تسجيل الدخولJantung Harsa berdebar tak karuan ketika lampu teras dimatikan. Dia salah karena pulang di atas jam 9 malam dan tidak berpamitan pada istrinya. Kamila pasti semakin marah. Kalau pintunya dikunci dari dalam, dia harus mengetuk pintu, pulang ke rumah ibunya, atau tidur di teras?Harsa menoleh ke belakang. Memastikan bahwa pagar sudah terkunci rapat. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia mencoba peruntungan. Tangannya menurunkan handle pintu dan mendorongnya. Terbuka. Hatinya lega bukan main. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, dia meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu teras dan lampu ruang tamu. Dalam hati dia mengingat baik-baik. Istrinya akan mematikan semua lampu jika sedang marah. Harsa mengunci pintu dua kali, setelah itu mematikan lampu ruang tamu. Dia berjalan menaiki tangga dengan perlahan agar tidak mengganggu Fiona yang pasti sudah tidur. Ketika sampai di depan pintu kamar mereka, Harsa menelan ludah. Jantungnya berdebar. Bagaimana kalau Kamila masih marah-mara
"Jadi, kamu nggak bilang ke istrimu kalau ada acara di rumahku? Oalah, gimana to bro...bro?" Ilham menepuk dahinya. "Dia marah-marah, Ham. Aku takut dia makin marah kalau mengajaknya ke sini," jawab Harsa pasrah. "Astaga! Lebih marah lagi kalau kamu nggak mengajak dia ke sini. Dia pasti mikir kalau kamu nggak mau diganggu. Lagian kenapa masih mempertahankan karyawan pirang itu sih?" Ilham menggeleng-geleng tak percaya. "Aku kan nggak tahu kalau dia nilep uang toko, Ham. Aku mempercayakan sepenuhnya pada Anton. Ya kukira udah bener. Soalnya aku sering ke luar kota dan mengurusi urusan lainnya," jawab Harsa. Dia tidak paham kenapa istrinya bisa mengamuk-ngamuk seperti tadi. Padahal, dia sama sekali tidak tertarik pada Reni. Tidak pernah berinteraksi juga. Setiap dia ke toko, hanya untuk menangani orderan besar. Urusan administrasi, dia serahkan sepenuhnya pada Anton. "Hadeh, terlalu polos kamu itu. Yang membuat dia marah besar itu bukan soal uang 20 juta yang diambil sama karyawanm
Sore hari, setelah toko ditutup, Kamila sedikit membanting laporan keuangan selama 2 tahun terakhir ke atas meja. "Banyak kesalahan dalam laporan keuangan ini. Apa kamu nggak pernah mengeceknya selama ini?" Nada suara Kamila masih tenang. Dia merasa lelah setelah berkutat dengan laporan itu selama empat jam penuh. "Masa sih, Dek? Kesalahannya di mana?" tanya Harsa dengan wajah tenang pula. Kamila menjelaskan semuanya secara rinci, bahkan sampai ke tanggal setiap transaksi. "Banyak manipulasi angka di sini. Kamu rugi 20 juta selama 2 tahun ini. Seharusnya laba bersih kamu 360 juta per tahun, tapi selama 2 tahun ini laba bersihnya masing-masing tahun cuma 350 juta." "Ya mungkin karena penjualan nggak selalu rame, Dek. Namanya usaha, kadang sepi kadang rame." Kamila mulai sedikit jengkel. "Kamu lihat nggak transaksi per bulan? Aku sudah mengecek semuanya. SEMUANYA! Dan setiap bulan, orderan cenderung stabil karena kamu punya banyak pelanggan. Pertanyaanku, apa kamu nggak ngecek l
Fiona asyik bermain di sekitar material bangunan ketika seorang perempuan muda tiba-tiba menghampirinya. Dia sempat mendongak, tapi kemudian kembali asyik pada kegiatannya. "Heh! Kamu ngapain di sini? Ini bukan tempat untuk bermain! Pergi sana! Ibunya ke mana sih?" gerutu perempuan itu. Fiona masih tidak menyahut. Tapi perempuan itu malah mendorong Fiona hingga jatuh terduduk. "Tante kenapa jahat banget? Tante siapa sih?" tanya Fiona tak suka. Perempuan itu mewarnai rambutnya pirang. Terlihat tidak cocok sekali dengan wajahnya yang kampungan. "Rambut Tante nggak cocok. Kelihatan ndeso. Norak. Tante ke sini mau godain cowok ya? Memangnya ada yang mau?" Fiona sudah kelas 2 SD sekarang. Lebih paham dengan sekitarnya. "Heh! Dasar bocah kurang ajar! Mulut tuh dijaga!" bentak perempuan itu. "Sana minggir! Emakmu mana? Tolol banget ninggalin anaknya di sini." Mendengar perempuan itu menghina mamanya, Fiona langsung berdiri. "Jangan menghina mamaku ya. Mamaku jauh lebih cantik dari ka
"Oh, ini yang kemarin nikah sama karyawan toko bangunan dekat SMA itu ya? Kok pakaiannya masih bagus-bagus, sih? Jangan-jangan suaminya nilep duit bosnya. Kayak mantan suaminya yang mati itu lho." Kamila sempat tertegun begitu keluar dari mobil dan mendengar celetukan ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan salah satu rumah."Ganteng sih suaminya yang sekarang. Tapi kok kere? Dikira bisa kenyang cuma dengan wajah ganteng kali ya?" "Cih! Makan tuh ganteng! Perempuan kok bodoh. Mau-mau aja sama pekerja rendahan. Duitnya mana cukup buat makan?" "Ibu-ibu! Panas-panas begini kok malah ngerumpi? Suaminya udah dimasakin belum di rumah? Nih, orang yang kata kalian kere, mau bagi-bagi makanan. Mau nggak? Kalian kan penyuka gratisan!" teriak Silvi yang entah sejak kapan datang.Kamila kaget, begitu juga dengan ibu-ibu yang ngerumpi tidak jauh dari rumah Bu Karlina. Kamila membiarkan Silvi mengambil beberapa kotak makanan yang dia letakkan di bagasi mobil barunya, lalu membagikannya pada ibu-
Harsa terus mengikuti pergerakan istrinya di dapur. Mengolah bahan makanan yang seharusnya untuk berjualan di warung online, menjadi banyak lauk yang nanti akan dibagikan untuk orangtua mereka. Setelah Harsa menyuruh Kamila untuk berhenti bekerja, wanita itu terlihat sekali semringah. Wajahnya berseri-seri dan senyum terus terpatri di bibir merah mudanya. Benar apa kata Anton. Perempuan itu akan senang jika diberi nafkah yang besar, apalagi nominal 30 juta sangatlah besar di desa. Dan akan lebih seneng lagi jika tidak perlu ikut bekerja. Lagipula, uang Harsa lebih dari cukup untuk menafkahi istri dan anak-anaknya."Mas, tolong ambilkan minyak goreng di tas deket kulkas dong," pinta Kamila. Harsa yang sejak tadi fokus melihat kaki istrinya yang mulus, langsung gelagapan. Dia berdiri dan berjalan menuju ke kulkas. Mengambil minyak goreng yang dimaksud, lalu menyerahkannya pada sang istri. Ketika sudah berada di belakang istrinya, Harsa meremas dua bulatan besar yang hanya dibalut de







