Share

PART 02

Penulis: Aura Kisah
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 16:53:02

Sepertinya para pengeroyok itu tidak menyadari kehadiran si pemuda yang demikian cepat. Begitu dekat, tanpa membuang kala, pemuda itu langsung menerjang laki-laki yang sedang pemukul si bapak-bapak. Terjangan kaki kanannya langsung membentur tepat pada batang leher si pria jahat itu.

       Bughkk!!

      Tubuh pria itu langsung terlempar ke selatan dan jatuh menghantam sepada motornya sendiri.  Terjangan keras itu membuat pria mengerang kesakitan. Namun suaranya hanya terdengar parau dengan wajah meringis pilu.

       Melihat temannya dibuat tak berdaya seperti itu, ketiga temannya sangat kaget dan langsung menatap geram ke arah saya.

      “Heh, bule nyasar dari mana lu, tiba-tiba ikut campur urusan kite!?” ucap salah seorang dari ketiga pria itu dengan wajah geram.

      “Iya, sudah bosen hidup kali nih bule!” timpal yang lain.

       “Ayo, maju sekalian lo berempat! Biar gua bereskan sekalian! Dasar jambret, bangke lo pade!” hardik pemuda berwajah bule dengan wajah tak kalah geramnya. Sepertinya ia sudah memahami gelagat, jika dari keempat  pemuda itu menyerangnya secara bersamaan, ia akan mudah untuk  mengatasinya. Predikatnya sebagai pendekar sebuah seni bela diri dan pernah menyabet piala kemenangan pada suatu turnamen, bukanlah sebuah predikat semata. Namun ia akan membuktikannya.

        Benar saja. Tanpa dikomando, keempat pemuda itu langsung menyerangnya. Saat itu ia sudah menyiapkan kuda-kuda yang kokoh untuk menyambut serangan itu. Pria yang paling depan yang menyerangnya dengan sebuah pukulan yang dikombinasuikan dengan  tendangan lurus ke depan, dengan mudah saya elakkan sembari melancarkan tendangan menyamping yang keras.

     Bughkk!

     Tubuh pria itu mencelat beberapa meter ke belakang.

        Seperti tidak peduli dengan nasib sial yang dialami oleh teman mereka, ketika pria lain melanjutkan gempuran. Namun gempuran tanpa teknik secara ilmu bela diri itu, dengan mudah diatasi oleh si pemuda berwajah bule. Bahkan dengan sebuah gerakannya yang sangat cepat, tangan kirinya berhasil menangkap dan mencengkeram pergelangan salah satu tangan pria penyerang dengan sangat kuatnya, untuk kemudian ia kepit sebelum melakukan gerakan memutar,  dan …

      Krekk!

      Suara  tulang yang lepas dari sendinya jelas terdengar, nyaris bersamaan dengan jeritan keras dari sang pemilik tangan. Sementara tangan kanan si pemuda berwajah kebulean saat itu mencengkeram leher dari salah seorang penyerang lain, lalu dengan kuat ia melakukan gerakan kaki menyapu yang disusul dengan gerakan membantingnya yang sangat kuat. 

       Bugghk!!

       “Aaauuw!”

       Selanjutnya, dua tubuh pria  lainnya ia finishing dengan tendangan menyamping beruntun yang membuat tubuh keduanya pun terlempar ke arah yang terpisah. Satu pria terlempar dan terjengkang ke belakang dengan jarak yang cukup jauh. Karena barusan kaki kanan si pemuda berwajah kebulean  membentur dadanya dengan sangat kuat. Sementara yang satunya lagi mengenai batang lehernya, jadi ia hanya terlempar beberapa meter ke belakang.

        Karena melihat setiuasi yang sama sekali tak menguntungkan bagi mereka, keempat  pria bertampak preman itu bangkit dengan susah payah, untuk kemudian mereka langsung lari ke sepeda motor mereka. Sejurus kemudian kedua sepeda motor itu digeber ke arah selatan. Si pemuda berwajah kebulean hanya menggeleng-geleng pelan sembari terus memandangi kkedua sepeda motor jenis Yamaha RX-King itu.

      “Wah, saya sangat berterima kasih kepada Adik atas pertolongannya,” ucap si bapak-bapak. Beliau telah berdiri di samping sang pemuda.

        Si pemuda menoleh dan tersenyum sembari sedikit menundukkan kepala, bersikap menghormatinya.

      “Hanya spontan saja, Om, mengikuti panggilan nurani kemanusiaan. Saya khawatir mereka akan melakukan hal nekat dan gila kepada Om. Tapi Om gak apa-apa, kan?”

