ANMELDENDendi merangsek maju ke depan pagar, menghadang langkah Rivan dengan tatapan mata yang dipenuhi urat merah kemurkaan."Aku bilang nggak boleh, ya nggak boleh! Jangan ampe anak pembawa sial ini nginjakin kakinya di ruang rawat Papa!”“Dendi, kok ngomong gitu?” Paman Heri menegur ponakannya yang sedang kalap.“Iya, Den, nggak baik ahh ngomong gitu ke saudara sendiri.” Tante Inggit menambahkan.Melihat kerabatnya malah ada di pihak Rivan untuk menegurnya, Dendi makin tak terima.“Gara-gara dia datang dan sok pamer cewek kaya, Papa jadi jantungan dan stroke!” Jari Dendi mengarah tegas ke Rivan disertai wajah emosinya.“Jangan langsung nuduh gitu, Den.” Tante Lidya kini bicara.Kebencian Dendi ke Rivan semakin menjadi-jadi.Kenapa semua kerabatnya sekarang membela Rivan?!Tidak boleh! Dari dulu, dia adalah keponakan kesayangan dan kebanggaan semua paman dan bibinya!Rivan mana boleh mengambil itu darinya!“Nggak peduli! Pokoknya, kalo ampe kamu berani muncul di rumah sakit, kuhabisi kamu,
“A-Apaaa?! Papa bencong?!” tanya Dendi semakin panik.“Anak sialan! Budeg kamu!” rutuk Tante Sonia. “Mencong! Mulutnyaaa mencooonggg!”Dendi sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya akibat teriakan ganas ibunya.Sementara, semua orang yang mendengar ucapan Dendi semakin syok.Sejak kapan saudara mereka yang bernama Burhan jadi bencong?“Hu hu hu… Dokter bilang Papamu kena stroke ringan karena syok dan darah tinggi! Sekarang ini lagi perjalanan ke Rumah Sakit Pusat Jatayu! Buruan kamu ke sini! Mama takut!!"Tante Sonia terdengar kalut dan histeris di telepon.Mendengar kabar buruk yang mengerikan itu, pertahanan ego Dendi runtuh sepenuhnya.Ponsel di genggamannya nyaris terlepas, dan seluruh tubuhnya mendadak lemas seketika.Gengsi besar keluarganya kini berbalik menjadi petaka di malam hari.Wajah Dendi yang tadi merah padam menahan dongkol karena Rivan, seketika berubah pucat pasi.Melihat perubahan drastis pada keponakannya itu, Paman Joko yang berdiri tak jauh dari pagar sege
“Ha ha! Aku bisa lompat, nih!”Mbah Parto melompat kecil di atas tanah pekarangan dengan wajah penuh kegembiraan yang luar biasa.“Mbah Parto yakin bugar?” tanya salah satu paman."Iya! Badanku rasanya hangat dan segar banget, berasa balik kayak jaman muda!" Mbah Parto menatap gembira semua kerabatnya. “Makasih, Van!”Rivan tersenyum lega melihat salah satu kakeknya berhasil mendapatkan kebugaran dari baksonya.“Ehh! Aku… aku….” Kakek lain di kerumunan mereka ikut bersuara.“Ada apa, Mbah Muzan?” tanya kerabatnya.“Ini… badanku yang biasanya lemas, sekarang kerasa lebih bugar dan ringan! Ha ha ha!” Mbah Muzan tertawa bahagia.“Waduuhhh… aki-aki kita sekarang jadi bugar dan muda lagi, nih!” seloroh Tante Inggit.“Nggak apa-apa, malah bagus! Asalkan jangan kepingin nikah lagi aja, deh!” Tante Lidya menggoda.Semua kerabat menanggapi dengan tertawa geli.Hanya istri Mbah Parto yang mendelik kesal melihat kondisi bugar suaminya."Awas kalo minta kawin lagi!" ancam istri Mbah Parto."Engga
Semua orang serentak menoleh ke arah pagar.“Dendi? Ngapain ke sini?” tanya Tante Lidya.Di pagar ada Dendi berdiri bersama pacarnya dengan napas memburu dan wajah yang masih dipenuhi rasa dengki yang mendalam.Rupanya, dia nekat membuntuti rombongan karena tidak rela melihat Rivan merebut seluruh perhatian dan rasa hormat kerabatnya.‘Dari dulu, cuma keluargaku yang paling dihormati semua saudara. Aku nggak sudi hal itu direbut, apalagi ama tukang bakso rendahan!’ Dendi geram di hatinya.Suasana pekarangan kontrakan Rivan kembali menegang sejenak akibat kedatangan Dendi yang tiba-tiba.Namun, antusiasme kerabat Rivan yang sudah terlanjur terpikat aroma kuah kaldu ajaib tidak semudah itu runtuh oleh provokasi murahan."Dendi! Sudahlah, kamu ini kenapa selalu nyari ribut ama sepupumu sendiri, sih?" tegur Paman Heri dengan nada tegas sambil menatap keponakannya dengan dahi berkerut."Iya, loh!” Tante Inggit menimpali, “Mira ama Nesya udah nunjukin buktinya di internet. Orang-orang dinas
"Siap, Van! Ayo!" sahut kerabatnya serempak.Maka, petang itu juga... rombongan kerabat Rivan pergi ke rumah Rivan.Pintu marmer besar rumah mewah Dendi terbuka, menampilkan eksodus besar-besaran.Jajaran mobil dan motor yang tadinya terparkir rapi di kompleks elit itu satu per satu dinyalakan.Semua bergerak beriringan mengekor di belakang mobil sedan sport merah milik Vanya.Mereka meninggalkan kediaman Om Burhan yang mendadak sepi.Hanya tersisa Dendi, pacarnya, Om Burhan dan Tante Sonia yang berdiri mematung di teras mewah.Wajah mereka pucat pasi menahan malu dan murka yang teramat sangat seumur hidup mereka.“Tukang bakso sialan itu udah ngerebut saudara kita!” teriak Dendi tanpa bisa menahan emosinya.Matanya memerah dengan tubuh bergetar dipenuhi aura murka.Sementara itu, iring-iringan kendaraan yang membelah jalanan Kota Jatayu.Hingga akhirnya berbelok dan melambat di depan sebuah gang pemukiman yang cukup padat.“Wah… jadi ini kampungnya Rivan, ya?” Tante Lidya menatap mul
“Benar! Kita buktiin apa benar bakso Rivan manjur!” seru paman lainnya.Ruang tamu kediaman Om Burhan yang biasanya menjadi panggung kesombongan Dendi dan keluarganya, mendadak berubah menjadi arena perdebatan yang sengit.“Arul! Kamu ini apa-apaan, sih?!” Tante Sonia mendelik ke paman yang antusias mengajak ke rumah Rivan.“Nggak apa! Aku pengin keluargaku cepat sembuh! Aku mau ke rumah Rivan.” Tante Lidya berseru. “Kalo kalian mau di sini, ya terserah!”Ajakan Tante Lidya dan beberapa paman untuk langsung meluncur ke rumah kontrakan Rivan memicu kepanikan luar biasa di kubu tuan rumah."Tunggu! Jangan gila kalian semua!" bentak Tante Sonia dengan wajah merah padam.Dia merentangkan kedua tangannya di tengah ruangan untuk memblokir jalan.Dendi dan keluarganya geram.Merka berusaha mencegah kerabatnya pergi ke rumah Rivan."Kalian mau mempermalukan Papa dan Mama dengan pergi dari acara keluarga ini cuma demi makanan murahan?! Tolong pakai logika kalian, jangan percaya takhayul media







