Nyatanya bukan hanya tokoh Siti Nurbaya saja yang mengalami nasib miris. Rizal, seorang dokter residen juga harus memperjuangkan Dara, gadis yang dia cintai demi meluluhkan ego keluarganya. Mampukah Rizal dan Dara menembus tembok besar di antara hubungan mereka. Atau mereka harus menyerah karena banyak hati yang harus mereka sakiti. "Aku nggak pernah salah dengan pilihan dan keputusanku. Dara, ayo kita menikah ...." Rizal menatap sendu gadis berbulu mata lentik yang tengah berdiri dihadapannya. "Jika memang ini yang terbaik, maka aku akan dengan ikhlas melepaskanmu," bisik Dara lembut di telinga Rizal malam itu.
View More"Pagi Mas Teguh, mau antar laundry." sapa Dara gadis 24 tahun itu tersenyum saat pintu kamar terbuka.
"Eh Dara, kok tumben?" Teguh salah satu penghuni kost-kostan eksklusif di daerah Seturan itu semakin membuka lebar pintu kamarnya.
"Ibu sakit, Dara nganggur ... ya udah jadinya Dara yang antar."
Teguh mengangguk-angguk, "eh iya sebentar." Dia kemudian masuk sebentar tak berapa lama sudah kembali dengan membawa uang ratusan beberapa lembar. "Ini uang laundry bulan ini," ujar Teguh memberikan empat lembar uang ratusan. "Dan ini buat Dara, kata Ibu Sum ... Dara wisuda akhir bulan kan?"
"Eh ...." Dara menolak.
"Cuma segini, buat persiapan wisuda," ujar lelaki beranak satu yang jauh dari keluarga kecilnya lantaran kembali menuntut ilmu di kota melanjutkan jenjang S2 nya. "Dapat salam juga dari istriku, mudah-mudahan bulan depan bisa ketemu kamu katanya."
"Wah, Mas ... Dara jadi nggak enak."
"Terima, kalo belum dibutuhkan ya di tabung."
"Makasih ya Mas," ucap Dara dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, salam buat ibu ya. Semoga cepat sembuh."
"Iya, Mas."
"Mau antar kemana lagi?"
"Ini ada dua pack lagi kata ibu buat kamar 22, di atas ya Mas?"
"Oh anak baru itu, baru pindah ... dokter kalo nggak salah."
"Oh oke kalo gitu, Dara antar dulu ya."
"Kuat?" tanya Teguh melihat tubuh semampai itu membawa dua bungkusan berisi baju. Dara hanya menoleh sambil mengacungkan ibu jarinya.
Dara berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka, mendengar percakapan seorang lelaki dengan bahasa daerah tertentu sepertinya berbicara melalui panggilan telepon. Dia mengurungkan ketukan di pintu saat mendengar nada tinggi lelaki itu seakan marah.
"Ma, Ichal alah kecekkan ka Mama ... batalkan sajo! Indak ado tunangan tuka cincin apolai pernikahan. Ichal nio fokus samo kuliah Ichal. Tingga duo tahun lai, Ma, tolonglah mangarati." (Sudah Ichal bilang kan Ma, batalkan! Enggak ada pertunangan apalagi pernikahan. Ichal masih harus pokus dengan pendidikan Ichal. Tinggal dua tahun lagi Ma, tolonglah mengerti.)
"Enggak Ma, enggak ... cukup Ichal bilang! Atau mama sama papa mau Ichal lari lagi!".
Seketika ruangan itu senyap tak ada lagi suara, Dara masih terpaku di sana tanpa sadar sosok lelaki bertubuh tinggi itu berdiri di depannya.
"Cari siapa?" tanyanya garang.
Dara mengangkat wajahnya, tubuh itu hanya berselisih kira-kira hampir 20 sentimeter dari tinggi tubuhnya.
"Oh ... eh, iniā mau antar laundry," ucap Dara gugup.
"Kamu siapa?" Pertanyaan itu seperti mengintimidasi.
"Saāsaya Dara, anak Bu Sum."
