Share

BAB 2

Author: Jw Hasya
last update Last Updated: 2025-10-22 19:29:00

“Sutra, bagaimana pekerjaan pertamamu? Tuan Kama memperlakukanmu dengan baik, kan?”

Zatulini menatap putrinya dengan cemas.

Sutra tersenyum kecil. “Ini hari pertamaku, Bu. Sejauh ini, beliau biasa saja.”

“Dia tidak mengganggumu?”

 “Mengganggu?” Sutra mengernyit. “Sepertinya tidak, Bu. Lagipula, Tuan Kama tampak sibuk. Aku cuma pelayan.”

 “Syukurlah. Tapi kau tetap harus berhati-hati dengannya, Nak.”

 “Memangnya kenapa? Aku sempat tanya pada Hans, tapi dia malah diam. Sebenarnya ada apa dengan Tuan Kama?”

Zatulini menarik napas panjang. Banyak gosip beredar tentang Kama—anak tunggal keluarga Deodola itu dikenal sebagai pria bermasalah. Media bahkan menulis bahwa ia suka berganti pasangan dan kerap terlibat skandal. Awalnya Zatulini tidak percaya, tapi setelah beberapa kali mendengar pertengkaran keras antara Kama dan ibunya, keyakinannya mulai goyah.

 “Kau harus berhati-hati, Sutra. Dia bukan pria baik-baik,” ujarnya pelan.

Sutra tertawa kecil. “Bu, aku cuma pelayan. Kalau pun Tuan Kama seperti yang orang bilang, rasanya mustahil dia akan tertarik padaku.”

 “Sutra, kecilkan suaramu. Kalau ada yang dengar, kau bisa dilaporkan ke Nyonya Amira.”

 Sutra menunduk. “Maaf, Bu. Aku cuma heran saja.”

 Zatulini mengelus pundaknya lembut. “Ibu cuma takut satu-satunya anak ibu ini terluka. Itu saja.”

Belum sempat Sutra menjawab, seorang pelayan lain datang tergesa. “Sutra, Tuan Kama barusan menelepon. Kau disuruh kembali ke apartemen.”

 Sutra menautkan alis. “Sekarang? Untuk apa? Tadi beliau tidak bilang apa-apa.”

 “Jangan banyak tanya. Katanya penting,” jawab perempuan itu singkat.

 Sutra mengangguk. “Baiklah, Bu. Aku pergi dulu.”

 “Hati-hati, Nak. Jangan sampai terjadi apa-apa,” pesan Zatulini lembut.

**

“Sebetulnya siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Perempuan itu?”

Pertanyaan itu membuat Sutra termenung saat ia masih berada di pintu unit.

 “Maksud Tuan? Bukannya tuan menyuruh saya kemari?”

 “Sudah kuduga,” gumamnya dingin. “Perempuan itu selalu tahu cara mencampuri urusan orang.”

Sutra terpaku. Ia tidak salah dengar, kan? Perempuan itu—ibunya sendiri. Tapi bagaimana mungkin seorang anak berbicara seperti itu?

 “Maaf, Tuan, kalau tidak ada yang perlu saya kerjakan lagi, saya pamit—”

 “Kau sudah makan?” potong Kama.

 Sutra menggeleng. “Belum, Tuan. Tapi saya bisa makan setelah pulang.”

 “Duduk. Makan di sini. Aku tidak suka makan sendirian.”

 “Tuan, saya—”

 “Duduk, Sutra.”

Nada suaranya tenang, tapi mengandung perintah. Sutra akhirnya menuruti. Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok beradu dengan piring. Dari dekat, Sutra melihat sesuatu di wajah pria itu—bukan keangkuhan, tapi kesepian.

 “Tuan, makanlah pelan-pelan,” ujarnya hati-hati.

 Kama menatapnya sejenak. “Kau pikir aku tidak punya hati? Aku tidak akan makan sendiri sementara orang lain kelaparan.”

 Sutra menunduk. “Maaf, Tuan.”

 “Aku tidak suka wanita banyak bicara. Turuti saja apa yang aku katakan.”

Beberapa menit berlalu. Hening yang aneh menyelimuti mereka. Setelah semuanya selesai, Sutra berdiri. “Kalau tidak ada yang perlu saya bantu lagi, saya pamit pulang.”

 Kama tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, lalu berkata pelan, “Sutra, kemarilah.”

Sutra mendekat dengan ragu. Kama merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan berbentuk bulan sabit.

 “Ini,” katanya. “Aku percaya padamu.”

