Share

Bab 5

Author: Honey
"Ayah!" Dimas menarik-narik ujung lengan baju sang ayah, membuyarkan lamunannya. "Lihat, Bibi Helen lagi ngusap-ngusap lengannya, kayaknya dia kedinginan. Ayo kita ambilin mantel buat Bibi Helen!"

Shane tersentak dari lamunannya. Dia melihat Helen yang sedang mengobrol dengan para tamu di kejauhan memang tampak sedikit mendekap kedua lengannya.

Shane mungkin terlalu banyak berpikir. Geisha sangat mencintai dirinya, anak-anak, dan rumah tangga mereka, jadi tidak mungkin wanita itu benar-benar tidak peduli lagi.

Mungkin ... Geisha hanya sedang merajuk sebentar, atau memang sudah bisa berpikiran terbuka.

Dia pun menepis rasa gusar yang tiba-tiba mengusik hatinya, lalu mengajak kedua anaknya pergi ambil mantel untuk Helen.

Begitu Shane dan anak-anak menjauh, senyum ramah di wajah Helen langsung memudar.

Sambil memegang gelas anggurnya, dia berjalan anggun menghampiri Geisha.

"Geisha, lihat 'kan? Suamimu, anak-anakmu, sekarang semuanya berpusat padaku. Kamu cuma jadi bahan tertawaan yang menyedihkan, bahkan ulang tahunmu saja harus dibagi denganku. Bagaimana rasanya?"

Geisha malas meladeninya dan langsung berbalik untuk pergi.

Akan tetapi, Helen mendadak mencengkeram pergelangan tangan Geisha dengan kuat, hingga kukunya hampir menancap ke kulit!

"Mau ke mana? Aku belum selesai ngomong!" Helen mendekatkan wajahnya sambil tersenyum manis, tetapi kata-katanya penuh racun. "Geisha, aku dengar ibumu dulu lompat dari gedung karena suaminya selingkuh. Nggak nyangka ya, setelah bertahun-tahun, kamu sama saja seperti ibumu, sama-sama pecundang yang nggak bisa mempertahankan suami! Ibumu setidaknya masih lumayan bisa melahirkanmu, tapi kamu? Kamu cuma melahirkan dua anak yang nggak tahu balas budi, haha."

Plak!

Satu tamparan keras dan nyaring mendarat telak di wajah Helen!

Geisha menepis tangan wanita itu, lalu menatapnya dengan sorot mata sedingin pisau. "Helen, aku sudah cukup lama bersabar menghadapimu. Kalau kamu berani menyebut ibuku satu kata lagi, akan kurobek mulutmu!"

Helen tersentak ke samping karena tamparan itu, pipinya langsung merah dan bengkak.

Dia memegangi pipinya sementara air mata seketika menggenang di pelupuk matanya. Namun, dia tidak menjerit histeris seperti biasanya, justru senyum kemenangan muncul di wajahnya.

Sebab, Shane dan kedua anak mereka sedang berjalan ke arah sini sambil membawa mantel.

"Ada apa ini?" Kening Shane langsung bertaut begitu melihat pipi Helen yang merah bengkak dan ekspresi dingin di wajah Geisha.

Air mata Helen seketika tumpah. Dia langsung menghambur ke pelukan Shane sambil berucap dengan suara tersedu-sedu dan penuh rasa tertindas, "Shane, ini bukan salah Kak Geisha. Aku yang salah. Aku nggak sengaja menumpahkan sampanye ke bajunya, jadi wajar saja kalau dia menamparku."

Kedua anak mereka langsung meledak marah!

Dimas menunjuk ke arah Geisha, lalu membentaknya dengan suara lantang, "Cuma karena segelas sampanye, kenapa Ibu tega menampar Bibi Helen?!"

Cindy juga ikut marah hingga wajah kecilnya merah. "Dasar wanita jahat! Kami benci Ibu!"

Shane menatap Helen yang sedang menangis di pelukannya, lalu beralih menatap Geisha yang berdiri tanpa ekspresi. Seketika itu juga, gelombang amarah langsung naik ke kepalanya!

"Geisha! Tadi aku sempat heran kenapa hari ini kamu bisa begitu murah hati dan berlapang dada, ternyata kamu sengaja menunggu momen ini untuk melampiaskan semua kekesalanmu pada Helen! Aku yang mengusulkan agar pesta ulang tahun ini dirayakan bersama, jadi kalau kamu nggak senang, lampiaskan saja padaku! Buat apa ke orang lain?"