      “Alhamdulillah, saya tidak apa-apa, Dik. Benar katamu, Dik.  Makanya tadi Om tak berani melawan mereka. Tapi Om benar-benar  sangat berterima kasih kepadamu. Andaikata Adik tidak cepat menolong saya, tentu mereka akan melakukan hal yang gila seperti yang Adik katakan barusan. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Adik. Oh ya, perkenalkan, nama saya Om Garvin.”

      “Oh, nama saya Alex, Om, Alexander Diaz,” ucap saya sembari menjulurkan tangannya.

      Si bapak-bapak, Om Garwin, langsung menerima uluran tangan pemuda yang bernama Alex dan menggenggamnya erat untuk beberapa saat lamanya, sebelum dilepaskan.

       Om Garwin melangkah ke arah mobilnya dan membuka pintunya. Beliau mengambil sesuatu dari dalam koper kecil yang yang diletakkan di jok mobilnya, lalu keluar lagi dengan segepok uang pecahan Rp 50.000,-, bergambar Presiden Soeharto waktu itu. Uang itu senilai lima juta Rupiah, jumlah yang sangat banyak saat itu, terlebih pada kondisi krisis yang sedang melanda.

       Akan tetapi Alex menolak secara halus pemberian itu sembari  mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

       “Terima kasih, Om. Saya tadi menolong Om bukan karena mengharapkan imbalan seperti ini. Saya menolong secara spontan dan tulus saja. Maaf ya, Om...?!” ucapnya.

       “Lh, kenapa, Dik Alex? Om pun memberikan ini secara spontan dan ikhlas juga. Atau mungkin kurang ...?”

       “Oh, sama sekali tidak, Om.  Terima kasih.”   

   

       Om Hendro hanya mengangguk-angguk kecil sembari menepuk-nepukkan uang itu pada telapak tangan kirinya.

        “Luar biasa Dik Alex ini. Amat jarang zaman sekarang dan dalam kondisi seperti saat ini yang berhati mulia seperti Dik Alex ini,” ucap Om Garvin.  “Tapi baiklah, kalau boleh saya tahu, sebenarnya Dik Alex ini dari mana dan hendak ke mana? Dik Alex terlihat, maaf, sangat kumuh ...?”

      “Iya, Om. Saya ini perantau. Sejatinya nasib saya pernah cukup bagus, sehingga saya memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Bahkan saya menggeluti beberapa profesi sekaligus. Namun pasca reformasi, saya pun ikut terpuruk. Titik nadirnya ya seperti yang Om lihat sekarang ini. Saya terlunta-lunta ke sana ke mari untuk mencari pekerjaan. Uang hasil menjual sepeda motor saya yang merupakan harta berharga saya terakhir, malah dijambret orang saat saya lengah.  Saya sudah berusaha untuk melamar ke bergai perusahaan, semuanya tidak ada lowongan. Bahkan saya melamar jadi laden tukang batu pun ditolak.”

       “Ya Tuhan, buruk sekali nasibmu, Dik Alex,” ucap Om Garwin dengan wajah prihatin. Beliau menepuk-nepuk pelan lengan Alex. “Tentu saat ini kamu dalam keadaan tidak memiliki uang. Tapi mengapa engkau tidak mau menerima pemberian Om ini, Lex?”

      “Tentu saya sangat membutuhkan uang, Om. Tapi yang paling saya butuhkan sekarang adalah pekerjaan, agar saya memiliki penghasilan sendiri, Om.”

      Om Garvin  tersenyum dan manggut-manggut.

      “Luar biasa. Dik Alex ini benar-benar seorang perantau dan laki-laki sejati,” puji Om Garvin sambil manggut-manggut kecil. Lalu beliau lanjut bertanya, “Maaf, Dik Alex tamatan apa? Dan pernah bekerja di mana?”

      “Saya tamatan STM, Om. Ini ijazah saya bawa ke mana-mana. Saya pernah ....”

       “A ...begini saja,” potong Om Garvin. “Dik Alex ikut ke rumah saya dulu. Nanti saja Dik Alex cerita di rumah saya. Bagaimana? Soal pekerjaan, nanti kita bahas di rumah saja.”

      Ajakan itu membuat Alex tidak mampu menyembunyikan kekagetannya. Sepertinya ia benar-benar tidak menyangka jika laki-laki itu mau menawarkan kebaikan kepada pemuda yang berpenampilan cukup kumal dan bau seperti dirinya. 

        “Benar nih, Om...?!” tanyanya, seolah-olah masih belum percaya dengan ajakan itu.

       “Iya, dong, masak saya tidak berkata benar kepada seorang pemuda penolong nyawa saya?  Ayuk, masuk ke dalam mobil!”

