ログイン*"Sekarang serangan balik,"* kata suara. *"Tangan kanan—letakkan di dadamu, tepat di atas liontin. Rasakan kehangatan yang ada di sana. Kumpulkan. Kemudian dorong dengan telapak tangan ke arahnya. Bukan dorong seperti mendorong benda—dorong seperti melepas sesuatu yang selama ini kamu tahan."*Wandra meletakkan tangan kanannya di dada—di atas liontin.Kehangatan di sana luar biasa—seperti matahari kecil yang berdiam di antara tulang-tulangnya. Ia merasakannya, mengumpulkannya, membiarkannya naik ke dadanya ke bahunya ke lengannya ke telapak tangannya—Dan mendorong.Apa yang keluar dari telapak tangannya terlihat seperti—tidak ada kata yang tepat. Gelombang panas yang terlihat? Distorsi udara yang punya arah dan tujuan? Cahaya yang bukan cahaya?—dan menghantam Arno di dada dengan benturan yang membuatnya terdorong satu langkah ke belakang untuk pertama kalinya.Arno menatap dadanya.Kemudian menatap Wandra.Dan kali ini, untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya yang bukan kalkula
Arno Dwisetya—menurut apa yang berhasil Wandra kumpulkan dari pencarian cepat di ponselnya sambil menunggu di warung kopi dekat Jalan Kebon Sirih—adalah nama yang tidak sulit ditemukan.Sebuah nama yang tercetak di berbagai papan nama gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Foto profil di sebuah majalah bisnis edisi dua tahun lalu: pria dengan wajah yang tampan secara tidak biasa, terlalu simetris, terlalu sempurna, seperti foto yang sudah melalui terlalu banyak penyuntingan—kecuali Wandra curiga bahwa dalam kasus ini itu memang wajah aslinya. Dua ratus tahun kultivasi bisa melakukan banyak hal, termasuk membuat wajah seseorang terlihat seperti patung yang dipahat dengan sangat hati-hati.Arno Dwisetya. CEO PT Dwisetya Land. Penghargaan pengusaha terbaik tiga tahun berturut-turut. Donatur aktif beberapa yayasan sosial yang namanya tercetak di baliho-baliho di jalan protokol.Wajah yang sangat bersih.Terlalu bersih.*"Ia ingin membangun kota baru,"* kata suara liontin dengan nada yang
Gudang nomor tujuh belas adalah bangunan tua dengan dinding seng yang berkarat di beberapa bagian dan pintu besi besar yang sedikit terbuka—hanya cukup untuk satu orang masuk menyamping. Di luarnya ada satu orang penjaga yang duduk di kursi plastik dengan kepala menunduk, mungkin setengah tidur.Wandra berhenti di jarak yang cukup.Liontin berdenyut.*"Penjaga itu bukan manusia biasa. Ia kultivator juga—tingkat dua. Lebih dari cukup untuk mencelakaimu jika tidak hati-hati. Tapi ada cara lain masuk. Di sisi kiri gedung ada jendela ventilasi yang tidak dikunci. Kamu cukup kecil untuk masuk dari sana."*Wandra melirik ke sisi kiri gedung.Jendela ventilasi. Dua meter dari tanah. Terali besinya sudah tidak lengkap—dua batang di tengah sudah hilang, meninggalkan celah yang cukup.Ia berjalan ke sana dengan langkah kasual—seperti buruh yang sedang mencari tempat buang air—dan dalam satu gerakan yang lebih lincah dari yang orang sangka bisa dilakukan oleh seseorang yang baru saja jaga malam
Busa-busa putih menutupi batang kemaluan itu, sementara jari-jari Joanna dengan hati-hati membersihkan setiap lekuk, dari pangkal hingga kepala. Jemarinya bermain-main di bawah kulup, memberikan pijatan halus yang perlahan tapi pasti, membangkitkan kembali sensasi yang sudah mulai mereda.Wandra menahan napas, matanya terpejam. Setiap sentuhan Joanna mengirimkan gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Batang kemaluannya mulai menegang lagi, merespons setiap usapan, setiap belai lembut. Darah berdesir kencang, mengisi kembali setiap urat syaraf, menjadikannya kembali keras dan perkasa."Kau... sungguh ahli," bisik Wandra, suaranya tercekat, saat Joanna menyelesaikan pekerjaannya, membilas busa dari batang kemaluannya dengan telapak tangannya.Joanna tersenyum nakal, matanya berkilat gairah. Ia mendongak, bibirnya menyentuh dagu Wandra, lalu turun ke leher, mengisap pelan. "Ini belum selesai, dokter," bisiknya, suaranya menggoda.Tubuh Wandra bergetar hebat. Di bawah guyuran shower, d
Sekarang, giliran lotus—posisi intim yang mengharuskan mereka saling berhadapan, kaki saling melingkar. Joanna duduk di pangkuan Wandra, kakinya melingkari pinggangnya, sementara kaki Wandra melingkari bokongnya. Mereka saling tatap, mata penuh api. Tangan Wandra memeluk punggung Joanna, menariknya dekat hingga payudara mereka menempel."Aku ingin melihat wajahmu saat kau datang lagi," kata Wandra, bibirnya menyentuh bibir Joanna dalam ciuman lambat yang dalam. Lidah mereka menari, saling mengeksplorasi sementara tangan Joanna meraih batang kemaluan Wandra, membimbingnya kembali ke liang keintimannya.Dengan gerakan lambat, Joanna menurunkan pinggulnya, menelan batang kemaluan itu hingga pangkal. Mereka berdua mendesah bersamaan, sensasi penuh dan dekat ini berbeda—lebih emosional, lebih dalam.Di gaya lotus, setiap gerakan kecil terasa monumental. Joanna mulai bergoyang pinggulnya naik-turun pelan, merasakan setiap vena dan lekuk batang kemaluan Wandra menggosok dinding liang keintim
Dengan gerakan lambat yang menyiksa, Wandra menyelaraskan batang kemaluannya dengan liang keintiman Joanna. Ujungnya menyentuh bibir luar yang sensitif, menggesek pelan untuk membangun antisipasi. Joanna mengerang frustrasi, pinggulnya bergoyang mundur, memohon penetrasi. Akhirnya, Wandra mendorong masuk, perlahan tapi pasti, mengisi liang keintiman Joanna hingga penuh."Ahhh!" jerit Joanna pelan, sensasi penuh itu membuat matanya berkaca-kaca. Batang kemaluan Wandra terasa begitu besar dan panas di dalam dirinya, setiap inci menyentuh titik-titik sensitif yang membuatnya gila. Mereka bergerak dalam ritme lambat awalnya, Wandra menarik pinggulnya mundur lalu mendorong maju lagi, sementara tangannya tetap meremas payudara Joanna.Asap pekat semakin menyelimuti mereka, membuat penglihatan kabur tapi sensasi semakin tajam. Setiap dorongan Wandra terasa seperti ledakan kenikmatan, bergema di seluruh tubuh Joanna. Ia merasakan vena-vena di batang kemaluan Wandra bergesekan dengan dinding l