"Oh ibu laundry kemarin? Kenapa bukan dia?"
"Ibu sakit, jadi saya yang antar. Kalo begitu saya permisi," ujar Dara cepat-cepat melangkah.
"Uangnya?" panggil lelaki bernama Rizal itu.
"Mau dibayar sekarang?" Dara menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Lah? mau di bayar enggak?"
"Ya terserah, kata ibu bisa harian, mingguan atau bulanan."
"Oh ... mingguan aja kalo gitu," jawabnya.
Dara mengulum senyumnya, lalu kembali melangkah menuruni anak tangga. Tiba di parkiran motor kost eksklusif itu, Dara menyalakan motor Mio tuanya dan melaju perlahan. Tanpa sadar pun, Rizal melihat ke arah gadis itu hingga kendaraan Dara tak lagi nampak.
*****
"Surat rujukannya sudah bisa di pakai besok," ujar Bagas menyodorkan surat rujukan BPJS pada Dara. "Tapi Bagas nggak bisa antar ya Mbak, Bagas ada latihan untuk acara lusa di sekolah."
"Sebentar, besok Sabtu kan nggak sekolah."
"Latihan Mbak, acaranya Senin. Mbak bisa kan?"
"Bisa sih tapi mungkin jam 10-an, karena pagi-pagi sekali Mbak mau liat-liat kebaya di tempat persewaan."
"Ibu pergi sendiri juga enggak apa-apa kok kalo kalian sibuk." Wanita paruh baya itu keluar dari kamarnya dengan tempelan beberapa koyok di area kepalanya serta leher.
"Bisa, Bu ... Lagian itu dokternya kata perawat tadi praktek jam 11 di Rumah Sakit." Bagas membantu Bu Sum duduk di kursi makan. "Hati-hati, Bu."
"Iya bisa kok, Bu. Oh iya laundry sudah Dara antar semua, sisa yang belum di setrika dan cuci nanti biar Dara yang kerjakan."
"Semoga Ibu cepet sehat ya, biar kerjaan Ibu nggak numpuk," ucap Bu Sum melihat dua kantung plastik besar berisi baju yang belum di cuci dan dua tas laundry yang tinggal di setrika.
"Enggak usah Ibu pikirkan, semua beres kalo Dara dan Bagas yang kerjakan, iya kan Gas?"
"Siap." Bagas memberi sikap hormat.
*****
"Antrian 12, Bu," kata Dara sambil menuntun Bu Sum duduk di kursi panjang rumah sakit salah satu universitas negeri di kota itu. "Minum dulu." Dara menyodorkan sebotol air mineral kepada Bu Sum.
"Ini yang periksa dokter spesialisnya kan, Ra?" Mata Bu Sum membaca papan nama dokter spesialis saraf di pintu berwarna putih itu.
"Ya iya dong, Bu. Kan kita mau ketemu dokternya masa perawatnya." Dara tertawa kecil.
"Kata tetangga, di sini banyak dokter yang masih belajar, takutnya Ibu jadi kelinci percobaan."
"Kelinci percobaan gimana? Ibu ada-ada aja. Udah tenang, yang penting sekarang kita pokus untuk pengobatan Ibu. Biar kita tahu kenapa leher, pundak dan belikat Ibu suka sakit."
Nomer antrian Bu Sum pun akhirnya mendapat urutannya. Pintu ruangan dokter pun terbuka, di dalam ruangan itu nampak tiga orang yang memakai jas berwarna putih. Ketiganya adalah laki-laki, satu dari mereka sudah cukup tua dan senior dan satu lagi tersenyum pada mereka, serta satunya lagi sedang membereskan hasil poto rontgen dari pasien sebelumnya.
"Selamat siang, Dok," sapa Dara sambil mengangguk dan menarik kursi untuk Bu Sum duduk.
"Selamat siang," ucap dokter yang lebih senior. "Silahkan duduk, ada keluhan apa, Mbak?"
"Ibu saya, Dok. Katanya pundak, leher dan belikatnya sakit. Sudah minum obat dari Puskesmas tapi hampir dua bulan ini masih sakit." Dara menjelaskan.
