Compartilhar

Saya Pamit

Autor: Rizka Fhaqot
last update Data de publicação: 2023-03-25 13:09:02

***

Ruang kamar berukuran empat kali lima meter yang dihuni Saraswati itu tampak begitu rapi. Sirkulasi udara pun tampak baik. Kamar yang berbatasan langsung dengan teras samping rumah itu terasa begitu nyaman untuk digunakan sebagai tempat istirahat.

Di atas kursi rodanya Saraswati duduk dengan ekspresi wajah dingin, sedang di sisi tempat tidurnya Firdaus duduk sejak beberapa menit yang lalu dengan bibir terkunci. Laki-laki berambut hitam sedikit bergelombang itu memilih diam sembari menunggu kalimat yang akan ditujukan sang ibu untuknya.

Dua ibu dan anak itu memiliki karakter yang begitu mirip. Sama-sama acuh, lebih lagi terhadap orang yang baru dikenal.

"Siapa perempuan itu?" tanya Saraswati setelah bermenit-menit hanya diam sambil menatap kosong dinding pembatas bercat biru muda di hadapannya.

Beberapa detik tak ada jawaban. Firdaus berusaha mencari kalimat yang tepat sebagai jawaban, karena paham seperti apa karakter perempuan yang telah melahirkannya itu. Dingin dan pastinya tak gampang menerima kehadiran orang asing. Bahkan terhadap Mbok Sumi dulupun tak jauh berbeda, syukurnya Mbok Sumi cukup sabar hingga akhirnya ia diterima dengan baik di sini bahkan sudah dianggap keluarga.

"Dia hampir dicelakai preman semalam, aku hanya ingin menolongnya," jawab Firdaus dengan nada datar.

"Menolongnya bukan berarti kau harus membawanya ke rumah ini," jawab Saraswati dengan nada yang sama.

"Dia pingsan semalam karena kelelahan setelah berjalan jauh. Aku ketemu waktu mau beli obat buat Mama. Maaf kalau nggak ceritaka sama Mama semalam, itu karena nggak mau ganggu istirahat Mama."

Perempuan paruh baya itu kembali diam. Ia tak menyalahkan langkah putra sulungnya itu. Tak ada yang salah dengan menolong perempuan lemah, hanya saja ia khawatir sang anak akan dimanfaatkan, persis kejadian dua bulan lalu.

Ya, dua bulan lalu Firdaus pernah menolong perempuan paruh baya yang mengaku di-KDRT oleh suaminya, yang ternyata ujung-ujungnya malah menipu Firdaus.

Perempuan itu meminta tolong agar dipinjami modal usaha setelah sebelumnya Firdaus membantunya bangkit dari keterpurukan, nyatanya uangnya dibawa kabur, bahkan Firdaus harus menderita karena dihajar oleh suaminya yang ternyata seorang preman.

"Mama nggak pernah ngelarang kamu buat nolong orang, tapi setidaknya kamu harus mikirin keselamatan kamu juga. nggak semua orang yang tampak menderita itu benar-benar menderita, ada sebagian yang hanya memasang wajah memelas demi sebuah tujuan yang akan merugikanmu." Saraswati berbicara panjang lebar tanpa menatap ke arah sang anak.

"Insya Allah aku bisa jaga diri, Ma," jawab Firdaus sambil melirik sekilas ke arah sang ibu.

Saraswati hanya menghela napas dalam.

"Lalu apa yang akan kau lakukan pada perempuan itu?" tanya Saraswati kemudian.

Beberapa saat Firdaus kembali diam. Ia sendiri belum menemukan jalan untuk itu. Namun, saat bersamaan sebuah ide melintas di kepala, ide yang ia harap bisa menjadi jalan tengah.

"Rencananya aku mau mempekerjakannya dia di kantor sesuai kemampuannya, tapi tidak untuk waktu dekat. Sementara biarkan dia di sini untuk Asya," jawab Firdaus dengan nada suara berubah peduli.

Beberapa detik saja melihat kedekatan Asya dan Rumi membuat ia rindu Syifa, perempuan berwajah lembut yang telah pergi dari sisinya untuk selamanya.

"Mama khawatir semakin lama Asya akan semakin sulit dipisahkan darinya," keluh Saraswati dengan wajah muram. Ia pun menyadari betapa bahagia Asya setelah kedatangan Rumi. Bahkan belum genap dua puluh empat jam bersama, keduanya tampak persis seperti ibu dan anak yang saling menyayangi.

Firdaus mengusap wajah pelan, lalu meletakkan kedua siku ke lutut dengan kedua jemari saling bertaut di antara paha yang terbuka.

