Mag-log inHari yang dinanti akhirnya tiba. Ruang sidang yang kumasuki bersama Rahmi itu terasa dingin. Bukan hanya oleh pendingin udara yang menderu pelan dari langit-langit, tapi juga oleh atmosfer yang menusuk tulang begitu aku melangkah masuk bersama Rahmi di sisi kananku.Mataku menyapu ruangan—meja-meja kayu berlapis veneer tua, kursi-kursi berderet seperti bangku gereja, dan di depan sana, di balik podium tinggi berlapis kain merah hati, Yudha duduk dengan toga hitam yang membungkus tubuhnya.Rahmi menggenggam lenganku. Jemarinya yang mungil mencengkeram kemejaku erat-erat, dan aku bisa merasakan getaran kecil di ujung jemarinya."Tenang," bisikku tanpa menoleh. "Kita di sini cuma buat nonton.""Iya, Kak Bima," jawabnya lirih, tapi genggamannya tidak mengendur.Kami memilih bangku di baris ketiga. Rahmi duduk di sebelahku, dan Monica—yang sudah menungguku di lobi sejak setengah jam lalu—kini melangkah masuk dan duduk di sebelah kiri Rahmi. Rok pensil abu-abu dan blazer hitam membuatnya ta
Ruangan itu berbau vanila dan kertas tua, khas ruang dosen yang jarang dibuka jendelanya. Tanganku memutar kunci hingga terdengar klik, mengurung kami berdua dari dunia luar. Monica berdiri di belakang kursi kerjanya, posturnya tegak—tidak ada lenggokan nakal atau senyum menggoda seperti biasanya. Matanya menatapku lurus dengan sorot penuh perhitungan, tapi di balik itu, aku masih bisa melihat kepatuhan mutlak yang tidak pernah luntur. Aku berjalan mendekat, dan tanpa diperintah, Monica melangkah ke samping, memberi ruang untukku menduduki kursi empuk miliknya. Aku memutar kursi itu, menghadap dia yang kini berdiri dengan tangan terlipat di depan perut, seperti seorang ajudan yang menunggu instruksi dari jenderalnya. "Apa yang sebaiknya kita lakukan, Tuan?" Suaranya datar, efisien. "Sepertinya kita mulai dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada agar Yudha terjebak." Jemariku mengetuk-ngetuk sandaran tangan. "Kita tidak bisa memberinya waktu berpikir terlalu lama. Begitu rekaman i
Deru ponsel di meja samping ranjang membangunkanku dari tidur yang lelap. Mataku mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya pagi yang menerobos tirai tipis. Nama Monica tertera di layar, membuatku langsung menekan tombol hijau."Selamat pagi, Monica. Ada kabar penting?"Suara di seberang terdengar tegas namun tetap menyimpan nada takluk yang khas. "Tuan, saya baru dapat informasi, jadwal sidang Alex dan Charles ternyata dijadwalkan di hari yang sama, minggu depan.""Sempurna," ujarku sambil menegakkan punggung. Aku mengusap dagu, otakku mulai bekerja. "Aku perlu kita bertemu. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Di mana kau sekarang?""Saya ada di kampus, Tuan. Baru saja selesai mengajar kelas pagi. Mau saya ke rumah Tuan?""Tidak perlu. Aku yang akan ke kampus. Tunggu di ruanganmu. Aku sampai sekitar satu jam lagi.""Baik, Tuan."Panggilan terputus. Aku melempar ponsel ke ranjang dan bangkit, melangkah ke kamar mandi dengan langkah mantap. Air dingin mengguyur tubuhku, membersihkan s
Aku menyaksikan Ajeng yang kini merangkak di atas aspal kasar, lututnya yang putih mulus kemerahan oleh gesekan dengan permukaan parkiran. Pria dengan singlet basah mencengkeram rambutnya, menarik kepalanya ke belakang sementara pria terbesar berdiri di depannya, batangnya yang masih berlumuran campuran lendir dan cairan jantan sudah siap untuk ronde berikutnya."Buka mulutmu lagi, Neng. Kali ini kita gabung dua."Ajeng mendongak, matanya yang sayu menatap batang di depannya dengan rakus. "Iya, Mas... kasih Ajeng semuanya..."Pria singlet kini menusuk liang Ajeng dari belakang sementara pria terbesar menjejalkan batangnya ke dalam mulut Ajeng. Tubuh Ajeng terjepit di antara dua tubuh tambun itu, payudaranya yang montok berguncang liar oleh hentakan dari dua arah."Nghmmphh... hmmphh...""Rasain! Dari depan belakang, Neng!"Pria gempal yang sudah selesai kini berlutut di samping tubuh Ajeng. Dia meraih tangan Ajeng dan membimbingnya ke batangnya sendiri yang sudah setengah mengeras lag
