LOGINSepertinya para pengeroyok itu tidak menyadari kehadiran si pemuda yang demikian cepat. Begitu dekat, tanpa membuang kala, pemuda itu langsung menerjang laki-laki yang sedang pemukul si bapak-bapak. Terjangan kaki kanannya langsung membentur tepat pada batang leher si pria jahat itu.
Bughkk!!
Tubuh pria itu langsung terlempar ke selatan dan jatuh menghantam sepada motornya sendiri. Terjangan keras itu membuat pria mengerang kesakitan. Namun suaranya hanya terdengar parau dengan wajah meringis pilu.
Melihat temannya dibuat tak berdaya seperti itu, ketiga temannya sangat kaget dan langsung menatap geram ke arah saya.
“Heh, bule nyasar dari mana lu, tiba-tiba ikut campur urusan kite!?” ucap salah seorang dari ketiga pria itu dengan wajah geram.
“Iya, sudah bosen hidup kali nih bule!” timpal yang lain.
“Ayo, maju sekalian lo berempat! Biar gua bereskan sekalian! Dasar jambret, bangke lo pade!” hardik pemuda berwajah bule dengan wajah tak kalah geramnya. Sepertinya ia sudah memahami gelagat, jika dari keempat pemuda itu menyerangnya secara bersamaan, ia akan mudah untuk mengatasinya. Predikatnya sebagai pendekar sebuah seni bela diri dan pernah menyabet piala kemenangan pada suatu turnamen, bukanlah sebuah predikat semata. Namun ia akan membuktikannya.
Benar saja. Tanpa dikomando, keempat pemuda itu langsung menyerangnya. Saat itu ia sudah menyiapkan kuda-kuda yang kokoh untuk menyambut serangan itu. Pria yang paling depan yang menyerangnya dengan sebuah pukulan yang dikombinasuikan dengan tendangan lurus ke depan, dengan mudah saya elakkan sembari melancarkan tendangan menyamping yang keras.
Bughkk!
Tubuh pria itu mencelat beberapa meter ke belakang.
Seperti tidak peduli dengan nasib sial yang dialami oleh teman mereka, ketika pria lain melanjutkan gempuran. Namun gempuran tanpa teknik secara ilmu bela diri itu, dengan mudah diatasi oleh si pemuda berwajah bule. Bahkan dengan sebuah gerakannya yang sangat cepat, tangan kirinya berhasil menangkap dan mencengkeram pergelangan salah satu tangan pria penyerang dengan sangat kuatnya, untuk kemudian ia kepit sebelum melakukan gerakan memutar, dan …
Krekk!
Suara tulang yang lepas dari sendinya jelas terdengar, nyaris bersamaan dengan jeritan keras dari sang pemilik tangan. Sementara tangan kanan si pemuda berwajah kebulean saat itu mencengkeram leher dari salah seorang penyerang lain, lalu dengan kuat ia melakukan gerakan kaki menyapu yang disusul dengan gerakan membantingnya yang sangat kuat.
Bugghk!!
“Aaauuw!”
Selanjutnya, dua tubuh pria lainnya ia finishing dengan tendangan menyamping beruntun yang membuat tubuh keduanya pun terlempar ke arah yang terpisah. Satu pria terlempar dan terjengkang ke belakang dengan jarak yang cukup jauh. Karena barusan kaki kanan si pemuda berwajah kebulean membentur dadanya dengan sangat kuat. Sementara yang satunya lagi mengenai batang lehernya, jadi ia hanya terlempar beberapa meter ke belakang.
Karena melihat setiuasi yang sama sekali tak menguntungkan bagi mereka, keempat pria bertampak preman itu bangkit dengan susah payah, untuk kemudian mereka langsung lari ke sepeda motor mereka. Sejurus kemudian kedua sepeda motor itu digeber ke arah selatan. Si pemuda berwajah kebulean hanya menggeleng-geleng pelan sembari terus memandangi kkedua sepeda motor jenis Yamaha RX-King itu.
“Wah, saya sangat berterima kasih kepada Adik atas pertolongannya,” ucap si bapak-bapak. Beliau telah berdiri di samping sang pemuda.
Si pemuda menoleh dan tersenyum sembari sedikit menundukkan kepala, bersikap menghormatinya.