"Akan kupikirkan lagi jalan selanjutnya, Ma. Aku hanya mau bantu dia, berharap apa yang kulakukan sekarang berimbas baik untuk kehidupan kita semua. Lagi pula, untuk saat ini kita juga harus ngutamain Asya."

"Baiklah kalau memang kamu yakin dia perempuan baik-baik, bukan seperti perempuan waktu itu. Mama hanya nggak mau kejadian waktu itu terjadi lagi."

"Insya Allah nggak akan, Ma, lagi pula Tuhan melihat niat kita dan niat Firdaus waktu itu hanya ingin menolongnya."

"Mama hanya nggak mau kamu dimanfaatkan."

"Aku hanya butuh do'a dari Mama," ucap Firdaus, membuat perempuan paruh baya itu tak lagi menyangkalnya.

"Mama hanya ingin kamu dan Asya bahagia," ucapnya pasrah.

Sejak dulu memang hanya itu doa yang kerap ia panjatkan. Baginya kebahagiaan Firdaus dan Asya adalah terpenting karena kebaikan anak sulungnya itu tak perlu ia ragukan lagi.

Firdaus bangkit dan melangkah keluar sambil mendorong kursi roda sang ibu bersamanya. Saat bersamaan adzan magrib mulai berkumandang.

"Papa lama banget, Asya pengen sholat beyjamaah sama Papa, Oma, Mbok, juga Ummi," celoteh Asya dengan wajah riang. Kini ia sudah bersiap dengan mukena berwarna pink bergambar kartun gadis kecil berada.tepat di depan dada. Di belakangnya ada Mbok Sumi juga Rumi yang sudah siap dengan mukena yang dipinjamkan Mbok Sumi untuknya.

"Maaf, Sayang, tadi Oma mau ngobrol sama Papa," jawab Firdaus sambil menyerahkan kursi roda Saraswati pada Mbok Sumi. Mbok Sumi langsung membawa Sarawati untuk berwudhu.

Rumi membuang pandangan ke sembarang arah, demi menghindari tatapan wajah dingin di hadapannya, sedang tangan kanannya bertaut dengan tangan mungil Asya.

"Ya udah, ayo kita sholat sekarang," pinta Asya sambil menarik tangan sang ayah.

"Asya ke mushola dulu, ya, Papa mau siap-siap, mau wudhu dulu," ucap Firdaus dengan senyum lembut, tangannya mengusap pipi bulat sang putri.

Sekilas Firdaus melirik pada Rumi yang kini terpaku menatap pucuk kepala Asya. Sejak melihat wajah polos Rumi dengan mata tertutup semalam, mengingatkannya pada Syifa. Bahkan sempat terpikir olehnya jika Rumi sengaja Allah kirimkan untuk menggantikan peran Syifa. Terbukti dalam hitungan jam Rumi berada di rumah ini suasana terasa jauh berbeda. Namun, bayangan itu segera ia tepis. Firdaus tak ingin berharap terlalu dalam pada perempuan asing yang baru saja ia kenal dalam hitungan jam.

***

Tiga hari sudah Rumi berada di sini. Ia merasa begitu bersyukur telah ditolong laki-laki baik yang ia gambarkan seperti malaikat penolong. Namun, ia pun tak ingin memanfaatkan kebaikan laki-laki itu.

Malam ini keduanya tengah berada di saung kecil di samping rumah, tempat di mana Firdaus kerap menghabiskan malam sendirian dengan ditemani segelas kopi, juga laptop di atas meja kecil.

Di bawah saung terdapat kolam ikan mas berbagai warna dan ukuran. Ditemani suara gemericik air yang berasa dari air terjun sebelah kanan kolam.

Rumi baru saja mengantar kopi untuk Firdaus. Ia sengaja meminta izin pada Mbok Sumi untuk mengantarkannya, karena ingin bicara pada laki-laki itu.

"Makasih sudah nolong saya waktu itu. Maaf jika selama saya di sini sudah merepotkan keluarga ini," ucap Rumi pelan. Sejujurnya sudah sejak tadi siang ia berusaha memantapkan hatinya untuk berbicara pada Firdaus.

Firdaus tak langsung menjawab, matanya terus saja fokus ke layar laptop dengan logo buah apel separuh di belakangnya.

"Aku hanya ingin pamit," lanjut Rumi setelah beberapa menit tak kunjung mendapat jawaban dari laki-laki itu.

