Home / Romansa / KAWIN LARI / 64. Gara - gara Payroll

Share

64. Gara - gara Payroll

Author: Chida
last update publish date: 2026-09-07 13:51:19

"Kamu nggak kerja, Ra?" tanya Bu Sum yang berjalan dari arah dapur sambil membawa semangkok nasi goreng dan satu piring berisi tiga telur mata sapi. "Makan dulu, jangan lupa vitamin kamu." Bu Sum mengingatkan.

"Dara izin masuk setengah hari, Bu. Semalam rasanya nggak enak sekali badan Dara."

"Kamu kecapekan itu, Ra. Kalau sekiranya memang sudah capek ya berhenti dulu mengerjakan kerjaan kantor. Kasian bayi di dalam perutmu juga."

"Iya, Bu."

"Malam ini lembur lagi?"

"Enggak, Bu." Dara mula
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
up lagi kk chida,
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
nah.. ketemu tanpa sengaja kan, gimana itu rizal lihat Dara hamil, pasti salah paham dikira Dara selingkuh dgn teguh, 🫠🫠🫠🫠🫣🫣🫣
goodnovel comment avatar
virna putri
wahhhh.. ga sabar nunggu up nya lagi..gas keun mba chidaa.. sehat sll ya mba
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAWIN LARI    64. Gara - gara Payroll

    "Kamu nggak kerja, Ra?" tanya Bu Sum yang berjalan dari arah dapur sambil membawa semangkok nasi goreng dan satu piring berisi tiga telur mata sapi. "Makan dulu, jangan lupa vitamin kamu." Bu Sum mengingatkan. "Dara izin masuk setengah hari, Bu. Semalam rasanya nggak enak sekali badan Dara." "Kamu kecapekan itu, Ra. Kalau sekiranya memang sudah capek ya berhenti dulu mengerjakan kerjaan kantor. Kasian bayi di dalam perutmu juga." "Iya, Bu." "Malam ini lembur lagi?" "Enggak, Bu." Dara mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. "Palingan nanti jam enam sudah pulang." "Baguslah kalau begitu." "Tapi kayaknya Dara mau ke rumah Mas Teguh, boleh Bu?" "Tumben, nggak pernah - pernah kamu mau main ke rumahnya semenjak kita tinggal di Bandung." "Iseng aja, mau ketemu Kinan. Udah lama nggak ketemu, lagian biar sekalian kenal sama ibunya Mas Teguh.... Silahturahmi." Dara melemparkan senyum pada Bu Sum. Bu Sum mengangguk, "jangan lupa vitaminmu," ucap Bu Sum lagi sebelum men

  • KAWIN LARI    63. Melewatkanmu

    Langkah kaki anggun berirama itu melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Rizal. Sorot mata tajam itu tak begitu memperdulikan kehadiran wanita pemilik rambut hitam sepundak. "Zal," sapanya mendekati meja kerja Rizal.Setelan kemeja dengan rok pendek di atas lutut berwarna krem menampakkan kaki jenjang yang menggoda. Synthia menyandarkan bokongnya di ujung meja kerja sambil menyilangkan kaki. "Makan siang, yuk," ajaknya."Aku sibuk, dua jam lagi ada tindakan operasi.""Kan masih dua jam lagi," ujarnya manja."Maaf Syn, aku nggak bisa.""Ck ...." Synthia mendengus kesal. "Besok kita jadi ke Bandung, kan?""Kita?" Rizal menghentikan aktivitasnya, menjauhkan tangannya dari keyboard."Iya, utusan dari kantor aku mendadak nggak bisa. Jadi ya udah aku aja," ujar Synthia santai."Kalo gitu bagian Purchase-ku saja yang ke Bandung," ujar Rizal."Ya nggak bisa gitu dong, Zal. Kontrak dengan Sub nya saja mengharuskan kamu yang hadir, itu juga karena Uni Hanna masih belum bisa maksimal kerjanya."

  • KAWIN LARI    62. Kecewa

    Mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah kontrakan Dara. Pagi itu Bu Sum sedang menyapu halaman, sambil tersenyum Bu Sum meletakkan sapu lidi tersandar di sisi pagar."Pagi Bu Sum," sapa Teguh."Pagi, Nak Teguh.""Kinan ... sini," panggil Teguh pada gadis kecil berusia sekitar lima tahun, yang masih bersembunyi di balik pagar. "Katanya mau kenalan sama Tante Dara, ini rumahnya," ucap Teguh sambil berjongkok membujuk anak perempuannya.Bu Sumi tersenyum, ada sesak di dadanya melihat seorang anak yang masih terlalu kecil sudah harus kehilangan ibunya. Membayangkannya saja sudah sesak apalagi gadis kecil itu yang merasakan bagaimana hidup tanpa seorang ibu."Ayo masuk, Uti punya coklat di dalam. Namanya siapa?" tanya Bu Sum lembut."Ditanya namanya siapa tuh, sama Uti. Teguh meraih jari-jari mungil itu mengajaknya melangkah masuk pekarangan."Kinan," ucapnya lirih."Ayo ikut Uti, Uti punya coklat dan biskuit, Kinan mau?""Mau," jawab Kinan sambil mengangguk-angguk."Nak T