Melihat pria di hadapannya yang sedang dikuasai amarah yang meledak-ledak, dada Geisha rasanya seperti ditusuk dengan kejam oleh kata-kata pria itu, begitu menyakitkan hingga membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

Dia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu.

"Shane! Kalian jangan bertengkar lagi!" Helen justru maju di waktu yang tepat, sambil bercucuran air mata, menahan lengan Shane. "Ini semua salahku! Seharusnya aku nggak datang. Aku yang merusak pesta ulang tahun Kak Geisha. Aku ... aku akan pergi sekarang!"

Setelah mengatakan itu, dia memegangi wajahnya lalu berbalik dan berlari keluar dari aula pesta sambil menangis.

"Bibi Helen!"

"Bibi Helen, jangan pergi!"

Kedua anak mereka langsung berteriak dan bergegas ikut mengejarnya.

Shane melayangkan tatapan tajam yang penuh amarah ke arah Geisha, lalu melemparkan satu kalimat, "Lihat apa yang sudah kamu perbuat!" Sebelum akhirnya ikut mengejar ke luar.

Meninggalkan Geisha sendirian yang terpaku di tempatnya, menanggung berbagai macam tatapan mata dari para tamu undangan di sekelilingnya.

Geisha hanya merasa sangat lelah. Tanpa memedulikan gunjingan orang-orang, dia mengambil tasnya lalu diam-diam meninggalkan pesta ulang tahun yang disebut-sebut untuknya itu.

Sesampainya di rumah, dia langsung mandi, membersihkan tubuhnya dari rasa lelah dan bau alkohol.

Geisha tidur lebih awal. Mengenai jam berapa Shane dan anak-anak pulang, dia tidak tahu dan tidak mau ambil pusing.

Hingga tengah malam, dia mendadak terbangun oleh suara gemerisik yang samar.

Saat membuka mata, dengan bantuan cahaya bulan yang temaram dari balik jendela, dia mendapati Dimas dan Cindy entah sejak kapan sudah menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Di tangan mereka ada seutas tali dan mereka sedang mengikat tangan serta kakinya!

"Apa-apaan kalian?" Geisha langsung duduk tegak.

Kedua anak itu sempat terkejut oleh reaksinya. Namun, sedetik kemudian, wajah Dimas menampakkan ekspresi penuh kebencian yang sama sekali tidak selayaknya ada pada anak seusianya.

"Apa-apaan? Hari ini Ibu sudah menampar Bibi Helen sampai bikin dia lari ke luar dan menangis tersedu-sedu! Ayah sampai harus membujuknya lama sekali baru dia tenang! Kami belum pernah melihat Bibi Helen sesedih itu! Dasar wanita jahat! Kami mau membalaskan dendam Bibi Helen! Biar Ibu jera!"

Cindy mengeluarkan selembar saputangan dari dalam sakunya. Di bawah temaram cahaya bulan, samar-samar terlihat saputangan itu telah dilumuri serbuk halus.

"Ibu, Ibu alergi serbuk sari bunga, 'kan? Aku sudah menaruh banyak banget serbuk sari di saputangan ini. Ibu pasti bakal menderita setengah mati. Kuharap Ibu ingat pelajaran ini, jadi besok-besok nggak bakal berani lagi nindas Bibi Helen!"

Pupil mata Geisha seketika mengecil!

Dia memiliki alergi parah terhadap serbuk sari bunga. Sekali saja terpapar, hal itu bisa memicu penyempitan saluran pernapasan secara mendadak, mati lemas, bahkan membahayakan nyawanya. Masalah ini hanya diketahui oleh anggota keluarga terdekatnya saja!

Akan tetapi, mereka berdua justru menggunakan hal ini untuk memberinya pelajaran?

Tubuh Geisha gemetar hebat. Belum sempat dia mengumpulkan kesadarannya, di detik berikutnya, Dimas dan Cindy sudah bekerja sama menempelkan saputangan penuh serbuk sari itu kuat-kuat, hingga membekap mulut dan hidung Geisha!

"Ugh!" Aroma serbuk sari yang pekat seketika menyeruak masuk!

Geisha meronta sekuat tenaga, tetapi kedua anak itu seperti sudah memantapkan hati. Mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk menahannya!

Rasa sesak yang mencekik dengan cepat menyerang! Tenggorokannya terasa seperti dicengkeram oleh tangan-tangan tak kasat mata, paru-parunya terasa perih seperti terbakar, dan pandangannya mulai gelap!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status