“Maksud Tuan?”

“Buka lemari di kamar utamaku. Di bagian bawah ada kotak hitam dengan gembok. Gunakan kunci ini untuk membukanya. Bawa isinya ke sini besok pagi.”

 Sutra menatap kunci itu, bingung. “Kotak hitam? Untuk apa, Tuan?”

Tatapan Kama mengeras. “Kalau kamu ingin tetap bekerja di sini, jangan banyak bertanya. Dan jangan sampai perempuan itu tahu.”

“Perempuan itu? Maksud Tuan … Nyonya Amira?”

“Kamu terlalu banyak bertanya.” Kama tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Ya. Jangan biarkan jalang itu tahu apa pun.”

Sutra membeku. Ia yakin tidak salah dengar. Jalang.

Untuk kedua kalinya, Kama menyebut ibu kandungnya sendiri begitu saja—tanpa ragu, tanpa emosi.

Beberapa menit kemudian, mereka kembali makan ringan. Tak lama, Kama tiba-tiba tersedak. Ia batuk keras hingga matanya berair.

 “Tuan—” Sutra panik. 

“Ambilkan obat.” 

“Obat, Tuan. Obatnya di mana?”

 Kama menunjuk ke arah kamar. “Nakas… kiri…” katanya terputus.

Sutra segera berlari ke kamar utama. Aroma parfum maskulin langsung menyeruak—dingin, bersih, menenangkan. Ia menemukan botol obat di atas nakas. Tapi saat hendak mengambilnya, matanya menangkap laci bawah yang sedikit terbuka. Ada celah kecil menampilkan sudut kotak bening di dalamnya.

Logikanya berkata jangan, tapi rasa penasaran lebih kuat. Ia berjongkok, mendorong laci itu sedikit.

Di dalamnya ada kotak bening berisi benda-benda kecil terbungkus rapi—kemasan tipis berlogo yang berbentuk seperti permen. Namun stoknya banyak. Terlalu banyak. 

 Darahnya berhenti mengalir sesaat. Jantungnya berdetak cepat. Ia buru-buru menutup laci hingga terdengar bunyi gesek kayu.

“Obat,” ia berbisik pada diri sendiri, berusaha fokus. Ia mengambil botol, kembali ke ruang makan. Kama masih batuk. Sutra menuangkan air, memberinya obat. Pria itu menelannya perlahan, lalu mengangguk singkat.

 “Terima kasih,” katanya pelan.

 “Sama-sama, Tuan.”

Sutra membereskan meja, berusaha mengalihkan pikiran dari apa yang baru ia lihat. Tapi bayangan kotak itu terus muncul—kemasan rapi, teratur, terlalu pribadi untuk sekadar milik orang biasa. Untuk siapa? Seberapa sering? Kenapa disimpan di sana?

“Kalau tidak ada yang Tuan perlukan lagi, saya pamit,” katanya, berusaha menstabilkan suaranya.

 “Besok datang pagi,” jawab Kama datar. “Jangan terlambat.”

Sutra mengangguk, cepat-cepat melangkah ke pintu. Tangannya masih gemetar saat menekan tombol lift. Mobil meluncur keluar dari basement. Lampu-lampu kota musim gugur terlihat seperti garis-garis kuning yang diseret angin. Sutra menatap keluar jendela, berusaha menata napas. Tapi kepalanya justru menayangkan ulang apa yang dilihatnya tadi bahwa serenceng kotak bening, kemasan bertuliskan ‘pengaman’ berada di laci sisi tempat tidur. Ia memalingkan wajah, seolah bisa mengusir gambar itu dari ingatan. 

“Ada apa denganmu, Sutra?” Hans melirik dari spion. “Ac nya dingin?”

Sutra hanya menggeleng kecil.

Mereka melewati lampu merah yang berganti hijau. Sutra menatap kaca mengusir sisa gerimis. Ia memeriksa ponsel—tidak ada pesan dari Nyonya Amira. Lega yang aneh sekaligus bersalah muncul. 

Dalam diam, Sutra mencoba berlogika. Persediaan pribadi—apa pun namanya—bisa saja milik siapa pun. Bisa untuk jaga-jaga, bisa untuk tamu, bisa juga … Ia menutup mata, menolak kemungkinan-kemungkinan yang melompat dengan sendirinya. 

Lalu ingatan lain melayang pada foto di dekat kotak kayu tadi, nama “Dinara Deodola” terukir di belakang bingkai, anak kecil yang tersenyum dalam pelukan wanita itu.  Apa hubungannya semua ini? Kenapa setiap pintu yang ia buka, selalu mengarah ke lorong yang lebih gelap?