“Hanya spontan saja, Om, mengikuti panggilan nurani kemanusiaan. Saya khawatir mereka akan melakukan hal nekat dan gila kepada Om. Tapi Om gak apa-apa, kan?”
“Alhamdulillah, saya tidak apa-apa, Dik. Benar katamu, Dik. Makanya tadi Om tak berani melawan mereka. Tapi Om benar-benar sangat berterima kasih kepadamu. Andaikata Adik tidak cepat menolong saya, tentu mereka akan melakukan hal yang gila seperti yang Adik katakan barusan. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Adik. Oh ya, perkenalkan, nama saya Om Garvin.”
“Oh, nama saya Alex, Om, Alexander Diaz,” ucap saya sembari menjulurkan tangannya.
Si bapak-bapak, Om Garwin, langsung menerima uluran tangan pemuda yang bernama Alex dan menggenggamnya erat untuk beberapa saat lamanya, sebelum dilepaskan.
Om Garwin melangkah ke arah mobilnya dan membuka pintunya. Beliau mengambil sesuatu dari dalam koper kecil yang yang diletakkan di jok mobilnya, lalu keluar lagi dengan segepok uang pecahan Rp 50.000,-, bergambar Presiden Soeharto waktu itu. Uang itu senilai lima juta Rupiah, jumlah yang sangat banyak saat itu, terlebih pada kondisi krisis yang sedang melanda.
Akan tetapi Alex menolak secara halus pemberian itu sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
“Terima kasih, Om. Saya tadi menolong Om bukan karena mengharapkan imbalan seperti ini. Saya menolong secara spontan dan tulus saja. Maaf ya, Om...?!” ucapnya.
“Lh, kenapa, Dik Alex? Om pun memberikan ini secara spontan dan ikhlas juga. Atau mungkin kurang ...?”
“Oh, sama sekali tidak, Om. Terima kasih.”
Om Hendro hanya mengangguk-angguk kecil sembari menepuk-nepukkan uang itu pada telapak tangan kirinya.
“Luar biasa Dik Alex ini. Amat jarang zaman sekarang dan dalam kondisi seperti saat ini yang berhati mulia seperti Dik Alex ini,” ucap Om Garvin. “Tapi baiklah, kalau boleh saya tahu, sebenarnya Dik Alex ini dari mana dan hendak ke mana? Dik Alex terlihat, maaf, sangat kumuh ...?”
“Iya, Om. Saya ini perantau. Sejatinya nasib saya pernah cukup bagus, sehingga saya memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Bahkan saya menggeluti beberapa profesi sekaligus. Namun pasca reformasi, saya pun ikut terpuruk. Titik nadirnya ya seperti yang Om lihat sekarang ini. Saya terlunta-lunta ke sana ke mari untuk mencari pekerjaan. Uang hasil menjual sepeda motor saya yang merupakan harta berharga saya terakhir, malah dijambret orang saat saya lengah. Saya sudah berusaha untuk melamar ke bergai perusahaan, semuanya tidak ada lowongan. Bahkan saya melamar jadi laden tukang batu pun ditolak.”
“Ya Tuhan, buruk sekali nasibmu, Dik Alex,” ucap Om Garwin dengan wajah prihatin. Beliau menepuk-nepuk pelan lengan Alex. “Tentu saat ini kamu dalam keadaan tidak memiliki uang. Tapi mengapa engkau tidak mau menerima pemberian Om ini, Lex?”
“Tentu saya sangat membutuhkan uang, Om. Tapi yang paling saya butuhkan sekarang adalah pekerjaan, agar saya memiliki penghasilan sendiri, Om.”
Om Garvin tersenyum dan manggut-manggut.
“Luar biasa. Dik Alex ini benar-benar seorang perantau dan laki-laki sejati,” puji Om Garvin sambil manggut-manggut kecil. Lalu beliau lanjut bertanya, “Maaf, Dik Alex tamatan apa? Dan pernah bekerja di mana?”
“Saya tamatan STM, Om. Ini ijazah saya bawa ke mana-mana. Saya pernah ....”
“A ...begini saja,” potong Om Garvin. “Dik Alex ikut ke rumah saya dulu. Nanti saja Dik Alex cerita di rumah saya. Bagaimana? Soal pekerjaan, nanti kita bahas di rumah saja.”
