Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 88. Merasa Cemburu

Share

88. Merasa Cemburu

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-05-20 16:54:39

Sore hari, setelah toko ditutup, Kamila sedikit membanting laporan keuangan selama 2 tahun terakhir ke atas meja.

"Banyak kesalahan dalam laporan keuangan ini. Apa kamu nggak pernah mengeceknya selama ini?"

Nada suara Kamila masih tenang. Dia merasa lelah setelah berkutat dengan laporan itu selama empat jam penuh.

"Masa sih, Dek? Kesalahannya di mana?" tanya Harsa dengan wajah tenang pula.

Kamila menjelaskan semuanya secara rinci, bahkan sampai ke tanggal setiap transaksi.

"Banyak manipula
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    139. Menghapus Kesalahpahaman

    Kamila membuka pintu dengan wajah terlihat marah. Begitu melihat Harsa, mata wanita itu langsung membelalak lebar."Mas?"Harsa berdiri terpaku dengan senyum tipis di bibirnya. Baru dia tinggal sehari, wajah istrinya terlihat sedikit kusut dan kedua matanya terlihat lelah. Meskipun istrinya masih tetap cantik seperti biasanya. Apakah wanita itu tidak bisa tidur juga seperti dirinya? Bukannya dia merasa bangga karena istrinya mengkhawatirkannya. Dia justru merasa sangat bersalah.Selama sesaat, mereka hanya saling menatap. Harsa bisa merasakan kerinduan yang mendalam di sorot mata lembut itu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Detik berikutnya, Kamila menubruknya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu."Kamu ke mana aja? Kenapa tiba-tiba menjauh dan nggak pulang? Aku ada salah apa? Apa ada sikapku yang membuatmu marah?" Harsa membalas pelukan istrinya dengan hati yang terasa perih. Dia benar-benar pria yang tidak tahu diri! Sudah mendapatkan istri

  • Karma Suami Mendua    138. Berani Speak Up

    Dada Kamila naik turun menahan amarah. Dia menarik nafas panjang berkali-kali untuk menahan diri agar tidak meledak. Bagaimanapun juga, Bu Karlina adalah ibu kandungnya. "Suamimu mana? Biasanya jam segini udah di rumah. Ini aku bawakan buah salak. Dikasih sama tetangga. Ketimbang nggak dimakan, aku kasih ke kamu aja." Bu Karlina menyelonong masuk dan langsung menuju ke ruang makan. "Kamu masak banyak banget? Ada acara apa?" Kamila menatap ibunya yang terlihat tidak merasa bersalah atau mungkin menyembunyikan sesuatu. Tabiat ibunya yang tidak dia sukai. "Bu, kemarin lusa waktu Mas Harsa ke rumah, ibu ngomong apa saja?" Tidak ada gunanya lagi menahan diri. Dia ingin tahu suaminya kenapa sehingga tidak pulang. "Kapan Harsa ke rumah? Aku nggak menemui dia sama sekali." Bu Karlina menghentikan kegiatannya melihat-lihat lauk di atas meja makan setelah meletakkan sekantong plastik buah salak. Wanita itu mengernyit, terlihat sekali kebingungan. Oke, Kamila harus mengubah pertanyaannya.

  • Karma Suami Mendua    137. Masih Belum Ketemu

    Kamila berdiri di samping mobilnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap rumah sang mertua dengan jantung berdebar. Antara antusias sekaligus takut. Antusias karena berharap Harsa berada di sana, takut karena suaminya kemungkinan besar sudah pasti tidak berada di sana. Harus ke mana lagi dia mencari keberadaan suaminya? Dia butuh penjelasan kenapa tiba-tiba suaminya menjauh dan tidak pulang. Ketakutan akan diselingkuhi seperti ketika menikah dengan Putra dulu, terus menghantuinya hingga terbawa sampai mimpi. Bahkan ucapan-ucapan Fiona yang biasanya membuatnya percaya, kini tidak lagi bisa menenangkannya. "Papa setia. Beda sama papa Putra. Mama tunggu aja. Nanti juga dia pulang sendiri." Begitu kata Fiona tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tidak! Kamila tidak mau berpangku tangan dan berpasrah diri menunggu nasib seperti dulu. Dia sangat mencintai Harsa, dan dia harus tahu bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Kalaupun Harsa memilih perempuan lain, dia akan mundur de

  • Karma Suami Mendua    136. Harsa Tidak Pulang

    Sudah jam 7 malam, tapi Harsa belum juga pulang. Kamila sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap suaminya sejak kemarin, tapi dia tidak menyangka akan separah ini. Setelah sarapan yang terasa dingin dan hambar, Harsa langsung pamit pergi dengan alasan toko akan menerima barang dari supplier. Tapi begitu Kamila datang ke toko setelah dia selesai live produk Unilion, suaminya tidak ada di toko sama sekali. "Dari aku datang, dia sama sekali nggak ke sini, Mbak. Mungkin dia ada dinas di Surabaya? Biasanya kan memang suka mendadak," jawab Anton tadi siang. Kamila tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba menjauh dan sikapnya sedikit dingin. Apa ada yang salah dengan dirinya? Apa gara-gara dia datang bulan tadi pagi, jadi suaminya merasa kecewa? Tapi biasanya juga tidak masalah, kan? "Mama nggak makan?" Pertanyaan Fiona mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. "Mama nungguin papamu pulang, Nak. Kok belum pulang juga ya? Di Surabaya juga nggak ada," jawabnya dengan hati resah bukan