"Kita periksa dulu ya, Bu. Dokter Rizal bisa bantu saya," pinta sang Dokter senior pada salah satu dokter yang di awal masuk masih sibuk membereskan hasil rontgen pasien sebelumnya.
Mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah kontrakan Dara. Pagi itu Bu Sum sedang menyapu halaman, sambil tersenyum Bu Sum meletakkan sapu lidi tersandar di sisi pagar."Pagi Bu Sum," sapa Teguh."Pagi, Nak Teguh.""Kinan ... sini," panggil Teguh pada gadis kecil berusia sekitar lima tahun, yang masih bersembunyi di balik pagar. "Katanya mau kenalan sama Tante Dara, ini rumahnya," ucap Teguh sambil berjongkok membujuk anak perempuannya.Bu Sumi tersenyum, ada sesak di dadanya melihat seorang anak yang masih terlalu kecil sudah harus kehilangan ibunya. Membayangkannya saja sudah sesak apalagi gadis kecil itu yang merasakan bagaimana hidup tanpa seorang ibu."Ayo masuk, Uti punya coklat di dalam. Namanya siapa?" tanya Bu Sum lembut."Ditanya namanya siapa tuh, sama Uti. Teguh meraih jari-jari mungil itu mengajaknya melangkah masuk pekarangan."Kinan," ucapnya lirih."Ayo ikut Uti, Uti punya coklat dan biskuit, Kinan mau?""Mau," jawab Kinan sambil mengangguk-angguk."Nak T
Rizal melempar ponselnya ke atas ranjang, dadanya bergemuruh kesal. Bagaimana tidak dia kesal, hampir dua bulan dan dia tidak mendapatkan satu kabarpun tentang keberadaan dimana istrinya. "Ada apa sih ini sebenarnya!" BughTangannya menghantam tembok bercat putih di kamar mereka. "Arggh! Sialan, dimana kamu Ra!""Cal ... Ical, kamu kenapa?" Suara Donna dari balik pintu semakin menambah emosi Rizal."Cal ... kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Mama dengan ada suara keras dari dalam kamar. Calā"Rizal masih tak bersuara, dadanya bergemuruh, nafasnya menderu."Bangsat!""Cal! Mama masuk ya ...." Donna mulai khawatir, dia berulang kali berusaha membuka pintu kamar Rizal."Pa ... Pa!" panggil Donna.Hanna dan suaminya berlari tergopoh-gopoh mendengar suara Donna yang memanggil Andreas. Sementara Andreas, keluar dari kamarnya dengan wajah panik."Ada apa?""Rizal, di dalam entah kenapa. Sepertinya dia sedang marah," ujar Donna."Cal, buka pintunya," ujar Hanna berusaha selembut mungkin untuk
Pintu pagar setinggi satu setengah meter itu masih terkunci. Kios tempat Bu Sum mencari rejekinya juga masih tertutup rapat padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Rizal tiba di Jogja pukul 10 pagi tadi, menempuh perjalanan dari bandara ke rumah Bu Sum sekitar hampir satu setengah jam. Rizal akhirnya memutuskan untuk menemui istrinya meski larangan Donna saat itu cukup keras. Jauh di lubuk hati lelaki itu dia begitu merindukan Dara selama tiga minggu ini."Cari siapa?" tanya wanita bertubuh kurus yang kebetulan lewat. "Eh, Mas Rizal?" Dia terkejut saat mendapati pria yang berdiri lama di sana adalah Rizal."Mbak Siti? Mbak Siti, kan?""Iya, Mas," jawab Siti nampak sedikit ragu. "Mmāmbak Dara nya nggak ikut, Mas?" "Loh, Dara nggak di rumah?""Bukannya Mbak Dara di Padang?" Wajah Siti bingung."Oh, mmā begini Mbak Siti," ujar Rizal pun bingung ingin mengatakan apa. "Kalo Dara sudah datang, tolong suruh langsung hubungi Saya, karena nomer dia dan nomer Ibu nggak bisa Saya hubun