Firdaus menghentikan gerakan tangannya. Rasa tak nyaman seketika bergelenyar di sudut hatinya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Adamammra Channel
Best kisah nya
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Luka Terpendam

    “Nggak mungkin apanya? Dia cantik, keliatan adem juga diliat. Karena nggak sebanding status sosial?” Hakim memastikan. Kali ini laki-laki itu melipat kaki kirinya di atas kursi dan duduk menghadap Firdaus. Matanya menelisik, berusaha mencari tahu alasan Firdaus yang bisa diterimanya. Firdaus menghela napas. Ia paham jika hingga detik ini status Rumi masih belum jelas. Rumi masih sah berstatus istri orang dalam pencacatan sipil, lebih lagi masa iddah Rumi masih cukup lama. “Nggak gitu juga, tapi ….”Pintu ruang praktek Ghina terbuka, membuat Firdaus tak melanjutkan ucapannya. Ghina tampak melangkah ke luar. Dalam diam Firdaus berusaha mencari keberadaan Rumi dengan ekor mata, tapi perempuan itu tak ikut keluar hingga Ghina kembali menutup pintu ruangannya. “Dia masih di dalam,” ucap Ghina dengan senyum kecil, seolah paham dengan gerak-gerik sahabat sang suami. “Nah, apa kataku juga, kamu naksir dia,” goda Hakim sambil menepuk cukup keras pahanya sendiri sambil terkekeh. Firdaus ter

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Maukah Kau Menikah Denganku?

    Bergegas Rumi meneguk minumannya. Jujur saja, kalimat Firdaus barusan mampu membuatnya tersentak. Hati Rumi tergelitik untuk bertanya, apa yang diketahui laki-laki itu tentangnya lewat Mbok Sumi, hanya saja ia terlalu sungkan, hingga akhirnya Firdaus kembali bersuara. "Jangan banyak pikiran, supaya bayimu sehat. Jangan khawatirkan tentang tempat tinggal dan kehidupanmu selanjutnya. Jika kau bersedia, tetaplah tinggal di rumah itu dan menganggap Asya seperti anak kandungmu sendiri, meski kelak setelah kamu memiliki anak dari rahimmu sendiri." Suara Firdaus terdengar sedikit serak. Hatinya berdesir hebat setiap berada di dekat Rumi, meski sebenarnya jarak pemisah antara mereka berneter-meter. "Kurasa tidak terlalu baik jika kamu memilih untuk tinggal sendiri dalam kondisi seperti sekarang ini. Lebih lagi aku tak tega melihat Asya kembali p atah hati untuk kesekian kalinya." Rumi hanya membeku. Tatapannya jatuh pada jemari yang melingkar di pinggang botol plastik di tangannya. Fird

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Rasa yang Mulai Berkecambah

    "Apa maksudmu?" Firdaus bertanya dengan kepala setengah tertunduk. Rumi tak langsung menjawab, memilih diam beberapa saat. "Beristirahatlah di rumah, Pak. Bapak sudah sangat lelah setelah seharian bekerja, lebih lagi dalam keadaan berpuasa." Rumi berucap sepelan mungkin, berharap kalimatnya tak menyinggung perasaan Firdaus. Firdaus terdengar mendesah pelan. "Tolong jangan memintaku untuk pulang malam ini. Keadaanmu masih belum pulih, dan di sini tak ada siapapun yang menemanimu." Firdaus berucap dengan tatapan luruh di atas lantai berkeramik senada dengan warna dinding ruangan. "Maaf sebelumnya jika perkataanku membuat Bapak tak nyaman, tapi inilah adanya, kita adalah dua orang asing yang tak seharusnya berada dalam ruangan yang sama sepanjang malam, ucap Rumi dengan kepala kian tertunduk. Jujur lidahnya begitu berat untuk mengucapkan kalimat barusan, hanya saja hatinya mengatakan jika ia harus berani. "Jika memang kamu keberatan aku berada di sini, aku akan tidur di mushola

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Asya Ingin Menemani Rumi

    Suasana canggung di ruang rawat Rumi terus saja terasa semenjak pertemuan Asya dan Firdaus sejak satu jam lalu. Bahkan hingga kini, saat Firdaus mengajak Asya untuk kembali ke rumah, gadis kecil itu kembali melayangkan protesnya terhadap sang ayah. "Abi kenapa pulang? Siapa yang nungguin Ummi kalau kita pulang?" Asya menatap ke arah Firdaus dengan mata menyipit, merasa tak terima dengan ajakan sang ayah. Firdaus berjongkok di depan sang anak, dua tangannya menyentuh bahu Asya pelan. "Sayang, Abi butuh istirahat karena besok harus kerja. Ummi di sini sama Mbok Sumi. Asya juga besok harus sekolah, jadi sekarang kita pulang dulu, ya. Kan, besok sepulang sekolah masih bisa jenguk Ummi ke sini." Firdaus berusaha membujuk sang anak, meski hasilnya masih sama. "Nggak mau, Asya mau nemenin Ummi di sini. Asya nggak mau nanti Ummi pergi lagi." Asya mengerucutkan bibirnya, kali ini matanya tampak berkaca-kaca dengan kedua tangan saling meremas satu sama lain. Firdaus terdengar me

