LOGINDavin fokus pada arah yang ditunjuk oleh wanita di sebelahnya. "Oh, dia pangeran BKP. Perusahaan mereka sedang melejit luar biasa dalam sepuluh tahun terakhir ini. Proyek properti dan infrastruktur mereka ada di mana-mana. Memangnya kenapa, Reen? Bukankah dulu kamu juga bekerjasama dengan BKP?""Ya.""Berarti kamu kenal baik kan sama dia?" tanya Davin."Nggak hanya kenal baik, Mas. Tapi kami sempat memiliki hubungan selama tiga tahun."Dahi Davin mengernyit. "Oh, ya? Kenapa putus kalau sudah sampai selama itu?"Zareen tersenyum getir. Ia memilih untuk menyimpan rapat-rapat lembaran hitam tentang bagaimana ambisi jahat dan kesalahan fatal papanya dulu yang akhirnya memisahkan mereka. Ia tidak ingin mengorek luka lama yang memalukan itu. "Papaku yang membuat kami putus, Mas. Ada keadaan yang membuat hubungan kami nggak mungkin dipaksakan lagi saat itu."Davin penasaran apa alasan itu. Namun ia tidak bertanya. Kemudian mengajak Zareen ke food court. Sebab ia melihat kalau wanita di sebel
"Papa kok nggak ada? Biasanya kan Papa ajak Ravi lari-lari di halaman dulu sebelum mandi." Bibir itu mengerucut.Memang sudah menjadi ritual wajib setiap pagi bagi Arsel untuk mengajak Ravi berolahraga kecil atau sekadar kejar-kejaran di halaman depan sebelum bersiap ke kantor. Namun hari ini, agenda mendadak di Pasuruan memaksa Arsel harus berangkat pagi-pagi sekali."Papa berangkat ke Pasuruan, Sayang. Abang Ravi, masih tidur tadi, jadi Papa nggak pamitan," jelas Kimmy sembari mengusap rambut berantakan putranya."Hwaaaaa," tangis Ravi langsung meledak. "Papa nakal. Kenapa pergi nggak tunggu Ravi bangun?" protesnya dengan air mata yang mulai membanjiri pipi gembulnya. Begitulah kalau Ravi tidak melihat papanya saat bangun pagi. Pasti tantrum mencari-cari. Mau tidur yang dicari papanya, begitu juga saat bangun. Begitu dekatnya Ravi sama papanya. Sebagaimana dulu, saat tahu Kimmy hamil, semua orang menolak janin itu. Termasuk Kimmy sendiri. Bagaimanapun caranya hendak dibuang. Kimmy
KAMU YANG KUCINTAI - 88 Lupakan Aroma tanah basah dan sisa wangi bunga kamboja seolah masih menempel pada pakaian hitam yang dikenakan Langit. Ia duduk bersandar di sofa ruang keluarga yang sunyi, menatap cangkir teh yang baru saja disuguhkan oleh ART-nya di atas meja kaca.Di hadapannya, sang papa duduk menyesap teh. Mereka baru saja pulang mengantarkan Bu Nania ke peristirahatan terakhirnya. Walaupun sudah bercerai dari wanita itu, Pak Ndaru mengajak putranya melayat saat dikabari mantan istrinya tiada. "Aku nggak nyangka secepat itu Bu Nania pergi. Padahal kesehatannya sudah sangat membaik belakangan ini. Dokter bahkan bilang fisiknya menunjukkan progres yang luar biasa," kata Langit.Pak Ndaru menghela napas panjang, tatapannya menerawang menembus jendela kaca yang menampilkan halaman rumah yang mulai temaram. "Begitulah takdir, Langit. Nasib dan umur manusia nggak ada yang tahu. Manusia boleh berencana dengan obat dan perawatan terbaik, tapi kalau waktunya sudah datang, nggak
Arsel mengangguk dan ikut bangkit dari atas sajadah mereka. Kimmy mengambil testpack dari laci meja rias, lalu membawanya masuk kamar mandi. Beberapa saat, Arsel yang masih memakai baju koko dan sarung bersandar di dekat tembok pintu kamar mandi. Tak sabar untuk segera tahu hasilnya.Pintu akhirnya terbuka. Arsel langsung menegakkan tubuh dan menatap lekat wajah istrinya. Senyum Kimmy merekah yang langsung membuat dada Arsel bergemuruh. "Bagaimana, Kim?" tanya Arsel tak sabar.Kimmy tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya. Menunjukkan layar kecil pada benda digital tersebut. Dua garis merah."Kamu hamil?" tanya Arsel untuk meyakinkan."Iya." Kimmy mengangguk."Alhamdulillah." Spontan Arsel langsung merengkuh tubuh Kimmy ke dalam pelukan hangatnya. "Terima kasih, Sayang. Akhirnya keinginan kita dikabulkan secepat ini."Arsel melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya tetap bertumpu pada pinggang Kimmy. Wajahnya mendadak berubah serius dan protektif. "Kalau begi
Ia bergegas mengambil air wudu dan melaksanakan salat Isya. Begitu selesai langsung melepas sarungnya. Kemudian menghampiri Kimmy yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca jurnal akuntansi di tabletnya. Arsel mengambil tablet itu, meletakkannya di meja rias, lalu naik dan mendekap Kimmy dari belakang."Bang," bisik Kimmy saat merasakan napas hangat Arsel di lehernya.Arsel memutar tubuh Kimmy agar menghadapnya. Ia menatap lekat mata istrinya, tangannya mengusap lembut pipi Kimmy yang halus. Sang istri menepisnya pelan. "Bang, aku mau minum pil dulu." Kimmy tahu setelah puasa karena dirinya haid, Arsel pasti akan meminta jatahnya. Namun Arsel menahannya yang hendak turun dari pembaringan. "Abang rasa Ravi butuh teman bermain di rumah," ujarnya sambil menatap lekat wajah istrinya.Kimmy menahan senyum memandang Arsel. Apa ini pertanda suaminya ingin anak lagi? "Maksud, Abang?" tanya Kimmy pura-pura tidak memahami."Kita rencanakan punya anak lagi," bisik Arsel le
KAMU YANG KUCINTAI - 87 Kabar Gembira Dua tahun kemudian ....Lampu-lampu neon di kantor pusat Bangun Karya Persada mulai meredup sore itu. Menyisakan pendar kebiruan dari layar monitor yang masih menyala di beberapa kubikel. Di ruangannya yang kedap suara, Kimmy masih berkutat dengan barisan angka di buku besar. Sebagai General Ledger Accountant, jemarinya menari lincah di atas papan ketik, melakukan rekonsiliasi akhir bulan yang menjadi pusat laporan keuangan perusahaan. Sudah setahun ia memegang amanah ini, menggantikan seniornya yang terpaksa resign karena sakit.Kimmy bergabung dengan Bangun Karya Persada sudah setahun setengah. Pintu ruangannya terbuka pelan. Arsel berdiri di sana, mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah hadiah dari Kimmy dan urat-urat tangan yang maskulin. "Selamat sore, Ibu Kim," ucap Arsel sambil tersenyum. Menirukan staf kantor yang memanggil Kimmy dengan sebutan Ibu Kim."Sudah hampir jam lima, Saya
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak
Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.







