Share

Bab 6

Author: Honey
Begitu melihat wajah Geisha yang segera berubah menjadi biru keunguan disertai napas yang terengah-engah, kedua anak itu tampak ketakutan. Mereka mendadak melepaskan cengkeraman tangan mereka, membuang saputangan itu, lalu berlari keluar kamar dengan panik.

"Uhuk, uhuk!" Geisha terbatuk hebat. Dia mencoba meraup udara dengan serakah, tetapi saluran pernapasannya sudah membengkak parah. Setiap kali dia menarik napas, terdengar bunyi mengi yang mengerikan!

Obat ... obat alergi!

Dia merangkak turun dari tempat tidur dengan tertatih-tatih, meraba-raba untuk membuka laci nakas di samping ranjang. Dia terbiasa menyiapkan satu botol semprotan alergi darurat di sana.

Ketemu!

Tangannya gemetaran, baru saja dia mengeluarkan botol semprotan itu.

Brak! Pintu kamar kembali ditendang hingga terbuka!

Dimas dan Cindy kembali lagi!

Melihat botol semprotan di tangan Geisha, mata Dimas langsung membelalak. Dia langsung bergegas maju untuk merebutnya!

"Ibu masih mau pakai obat? Nggak boleh! Ibu harus menderita dulu biar jera! Biar besok-besok nggak berani lagi nindas Bibi Helen!"

"Kembalikan! Uhuk, uhuk." Geisha mencengkeram erat botol semprotan itu. Ini adalah obat penyelamat nyawanya!

Dalam perebutan itu, Cindy juga ikut turun tangan. Kedua anak itu menariknya dengan sentakan kuat!

Plung!

Botol semprotan kecil itu terlepas dari genggaman, melayang di udara membentuk garis lengkung, dan jatuh dengan akurat ke dalam kloset yang tutupnya sedang terbuka!

"Nggak!" Geisha menjerit histeris dalam keputusasaan!

Dia merangkak menerjang ke arah kloset, tetapi rasa sesak yang mencekik telah membuat pandangannya kabur berulang kali dan seluruh anggota badannya lemas tak bertenaga.

Sebelum sisa kesadaran terakhirnya benar-benar lenyap, dia hanya sempat melihat kedua anak itu berdiri di ambang pintu, meliriknya dengan tatapan dingin, lalu berlari pergi tanpa menoleh lagi.

Saat tersadar kembali, tenggorokan dan dadanya masih terasa perih seperti terbakar, tetapi pernapasannya sudah jauh lebih lancar.

Di sisi tempat tidur, tampak Inah, asisten rumah tangga mereka, berdiri dengan ekspresi cemas.

"Nyonya! Akhirnya Nyonya sadar juga! Benar-benar bikin saya takut setengah mati!" Mata Inah tampak merah. "Di rumah 'kan nggak ada bunga, kok Nyonya bisa tiba-tiba kambuh alerginya? Untung saja Tuan pulang cepat tengah malam tadi dan menyadari ada yang nggak beres."

Geisha memejamkan matanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Shane yang menemukannya? Kalau begitu, apa pria itu tahu siapa yang menyebabkan dirinya mengalami reaksi alergi ini?

"Bi Inah." Geisha membuka suara, nadanya terdengar sangat parau, "Tolong panggilkan Dimas dan Cindy ke sini."

Inah sempat ragu sejenak, tetapi pada akhirnya dia tetap pergi memanggil mereka.

Tak lama kemudian, kedua anak itu melangkah masuk dengan sangat enggan dan lambat. Mereka berdiri beberapa langkah dari tempat tidur sembari menundukkan kepala, tidak berani menatapnya.

Geisha memandangi mereka berdua, darah daging yang lahir dari rahimnya sendiri, dua nyawa kecil yang dulu pernah dia rawat dan curahkan seluruh rasa cinta serta pengorbanannya.

Akan tetapi, saat ini, yang dia rasakan di dalam dadanya hanyalah rasa kecewa dan pilu yang menusuk hingga ke tulang.

"Tatap Ibu." Suaranya tidak keras, tetapi memiliki penekanan yang terasa sangat dingin.

Kedua anak itu perlahan mengangkat kepala mereka dengan sorot mata yang tampak gelisah dan ragu.

"Soal kejadian tadi malam, apa ada yang mau kalian sampaikan?" tanya Geisha.

Dimas menggigit bibirnya rapat-rapat, tetap bungkam.

Cindy mulai terisak pelan.

"Kenapa?" Suara Geisha mulai gemetaran. "Ibu ini ibu kandung kalian! Ibu mengandung kalian selama sembilan bulan, bertaruh nyawa demi melahirkan kalian! Ibu yang menyusui kalian pertama kali, mengajari kalian mengucapkan kata pertama, melangkah untuk pertama kalinya! Ibu bekerja keras karena ingin memberikan kehidupan terbaik untuk kalian! Sebenarnya apa salah Ibu sampai kalian begitu membenci Ibu ... hingga tega pakai serbuk sari untuk membunuh Ibu?"

Makin dia bicara, makin dia emosional. Air matanya tumpah ruah, bercampur aduk dengan rasa patah hati dan putus asa.

"Itu cuma kecelakaan." Dimas membela diri dengan suara lirih.

