Share

KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA
KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA
Author: Aura Kisah

PART 01

Author: Aura Kisah
last update publish date: 2026-01-05 16:51:55

       “Maaf, Dik, belum ada lowongan. Coba Adik datang lagi sekitar sebulan lagi, ya?” jawab pimpinan Satpam di sebuah perusahaan di wilayah Tangsel kepada seorang pemuda yang membawa stopmap yang berisi bahan lamaran.

     “Tolong saya, Pak,” ucap pemuda yang berwajah kebule-bulean itu dengan raut wajah sangat berharap, atau lebih tepatnya, memelas. “Saya ini memiliki ketrampilan seni bela diri yang mumpuni  dan pernah memenangkan sebuah kejuaraan. Bapak boleh menguji sa ….”

     “Maaf, Dik, bukan masalah apa pun, tapi memang lowongan belum buka. Silakan Adik datang kembali bulan depan, jika belum mendapatkan pekerjaan.”

     Pemuda itu manggut-manggut cepat namun kecil. “Baik, Pak. Mari …”

    “Ya, mari ….”

     Wajah pemuda itu yang sebenarnya sangat tampan itu tampak kian layu. Ia membalikkan tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan area itu. Posturnya yang sejatinya tinggi kekar seolah kehilangan rangkanya. Ia seolah putus asa.

“Kok ada ya, Bang, bule yang melamar jadi satpam?” tanya salah seorang anggota Satpam kepada pimpinannya.

    “Iya. Bisa jadi dia WNI hasil naturalisasi,” jawab pimpinan satpam dengan suara datar dan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.

     “Bisa jadi dia pernah bekerja di suatu perusahaan besar, tapi karena negeri ini sedang dilanda krisis moneter dan banyak perusahaan kolaps pasca reformasi dan referendum, jadi dia terkena PHK,” ucap anggota Satpam lain mencoba menerka-nerka.

    “Tapi bule tadi seperti pernah saya kenal wajahnya, tapi di mana, gitu?” Salah seorang anggota Satpam lagi sembari mengetuk-ngetuk pelan dagunya dengan menggunakan jari telunjuk kanannya.

     “Paling yang kamu lihat itu turis-turis bule, Bray. Kan wajah mereka mirip-mirip,” seloroh temannya, yang disambut tawa oleh hampir semua petugas satpam dalam pos itu.

     “Iya juga sih. Tapi serius, wajah pemuda tadi seperti aku kenal. Tapi di mana, ya?”

     Pemuda yang berwajah kebule-bulean yang sedang dibahas saat itu sedang melangkah dengan langkah seolah ragu, mengikuti alur trotoar kota. Wajahnya seperti mati gairah. Entah sudah beberapa perusahaan yang dia datangi, tetapi semua memberi jawaban yang sama: belum ada lowongan!

       Setelah melangkah, entah berapa lamanya, Pemuda itu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ekspresinya seperti orang yang sedang kebingungan, atau sedang memikirkan tentang posisi atau keberadaannya saat itu. Ia berdiri di trotoar pada salah  satu sisi perempatan jalan. Ia memang sedang menumpang di rumah kontrakan temannya yang berada di wilayah Kalideres Jakarta Barat.

       Ia mengangguk pelan. Sepertinya ia baru menyadari, ternyata saat itu ia sedang berada di batas antara wilayah Tangerang dan Jakarta. Daerah di bagian barat itu  masih banyak persawahannya yang menghijau. Tapi di kawasan persawahan itu pun sudah berdiri banyak sekali komplek perumahan dan juga pabrik-pabrik. Keadaan itu semakin membuatnya kebingungan, karena ia belum pernah datang di wilayah itu. Kondisi di wilayah itu cukup sepi. Bagaimana mungkin ia akan menemukan proyek pembangunan maupun perusahaan di daerah pinggiran seperti itu?

        Sementara terik matahari musim kemarau terasa hendak mendidihkan otaknya. Hanya saja saat itu ia  masih memiliki harapan untuk hidup. Pertama, perutnya masih dalam kondisi kenyang, dan sisa uang pemberian seseorang yang baik masih ada dalam saku depan celananya. Celana warna hitam dari bahan polyster.

        Di sekitarnya berdiri ada sebatang bohon  sonokeling besar dan rimbun. Pemuda itu masih bingung dan belum memutuskan untuk menyeberang ke arah mana.

       Sembari menunggu terik agak sedikit reda, pemuda berwajah bule namun berambut hitam itu pun bermaksud untuk berteduh dulu di bawah pohon itu.