  • Karma Suami Mendua    135. Gagal Lagi

    Seharian ini, Harsa terlihat murung dan tidak fokus. Kamila tentu saja heran. Padahal, tadi pagi masih baik-baik saja. Mereka masih begitu mesra dan bercanda tawa di atas ranjang. Fiona sampai biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah mereka. "Mas, kamu kenapa? Setelah pulang dari rumah ibuku, kok kamu jadi sering diam?" tanya Kamila sambil menyodorkan secangkir kopi di atas meja. Kamila curiga penyebab kemurungan suaminya adalah perkataan pedas ibunya. Kalimat apa gerangan yang membuat Harsa tiba-tiba murung dan sering melamun seharian ini? Bahkan, Anton yang mengajaknya mengobrol pun tidak terlalu digubris. Begitu juga telpon dari Erik dan Bariono yang dibiarkan begitu saja tanpa diangkat. "Apa ibuku menyakiti kamu? Beliau ngomong apa? Biasanya kamu nggak begitu mikirin perkataan ibuku," tanyanya lagi sambil memijit pundak suaminya. Siapa tahu sang suami sedang kelelahan dan stres. "Nggak ada apa-apa, Dek. Aku cuma lagi banyak pikiran aja. Soal Unilion," jawab Harsa, lalu

  • Karma Suami Mendua    134. Sebuah Ujian

    Satu tahun kemudian... ------"Mau ke mana, Mas?" Harsa meletakkan sisir di atas meja rias milik istrinya, lalu berbalik untuk melihat Kamila yang sudah cantik paripurna seperti biasanya. Wanita itu akan melakukan siaran live untuk Unilion. Meskipun waktunya tidak selama dulu ketika di awal-awal, tapi tetap saja, Kamila akan tetap bersiap-siap dengan maksimal. "Mau ke rumah ibu, Dek. Mas lupa belum ngasih jatah bulanan," jawabnya sambil mendekati istrinya. "Kamu makin cantik dan seger aja tiap hari. Kalau boleh jujur, aku cemburu karena penonton kamu sekarang lebih banyak laki-lakinya." "Cuma 1 jam aja, Sayang. Kalau kamu keberatan, aku bisa ngambil tawaran kerja secara remote. Kemarin aku iseng ngelamar bagian data entry, ternyata keterima." Harsa berpikir sejenak. "Kenapa nggak ngambil bagian manajer atau yang setara, Dek?" "Ck! Kamu tahu sendiri aku malas berpikir terlalu rumit. Capek tahu, Mas. Aku maunya yang santai aja tapi duitnya banyak. Lagian, aku udah kamu jatah juga

  • Karma Suami Mendua    99. Mood yang Memburuk

    "Masih ada yang belum dimengerti?" Faisal menggeleng. "Tidak ada, Bu." "Bagus." Kamila langsung berdiri. Akhirnya selesai juga. Beruntung Faisal gampang diajari. Ternyata pemuda itu dulunya jurusan IPS, jadi paham tentang dasar-dasar akuntansi dan cara membuat laporan keuangan sederhana. "Ya su

  • Karma Suami Mendua    70. Kena Karma

    Hal yang paling dibenci oleh Harsa adalah menjadi pusat perhatian. Ditodong dengan pertanyaan seperti itu, membuat Harsa diam tak berkutik. Bagaimana mereka bisa tahu tentang perasaannya terhadap Kamila? Apakah sejelas itu? "Maksudnya gimana?" Mereka semua saling pandang. Bahkan para sepupu pun m

  • Karma Suami Mendua    66. Kedatangan Delina di Pemakaman

    Proses pemakaman Putra berjalan dengan lancar. Kamila berdiri sambil merangkul Fiona yang berdiri di sebelahnya. Tidak seperti kematian kakeknya dulu, entah kenapa Fiona hanya diam. Padahal, Kamila sudah ketar-ketir anak itu akan bicara yang tidak-tidak. Apalagi setelah mengatakan tentang kakaknya

  • Karma Suami Mendua    65. Anak Rahasia

    Harsa refleks berdiri sambil menggendong Fiona, sampai dia sadar bahwa dia akan kerepotan jika masuk ke dalam kamar adiknya sembari membawa keponakannya. Dengan hati-hati, Harsa meletakkan Fiona di atas sofa dan berucap, "Ham, tolong jagain Fiona." Tanpa menunggu jawaban dari Ilham, Harsa langsun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status