Ajakan itu membuat Alex tidak mampu menyembunyikan kekagetannya. Sepertinya ia benar-benar tidak menyangka jika laki-laki itu mau menawarkan kebaikan kepada pemuda yang berpenampilan cukup kumal dan bau seperti dirinya.
“Benar nih, Om...?!” tanyanya, seolah-olah masih belum percaya dengan ajakan itu.
“Iya, dong, masak saya tidak berkata benar kepada seorang pemuda penolong nyawa saya? Ayuk, masuk ke dalam mobil!”
“Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mempertemukan aku dengan orang yang baik hati seperti beliau,” batin Alex.
Om Alex tiba-tiba menepuk dahinya. Seperti melupakan sesuatu. Tadi ia berhenti karena mobilnya tiba-tiba mogok.
“Kenapa, Om?”
“Iya, saya lupa kalau mobil saya tadi mogok, karena itu saya berhenti di sini.”
“Maaf, Om, boleh saya lihat mobilnya?”
“Oh silakan, Dik. Dik Alex paham mesin?”
“Kebetulan saya tamatan STM jurusan mesin, OM.”
“Oh gitu? Alhamdulillah. Silakan, Dik Alex.”
***
“Gak-lah, Dik Alex. Kan saya memang bertanya dan ingin tahu.” “Ya semuanya, Bu Ema. Dari wajah Bu Ema yang manis, terus bibir ibu yang seksi, dan di bawah dagu tuh, mantap banget, besar. Dan yang lebih menyita pikiran itu ya, maaf, bo-kong Bu Ema tuh, mantap habis pokoknya. Pinggang agak singset, tapi bo-kong ibu besar bulat gitu. Ya bikin laki-laki berfantasilah pastinya.” “Termasuk Dik Alex berfantasi melihat bo-kong saya?” “Iyalah, Bu, pastilah, kan saya juga cowok. Hehehe.” “Kalo lag berfantasi reaksi Dik Alex gimana?” “Ya te-gang habislah, Bu, pastinya. Nyut-nyutan-lah.” “Lalu ngapain?” “Ya diampet saja. Mau ke kamar mandi kan kamar mandi di rumah posko belum bisa dipakai.” “Hm, gitu ya? Dik Alex bilang itu benar adanya. Suami saya saja selalu memuji bagian itu. Dia tuh kalau maen, pasti suka minta saya nu**ging.” “Waw, mantap banget. Saya juga bayangin Bu Aini juga gitu dalam fantasi saya. Maksud saya dengan gaya itu.” “Iya
Namun tiba-tiba ada SMS yang masuk, dari Bu Kadus. Wanita itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Alex atas semua bantuannya. “Cepat sekali warga taunya. Mereka benar-benar antusias menunggu malam undian itu,” tulis Bu Kadus selanjutnya. “Ya syukurlah, Bu Kadus. Saya dan teman-teman juga merasa senang jika warga merasakan hal yang sama.” “Kok gak dibalas, Say?” pesan SMS Mei masuk. “Maaf, Say, ini ada chat dari keluarga di Jakarta,” ngeles Alex. “Oh iyo. Kalau begitu aku mau tidur duluan, ya? Tapi nanti aku pengen, Say. Semalam kan kita gak bisa main karena Zara ikut tidur di sini.” “Iya, Say. Tapi kira-kira si Zara tidur lagi di sini gak ya malam ini?” “Gak tau, Say. Tapi kayaknya gak. Mudah-mudahan.” “Ok, met rehat dulu, ya? Ummach.” “Ok, say. Ummach.” “Dik Alex sudah tidur ya?” Chat Bu Galuh kembali masuk. Alex belum langsung balas karena ada beberapa pesan SMS juga yang harus ia balas, yaitu dari Tante Lena, dan juga dari
Lalu, di pagi menjelang siang ini, mereka benar-benar sedang memanfaat suasana sepi itu untuk saling memanjakan bi**hi satu sama lain. Ambar memasrahkan semuanya kepada Kulman, dan Kulman ingin memberikan sesuatu yang tidak akan pernah Ambar dapatkan dari suaminya. Hunjaman dan gempuran yang dilakukan oleh Kulman benar-benar membuat Ambar sangat menikmatinya. Dinding-dinding lorong hangatnya yang dipenuhi saraf-saraf sensitif merespon dengan baik, sehingga membuatnya menjerit kecil namun kuat sebelum ia jatuh dengan posisi tengkvrap semabri menumpahkan cairan bening yang sangat membahagiakannya. Dan itu membuat kasur busa tipis menjadi basah. Namun mereka tak pedulikan itu. Kebahagiaan yang Ambar tak berhenti sampai di situ. Sebab Kulman yang sedang on fire langsung mengejar. Pada posisi Ambar seperti itu pun ia langsung menghunjamkan mata bajaknya yang cukup panjang yang membuat leher dan wajah Ambar sontak terangkat. Suara jeritan dan racauan pun kembali terdengar d
