Share

Bab 5

Auteur: Lilian
Ketika ia membuka matanya lagi, suara tetesan infus rumah sakit memenuhi udara. Kepalanya terbalut perban tebal.

Dia duduk perlahan, sekilas melihat Arthur duduk di samping tempat tidurnya. Alisnya berkerut, matanya dipenuhi kekhawatiran.

“Kamu sudah bangun?” Suaranya serak, “Mana yang sakit, katakan padaku.”

“Bagian yang melepuh masih sakit? Aku akan memanggil perawat untuk mengganti perbanmu.”

“Dokter bilang lukanya tidak serius, hanya perlu rawat inap selama dua hari untuk diobservasi.” Arthur menambahkan dengan hati-hati, “Kalau lukanya membaik dan dioles salep setiap hari, tidak akan meninggalkan bekas luka.”

“Bagaimana tidurmu? Bantalnya mau disesuaikan?”

Naomi meliriknya acuh tak acuh, “Tidak apa-apa.”

“Bisakah kamu keluar dulu? Aku masih agak lelah, mau tidur sebentar lagi.”

“Kehadiranmu di sini akan mengganggu istirahatku.”

Jakun Arthur bergerak-gerak. Kata-kata yang hendak diucapkannya tersangkut di tenggorokannya.

Dia memperhatikan Naomi yang kembali memjamkan matanya. Pada akhirnya, dia bangkit dalam diam dan perlahan berjalan keluar ruangan.

Ruangan kembali sunyi.

Naomi membuka matanya perlahan dan menatap ke luar jendela. Hatinya setenang permukaan air yang membeku.

Namun, kesunyian ini tidak berlangsung lama.

Tidak sampai lima belas menit, pintu didorong perlahan hingga terbuka lagi.

Arthur kembali, membawa kotak makan tahan panas di tangannya.

Dia membuka tutup kotak makan itu. Uap panas bercampur dengan aroma makanan yang lembut seketika menyebar di udara.

"Ini makanan pasien yang sengaja dimasak sama Bi Rima. Dia paling tahu apa yang bergizi dan mudah dicerna."

Arthur mengambil sesendok, perlahan mengaduknya di sekitar tepi mangkuk, meniupnya, lalu mendekatkannya ke bibirnya, "Makan sedikit saja. Kalau kondisi tubuh membaik, lukamu akan lebih cepat sembuh juga."

Naomi memang sedikit lapar. Diam-diam membuka mulutnya, tidak menolak suapan dari Arthur.

Tepat pada saat itu, pintu bangsal tiba-tiba didorong terbuka.

Nadine berdiri di ambang pintu, memegang buket besar mawar sampanye yang tampak segar dan mewah. Senyum di wajahnya membeku seketika saat melihat pemandangan di dalam.

Air mata mengalir di pipinya tanpa peringatan.

‘Buk’

Suara buket yang menyentuh lantai terdengar. Buket itu terlepas dari tangannya yang melemah, kelopak bunga pun terlihat berserakan di lantai.

Suara itu mengejutkan dua orang di sisi ranjang.

Tangan Arthur terhenti sesaat, nyaris tak ada yang menyadarinya.

Nadine buru-buru menyeka air mata di pipinya. Sambil memaksakan senyum, dia membungkuk untuk mengambil buket itu, "Naomi," katanya, "Buket bunga ini untukmu. Semoga lekas sembuh." Dia berjalan ke arah lemari, buru-buru meletakkan bunga itu di sana dan bergegas keluar dari bangsal seolah melarikan diri.

Keheningan kembali, tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Arthur mengalihkan pandangannya, lalu kembali mengulurkan sesendok bubur ke bibir Naomi, tetapi pergelangan tangannya tampak kehilangan keseimbangannya.

Sendok porselen itu melenceng, bubur hangat menetes di dagunya.

Dia tersadar lalu segera meletakkan mangkuk di nakas samping tempat tidur, hingga menimbulkan suara dentingan kecil.

