Share

Bab 7

Author: Honey
Dua orang pengawal masuk setelah mendengar perintah, lalu melangkah ke arah Geisha dengan wajah tanpa ekspresi.

Geisha meronta sekuat tenaga, tetapi perlawanannya sia-sia. Dia hanya bisa pasrah membiarkan kedua pengawal itu menyeretnya keluar dari kamar.

Ruang isolasi itu terletak di ruang bawah tanah. Ruangannya sangat kecil, tidak memiliki jendela, dan hanya diterangi oleh lampu bohlam yang redup.

Sejak kecil Geisha selalu takut pada gelap dan ruang tertutup, dan masalah ini, Shane sebenarnya tahu betul.

Akan tetapi, sekarang, pria itu yang mengurungnya ke tempat ini dengan kedua tangannya sendiri.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tepat di saat kesadarannya mulai setengah sadar dan hampir dibuat gila oleh kegelapan serta kesunyian di ruangan itu, pintu ruang kurungan mendadak terbuka sedikit.

Dua bayangan bertubuh kecil menyelinap masuk dengan mengendap-endap.

Mereka adalah Dimas dan Cindy.

Tangan mereka membawa sebuah kantong kain berwarna hitam, sementara wajah mereka menampilkan ekspresi campuran antara rasa takut sekaligus antusias seperti sedang melakukan kenakalan.

"Ibu, Ayah mengurung Ibu di sini supaya Ibu merenungkan kesalahan. Tapi, menurutku ... ini masih belum cukup."

"Bibi Helen bilang Ibu takut gelap dan takut sama hewan-hewan kecil ini. Makanya, kami membawakan beberapa teman untuk Ibu."

Sembari berkata demikian, mereka melemparkan kantong kain di tangan mereka ke arah Geisha!

Ikatan kantong itu terlepas!

Belasan ekor ular kecil yang terasa licin, dingin, dan menggeliat-geliat, serta tikus-tikus yang mencicit liar, langsung merayap keluar dari dalam kantong dan bergerak menuju Geisha!

"Ah!"

Geisha menjerit histeris dengan suara yang begitu memilukan!

Dia melompat ketakutan dan berusaha menghindar sekuat tenaga, tetapi ruang isolasi itu terlalu sempit. Makhluk-makhluk dingin itu terus mengenai pergelangan kakinya dan merayapi lengannya!

Kegelapan, ruang tertutup, ditambah makhluk-makhluk hidup yang mengerikan itu .... Benar-benar sebuah siksaan ganda!

Dia meringkuk di sudut dinding, seluruh tubuhnya gemetaran hebat bak daun yang tertiup angin. Air matanya mengalir deras, tetapi dia tidak mampu mengeluarkan suara apa pun. Rasa takut yang luar biasa telah mencekik tenggorokannya.

Sementara di ambang pintu, Dimas dan Cindy yang melihat ibu mereka ketakutan setengah mati saling tukar pandang. Di wajah mereka justru menyunggingkan secercah rasa puas, seolah-olah "dendam kesumat telah terbalaskan".

Kemudian, mereka menutup pintu itu diam-diam.

Mengunci wanita itu bersama ular dan tikus-tikus tersebut di dalam kegelapan dan ketakutan yang tanpa akhir.

Saat pintu ruang isolasi dibuka kembali, wajah Geisha sudah pucat pasi, tatapan matanya kosong, dan kondisinya sudah sangat mengenaskan.

Setelah dikeluarkan dari sana, dia langsung mengunci diri di dalam kamar tidur dan tidak mau menemui siapa pun.

Bahkan untuk makanan, Inah selaku pelayan sampai harus menyodorkannya lewat celah pintu dengan gemetaran.

Sampai pada hari ini, Dimas dan Cindy mendadak datang mengetuk pintunya.

Mereka berdiri di ambang pintu sambil menundukkan kepala, tangan mereka memegangi kartu permintaan maaf yang digambar dengan miring dan tak beraturan.

"Ibu, kami salah," ucap Dimas dengan suara lirih.

"Ibu mau memaafkan kami, 'kan?" Mata Cindy tampak merah. "Kami janji bakal menurut ke depannya."