       Sambil menyandarkan tubuh pada batang pohon dan menikmati hembusan udara siang menjelang sore, otaknya terus memikirkan langkah selanjutnya. Ia masih berharap masih ada perusahaan maupun proyek bangunan yang mau menerimanya. Karena itu, ia tidak memperhatikan secara khusus kendaraan yang lalu lalang di depannya.

       Akan tetapi, tiba-tiba pandangan saya teralihkan kepada sebuah mobil Mercedes-Benz biru metalic tiba-tiba berhenti setelah melewati tikungan jalan yang menuju arah selatan sana.

        Dari dalam mobil keluar seorang bapak-bapak berpakaian stelan jas dan dasi. Penampilan seorang eksekutif. Jika dia bukan seorang pengusaha, ya seorang pejabatlah. Usianya ditaksir  sekitar lima puluhan tahun. Keadaan di sekitar itu sepi, karena berada di kawasan yang cukup jauh dengan kompleks perumahan di selatan, utara, dan di timur sana.

         Pria paruh baya itu tampak berusaha membuka kap kendaraannya. Begitu kap kendaraan dibuka, asap yang cukup tebal langsung menyeruak keluar. Raut wajah laki-laki itu nampak kebingungan. Bisa ia pastikan jika beliau buta dalam hal mesin kendaraan. Si pemuda melihat bapak-bapak itu berusaha untuk meminta bantuan kepada pengendara yang melintas di depannya dengan isyarat tangan kanannya. Tapi tidak satu pun yang berhenti. Para pengendara itu hanya menoleh sekilas dengan tetap melajukan kendaraan mereka. Mungkin mereka menyangka laki-laki itu hendak menyeberang saja.

         Sikap hidup nafsi-nafsi sepertinya masih terasa kental di tempat itu, batin sang pemuda. Ia menggeleng-geleng pelan.

         Pemuda itu merasa berempati kepada bapak-bapak itu. Ia pun bangkit berdiri dan hendak melangkah menyeberang jalan. Nampaknya, ia memiliki pemahaman yang baik tentang mesin.

        Akan tetapi, belum lagi ia menyeberang,   ia melihat dua buah sepeda motor yang masing-masing berboncengan,  melaju dari  arah selatan. Kedua sepede motor itu langsung berhenti dan memarkirkan kendaraan mereka di dekat mobil Mercy itu. Keempat pria itu saling berkomunikasi, sebelum melangkah mendatangi si bapak-bapak.

       Melihat itu, si pemuda pun merasa agak sedikit lega. Ia mengira keempatnya akan membantu problem yang sedang dihadapi oleh pri paruh baya itu. Keempat pria itu terlibat pembicaraan dengan si bapak-bapak. Wajah si bapak-bapak pun tampak tersenyum senang penuh keramahan.  Si pemuda terus memandangi ke arah itu.

        Namun, di luar dugaan si pemuda, tiba-tiba salah seorang dari keempat pria itu mencengkeram kerah baju berikut dasi si bapak-bapak dengan sangat kuat, sampai wajah si bapak-baak tak mampu mengeluarkan suaranya dengan jelas dan lancar.

        Si pemuda sangat kaget dan langsung berpikiran, bahwa ternyata mereka sekelompok berandalan, bahkan mungkin penjambret yang kebetulan melihat mangsa empuknya. Ia pun menegakkan kepalanya. Ia merasa seperti kebingungan juga.

        Saat salah satu terus mencengkeram kerah baju si bapak-bapak, ketiga temannya beraksi, berusaha membuka pintu depan mobil mewah itu. Tapi tidak bisa. Dengan penuh emosi dan beringas ketiganya memukul dan menggempur kaca depan mobil mewah itu. Untungnya kaca mobil seri terbaru itu tak mempan untuk dihancurkan dengan pukulan tangan seperti itu. Sepertinya kunci mobil dalam genggaman pemiliknya.

      Melihat kesulitan itu, pria yang menceram kerah baju si pemilik mobil terlihat naik pitam dan membentak, “Mana kunci mobilnya, serahkan! Cepaaat!”

      Si pemilik mobil menggeleng-geleng sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman si perampok.

       “Orang tua bodoh kurang ajar!” bentak si pria dengan geram. Lalu secara tidak berperikemanusiaan, pria itu langsung melancarkan beberapa pukulan keras pada bagian perut dan wajah si bapak-bapak.

        Mendapat serangan pukulan seperti itu, si bapak-bapak itu seolah tak berdaya. Ia sama sekali tak mampu memberikan perlawanan. Mungkin juga karena takut dikeroyok oleh keempat pria itu lalu berbuat nekat.