       “Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mempertemukan aku dengan orang yang baik hati seperti beliau,” batin Alex.

       Om Alex tiba-tiba menepuk dahinya. Seperti melupakan sesuatu. Tadi ia berhenti karena mobilnya tiba-tiba mogok.

      “Kenapa, Om?”

      “Iya, saya lupa kalau mobil saya tadi mogok, karena itu saya berhenti di sini.”

    “Maaf, Om, boleh saya lihat mobilnya?”

    “Oh silakan, Dik. Dik Alex paham mesin?”

    “Kebetulan saya tamatan STM jurusan mesin, OM.”

     “Oh gitu? Alhamdulillah. Silakan, Dik Alex.”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 87

    Zara sekali-sekali meraba bagian V-nya. Ia merasakan area itu makin tergenang dan mata tuas Alex keluar masuk dengan bebasnya. Hal itu membuat sensasi nikmat itu makin menjadi-jadi. Namun mereka harus tetap melakukannya dengan senyap dan hati-hati. Justru karena itu sensasinya terasa berlipat-lipat, dari ketika mereka melakukannya dalam kondisi normal, yang pernah mereka rasakan. Yang dirasakan oleh Zara saat itu adalah, bahwa hunjaman milik Alex terasa begitu dalam menembus r4h1mnya. Ia terus menikmatinya dengan mata terpejam. Terasa buah da**nya seakan mau tumpah keluar, terguncang-guncang karena sod*kan-sod*kan yang menggetarkan. Lama tak pernah lagi merasakan permainan seperti itu, menjadikannya kehausan dan sangat menikmatinya. Karena saking nikmatnya, ia pun menarik bagian bawah pinggang Alex agar menekan lebih kuat lagi. Dan … ia pun mencapai puncak kebahagiaan yang luar biasa. Ia merasakan org**me yang sangat lama sekali sembelum ia seperti terhempas dan lema

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 86

    Saat itu rasa takutnya tentang cerita dan bayangan hantu atau demit benar-benar sudah lenyap dalam pikirannya, karena telah digantikan oleh hentakan bi**hinya yang kian menguat. Dengan perasaan yang degdegan, Zara menggeser tubuhnya ke belakang secara pelan-pelan. Ketika tubuhnya sudah berdempetan dengan tubuhnya Alex, ia berhenti. Tidak ada reaksi. Jantungnya makin berdegup kencang bersama hentakan bi**hinya yang kian membuncah. Suhu tubuhnya pun terasa tinggi, bahkan mirip-mirip orang yang dendak demam. Karena dorongan l1b1d0nya yang seolah tak mampu ia bendung membuat tangannya bergerak ke belakang. Ia meraih tangan Alex, dan ia ingin memeluknya. Ternyata Alex merespon hal itu dengan memeluknya. Pemuda itu bukan saja sekedar memeluknya, namun tangannya langsung bertengger pada salah kedua bukit kembarnya. Tetapi hanya meletakkan saja tangannya di kedua area itu, namun tidak menggerakkannya. Padahal Zara sudah menunggu dengan perasaan degdegan akan tindakannya sela

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 85

    Malamnya Mei tetap menyempatkna diri untuk mengirim pesan SMS ke Alex. “Jadi kamu belum sempat ke rumah dulu?” tanya Alex, karena Mei memberitahu dia akan bermalam di rumah sakit. “Tidak. Paling besok aku ke rumah buat jenguk baby-ku. Baby kan memang tidak dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit, apalagi malam-malam.” “Trus suaminya jadi operasi besok pagi?” “Iya, jam sepuluh.” “Semoga operasinya lancar, ya?” “Aamiin.” Terasa sepi juga ternyata ketika Mei tak ada tidur di dekatnya. Tetapi tiba-tiba Zara membawa keluar kasur busa tipisnya dan menggelarnya di tempat yang biasa ditempat oleh Mei. “Pengen rasakan tidur di sini,” ucapnya, tanpa ditujukan khusus pada siapa pun. Saat itu Alex, Kulman, dan Ambar masih asyik dengan layar ponselnya masing-masing. Tapi Ambar yang menjawab, kalau ruang tamu sedikit lebih dingin suhunya daripada dalam kamar. “Iya kayaknya,” sahut Zara sembari menurut tubuhnya dengan selimutnya. Ia tak langsung tid