"Maaf," Arthur mengerutkan kening, "Nadine, mungkin emosinya sedang tidak stabil. Aku akan memeriksanya sebentar." Naomi tidak menjawab, memperhatikan sosok Arthur yang menjauh.

Dia perlahan menghabiskan semangkuk bubur yang mulai dingin itu.

Dia ingin keluar untuk menghirup udara segar, tetapi di dekat pintu tangga darurat yang setengah terbuka, terdengar suara yang familiar.

"Aku menolak perjodohan waktu itu, aku yang bersalah padamu."

"Kamu harusnya menikah dengan Naomi. Cepat kembali dan jaga dia."

Arthur menghela napas, "Nadine, bisakah kamu berhenti cemburu soal hal yang tak ada artinya? Naomi terluka saat kamu mentraktirnya makan. Aku merawatnya untukmu."

Naomi terpaku di tempat, hatinya seperti tenggelam.

Jadi semua perhatian itu dilakukannya hanya karena Nadine.

Perasaan konyol yang luar biasa, diselimuti keputusasaan, melandanya hingga tubuhnya nyaris tak mampu berdiri tegak.

Dia tak mendengarkan lebih jauh. Diam-diam berbalik dan kembali ke bangsalnya.

Tak lama kemudian, seorang perawat bergegas masuk, ekspresinya panik, "Gawat! Sesuatu terjadi pada keluarga Anda!"
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 24

    Dua tahun kemudian, pada suatu senja musim kemarau.Naomi berdiri di balkon rumah barunya, kedua tangannya sedang memegang secangkir teh bunga yang masih hangat.Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi pencahayaannya sangat baik. Saat ini, cahaya matahari senja menembus pintu kaca, mewarnai interior dengan rona keemasan yang hangat.Di taman kecil di bawah, pohon-pohon yang baru ditanam mulai bermekaran jarang-jarang. Setiap kali angin berembus, aroma samar yang lembut ikut terangkat ke udara.Rio memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.“Sedang melihat apa sampai melamun begitu?”“Tidak apa-apa,” Naomi sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyerap kehangatan yang menenangkan dari tubuhnya. “Hanya merasa ... Musim ini benar-benar sudah tiba.”Suara Naomi terdengar tenang dan lembut.Namun Rio tahu, di balik ketenangan itu, ada proses pemulihan yang berjalan perlahan selama dua tahun penuh.Beberapa bulan pertama adalah masa yang pal

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 23

    Arthur dilarikan ke ruang gawat darurat.Peluru menembus sisi kiri dadanya, dengan presisi merobek organ vital dan pembuluh darah utama. Meski dokter dan perawat bergerak cepat melakukan penyelamatan, angka-angka di monitor tetap merosot tajam.Saat Arthur didorong keluar dari ruang operasi, pada detik terakhir sebelum kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan tak bertepi, penglihatannya yang kabur justru menembus bayangan ganda dan terfokus dengan susah payah.Dia melihat sosok yang tidak jauh darinya, Naomi yang dipeluk erat oleh Rio.Wajah Naomi pucat pasi. Air mata mengalir tak terkendali, meluruhkan debu dan noda darah di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya terpaku ke arahnya. Tak bergeser sedikit pun.Sepasang mata yang begitu dikenalnya, kini penuh cahaya air mata yang membasahi wajahnya. Menjadi secercah cahaya terakhir yang bergetar di dunia Arthur yang kian meredup.Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tipis tanpa disadari orang-orang, seolah ingin memeras sisa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 22