        Dan herannya lagi, para pengendara yang lewat dan menyaksikan peristiwa penzaliman seperti itu, sama sekali tidak ada yang berani berhenti untuk melakukan pertolongan terhadap si bapak-bapak. Malah mereka semakin mempercepat laju kendaraannya sembari sekali-sekali menoleh.

        Naluri dan sisi kemanusiaan si pemuda bangkit. Dan tanpa memperhatikan kendaraan yang akan lewat, ia pun langsung mengambil langkah seribu untuk menuju TKP. Ia  tidak peduli saat itu jalan raya yang ia seberangi sedang tidak sepi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 87

    Zara sekali-sekali meraba bagian V-nya. Ia merasakan area itu makin tergenang dan mata tuas Alex keluar masuk dengan bebasnya. Hal itu membuat sensasi nikmat itu makin menjadi-jadi. Namun mereka harus tetap melakukannya dengan senyap dan hati-hati. Justru karena itu sensasinya terasa berlipat-lipat, dari ketika mereka melakukannya dalam kondisi normal, yang pernah mereka rasakan. Yang dirasakan oleh Zara saat itu adalah, bahwa hunjaman milik Alex terasa begitu dalam menembus r4h1mnya. Ia terus menikmatinya dengan mata terpejam. Terasa buah da**nya seakan mau tumpah keluar, terguncang-guncang karena sod*kan-sod*kan yang menggetarkan. Lama tak pernah lagi merasakan permainan seperti itu, menjadikannya kehausan dan sangat menikmatinya. Karena saking nikmatnya, ia pun menarik bagian bawah pinggang Alex agar menekan lebih kuat lagi. Dan … ia pun mencapai puncak kebahagiaan yang luar biasa. Ia merasakan org**me yang sangat lama sekali sembelum ia seperti terhempas dan lema

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 86

    Saat itu rasa takutnya tentang cerita dan bayangan hantu atau demit benar-benar sudah lenyap dalam pikirannya, karena telah digantikan oleh hentakan bi**hinya yang kian menguat. Dengan perasaan yang degdegan, Zara menggeser tubuhnya ke belakang secara pelan-pelan. Ketika tubuhnya sudah berdempetan dengan tubuhnya Alex, ia berhenti. Tidak ada reaksi. Jantungnya makin berdegup kencang bersama hentakan bi**hinya yang kian membuncah. Suhu tubuhnya pun terasa tinggi, bahkan mirip-mirip orang yang dendak demam. Karena dorongan l1b1d0nya yang seolah tak mampu ia bendung membuat tangannya bergerak ke belakang. Ia meraih tangan Alex, dan ia ingin memeluknya. Ternyata Alex merespon hal itu dengan memeluknya. Pemuda itu bukan saja sekedar memeluknya, namun tangannya langsung bertengger pada salah kedua bukit kembarnya. Tetapi hanya meletakkan saja tangannya di kedua area itu, namun tidak menggerakkannya. Padahal Zara sudah menunggu dengan perasaan degdegan akan tindakannya sela

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 85

    Malamnya Mei tetap menyempatkna diri untuk mengirim pesan SMS ke Alex. “Jadi kamu belum sempat ke rumah dulu?” tanya Alex, karena Mei memberitahu dia akan bermalam di rumah sakit. “Tidak. Paling besok aku ke rumah buat jenguk baby-ku. Baby kan memang tidak dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit, apalagi malam-malam.” “Trus suaminya jadi operasi besok pagi?” “Iya, jam sepuluh.” “Semoga operasinya lancar, ya?” “Aamiin.” Terasa sepi juga ternyata ketika Mei tak ada tidur di dekatnya. Tetapi tiba-tiba Zara membawa keluar kasur busa tipisnya dan menggelarnya di tempat yang biasa ditempat oleh Mei. “Pengen rasakan tidur di sini,” ucapnya, tanpa ditujukan khusus pada siapa pun. Saat itu Alex, Kulman, dan Ambar masih asyik dengan layar ponselnya masing-masing. Tapi Ambar yang menjawab, kalau ruang tamu sedikit lebih dingin suhunya daripada dalam kamar. “Iya kayaknya,” sahut Zara sembari menurut tubuhnya dengan selimutnya. Ia tak langsung tid