“Hans,” katanya tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri. “Kalau orang kaya … biasanya menyimpan banyak barang pribadi di kamar, ya?”

Hans tertawa pendek. “Semua orang menyimpan banyak hal di kamar, bukan soal kaya atau tidak. Pertanyaannya, apa barangnya, dan buat apa.”

Sutra terdiam. “Kalau ada yang disembunyikan?”

“Kalau disembunyikan, berarti tidak ingin dibagikan,” jawab Hans datar. “Saran saya, jangan pernah penasaran.”

“Apalagi menyangkut Tuan Muda. Kalau bisa jangan pernah terlibat sekalipun sedikit, Sutra.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (23)
goodnovel comment avatar
ida sari
kama ko bisa nyebut ibu nya sendiri dengan panggilan J4l4ng,trs Itu apa isi kotak yg harus sutra ambil di lemari nya .. Dinara siapa dia? adik nya kama kah? dan apa yg di liat sama sutra di laci? ko banyak rahasia yg di sembunyikan keluarga kama..
goodnovel comment avatar
Nunik Sobari
hadeuhh udah apa sutra jgn ikut campur
goodnovel comment avatar
Ida Cliquers Queenbee
sutra mending pura2 nggak tau aja lah, daripada nanti makin kepo malah mendatangkan masalah. terus kunci yg di kasih kama itu apa ya isi di kotak yg di maksud lama. kenapa ibunya nggak boleh tau
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kama Sutra   Epilog

    Langkah kaki menyurusi koridor rumah sakit, semakin tergesa saat mendengar suara lengkingan bayi baru lahir dari sebuah kamar persalinan. “Bagaimana keadaan istriku? Apa dia sudah melahirkan?” Suaranya tergopoh, wajahnya panik. “Tuan Deodola, selamat bayi Anda lahir dengan selamat. Dia berjenis kelamin laki-laki,” ucap salah satu dokter yang menangani proses persalinan Sutra. Kama tersenyum lebar, pria itu kemudian meraih bayi mungil yang diberikan oleh seorang dokter padanya. Sutra yang berada di dalam kamar persalinan terlihat mengembulkan senyum hangat. Kama berjalan menuju Sutra sambil menggendong bayi mereka. “Terima kasih, Sayang, karena kau sudah berjuang hingga detik ini. Aku sangat mencintaimu,” katanya berbisik sambil mendaratkan ciuman hangat di dahi Sutra. Jentik-jentik keringat membasahi pelipis Sutra, deru napasnya naik turun tak beraturan. Tubuhnya terasa begitu ringan bak kapas. “Nyonya Deodola, akhirnya kau sadar juga. Selamat, Nyonya, bayi Anda

  • Kama Sutra   Bab 307

    Langit yang masih mendung tak kunjung berubah sejak pagi hari. Mobil jenazah berwarna putih perlahan melaju melalui jalan raya yang mulai tergenang air akibat tetesan hujan yang terus menyergap Kota S sejak dini hari. Di dalam mobil pengiring yang mengikutinya, Sutra duduk dengan tubuh yang sudah mulai terasa berat akibat usia kehamilan yang memasuki bulan enam. Tangan kirinya tampak mengelus perutnya yang membuncit, seolah ingin memberikan rasa aman pada janin yang sedang tumbuh di dalamnya, sementara tangan kanannya erat menggenggam amplop kecil yang berisi surat terakhir dari Kama yang dititipkan kepada Dokter Becca sebelum ajal menjemputnya. Wajah Sutra pucat tanpa sentuhan riasan apa pun. Rambut hitam yang biasanya terpelihara rapi kini hanya diikat dengan sederhana, sebagian warnanya sudah membasah akibat tampias hujan yang masuk melalui celah jendela mobil yang sengaja dibuka sedikit. Wanita itu tidak bicara sepatah kata pun sejak pagi tadi, hanya menatap ke luar jendela den