    Gudang nomor 3 di area pertambangan tua tampak gelap dan rusak.Di tengah gudang, Naomi terikat pada sebuah kursi besi. Nadine menggenggam pistol tua, menunggu dengan gelisah kedatangan Arthur dan Rio.Di sudut gudang, dua preman saling bertukar pandang cemas. Telapak tangan mereka sudah basah oleh keringat.Mereka menunduk menatap layar ponsel, berniat menghubungi orang di luar saat situasi kacau. Namun ketika Arthur dan Rio muncul bergantian di pintu masuk gudang bagian bawah, gerakan mereka seketika membeku.Salah satu preman bergumam pelan, “Sial … ini jadi masalah besar.”“Kita cuma mau cari uang, bukan bikin perkara ....”Preman lainnya meraih ponsel di pinggang untuk meminta bantuan, tetapi di detik berikutnya suara jerit Nadine yang tajam membuatnya terpaku di tempat.“Jangan bergerak!”Nadine sepenuhnya kehilangan kendali. Kedua preman mundur beberapa langkah, tak berani bergerak lagi.Udara seperti tong mesiu yang terbakar. Ketegangan meledak seketika.Salah satu preman tanpa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 21

    “Kenapa pria seperti Arthur yang bahkan tak kuinginkan, justru berputar-putar mengelilingimu?!”“Karena kamu, Arthur sampai membatalkan kerja sama antara Keluarga Pradana dan keluargaku!”Suara Nadine makin melengking, nyaris merobek udara.“Kamulah yang merampas segalanya dariku! Kalau bukan karena kamu, Arthur tidak akan berubah! Aku masih akan menjadi putri Keluarga Ravelly, masih menjadi Nadine yang dikagumi semua orang! Semua ini karena kamu! Kamu pembawa sial!”“Kamu gila!” Naomi menatap wajahnya tajam. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuh.“Apa pun yang dilakukan Arthur adalah pilihan mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Itu karena kamu sendiri ....”“Diam!!”Nadine menjerit, lalu tiba-tiba meraih sesuatu di sampingnya.Jantung Naomi seakan berhenti berdetak.Itu sebuah pistol model lama!Meski moncongnya belum tepat mengarah padanya, lubang hitam itu sudah cukup untuk membekukan darah siapa pun.“Berani bicara satu kata lagi,” suara Nadine merendah, namu

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 20

    Di sebuah sore yang tampak biasa.Toko bunga menerima pesanan mendesak untuk rangkaian bunga pernikahan, namun mendadak kekurangan beberapa jenis bunga pendamping khusus.Kebetulan, toko buku Rio sedang melakukan inventaris bulanan sehingga dia tidak bisa membantu.Setelah mengecek peta di ponselnya, Naomi pun pergi sendiri dengan sepeda motor listrik menuju pasar grosir bunga di pinggiran kota.Pasar itu ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Saat perjalanan pulang, langit sudah gelap, dan keranjang motornya berisi beberapa kotak bahan bunga.Ketika melewati ruas jalan yang sepi, sebuah van tua berwarna abu-abu tiba-tiba mempercepat laju dari belakang, hampir menempel pada motornya.Hati Naomi menegang. Dia refleks menghindar ke kanan.Namun mobil van itu justru memotong ke arah yang sama dengan kasar.Motor listriknya terjepit dan terdorong ke tepi jalan, oleng hebat beberapa kali. Nyaris menabrak pembatas jalan barulah akhirnya berhenti.Belum sempat Naomi menarik napas, pintu depan

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 19

    Senja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.Naomi dan Rio baru saja keluar dari toko buku. Masing-masing menenteng beberapa buku pilihan baru, bersiap menuju sebuah rumah makan rumahan yang terkenal enak di ujung jalan.Tepat ketika mereka hendak berbelok ke lorong menuju restoran itu, sebuah sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pohon di tepi jalan, menghadang langkah mereka.Itu Arthur.Tampaknya dia baru keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya pun terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.Tatapan Arthur terpaku lurus pada wajah Naomi, lalu menyapu Rio di sampingnya, sebelum akhirnya berhenti pada jarak dekat yang begitu alami di antara mereka. Seluruh tubuhnya memancarkan ketegangan dan kegigihan yang terasa asing di tengah suasana jalan yang hangat dan membumi.“Naomi.”Dia membuka mulut dengan suaranya yang serak.“Kita perlu bicara.”Langkah Naomi terhenti. Senyum ringan di wajahnya memudar seketika. Alisnya berkerut, dan tanpa sad

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status