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Rumi Masuk Rumah Sakit

    *** Penunjuk waktu di dinding kamar bercat putih itu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ketika Rumi perlahan membuka matanya. Ia baru saja sadar dari pingsannya. Spontan tangan Rumi mengusap lembut perutnya, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Rumi menghela napas berat ketika menyadari di mana ia berada. Kini tatapannya terhenti pada sosok yang tengah duduk di samping kiri ranjang, laki-laki yang kini fokus ke layar ponsel di tangan. Rumi merasakan lidahnya kelu untuk sekedar menyapa, hingga akhirnya ia lebih memilih berusaha bangkit meski dengan selang infus di tangan kirunya. "Udah bangun?" Firdaus segera mematikan ponselnya ketika sadar Rumi tengah susah payah untuk duduk. Rumi hanya menjawab dengan senyum di wajah pucatnya. Jujur, ia tak nyaman karena terus merasa merepotkan Firdaus. "Istirahat aja dulu. Sebentar lagi Asya mau datang," lanjut Firdaus sambil sibuk memutar crank untuk menaikkan bagian kepala ranjang pasien, berharap Rumi merasa lebih nyaman.

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Rumi Pingsan

    *** Rumi masih berkutat dengan pekerjaannya ketika ponsel berdering. Hari ini terasa begitu melelahkan baginya. "Assalamualaikum," ucapnya santun, terlebih setelah tahu siapa sang penelepon. "Maaf, siang ini saya banyak kerjaan. Kalau nggak keberatan nanti sore sepulang kantor saya tunggu di ruang kerja," ucap laki-laki dari seberang sana dengan suara pelan. Siapa lagi kalau bukan Firdaus, laki-laki yang akhir-akhir ini menunjukkan perhatian berbeda pada Rumi. "Baik, Pak," jawab rumit singkat. Ritme jantungnya berubah cepat setelah menerima telepon dari laki-laki itu. Bukan cinta, melainkan rasa gusar yang perlahan merayap di relung hati. *** Sepanjang siang hingga sore Rumi hampir tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bayangan tentang pertemuannya dengan Firdaus sore nanti membuat pikirannya terganggu. Lebih lagi Kondisi tubuhnya yang sedang kurang nyaman, mengingat dirinya yang tetap memilih berpuasa. Sejak semalam Mbok Sumi sudah memberi saran agar dirinya m

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Menemani Asya

    Rumi hanya mematung di tempatnya berdiri. Tak bisa menjawab apa-apa selain diam dengan suasana hati mengharu biru. Tak tahu lagi kalimat seperti apa yang bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Akbar maupun keluarganya. Perlakuan mereka persis bak malaikat penolong bagi Rumi. Melihat Rumi hanya

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Kekhawatiran Terjadi

    Audi yang semula hendak beranjak dari ruangan Rumi kini berbalik. Menatap tajam ke arah perempuan berkerudung itu."Aku menyukai Pak Firdaus, dan aku lebih dulu mengenalnya ketimbang kamu. Jadi aku harap, kamu menyadari siapa kamu. Jangan sampai rasa benciku berdampak buruk terhadap kehidupanmu!" uca

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Peringatan dari Audy

    "Ehm, gimana kalau Abi pesan makanan saja di luar, biar kita bisa makan sama-sama di sini," saran Firdaus sejujurnya ia tengah berusaha menghindar penilaian orang-orang terhadapnya, terutama para karyawan di kantornya. Asya menggeleng cepat. Bibirnya mengerucut sambil menatap lekat wajah sang ayah.

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Ponsel Baru buat Rumi

    "I—ini maksudnya apa Pak?" Rumi memberanikan diri untuk bertanya. "Ambilah, tidak mungkin kau bisa bekerja maksimal jika tanpa alat yang bisa mendukung pekerjaanmu."Rumi terdiam sejenak. Ada rasa lega karena Firdaus sama sekali tidak membahas tentang keterlambatannya ke kantor hari ini. Namun, ada y

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status