Share

54 - Rumah

Author: Luna Maji
last update Last Updated: 2025-10-15 12:45:09

Empat sosok itu berjalan dengan kecepatan yang terkendali menuju perbatasan Timur, menyatu dengan pedagang dan pelancong lain di sepanjang jalan setapak.

Ren dan Lian berjalan di depan, menjaga jarak aman namun tidak mencolok dari Shangkara dan Cailin. Lian sesekali melirik Ren.

“Kau yakin hanfu ini cukup membuat kita terlihat seperti orang biasa, Ren?” bisik Lian. Ia mengenakan hanfu biru muda yang sederhana, jauh dari kebiasaannya di Istana.

“Tidak,” jawab Ren datar. “Kita terlihat seperti pedagang yang kehilangan modal. Lagi pula,” ia menoleh sekilas, “sejak kapan kau peduli dengan penampilan di luar Istana?”

Lian tersipu sedikit. “Aku hanya ... tidak ingin merusak penyamaran yang mulia. Kalau nanti ada yang curiga dengan identitas mereka, apa kau yakin bisa menahan seluruh pasukan desa sendirian?”

Ren menoleh sedikit, bibirnya membentuk senyum singkat. “Aku tak perlu menahan seluruh pasukan. Cukup menahan kau agar kau tidak panik duluan.”

Lian mendengus, tapi tak bisa menyembunyi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Luna Maji
kaisar juga boleh cemburu dong o_o
goodnovel comment avatar
ria lestari
hahahahaha....kaisar cemburu. Untung Ren dan Lian paham, jadi panas vermilionnya gak keluar maximal.... Untungnya kaisar jg bs menahan diri.... kalau gak....pemuda desa bisa berubah jadi abu........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    195 - Jalan

    Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    194 - Diplomasi

    Kabut pagi belum sepenuhnya lenyap ketika ruang strategi istana Vermilion mulai dipenuhi suara rendah yang tegang. Ruangan itu tanpa jendela, diterangi cahaya kristal putih yang memantulkan peta wilayah besar di dinding.Shangkara berdiri di depan peta, punggungnya tegang. Di sebelahnya, Guru Fen duduk di kursi kayu, tangannya menelusuri gulungan laporan medis dengan gerakan lambat. Jenderal Fan, pria berotot dengan wajah penuh luka lama, berdiri tegak di sisi lain meja. Ren tidak duduk. Dia bersandar di dinding dekat pintu, wajahnya masih kotor dari debu gang.Kepala Intelijen, pria yang selalu muncul dari bayangan, baru saja selesai melaporkan dua hal: kerusuhan di Distrik Timur yang mulai mereda setelah pasukan menduduki gudang, dan fakta bahwa tidak ada jejak Lian di seluruh kompleks istana.“Aku ber

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    193 - Obat

    Ren menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    192 - Pedang Kayu

    Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    191 - Abu dan Pasir

    Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    190 - Pembayaran

    Ren membuka mata.Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam akibat tusukan pedang, melainkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah setiap tulang dan ototnya telah digilas menjadi bubuk.Ia menatap langit-langit kamar yang familier. Serta aroma obat-obatan herbal yang kuat.Ini Balai Pengobatan Istana.Ren mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Dengan napas terengah, ia memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia menatap tangannya. Telapak tangan yang biasanya hangat oleh aliran Qi Vermilion kini terasa dingin dan pucat.Ren mengerutkan kening.Ia mencoba memanggil apinya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status