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 84

    Mungkin karena sudah tak mampu menanggung rasa n1km4t yang luar biasa itu, Alex langsung mendorong tubuh Bu Ema, sehingga wanita itu terjengkang ke belakang di atas kasur. Ia merenggangkan kedua kaki wanita itu, lalu selanjutnya wajahnya mendekat ke area istimewahnya, lalu memanjainya dengan lidah dan mulutnya. “Aaaaah ampun, Dik Aleeex, ini nikmat sekaliii aahs,” desis Bu Ema sembari memejamkan kedua matanya. Cara seperti itu belum Hasan. Lidahh kasar dan l14r Alex memanjai milik Bu Ema. Bagian-bagian tertentu dalam pintu gerbang itu tak liput dari sapuan lidahnya. Bu Ema benar-benar merasakan sensasi yang hebat. Seolah tanpa disadari, tangannya menyambar kepala si 0pemuda, dan jarinya meremasi kembali rambut Alex sambil mengerangg dan mendes4h gelisah dengan raga meliuk-liuk. Malam itu keduanya pun bertarung dengan garang dan berbagai posisi dan gaya bebas digunakan. Memang mereka hanya melakukannya sekali, namun kualitas hasilnya sebanding dengan berk

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 83

    Sesampai di rumah sakit, Pak Ustadz Abdullah dibawa ke ruang MCU untuk dilakukan medical general check-up. Setelah dilakukan pengecekan menyeluruh, dokter yang menangani memberikan keterangannya kepada pihak keluarga Pak Ustadz, bahwa pasien mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penurunan tekanan darah, kekurangan oksigen, serta masalah pada sistem jantung. “Kondisi ini bisa dipicu oleh stres emosional, dehidrasi, atau bahkan kondisi medis tertentu seperti masalah jantung atau diabetes,” ucap Pak Dokter lebih lanjut. “Apakah pasien pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya? Beliau juga ada gejala diabetes.” “Benar, Dok, pernah. Tapi setelah siuman tidak ada keinginan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Padahal saya sudah mendorong hal itu,” jawab istri dari Pak Ustadz Abdullah, namanya Bu Alya. Dokter manggut-manggut lalu menyarankan agar dirawat inap dulu. “Biar kami bisa menanganinya secara intensi

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 82

    Malam itu, mereka tidur agak kemalaman. Bukan karena mengobrol hingga larut, namun setelah obrolan itu masing-masing lanjut untuk chat. Entah dengan keluarga mereka masing-masing. Aldi, Rudi, dan Zara akan kembali besok pagi. Dan seperti biasa, Alex, Mei, Kulman, dan Ambar tetap tidur di ruang tamu. Sementara Hanif tidur dalam kamar, seperti biasa. Kondisi kulman juga sudah mendingan. Sebelum tidur, Alex dan Mei sempat mengobrol sartu sama lain melalui chat. Namun selanjutnya mereka chat dengan keluarganya masing-masing. Mei mungkin dengan suaminya, sementara Alex dengan Tante Lena sebelum dengan Bu Galuh dan Bu Ema. Tante Lena chat hanya untuk mengungkapkan rasa kangen padanya, seperti biasanya. Sementara dengan Bu Ema dan Bu Galuhchat tak jauh-jauh dari urusan per-gen-j0tan. “Rasanya pengen sekali mengulanginya lagi sebelum Dik Alex dan teman-temannya kembali ke Jakarta,” tulis Bu Ema. “Akan aku usahakan waktunya ya, Yank? Kangen ya?” balas Alex. “Ban

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 66

    Setelah berurusan dengan resepsionis, Alex langsung mengajak Bu Galuh ke lantai atas. Mereka kembali melalui ruang lift. Kamar yang mereka sewa berada di lantai empat. Mereka memasuki kamar itu dan menguncinya dari dalam. Saat Bu Galuh berdiri memandangi semua interior kamar y

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 60

    Ya, saat-saat sendiri seperti itu, maka keinginannya langsung melonjak kalau ia membayangkan Alex. Dari tampilan tubuhnya yang kekar dan kokoh walaupun tak berotot menonjol bak seorang binaragawan, Bu Galuh langsung membayangkan milik pemuda itu menegak begitu gagah dan perkasanya, seperti ya

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 49

    Sekitar sepuluh menit kemudian, suara nafas halus Alex dan Mei telah terdengar oleh Kulman dan Ambar. Tentu saja, Alex dan Ambar saat itu belum tidur. Justru keduanya sedang menunggu adegan panas yang dilakukan oleh sang berondong dengan sang ibu muda itu dengan penuh ketegangan. Mei da

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 42

    Yudi menatap wajahnya dengan raut wajah menunjukkan keprihatinannya. “Terima kasih, Yud. Aku sudah melihatnya,” ucap Alex, pelan dan lemah. “Dan kamu gak … sakit hati dan marah …?” Ia tidak langsung menjawab. Ia melangkah menjauhi tempat itu dengan wajah gusar campur sedih.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status