  • KAWIN LARI    61. Mencari

    Rizal melempar ponselnya ke atas ranjang, dadanya bergemuruh kesal. Bagaimana tidak dia kesal, hampir dua bulan dan dia tidak mendapatkan satu kabarpun tentang keberadaan dimana istrinya. "Ada apa sih ini sebenarnya!" BughTangannya menghantam tembok bercat putih di kamar mereka. "Arggh! Sialan, dimana kamu Ra!""Cal ... Ical, kamu kenapa?" Suara Donna dari balik pintu semakin menambah emosi Rizal."Cal ... kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Mama dengan ada suara keras dari dalam kamar. Cal—"Rizal masih tak bersuara, dadanya bergemuruh, nafasnya menderu."Bangsat!""Cal! Mama masuk ya ...." Donna mulai khawatir, dia berulang kali berusaha membuka pintu kamar Rizal."Pa ... Pa!" panggil Donna.Hanna dan suaminya berlari tergopoh-gopoh mendengar suara Donna yang memanggil Andreas. Sementara Andreas, keluar dari kamarnya dengan wajah panik."Ada apa?""Rizal, di dalam entah kenapa. Sepertinya dia sedang marah," ujar Donna."Cal, buka pintunya," ujar Hanna berusaha selembut mungkin untuk

  • KAWIN LARI    60. Antara Senang atau Sedih

    Pintu pagar setinggi satu setengah meter itu masih terkunci. Kios tempat Bu Sum mencari rejekinya juga masih tertutup rapat padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Rizal tiba di Jogja pukul 10 pagi tadi, menempuh perjalanan dari bandara ke rumah Bu Sum sekitar hampir satu setengah jam. Rizal akhirnya memutuskan untuk menemui istrinya meski larangan Donna saat itu cukup keras. Jauh di lubuk hati lelaki itu dia begitu merindukan Dara selama tiga minggu ini."Cari siapa?" tanya wanita bertubuh kurus yang kebetulan lewat. "Eh, Mas Rizal?" Dia terkejut saat mendapati pria yang berdiri lama di sana adalah Rizal."Mbak Siti? Mbak Siti, kan?""Iya, Mas," jawab Siti nampak sedikit ragu. "Mm—mbak Dara nya nggak ikut, Mas?" "Loh, Dara nggak di rumah?""Bukannya Mbak Dara di Padang?" Wajah Siti bingung."Oh, mm— begini Mbak Siti," ujar Rizal pun bingung ingin mengatakan apa. "Kalo Dara sudah datang, tolong suruh langsung hubungi Saya, karena nomer dia dan nomer Ibu nggak bisa Saya hubun

  • KAWIN LARI    59. Senyum Kemenangan

    "Selamat pagi."Synthia masuk ke ruangan yang dominan berwarna putih itu. Melengkok berjalan mendekati meja kerja Rizal."Pagi, Syn.""Aku bawain kamu sandwich dan ...." Synthia meletakkan dua cangkir berisi kopi kesukaan Rizal. “Sarapan dulu, yuk.”"Makasih, Syn." Rizal meraih roti sandwich yang sudah dibuka oleh Synthia. "Kamu bikin sendiri?"Synthia tertawa. "Ya nggak mungkin, Zal."“Sudah kutebak.” Rizal ikut tertawa."Bagaimana Dara? Sudah menghubungi kamu?" tanya Synthia penasaran."Belum, entah mau nya apa," jawab Rizal sedikit kesal. Sebersit senyuman memikat sudut bibir Synthia. Perlahan tapi pasti dia yakin, lelaki yang berada di hadapannya ini akan jatuh ke pelukannya.“Tapi mungkin aku akan ke Jogja, setelah urusan pekerjaan di rumah sakit selesai.”"Oh." Hati Synthia mencelos, tadinya dia berharap Rizal akan masa bodo akan kepergian Dara."Jadi, apa yang akan kita bahas hari ini?" tanya Rizal membuat Synthia kembali sadar dari lamunan."Untuk tempat tidur di gedung baru

  • KAWIN LARI    Bab 6. Melting

    "Bawa ini." Bu Sum menyerahkan kantung plastik berisi bubur ayam pagi itu."Apa ini, Bu?""Bubur ayam buat sarapan dokter Rizal.""Loh kan Dara cuma mau anter baju ke Mas Teguh, Bu. Enggak ke tempat dokter Rizal.""Sekalian, Ra. Kan satu tempat juga, lagian kasian anak rantau sakit tuh nggak ada ya

  • KAWIN LARI    Bab 5. Kan Aku Jadi Suka

    "Pagi, Dokter," sapa Bu Sum memasuki ruangan dokter spesialis saraf dengan senyum sumringah berbeda dengan saat waktu Bu Sum datang pertama kali ke ruangan itu. Ditemani Bagas, Bu Sum menceritakan perkembangan yang dia rasakan selama sebulan ini semenjak menggunakan collar neck secara rutin. "Cob

  • KAWIN LARI    Bab 4. Mari Kita Rayakan

    "Ayo," ajak Rizal.Dara berdiri terpaku, di tatapnya kafe yang ada di hadapannya. Setahu Dara, kafe yang mereka kunjungi ini harga makanannya cukup mahal, sedangkan uang yang ada di dompetnya hanya tersisa seratus ribu rupiah."Karena saya yang traktir, jadi sebaiknya saya yang menentukan kita maka

  • KAWIN LARI    Bab 3. Teman Makan Malam

    "Hasil MRI nya menunjukkan adanya saraf terjepit di leher, ruas C-5 dan C-6. Ini termasuk salah satu yang riskan ya, Bu. Kita ada dua solusi, keputusan saya kembalikan ke Ibu," ujar dokter Zainal, dokter senior itu."Apa, Dok?""Operasi atau—""Operasi? Waduh, Dok." Wajah Bu Sum seketika panik."Te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status