登入Aku terdiam dengan mulut menganga lebar. Dinding beton tipis yang biasanya membatasi privasiku kini seolah menguap, meninggalkan lapisan transparan yang memperlihatkan segala kenikmatan syahwat di kamar sebelah dengan kejernihan luar biasa, seolah-olah tembok pembatas kamar kami tidak pernah ada.
Rahmi... si mahasiswi pendiam itu. Rambut bergelombangnya tergerai liar, menempel di leher dan bahunya yang basah oleh peluh. Kulitnya putih mulus, tampak bRuang tengah rumahku remang-remang saat matahari mulai tenggelam di balik bukit. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan berita sore yang sama sekali tidak kuperhatikan. Aku terkapar di sofa kulit, kaki selonjor di meja kopi, pikiran masih mengembara ke kampung halaman Tejo—tempat Ajeng sekarang berada.Suara pintu samping terbuka dan tertutup memecah keheningan."Tuan..."Iis muncul di ambang ruang tengah, masih mengenakan kaos putih dan jeans ketat yang tadi siang kupakai sebagai tontonan di kantin. Wajahnya yang khas mojang Priangan itu berkeringat tipis dengan rambut lurus sebahu sedikit berantakan."Ke mana Ajeng sama Pak Tejo, Tuan? Biasanya Ajeng udah siapin makan malam sekarang."Mataku tetap tertuju ke televisi. "Ajeng menemani Tejo yang pulang kampung. Ada urusan di sana.""Oh..."Aku bisa mendengar nada kecewa dalam suaranya. Mungkin dia berharap bisa bergosip dengan Ajeng seperti biasa."Aku ganti baju dulu ya, Tuan. Badan lengket abis jualan.""Silakan."Dia be
Langit sore mulai menguning saat aku dengan motor bututku memasuki garasi rumah. Aku memarkir di ruangan yang luas dan rapi itu, lalu berjalan menuju pintu samping di garasi. Biasanya, Ajeng akan muncul dalam hitungan detik, dengan daster sederhana dan senyum malu-malu khasnya.Tapi kali ini berbeda.Pintu kayu jati itu terbuka, dan Ajeng muncul dengan penampilan yang membuat alisku otomatis terangkat. Tank top putih super tipis—saking tipisnya, bayangan kuncup payudaranya yang coklat gelap tercetak jelas di balik kain. Kerahnya rendah, memperlihatkan belahan dadanya yang dalam dan montok. Di bawahnya, hanya celana super pendek berbahan katun yang menempel ketat di pahanya yang putih mulus."Tuan Bima..."Dia langsung memelukku begitu aku di ambang pintu. Tubuhnya yang hangat dan kenyal menekan dadaku, aroma manis dari tengkuknya langsung menguar. Aku melingkarkan lengan di pinggangnya, lalu mencubit pinggangnya yang empuk—cukup keras untuk membuatnya mendesah."Nnggh... Tuan...""Kau
Jemariku mencengkeram kerah sweater rajut Rahmi, lalu menariknya ke atas dengan satu sentakan brutal. Benang-benang rajut itu melolos dari tubuh mungilnya, memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai benang pun.Payudaranya yang besar dan montok berguncang bebas, kuncup merah mudanya mengeras oleh udara dingin dan gairah yang membuncah. Celana jeansnya sudah melorot ke lantai, menyisakan celana dalam tipis yang sudah basah kuyup."Lepaskan semuanya."Rahmi menurunkan tangannya dari belakang kepala, lalu dengan jemari gemetar ia melorotkan celana dalamnya sendiri. Kain tipis itu jatuh ke pergelangan kakinya, memperlihatkan liangnya yang mulus—tanpa sehelai bulu pun, merekah basah, berkilat oleh cairannya sendiri yang sudah merembes hingga ke paha dalam.Aku mendorongnya ke dinding gudang. Punggungnya yang mungil menekan kayu lapuk, dadanya yang telanjang naik-turun memburu saat aku membuka resleting celanaku sendiri. Batangku melompat bebas, keras, berurat, dan siap menghanc
Aku melangkah menyusuri koridor belakang gedung B yang lengang. Sepatu kulitku mengetuk lantai marmer tua dengan ritme teratur, sementara pikiranku masih berkutat pada percakapan Monica dan Rahmat tadi. "Sepertinya kita bisa tanyakan ini juga kepada Rahmi nanti saat ketemu." Suara Eva berdengung di benakku, lembut namun penuh perhitungan. "Benar, Tuan. Kemungkinan besar dia tahu masalah ini." Aku mengangguk pelan, lalu berbelok menuju tangga yang jarang dilewati. Di sudut paling ujung, tersembunyi di balik bayangan, ada sebuah pintu kayu lapuk yang nyaris tidak terlihat. Gudang bangku kuliah—tempatku biasa bersembunyi saat harus mengaktifkan mode monitor tanpa gangguan. Dan di depan pintu itu, Rahmi sudah menunggu. Tubuh mungilnya nyaris tenggelam dalam sweater rajut oversized berwarna krem. Kerahnya begitu lebar hingga sebagian bahunya yang putih mulus terbuka, tulang selangkanya menonjol menggoda. Pakaian itu longgar, jatuh begitu saja menutupi tubuhnya, tapi begitu dia bergera
Aku melangkah mundur, mencari sudut yang benar-benar tersembunyi dari lalu-lalang orang. Di belakang gedung B ini, ada ceruk sempit di antara dua dinding yang biasanya cuma jadi tempat bersandar para perokok gelap. Sekarang kosong. Sempurna.Tanganku merogoh ke dalam tas, jemariku menyentuh bingkai emas yang dingin. Kacamata ajaib itu—teknologi dari dimensi yang bahkan tidak bisa kubayangkan—kini bertengger di tanganku. Sekali lagi aku melirik sekitar. Tidak ada yang lewat. Tidak ada yang memperhatikan.Begitu lensa hitamnya menempel di mataku, dunia berubah. Kegelapan sesaat, lalu visual di depanku melesat maju seperti kamera yang melakukan zoom ekstrem. Pohon beringin, parkiran, lalu dua sosok yang berdiri di bawahnya—Monica dan Rahmat—kini tampak begitu dekat, seolah aku berdiri tepat di samping mereka.Suara mereka pun terdengar. Jernih. Setiap nada, setiap desah napas."—nggak masuk akal, Mon. Tiba-tiba posisiku di lembaga konsultan hukum hilang begitu saja. Apa kau tidak percay
Aku melangkah keluar dari ruangan Monica dengan seringai yang masih mengembang di wajah. Pelayanku yang liar itu memang tahu cara memuaskan—lidahnya yang terlatih dan liangnya yang rakus selalu meninggalkan bekas kenikmatan yang susah hilang. Tapi sekarang pikiranku beralih, penasaran dengan pelayanku yang lain. Iis. Si janda sintal dari Priangan itu seharusnya sedang berjualan di kantin sekarang. Kakiku melangkah ringan menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berhamburan keluar dari kelas. Jam makan siang. Waktu yang tepat untuk melihat bagaimana pelayanku yang satu ini beroperasi di habitat aslinya. Aku memilih posisi strategis—di balik pilar besar dekat pintu masuk kantin, cukup jauh untuk tidak terlihat tapi cukup dekat untuk menangkap setiap detail. Pandanganku langsung menemukan etalase Iis yang sudah dikerubungi oleh kerumunan mahasiswa. Semuanya pria. Iis tampak kewalahan. Wajahnya yang khas mojang Priangan—dengan kulit kuning langsat dan rambut lur