"Ibu mau menemani kami main teka-teki pasang gambar? Kami baru beli kotak baru, susah banget."

Perubahan sikap mereka yang begitu tiba-tiba ini sama sekali tidak membuat hati Geisha tersentuh, yang ada hanyalah kewaspadaan yang dingin.

Dia tidak membukakan pintu, melainkan kembali ke tempat tidur, mengambil ponselnya, lalu membuka media sosialnya.

Benar saja.

Sepuluh menit yang lalu, Helen baru saja mengunggah sebuah status baru.

Unggahan itu berupa sebuah video pendek yang diedit dengan sangat apik.

Latar belakangnya adalah sebuah restoran Barat yang romantis. Lilin-lilin bergoyang lembut dan seorang pemain biola sedang menggesek instrumennya di samping mereka.

Di dalam video, Shane duduk di hadapan Helen, sedang memotong steik dengan begitu lembut untuk wanita itu.

Sementara Helen menumpu dagunya, menatap pria itu dengan senyuman yang manis.

Keterangannya berbunyi: [Selamat Hari Kasih Sayang. Terima kasih sudah menemaniku dan membuat hari ini jadi begitu spesial]. Tak lupa diakhir kalimat disertai gambar hati.

Ternyata begitu.

Sudut bibir Geisha sedikit tertarik, menyunggingkan seulas senyuman yang terasa sangat dingin.

Sikap manis dan ajakan damai yang tiba-tiba dari kedua anak itu hanyalah demi menahannya di rumah, agar dia tidak punya waktu maupun tenaga untuk merusak kencan Hari Kasih Sayang antara Ayah mereka dan Helen, bukan?

Inilah anak-anak yang dikandungnya selama sembilan bulan dan dilahirkannya dengan bertaruh nyawa.

Inilah suami yang dicintainya selama belasan tahun dan yang dulu dikira akan menemaninya seumur hidup.

Dia membuka obrolan WhatsApp Shane, lalu meneruskan video dari unggahan status Helen tadi kepadanya.

[Selamat, semoga kalian langgeng sampai kakek-nenek.]

Panggilan telepon dari Shane langsung masuk hampir di detik berikutnya.

Geisha tidak mengangkatnya.

Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Shane masuk: [Geisha, omong kosong apa lagi yang kamu katakan? Langgeng sampai kakek-nenek apanya? Waktu itu kamu sudah main tangan ke Helen, jadi aku mengajaknya makan malam cuma untuk mewakilimu minta maaf padanya, kebetulan saja momennya pas Hari Kasih Sayang. Jangan suka nyari-nyari masalah. Sudahlah, nanti malam aku pulang bawakan hadiah untukmu.]

Mewakilinya meminta maaf? Mengajaknya makan malam? Kebetulan bertepatan Hari Kasih Sayang?

Geisha tersenyum mengejek diri sendiri. Dia langsung mematikan ponselnya dan mengunci pintu kamar tidur, benar-benar menutup rapat-rapat panggilan panik dan gedoran pintu dari kedua anaknya di luar.

Hingga menjelang malam, pintu kamar tidur tiba-tiba ditendang terbuka dengan keras!

Shane menerobos masuk dengan amarah yang meluap-luap. Ekspresinya tampak muram dan tatapan matanya seolah ingin menyemburkan api!

"Geisha! Aku 'kan sudah menjelaskan semuanya padamu! Waktu itu kamu memukul Helen sampai seperti itu, aku merasa nggak enak hati makanya ingin menebusnya dengan mengajaknya makan malam! Itu kebetulan saja pas Hari Kasih Sayang! Kenapa kamu bisa sejahat ini? Kenapa kamu malah menjual video itu ke wartawan gosip? Sekarang, dunia maya penuh dengan berita yang menuduh Helen sebagai selingkuhan! Apa kamu tahu? Setelah melihat berita itu, Helen nggak sanggup menahannya lagi dan mencoba bunuh diri!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 22

    Waktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 21

    Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 20

    Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 19

    Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 18

    Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m

  • Kamu Hidup, Tapi Bukan Untukku Lagi   Bab 17

    "Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status