Pria besar itu menarik tubuh Ajeng dari ranjang. Jemarinya yang kapalan mencengkeram lengan atas Ajeng, menyeretnya telanjang bulat keluae kamar. Udara malam yang lembab dan bau solar langsung menyambut kulitnya yang berlumur keringat dan air kejantanan."Mau dibawa ke mana, Mas?" suara Ajeng terdengar serak, tapi matanya berkilat penuh gairah."Ke tempat yang lebih luas, Neng. Biar semua pada lihat."Pria dengan singlet basah dan pria ketiga mengikuti dari belakang, batang mereka masih berdiri tegak dan berdenyut-denyut. Telapak kaki Ajeng yang telanjang menginjak aspal kasar di parkiran truk, kerikil-kerikil kecil menusuk kulit lembutnya, tapi dia hanya meringis nikmat.Mereka berhenti di depan sebuah truk besar berwarna hijau pudar. Badan truk itu menjulang seperti monster tidur di tengah kegelapan. Lampu parkiran yang redup berkedip-kedip di kejauhan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di atas kontur tubuh Ajeng yang putih mulus—kontras sempurna dengan kegelapan di sekelili
"Mau teriak minta tolong, Neng?" pria dengan singlet basah itu menyeringai, memperlihatkan giginya yang kuning kecoklatan. "Silakan aja. Di sini cuma ada sopir truk yang juga pengen nyobain tubuh mulus kayak punyamu."Ajeng membuka mulut, berpura-pura akan berteriak, tapi sebelum suara keluar dari tenggorokannya, pria yang satunya sudah melesat. Lengannya yang sebesar batang kelapa memiting leher Ajeng dari samping, sementara telapak tangannya yang kasar membekap mulutnya rapat-rapat."Nggghhh... lep... lepaskan..." suara Ajeng teredam di balik jemari kapalan itu.Dia memberontak. Tubuhnya menggeliat liar di atas sprei kumal, membuat hoodie pendeknya tersingkap naik dan payudaranya yang montok berayun-ayun bebas. Pria yang memitingnya langsung membelalakkan mata."Gilaaa! Cewek ini nggak pakai BH!"Tangannya yang bebas langsung meraih dada Ajeng, meremasnya kasar hingga daging empuk itu menonjol di antara jemarinya. Kuncup payudara Ajeng mengeras seketika oleh sentuhan paksa itu. Ajen
Melalui lensa kacamata monitor, aku bisa melihat setiap butir keringat yang mulai muncul di pelipis Ajeng. Visualnya begitu jernih, seolah-olah aku berdiri tepat di belakangnya, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur dengan debu jalanan Pantura."Pak Tejo, kunci yang ini buat Bapak. Kamar nomor 20
Langit sore mulai menguning saat aku dengan motor bututku memasuki garasi rumah. Aku memarkir di ruangan yang luas dan rapi itu, lalu berjalan menuju pintu samping di garasi. Biasanya, Ajeng akan muncul dalam hitungan detik, dengan daster sederhana dan senyum malu-malu khasnya.Tapi kali ini berbed
Jemariku mencengkeram kerah sweater rajut Rahmi, lalu menariknya ke atas dengan satu sentakan brutal. Benang-benang rajut itu melolos dari tubuh mungilnya, memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai benang pun.Payudaranya yang besar dan montok berguncang bebas, kuncup merah mudanya men
Aku melangkah menyusuri koridor belakang gedung B yang lengang. Sepatu kulitku mengetuk lantai marmer tua dengan ritme teratur, sementara pikiranku masih berkutat pada percakapan Monica dan Rahmat tadi. "Sepertinya kita bisa tanyakan ini juga kepada Rahmi nanti saat ketemu." Suara Eva berdengung