  • Kama Sutra   Bab 306

    Sudah hampir empat bulan sejak hari mereka mengetahui kehamilan Sutra. Ruangan kecil di lantai tiga yang dulunya hanya menampung satu ranjang kini menjadi tempat di mana dua nyawa bergelut dengan takdir—Kama yang berjuang untuk bertahan, Sutra yang berjuang untuk menjaga kandungannya agar esok bisa melahirkan dengan keadaan selamat. Setiap pagi, matahari akan masuk melalui jendela yang menghadap taman, menerangi wajah Sutra yang sering terbangun dengan tangan sudah berada di atas perutnya yang mulai sedikit membuncit, dan wajah Kama yang semakin pucat seiring dengan berjalannya waktu. Kondisi Kama yang dulunya hanya lemah dan lumpuh, kini semakinmemburuk, yang membuat hati siapapun bergetar tak tega saat melihatnya. Dokter Becca sudah tidak bisa menyembunyikan lagi bahwa penyakit yang menyerang Kama telah mencapai tahap akhir. Seluruh sistem tubuhnya mulai gagal bekerja, bahkan obat-obatan terbaik pun yang diberikan hanya mampu meredakan rasa sakit sebentar saja. Pagi ini men

  • Kama Sutra   Bab 305

    Sudah tiga minggu sejak hari itu. Tiga minggu di mana waktu terasa seperti berjalan dengan kecepatan yang berbeda bagi Kama dan Sutra. Rumah sakit telah menjadi seperti rumah kedua mereka. Ruangan kecil di lantai tiga, dengan jendela yang menghadap ke taman rumah sakit, menjadi saksi bisu atas setiap senyum, setiap tangisan, dan setiap janji cinta yang mereka utarakan.Kondisi Kama semakin melemah dengan cepat. Hanya dalam seminggu, tubuhnya yang dulunya tegap kini tidak lagi mampu bergerak bebas. Otot-ototnya semakin lemah, hingga akhirnya sebagian besar tubuhnya lumpuh. Dia hanya bisa menggerakkan kepala dan beberapa bagian kecil tangan serta kaki dengan sangat terbatas. Meski begitu, senyumnya tetap ada setiap kali melihat Sutra masuk ke ruangan.“Aku bawa makanan yang kau suka, Sayang,” ujar Sutra dengan senyum yang dia upayakan sebaik mungkin saat memasuki ruangan. Dia membawa rantang kecil berisi bubur ayam yang dimasaknya sendiri di rumah, dibantu oleh Siska dan Bibi Mina. “Bi

  • Kama Sutra   Bab 304

    Mobil hitam melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi di jalan raya menuju Rumah Sakit Utama Vilateli. Udara di dalam mobil terasa begitu antab, hanya suara desing mesin dan hentakan ban yang menyusuri permukaan aspal yang terdengar jelas. Sutra menggenggam setir dengan kedua tangan, matanya tetap terpaku pada jalanan di depannya, meskipun terkadang pandangannya menyelinap ke arah Kama yang duduk di kursi sebelahnya.Pria itu sedang menatap ke luar kaca mobil, wajahnya pucat dengan bibir yang sedikit berkerut. Bekas noda darah di bagian dada kemejanya sudah dihapus oleh Sutra dengan kain basah sebelum mereka berangkat, tapi kesan kesal dan rasa bersalah masih jelas tercermin di setiap lekukan wajahnya.“Kau merasa sakit?” tanya Sutra dengan suara yang lembut, mencoba memecah keheningan yang menyelimuti mereka.Kama menggeleng perlahan. “Tidak terlalu. Hanya merasa sedikit lelah saja.”Sutra menghela napas dalam. Dia ingin berkata banyak hal, ingin menegur, ingin memeluk, tapi kata-kat

  • Kama Sutra   Bab 303

    “Kenapa terlambat?” Sutra menyapa saat Kama sudah masuk dalam kamar. Pria itu diam sejenak. Mencari cara untuk berbicara tentang ala yang kembali mendera dirinya. “Kau baru sembuh, seharusnya lebih bisa menjaga kondisi, jangan sampai kau terlalu lelah karena pekerjaan.” Sutra melepas jasnya lalu menaruh di tempat kotor. “Maaf jika aku cerewet. Aku hanya tidak mau dengar kau kenapa napa. Aku tidak akan pernah sanggup lagi,” kemudian wanita itu menatap dalam kedua netra sang suami. Hatinya mencelos ketika mendengar kata kata Sutra. Wanita itu seakan memberi sinyal jika dirinya tidak mau lagi mendnegar tentang penyakit yang sempat mendera dirinya. “Maaf, aku tadi ketiduran di kantor,” pada akhirnya, Kama berkilah. “Kau sudah makan?” Kama mengangguk. Dia memang sudah makan sup ayam di restoran bersama dokter Becca. “Kalau begitu, cepat mandi sebelum terlalu larut. Setelah itu cepat istirahat. Aku tidak mau kau kenapa napa, paham?” Kama menerbitkan senyum sambil menga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status