"Kecelakaan?!" Suara Geisha mendadak meninggi, lalu langsung batuk hebat karena terlalu emosi. "Membekap wajah Ibu dengan saputangan yang penuh serbuk sari itu kecelakaan? Merebut obat alergi Ibu lalu membuangnya ke kloset itu kecelakaan? Dimas, Cindy, umur kalian baru lima tahun! Siapa yang mengajari kalian hal-hal seperti ini? Helen?"

"Bukan!" Dimas langsung membantah. "Kami sendiri yang mau melakukannya! Karena Ibu selalu menindas Bibi Helen!"

"Benar!" Cindy juga berteriak sambil menangis. "Kami benci Ibu! Ibu selalu jahat ke Bibi Helen!"

Melihat bagaimana mereka begitu membela wanita itu, bahkan sampai tega membunuh ibu kandung sendiri, harapan terakhir yang tersisa di dalam hati Geisha kini telah hancur sepenuhnya.

Dia memaksakan diri untuk duduk tegak di tempat tidur, tubuhnya sedikit limbung karena kondisi yang masih lemah dan didera rasa amarah.

"Bagus ... bagus! Karena kalian menganggap Ibu seburuk itu, maka hari ini, Ibu akan benar-benar mengajari kalian, apa yang dinamakan sopan santun, dan apa yang dinamakan bakti kepada orang tua!"

"Bi Inah, ambilkan penggaris kayu keluarga ke sini."

Inah tersentak kaget. "Nyonya, ini ...."

"Cepat!"

Inah akhirnya terpaksa mengambil penggaris kayu dengan tubuh gemetaran.

Geisha menggenggam penggaris kayu yang terasa dingin itu. Menatap kedua anak di hadapannya yang kini berwajah pucat pasi karena ketakutan, hatinya terasa seperti diiris-iris, tetapi dia memaksa dirinya untuk mengeraskan hati.

"Ulurkan tangan kalian."

Dimas mengeraskan lehernya dan bergeming, sementara Cindy yang ketakutan langsung bersembunyi di balik punggung kakaknya.

Tepat saat Geisha mengangkat penggaris kayu itu dan bersiap melayangkannya ….

"Hentikan!"

Suara Helen tiba-tiba terdengar!

Dia menerjang masuk bak embusan angin, lalu merentangkan kedua tangannya demi melindungi kedua anak itu di balik punggungnya!

"Kak Geisha! Kalau kamu mau mukul, pukul saja aku! Anak-anak sudah menceritakan semuanya padaku. Mereka melakukan itu semua karena aku. Ini salahku. Kalau kamu marah, lampiaskan saja padaku. Jangan menakuti anak-anak!"

Melihat gelagat Helen yang penuh kepura-puraan itu, Geisha merasa mual.

"Minggir."

"Nggak mau!" Helen melindungi kedua anak itu dengan erat. "Mereka masih kecil, belum mengerti apa-apa. Kamu nggak boleh memperlakukan mereka seperti ini!"

"Aku bilang minggir!" Kesabaran Geisha habis. Dia menepis tangan Helen yang menghalangi di depannya!

Helen menjerit kaget. Dia sengaja memanfaatkan momentum itu untuk menjatuhkan dirinya ke belakang. Punggungnya membentur sudut meja, membuatnya langsung pucat pasi karena kesakitan.

"Apa yang sedang kalian lakukan?!"

Teriakan amarah Shane menggelegar di ambang pintu!

Pria itu melangkah masuk dengan cepat. Dalam sekali lirik, dia langsung melihat Helen yang sedang memegangi lengannya yang merah bengkak sambil menangis kesakitan. Sementara di belakang wanita itu, ada kedua anaknya yang sedang menangis dan gemetar ketakutan.

Lalu, dia beralih menatap Geisha. Wanita itu sedang menggenggam penggaris kayu, raut wajahnya tampak marah, dan sorot matanya sedingin es.

"Geisha!" Shane hampir mendesiskan nama wanita itu dari sela-sela giginya, kilatan matanya memancarkan kemarahan yang mengerikan. "Mau sampai kapan kamu terus bikin ulah?"

Helen seketika menangis dan menghambur ke pelukan Shane. "Shane, ini bukan salah Kak Geisha. Anak-anak yang tadi malam berbuat salah. Kak Geisha cuma mau mendidik mereka. Aku ... aku saja yang gagal mencegahnya."

Shane memeluknya, lalu menatap Geisha dengan sorot mata yang jauh lebih dingin lagi. "Anak-anak sudah menceritakan semuanya kepadaku! Mereka melakukan itu karena kemarin kamu menampar Helen, makanya mereka ingin memberimu sedikit pelajaran! Ini memang murni kesalahanmu sejak awal! Kalau bukan karena pikiranmu yang picik dan nggak bisa menerima kehadiran orang lain, mana mungkin anak-anak sampai nekat berbuat seperti itu?"

Dia menunjuk penggaris kayu di tangan Geisha, lalu berucap dengan nada suara yang sedingin es, "Sekarang, kamu malah pegang penggaris kayu dan berniat main tangan pada anak-anak? Bahkan sampai menyakiti Helen seperti ini? Geisha, kamu benar-benar sudah keterlaluan!"

"Oke, kamu suka pakai hukum keluarga untuk menghukum orang, 'kan? Kalau begitu, pergilah ke ruang isolasi dan renungkan semua kesalahanmu! Pengawal! Bawa Nyonya ke ruang isolasi! Tanpa izin dariku, dia nggak boleh keluar!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status