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 84

    Mungkin karena sudah tak mampu menanggung rasa n1km4t yang luar biasa itu, Alex langsung mendorong tubuh Bu Ema, sehingga wanita itu terjengkang ke belakang di atas kasur. Ia merenggangkan kedua kaki wanita itu, lalu selanjutnya wajahnya mendekat ke area istimewahnya, lalu memanjainya dengan lidah dan mulutnya. “Aaaaah ampun, Dik Aleeex, ini nikmat sekaliii aahs,” desis Bu Ema sembari memejamkan kedua matanya. Cara seperti itu belum Hasan. Lidahh kasar dan l14r Alex memanjai milik Bu Ema. Bagian-bagian tertentu dalam pintu gerbang itu tak liput dari sapuan lidahnya. Bu Ema benar-benar merasakan sensasi yang hebat. Seolah tanpa disadari, tangannya menyambar kepala si 0pemuda, dan jarinya meremasi kembali rambut Alex sambil mengerangg dan mendes4h gelisah dengan raga meliuk-liuk. Malam itu keduanya pun bertarung dengan garang dan berbagai posisi dan gaya bebas digunakan. Memang mereka hanya melakukannya sekali, namun kualitas hasilnya sebanding dengan berk

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 83

    Sesampai di rumah sakit, Pak Ustadz Abdullah dibawa ke ruang MCU untuk dilakukan medical general check-up. Setelah dilakukan pengecekan menyeluruh, dokter yang menangani memberikan keterangannya kepada pihak keluarga Pak Ustadz, bahwa pasien mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penurunan tekanan darah, kekurangan oksigen, serta masalah pada sistem jantung. “Kondisi ini bisa dipicu oleh stres emosional, dehidrasi, atau bahkan kondisi medis tertentu seperti masalah jantung atau diabetes,” ucap Pak Dokter lebih lanjut. “Apakah pasien pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya? Beliau juga ada gejala diabetes.” “Benar, Dok, pernah. Tapi setelah siuman tidak ada keinginan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Padahal saya sudah mendorong hal itu,” jawab istri dari Pak Ustadz Abdullah, namanya Bu Alya. Dokter manggut-manggut lalu menyarankan agar dirawat inap dulu. “Biar kami bisa menanganinya secara intensi

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 82

    Malam itu, mereka tidur agak kemalaman. Bukan karena mengobrol hingga larut, namun setelah obrolan itu masing-masing lanjut untuk chat. Entah dengan keluarga mereka masing-masing. Aldi, Rudi, dan Zara akan kembali besok pagi. Dan seperti biasa, Alex, Mei, Kulman, dan Ambar tetap tidur di ruang tamu. Sementara Hanif tidur dalam kamar, seperti biasa. Kondisi kulman juga sudah mendingan. Sebelum tidur, Alex dan Mei sempat mengobrol sartu sama lain melalui chat. Namun selanjutnya mereka chat dengan keluarganya masing-masing. Mei mungkin dengan suaminya, sementara Alex dengan Tante Lena sebelum dengan Bu Galuh dan Bu Ema. Tante Lena chat hanya untuk mengungkapkan rasa kangen padanya, seperti biasanya. Sementara dengan Bu Ema dan Bu Galuhchat tak jauh-jauh dari urusan per-gen-j0tan. “Rasanya pengen sekali mengulanginya lagi sebelum Dik Alex dan teman-temannya kembali ke Jakarta,” tulis Bu Ema. “Akan aku usahakan waktunya ya, Yank? Kangen ya?” balas Alex. “Ban

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 25

    Tiba di rumah, Alex melihat Om Garvin dan Mbal Olive sedang duduk di ruang tengah. Alex menyalami dan mencium tangan keduanya. Setelah berbasasi sebentar, Alex langsung pamit untuk ke atas. Yang ingin dilakukan olehnya malam nanti adalah tidur lebih cepat, untuk jiwa mengistirahatkan jiwa d

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 29

    Tante Luluk tersenyum senang lalu memasang kuda-kuda gaya seperti hendak merangkak. Alex berada di belakangnya. Itu adalah sebuah pemadangan yang sangat indah bagi Alex. Sebuah bok*ng yang putih bulat dan sekal. Saat ia tiba-tiba menampar bagian itu di kedua bagiannya, Tante Luluk langsung m

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 60

    Ya, saat-saat sendiri seperti itu, maka keinginannya langsung melonjak kalau ia membayangkan Alex. Dari tampilan tubuhnya yang kekar dan kokoh walaupun tak berotot menonjol bak seorang binaragawan, Bu Galuh langsung membayangkan milik pemuda itu menegak begitu gagah dan perkasanya, seperti ya

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 26

    Hari itu, setelah dua hari dari kedatangannya yang pertama, Alex datang ke kampus untuk merampungkan urusan kuliahnya agar ia kembali sah menjadi mahasiswa di kampusnya. Ada sekitar seperempat jam ia berbicara dengan Bu Ismi BAAK. Maka urusan itu selesai. Ia juga sudah bisa dipers

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status