"Selamat pagi."Synthia masuk ke ruangan yang dominan berwarna putih itu. Melengkok berjalan mendekati meja kerja Rizal."Pagi, Syn.""Aku bawain kamu sandwich dan ...." Synthia meletakkan dua cangkir berisi kopi kesukaan Rizal. āSarapan dulu, yuk.ā"Makasih, Syn." Rizal meraih roti sandwich yang sudah dibuka oleh Synthia. "Kamu bikin sendiri?"Synthia tertawa. "Ya nggak mungkin, Zal."āSudah kutebak.ā Rizal ikut tertawa."Bagaimana Dara? Sudah menghubungi kamu?" tanya Synthia penasaran."Belum, entah mau nya apa," jawab Rizal sedikit kesal. Sebersit senyuman memikat sudut bibir Synthia. Perlahan tapi pasti dia yakin, lelaki yang berada di hadapannya ini akan jatuh ke pelukannya.āTapi mungkin aku akan ke Jogja, setelah urusan pekerjaan di rumah sakit selesai.ā"Oh." Hati Synthia mencelos, tadinya dia berharap Rizal akan masa bodo akan kepergian Dara."Jadi, apa yang akan kita bahas hari ini?" tanya Rizal membuat Synthia kembali sadar dari lamunan."Untuk tempat tidur di gedung baru
"Selamat bergabung." Dara menerima uluran tangan Andi seorang HRD manager tempatnya bekerja. Atas bantuan Winda, Dara diterima bekerja di hotel milik Mr. Richard."Gimana, Ra?""Makasih ya, Win ... sampaikan terimakasihku pada Mr. Richard. Kalau nggak ada kalian pasti aku akan kesusahan dapet kerjaan di sini.""Mr. Richard bilang apa sih yang enggak buat kamu," ujar Winda tertawa renyah."Jangan mulai deh," ucap Dara ikut tertawa. "Kapan ke Bandung, Win?""Nantilah, kalo kerjaan agak longgar aku juga pengin ambil cuti buat healing, kali aja bisa dapet jodoh.""Hhmm ... itu lagi.""Ra, aku tutup dulu ya. Bos besar manggil nih.""Ok, makasih ya Win ...."Baru saja Dara mengakhiri pembicaraannya, sebuah pesan masuk dari Bu Sum."Jangan lupa makan, Ra. Ibu takut maag kamu kumat lagi.""Iya, Bu. Ini Dara mau ke apotik sekalian beli obat untuk stok di rumah, Ibu mau titip apa?""Ibu nggak titip apa-apa, kamu cepat pulang ya."Tanpa membalas kembali pesan Bu Sum, Dara memasuki sebuah apotik
"Apa nggak sebaiknya kamu menghubungi suamimu, Ra?"Bu Sumi menyusun satu per satu lipatan baju Dara ke dalam lemari. Sudah satu minggu ini, anak perempuannya itu hanya berdiam menatap keluar jendela kamar."Apa kata mertuamu nanti, nggak baik, Ra. Walau bagaimanapun kamu masih berstatus istri Nak Rizal, menantu dari Pak Andreas. Sepelik apapun masalah kalian, pantang seorang istri lari dari rumah, apalagi masih tinggal di rumah mertua.""Kasih aku waktu, Bu. Biarkan aku menenangkan pikiranku dulu, kalau sekarang dibicarakan nanti malah menambah emosiku saja.""Terserah kamu kalo begitu. Cuma yang namanya masalah nggak baik kalo berlarut-larut di diamkan." Bu Sum melangkah mendekati Dara, menepuk pundak anak perempuannya. "Ibu mau telpon ke Jogja dulu. Biar loundry dibereskan semua, dan stop terima loundry untuk sementara waktu sampai Ibu pulang.""Bu," panggil Dara menghentikan langkah kaki Bu Sum yang sudah mendekati pintu."Ya?""Maafin Dara jadi merepotkan Ibu."Bu Sum hanya terse
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments