LOGINDia tiba di depan pintu kantor Boby, dan asistennya mengatakan bahwa Boby sedang menelepon di dalam.Nayla tidak meminta asisten itu untuk memberitahukan kedatangannya. Dia mengetuk pintu dan masuk sendiri.Suara Boby terdengar di telinganya."Ya sudah, apa pun yang kamu suka, beli saja sesukamu. Nggak usah hemat-hemat uang kakakmu.""Lagi pula, ini ulang tahunmu. Aku malah ingin kamu beli banyak hadiah. Setelah kalian selesai makan bersama nanti, sisakan sedikit waktu, ya? Aku mau menemanimu potong kue. Oke?"Suara Boby terdengar lembut, membujuk dengan suara pelan kepada orang di telepon.Ini kali pertama Nayla melihat sisi lembutnya. Dia berbicara dengan sangat hati-hati, takut satu kata yang terlalu keras akan membuat mengagetkan orang di telepon itu.Tidak perlu diragukan lagi, betapa sayangnya dia pada adiknya ini."Oke, aku transfer sekarang."Tanpa menutup telepon, Boby mentransfer sejumlah uang kepadanya.Dia bahkan tidak menyadari bahwa Nayla sudah masuk, tidak sempat melirik
Pak Nugraha ....Tangan Soni yang memegang ponsel tiba-tiba mengepal erat, seolah ponsel itu akan hancur berkeping-keping dalam sekejap.Pak Nugraha adalah kepala pelayan di rumah keluarga besar.Dia telah mendampingi Pak Thomas selama puluhan tahun. Hampir semua urusan Pak Thomas, baik besar maupun kecil, selalu melalui tangannya.Sepertinya, mereka sudah mengetahui sesuatu.Rencananya pun harus dimajukan.Soni teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Nayla.Nayla baru berangkat ke kantor lagi hari ini untuk menangani urusan perusahaan, dan langsung mengadakan rapat.Hampir semua petinggi perusahaan hadir.Di ruang rapat, Nayla sedang mendengarkan laporan kerja mereka, dan tiba-tiba terdengar bunyi pesan.Dia mengambil ponsel di atas meja dan meliriknya, lalu sedikit mengerutkan kening.Soni: [Aku bisa memberi apa yang kalian inginkan, tapi kamu juga harus memberikan apa yang aku inginkan.]Belakangan ini, Soni sering menghubunginya, dan tujuannya pun se
Amanda dikuras habis sepanjang malam.Keesokan harinya, dia langsung mengatai Mario.Bibir tipis Mario melengkung penuh kepuasan. "Kalau kamu mengataiku terus, malam ini lanjut.""..."Melihat betapa bahagianya dia, Amanda hampir curiga apakah dia sengaja menyebarkan rumor negatif itu di internet.Dengan begitu, dia bisa membawanya pulang dan tinggal bersama secara terbuka.Amanda teringat pertanyaan yang belum tuntas semalam, menyinggungnya lagi. "Nenekmu pingsan karena nggak kuat setelah tahu tentang hubungan kita dari internet?"Mario tahu Amanda memang cerdas.Wajar saja jika dia bisa menebak hal itu."Jangan pedulikan dia."Mario mengiakan tanpa kata. Dengan nada santai, hampir seperti menertawakan diri sendiri. "Cucunya sendiri dokter, dan hasil periksa kesehatan tahunannya selalu bagus, jadi nggak akan ada masalah besar."Selama bertahun-tahun, dia sudah terbiasa dengan taktik seperti ini.Dia sudah kebal.Neneknya saja yang belum bosan menggunakan taktik ini.Amanda seperti men
"Aku menunggumu."Mario merasakan sebuah desakan di hatinya. Bukan karena senang, melainkan justru rasa cemas."Malam ini dingin, tunggu di kamar saja.""Cepat masuk kamar, tiduran di dalam, jangan sampai masuk angin."Mario menggenggam tangannya, lalu berkata dengan lembut sambil hendak membawanya kembali ke kamar."Mario ...."Amanda menarik tangannya kembali, tidak beranjak.Mario menoleh, menatapnya dengan bingung. "Ada apa?"Amanda selalu jujur dan terus terang.Dia tidak akan tenang jika tidak menanyakan kebenarannya sampai tuntas.Daripada berspekulasi, lebih baik langsung bertanya."Aku mau tanya sesuatu padamu.""Serius sekali?"Mario terkejut. Amanda memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu. Begitu masuk tadi, dia sudah merasakannya."Oke, tanyakan saja, ada apa?"Amanda mengatur kata-katanya, matanya menatap pada ke alis dan mata Mario yang lembut."Kamu sudah lama tahu kalau berita viral di internet yang menjelek-jelekkan aku itu ada hubungannya dengan Sandra?""Dan kejadia
Nayla tidak ingin Amanda salah paham. Dia mengangguk dan mulai menjelaskan."Walaupun sudah ditemukan keterkaitan dengan Sandra, belum ada bukti konkret. Masih dugaan saja."Amanda merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya, matanya menggelap, tapi dia tidak ingin Nayla khawatir."Aku mengerti. Kalau memang ada kaitannya dengan Sandra, aku benar-benar nggak akan membiarkannya begitu saja."Nayla menimpali, "Jangankan kamu. Aku akan jadi yang pertama nggak setuju."Amanda tersenyum lega. "Kamu memang sahabatku."Nayla juga tersenyum.Melihat suasana hati Amanda tampak tidak berubah, Nayla pun perlahan merasa tenang.Setelah itu, mereka tidak banyak bicara lagi dan menutup telepon.Begitu telepon diputus, Simon membuka pintu dan masuk ke kamar tidur.Melihat senyum masih terukir di wajah Nayla, dia mendekat beberapa langkah ke tepi tempat tidur, suaranya terdengar sedikit masam."Istriku sedang telepon siapa, senyumnya bahagia begitu?""Kenapa? Cemburu?""Ya, aku cemburu."Simon membu
Andini sama sekali tidak menunggu jawabannya. Dia langsung berbalik, masuk ke mobil mewah di sebelahnya dan pergi.Sandra sudah lebih dulu duduk di kursi penumpang depan, menunggunya.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sunyi senyap.Sandra bisa merasakan bahwa Mario sedang tidak senang.Dia menduga karena apa yang baru saja dikatakan Andini kepadanya."Maaf membuatmu repot-repot mengantarku."Sandra memilin-milin tangannya, sengaja memulai percakapan.Mario tetap fokus mengemudi, menjawab dengan datar."Nggak apa-apa, memang sejalan."Setelah jeda sejenak, dia melanjutkan, "Untung kamu datang tepat waktu malam ini, jadi Nenek nggak apa-apa. Terima kasih."Sandra tersenyum lembut."Bagaimanapun juga, kita kan teman. Kamu nggak perlu terlalu sopan. Lagi pula, aku dan Nenek juga punya ikatan khusus. Dia sangat baik kepadaku. Ini memang sudah tugasku."Mario mengangguk, lalu diam.Sampai mereka tiba di depan rumah Keluarga Zoya.Sandra mengucapkan terima kasih, lalu bersiap turun
Namun, belakangan ini, sepertinya dia mendapat satu perhatian lagi, yaitu dari Simon."Sudah cukup!"Suara Hans terdengar penuh amarah.Nayla melihat Hans sedang memeluk Karin erat-erat dan satu tangannya mencengkeram tas tangan Amanda. Mata merahnya menatap Amanda dengan marah."Amanda, aku sudah s
Jadi sedikit berharap.Dia tiba-tiba teringat saat dia tenggelam di usia sepuluh tahun. Ketika seorang remaja menyelamatkannya, dia mendengar suara remaja itu yang jernih dan bersih, "Jangan takut, kamu sudah aman."Hari itu, hanya dengan mendengar suaranya, hatinya bergetar.Setelah sadar, hal pert
Saat melihat Nayla membela dirinya dengan penuh percaya diri, sorot mata Simon yang dalam muncul sedikit rasa senang.Karin terkejut, Nayla tampak benar-benar kembali seperti dulu, penuh percaya diri dan angkuh."Kamu berani ngomong ke aku dengan sikap kayak gini..." Yuna menunjuk Nayla dengan marah
Nayla bersiap untuk masuk ke dalam mobil.Tiba-tiba, sesosok wanita berlari panik ke arahnya."Nayla ...."Suara itu terdengar tidak asing, bernada cemas.Nayla berhenti sejenak saat sedang membungkuk di pintu mobil, lalu menoleh ke belakang.Cia bergegas mendekat, tapi Charlie menghentikannya."Ada







