ホーム / Thriller / Kacamata Penakluk / 46. Transaksi kotor

共有

46. Transaksi kotor

作者: Lincooln
last update 公開日: 2026-04-04 01:00:05

Angin laut Jakarta Utara yang asin dan lembap menyambut saat pintu sedan mewah itu terbuka di depan sebuah restoran oriental megah yang menjorok ke arah pantai.

Aku memperhatikan melalui layar kacamata ajaibku, melihat Nadia melangkah keluar dengan gerak tubuh yang tampak canggung namun sangat menggoda.

Blazer hitamnya tersingkap setiap kali dia merapikan rambut, menunjukkan sekilas kulit perutnya yang putih mulus di atas batas rok mininya yang merosot rendah.

Beb
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kacamata Penakluk   50. Godaan di kegelapan

    Jantungku berdentum kencang, seirama dengan napas Sari yang memburu di layar kacamata ajaibku. Semua ini benar-benar di luar dugaan. Dua pria yang selama ini kukenal sebagai tetangga baik-baik, Pak Supri yang ramah ke semua orang dan Mas Joko yang pendiam, kini menatap Sari seolah mereka baru saja menemukan harta karun yang terkubur di lumpur. Sari meringkuk, mencoba menutupi payudara besarnya dengan lengan yang gemetar, namun setiap gerakannya justru membuat liangnya yang basah semakin terekspos di bawah sorotan senter. "Joko, kamu bawa dia pulang." Supri berbisik sambil berjongkok, jemarinya yang kasar mencengkeram dagu Sari, memaksa wanita itu mendongak. "Pastikan dia sampai di rumah dengan selamat. Setelah itu... terserah kamu mau diapakan. Aku kan tetangganya, aku bisa menagih janji 'apa pun' ini kapan saja." Sari hanya bisa merintih, matanya yang basah menatap Supri dengan pandangan memohon.

  • Kacamata Penakluk   49. Sari dan tetangga

    Sari masih terengah-engah di atas lantai gudang yang dingin, dadanya yang montok naik turun dengan liar seiring detak jantungnya yang belum stabil. Sisa-sisa cairan kenikmatan masih berkilau di celah paha dalamnya, membasahi semen kusam di bawahnya. Aku memperhatikannya dari balik kacamata emas, menikmati pemandangan asetku yang baru saja kuhancurkan dengan sentuhan jarak jauh. "Berdiri, Sari. Sekarang." Suaraku menggema di dalam benaknya, berat dan tak terbantahkan. Sari tersentak, kelopak matanya yang sayu terbuka lebar. Dia mencoba menumpu tubuhnya dengan lengan yang masih gemetar, lalu duduk bersimpuh dengan kaki terbuka, memamerkan liangnya yang masih berkedut merah. "T-tuan? Apa lagi yang harus kulakukan?" Aku menyandarkan punggung di sofa empuk penthouse, mengamati lekuk tubuh Sari yang montok dan mulus itu. "Keluar dari gudang itu. Sekarang juga. Dan jangan berani-berani menyentuh sehelai ka

  • Kacamata Penakluk   48. Kenikmatan di gudang

    Pintu sedan mewah itu tertutup dengan debuman berat, mengunci kesunyian yang mencekam di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan sisa-sisa keringat gairah.Bram menyandarkan punggungnya, melonggarkan dasi yang sejak tadi mencekik lehernya, sementara matanya yang tajam melirik ke samping. Di sana, Nadia duduk dengan bahu merosot, blazer hitamnya tersampir asal-asalan menutupi blusnya yang sudah tak berbentuk lagi."Kau lihat wajah mereka tadi, Nadia? Dua serigala Senayan itu nyaris gila saat kau melayani mereka."Nadia hanya menunduk, jemarinya yang gemetar mencoba merapikan tatanan rambutnya yang berantakan."Jangan pernah berpikir untuk menolak saat aku memanggilmu lagi nanti. Ini bukan sekadar tentang memuaskan selangkangan mereka, tapi tentang pertaruhan proyek batubara miliaran rupiah yang sedang kuincar. Kau adalah aset, Nadia. Aset yang sangat berharga."Nadia mengangguk pelan, suaranya terdengar seperti bisikan yang kel

