LOGINSuara bising mesin kereta dan gesekan logam di atas rel menghantam indra pendengaranku begitu kelopak mataku terbuka. Bau apak keringat pria bercampur aroma oli panas menyesakkan udara. Aku berdiri di peron Stasiun KRL yang penuh sesak, namun ada yang ganjil. Di sejauh mata memandang, hanya ada lautan laki-laki dengan tatapan lapar dan buas. Tidak ada satu pun penumpang wanita, kecuali satu sosok yang berdiri linglung di tengah kerumunan itu. Monica. Dia tampak seperti mangsa yang tersesat di kandang serigala. Pakaiannya benar-benar di luar akal sehat untuk seorang dosen; kaos crop top hitam yang sangat ketat, begitu pendek hingga memperlihatkan lengkungan bawah payudaranya yang montok setiap kali dia bergerak. Celana jeans mininya nyaris tidak pantas disebut celana, hanya seutas kain denim yang nyaris tidak menutupi pangkal pahanya yang putih mulus. Aku melangkah membelah kerumunan, menikmati setiap inci perubahan tubuhku yang terasa ringan namun bertenaga. Monica menyadari perg
Pintu kayu kosanku berderit, menyambutku dengan aroma apek debu yang sudah mengendap selama dua minggu. Kamar ini terasa jauh lebih sempit sekarang, atau mungkin hanya tubuhku yang terasa lebih mengisi ruang. Aku mengunci pintu, melempar tas ke sudut ruangan, dan langsung mengempaskan diri ke atas kasur yang pernya sedikit memprotes. Tanganku meraba saku, mengeluarkan kacamata berbingkai emas itu. Benda ini hampir merenggut nyawaku, tapi juga memberiku tubuh yang sekarang membuatku merasa seperti predator. Aku menarik napas panjang, menyesuaikan posisi berbaringku, lalu mengenakan kacamata itu. Kegelapan total hanya bertahan sedetik. Arus listrik halus menggelitik pelipisku, sebuah sensasi yang kini terasa jauh lebih sinkron dengan sarafku, seolah kacamata ini akhirnya menemukan rumah yang tepat. Cahaya putih yang menyilaukan meledak, menghapus realitas kamar kosku yang kumuh. "Tuan Bima! Kau kembali!" Eva berlari kecil ke arahku. Gaun sutra putihnya yang sangat tipis dan tr
Dokter Sarah melangkah masuk dengan bunyi hak sepatu yang beradu tajam di lantai porselen. Jas putihnya yang disetrika kaku tampak berjuang keras menahan gempuran lekuk tubuh di baliknya.Kancing tengah jas itu meregang, menciptakan celah kecil yang memperlihatkan blus sutra berwarna salem yang membungkus dada montoknya dengan sangat ketat.Dia membetulkan letak kacamatanya, namun matanya tidak tertuju pada papan klip di tangannya, melainkan terpaku pada garis rahangku yang kini terlihat tegas."Catatan medis Anda benar-benar sebuah anomali, Bima. Saya baru bertugas di poli saraf ini, tapi saya belum pernah melihat pemulihan secepat ini seumur hidup saya."Sarah berdiri sangat dekat, hingga aroma parfum vanilanya yang manis menyingkirkan bau karbol yang membosankan. Dia membungkuk sedikit untuk memeriksa denyut nadiku, sengaja membiarkan kerah jasnya terbuka lebih lebar di depan mataku."Apa kau selalu sedekat ini saat memeriksa pasien, Dok? Jantungku bisa saja berdetak lebih kencang
Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungku saat aku menarik ritsleting tas olahraga tuaku. Kaus katun yang kupakai terasa aneh—kainnya menjuntai longgar di bahuku, tidak lagi sesak dan meregang di bagian perut seperti biasanya.Aku menatap cermin kecil di atas wastafel kamar rumah sakit. Wajah yang menatapku balik memiliki garis rahang yang tegas, tulang pipi yang menonjol, dan tatapan mata yang jauh lebih tajam."Pelan-pelan saja, Bima. Tidak usah terburu-buru," Kakek bangkit dari sofa kulit yang sudah kempis, melangkah mendekat dengan gurat kecemasan yang masih membekas di dahinya."Dokter memang bilang kau sudah boleh pulang, tapi tubuhmu itu baru saja melewati masalah besar."Aku menoleh, merasakan otot leherku yang kini terasa lebih liat dan kaku. "Bima merasa jauh lebih baik, Kek. Malah, rasanya seperti punya tubuh baru."Kakek menghela napas panjang, jemarinya yang keriput memegang pundakku. "Nenekmu di kampung hampir saja menyusul ke sini kalau tidak kularang. Dia terus menang
Cahaya lampu neon yang pucat menusuk langsung ke rongga mataku, memaksa kelopak mata yang terasa seberat timah ini untuk terbuka. Pandanganku buram, hanya menangkap gumpalan bayangan putih dan kelabu yang perlahan mulai memadat.Bau antiseptik yang tajam menyerbu indra penciumanku, membawa kesadaran pahit bahwa aku tidak lagi berada di taman kampus virtual yang binal itu."Tuan? Tuan Bima? Kau bisa mendengarku? Kumohon, jawab aku!"Suara Eva berdenging di pusat sarafku. Nadanya tidak lagi tenang dan menggoda seperti biasanya, melainkan melengking panik, seolah dia baru saja lolos dari ledakan besar. Kepalaku terasa seperti dihantam palu godam setiap kali detak jantungku memompa darah."Aku... aku bangun, Eva. Berhenti berteriak, kepalaku mau pecah."Aku menjawabnya di dalam benak, sementara mataku mulai menyisir ruangan. Ini kamar rawat inap. Di sofa sudut ruangan, Kakek tertidur pulas dengan mulut sedi
Angin malam berdesir di antara dahan pohon beringin tua, membawa aroma tanah basah yang memenuhi paru-paruku. Di atas pangkuanku, Monica masih bergerak dengan ritme yang kacau. Rambut hitam panjangnya bergoyang mengikuti ayunan pinggulnya yang tidak stabil. Dia mencengkeram bahuku, kuku-kukunya yang terawat rapi membenam ke kulitku saat dia mencoba mempertahankan keseimbangan di atas kejantannanku yang terbenam dalam di liangnya. "Bima... hhh... aku tidak bisa... ini terlalu gila," Monica mendesah, suaranya pecah di keheningan taman yang gelap. Aku meremas pinggangnya lebih kencang, membuat kulit putihnya memerah di bawah tekanan jemariku. "Bukankah kau yang memohon tadi? Lanjutkan, Monica. Buat aku terkesan dengan goyangan dosen teladan ini." Tiba-tiba, sebuah bayangan raksasa jatuh menutupi tubuh kami. Monica tersentak, gerakannya terhenti seketika saat sepasang tangan besar berkulit gelap muncul dari belakang dan mencengkeram bahunya dengan ka