Sebenarnya Mei ingin satu mobil dengan sang PIL-nya. Namun tentu tidak mungkin itu dilakukan, karena ia membawa mobil sendiri. Ia bersama Zara, sementara Alan bersama Rudi dan Hanif. Dan memang benarlah. Begitu ketiga mobil itu meninggalkan posko, kedua insan yang dimabuk cinta dan punya sifat sangat gandrung s3x itu langsung menutup pintunya. Kulman langsung membopong bini orang itu ke dalam kamar cowok. Memang semalam mereka uring-uringan nyaris tak bisa tidur karena gairah tinggi mereka tak bisa tersalurkan. Zara ikut-ikutan tidur di luar, di dekat Ambar, dengan alasan dalam kamar katanya agak gerah. Karena itu, ketika posko dalam kondisi kosong seperti itu, mereka akan memanfaatkannya dengan sebaik-sebaiknya. Seperti batin Alex. Keduanya benar-benar sama-sama berkebutuhan besar untuk saling memeberikan kebahagiaan tertinggi di ranjang itu. Jika Kulman lebih tinggi lagi desakan lib*donya karena memang masih laki-laki muda dan lajang, itu wajar. Tetapi Ambar yang suda
Ketika Pak Kadus Hasan sudah berada kembali di rumahnya, Alex dan ketujuh temannya langsung menghadap ke rumah beliau. Selain Pak Kadus Hasan, di sana juga hadir Dik Muhlis, ketua panitia hajatan, Bu Galuh, Bu Kadus, Bu Ema, dan beberapa ketua seksi acara. Pak Alwi belum pulang dari desanya. “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.” Salam Alex langsung dijawab oleh semuanya. “Pak Kadus, Bu Kadus, Bu Galuh, Dik Muhlis, Kang Asep, dan semua hadiri di sini pada sore hari ini yang kami hormati. Dalam kesempatan ini, kami selaku anggota kelompok KKN, ingin menyampaikan satu atau dua hal. Yang pertama, adalah kami ingin menyerahkan sumbangan kami untuk mendukung acara hajatan ini, terutama khusus untuk membeli seekor sapi untuk dipotong.” Mendengar itu langsung disambut dengan ucapan hamdallah dari semuanya. “Semalam Dik Muhlis dan Kang Asep, ya? Pemilik sapi.” “Iya, Kak.” “Iya, semalam Dik Muhlis dan Kang Asep datang ke posko untuk memberitahukan, bahwa suda
Dan karena memang Tante Lena malam itu sedang sangat menginginkannya. Begitu punya suaminya tegak, maka ia langsung memosisikan diri di atas. Ia menikmatinya dengan sambil memejamkan matanya. Saat itu ia sedang membayangkan sedang bergumul dengan Alex, sang singa muda nan perkasa. Sehingga dalam waktu yang singkat ia mampu mencapai klimaks tepat pada saat suaminya, Om Garvin, juga mengalami hal yang sama. Jika dihitung, permainan itu tak lebih dari empat menit. Namun karena memang Tante Lena memang berhasil meningkatkan gairahnya melalui bayangan Alex yang ia hadirkan saat itu. Pemuda yang merupakan bodyguard dan sopir pribadinya itu adalah stimulus terbesar baginya. “Papa benar-benar luar biasa, karena selalu mampu memuaskan Mama,” puji Tante Lena sembari mengusap dada suaminya. Dada yang ditumbuhi bulu secuil. Tentu saja pujian itu hanya sekedar buat menyenangkan hati suaminya, Om Garvin. “Tapi maaf, Mam, Papa gak lagi mampu melayani Mama dalam waktu yang agak la