  • Kacamata Penakluk   47. Trik untuk bertahan

    Asap cerutu Kuba yang berat menggantung seperti kabut tipis di bawah lampu gantung kristal ruangan privat itu. Aku menyesap kopi pahit di penthouse-ku, mata tak lepas dari visual jernih yang dipancarkan kacamata emas ini. Di sana, di meja makan beralas kain sutra merah, Nadia tampak seperti domba yang dikepung dua serigala tua berpangkat. Si Gendut dengan leher berlipat itu meremas paha Nadia begitu kuat hingga jemarinya tenggelam ke dalam daging putih pelayanku itu. Nadia hanya bisa memejamkan mata, membiarkan rintihan kecil lolos dari bibirnya yang masih merah bengkak. Sementara itu, si Kurus di sisi lain tidak mau kalah. Tangannya yang kering seperti cakar ayam menyusup ke balik blus Nadia yang sudah sangat kusut, mencubit kuncup payudaranya yang menegang tanpa penghalang bra. "Jadi, bagaimana, Bang? Sepuluh persen itu angka yang mustahil untuk operasional kami di Kalimantan." Bram mengetukkan jemarinya ke meja, seolah suara remasan

  • Kacamata Penakluk   46. Transaksi kotor

    Angin laut Jakarta Utara yang asin dan lembap menyambut saat pintu sedan mewah itu terbuka di depan sebuah restoran oriental megah yang menjorok ke arah pantai. Aku memperhatikan melalui layar kacamata ajaibku, melihat Nadia melangkah keluar dengan gerak tubuh yang tampak canggung namun sangat menggoda. Blazer hitamnya tersingkap setiap kali dia merapikan rambut, menunjukkan sekilas kulit perutnya yang putih mulus di atas batas rok mininya yang merosot rendah. Beberapa pria perlente yang sedang berdiri di lobi restoran menoleh serempak. Mata mereka menguliti lekuk pinggul Nadia yang berayun ritmis mengikuti langkah kakinya yang jenjang. Bram berjalan di sampingnya dengan dagu terangkat, seolah-olah dia sedang memamerkan piala paling berharga yang pernah dia menangkan. Mereka melintasi lorong remang-remang berhiaskan ukiran kayu jati kuno menuju sebuah ruangan privat di bagian paling belakang. Begitu pintu geser terbuka, aroma cerutu ma

  • Kacamata Penakluk   45. Klien Bram

    Bram merenggangkan jemarinya, melepaskan jambakan kasar pada rambut hitam Nadia. Pelayanku itu terhuyung, nyaris kehilangan keseimbangan saat kepalanya tak lagi dipaksa mendongak. Dia segera mengusap kulit kepalanya yang memerah, napasnya memburu pendek-pendek sementara air mata sisa rasa sakit masih menggenang di sudut kelopak matanya. "Tenang saja, Nadia. Saya tidak akan membuatmu terlihat murahan di depan semua orang," Bram merapikan jasnya yang sedikit berkerut, menatap Nadia dengan pandangan meremehkan. "Tapi jangan senang dulu. Sekarang, setiap tarikan napasmu ada dalam pengawasan saya." Nadia hanya terdiam, dadanya yang tanpa penyangga naik turun dengan cepat di balik blus minim itu. "Apapun gerak-gerik mencurigakan darimu pasti akan sampai ke telinga pemimpin perusahaan ini. Bahkan ke Om dan Tante saya, pemilik dari korporasi ini. Kamu tahu apa artinya itu untuk kariermu, bukan?" Nadia mengangguk pelan, wajah orientalny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status