante Lena malam itu sedang sangat menginginkannya. Begitu punya suaminya tegak, maka ia langsung memosisikan diri di atas. Ia menikmatinya dengan sambil memejamkan matanya. Saat itu ia sedang membayangkan sedang bergumul dengan Alex, sang singa muda nan perkasa. Sehingga dalam waktu yang singkat ia mampu mencapai klimaks tepat pada saat suaminya, Om Garvin, juga mengalami hal yang sama. Jika dihitung, permainan itu tak lebih dari empat menit. Namun karena memang Tante Lena memang berhasil meningkatkan gairahnya melalui bayangan Alex yang ia hadirkan saat itu. Pemuda yang merupakan bodyguard dan sopir pribadinya itu adalah stimulus terbesar baginya. “Papa benar-benar luar biasa, karena selalu mampu memuaskan Mama,” puji Tante Lena sembari mengusap dada suaminya. Dada yang ditumbuhi bulu secuil. Tentu saja pujian itu hanya sekedar buat menyenangkan hati suaminya, Om Garvin. “Tapi maaf, Mam, Papa gak lagi mampu melayani Mama dalam waktu yang agak la
Keluar dari hotel mereka langsung meluncur ke sebuah bank yang kantornya tak jauh dari hotel itu. Alex bukan saja mengambil uang dalam jumlah yang cukup banyak, namun sekalian juga membukakan rekening Bu Galuh, karena wanita itu belum memiliki rekening. Dia pernah punya rekening buku tabungan, namun sudah lama tidak aktif setelah saldo rekeningnya habis. “Buku tabungan dan kartu ATM-nya disimpan baik-baik ya, Yang? Saldo rekeningnya ada dua puluh lima juta,” ucap Alex pada Bu Galuh ketika mereka sudah keluar dari kantor bank dan ada alam mobil. “Aku sangat gak enak hati, Sayang. Kamu baik sekali. Uangnya banyak sekali kasihnya.” “Buat kamu gak seberapalah. Dan ini simpan untuk pegang-pegang.” Alex memberikan lagi segepok uang pecahan lima puluh ribu Rupiah.” “Kok ditambah, Sayang?” “Itu kan uang tunai buat pegang-pegang. Tapi kan usahakan jangan sampai Pak Alwi tahu. Takutnya beliau curiga lagi.” “Iya, Sayang. Sekali lagi terima kasih, ya?” “Y







