เข้าสู่ระบบAroma khas antiseptik dan obat-obatan mendominasi lorong hingga ke dalam ruang VVIP rumah sakit privat milik keluarga Regantara. Di dalam ruangan bernuansa putih bersih itu, kecemasan masih menggelayut tebal di wajah Alena. Ia terus mondar-mandir di dekat ranjang pesakitan, menatap nanar sahabatnya, Bella, yang terbaring lemas dengan mata terpejam. Sudah sekian jam berlalu sejak insiden penyerangan tadi, namun Bella belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar sepenuhnya dari efek bius kimia pekat tersebut.Pintu ruang rawat mendadak terbuka dari luar. Seorang pria berjas putih jas dokter dengan stetoskop menggantung di lehernya melangkah masuk. Alena seketika menoleh penuh harap, namun ia dibuat terperanjat kaget begitu melihat siapa dokter yang bertugas.Biru? batin Alena tak percaya.Pria yang selama ini ia kenal sebagai sahabat Regan yang lembut namun berhati dingin. Ia juga ternyata lihai mengemudikan mobil di jalanan ternyata memiliki profesi asli sebagai seorang dokter spesialis di
Pecahan kaca jendela mobil berserakan di pangkuan Bella, memantulkan teror nyata di mata kedua wanita itu. Sebelum mereka sempat berteriak, tangan-tangan kasar berotot mencengkeram lengan mereka tanpa ampun, menarik paksa tubuh Alena dan Bella keluar dari kabin mobil yang sempit."Lepaskan kami! Tolong!" rontak Alena sekuat tenaga, menendang-nendang ke udara sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman preman berbaju hitam tersebut.Bella di sisi lain sudah menjerit histeris saat salah satu penculik membekap mulut dan hidungnya menggunakan selembar kain yang telah disemprot cairan kimia pekat."Mmmph—!" Bella meronta hebat, namun efek bius itu bekerja terlalu cepat. Dalam hitungan detik, kesadaran Bella meredup, tubuhnya melemas, dan ia terkulai lemas tak berdaya dalam dekapan sang penculik.Melihat sahabatnya tak sadarkan diri, kepanikan Alena mencapai puncaknya. Air matanya menetes deras. Penculik yang memegang Alena kini mulai mendekatkan kain bius ke wajahnya. Alena memejamkan
Sinar matahari pagi memantul hangat di kaca-kaca jendela sebuah kafe minimalis yang terletak di pusat kota. Setelah malam panjang yang melelahkan dan penuh ketegangan di kawasan industri, dunia seolah kembali berjalan normal pagi ini. Lalu lintas kota tampak sibuk, dan hiruk-pikuk aktivitas warga menjadi latar belakang yang menenangkan.Di salah satu meja sudut kafe yang cukup privat, Alena dan Bella duduk berdampingan sambil menikmati secangkir caffe latte hangat. Suasana hati mereka jauh lebih santai, kontras dengan teror yang mereka hadapi semalam. Namun, pembicaraan di antara mereka tentu saja tidak jauh dari insiden menegangkan tersebut—terutama mengenai sosok di balik layar yang menyelamatkan mereka.Bella mengaduk minumannya pelan, lalu menatap Alena dengan mata menyipit penuh selidik."Al, jujur ya, aku masih kepikiran sampai sekarang," ucap Bella memulai topik sambil berbisik. "Waktu kita kabur dari parkiran klub malam kemarin ... cara Biru mengemudikan SUV itu benar-benar gi
Langkah kaki Alena terhenti di atas pelataran halaman rumah utama yang diterangi temaram lampu taman. Udara dini hari terasa begitu dingin, namun bukan itu yang mencuri perhatiannya saat ini. Di dalam kabin mobil yang pintunya masih terbuka separuh, Regan tertunduk dalam-dalam dengan bahu yang sedikit merosot. Pria yang selama ini dikenal begitu tangguh, dingin, dan penuh perhitungan itu kini tampak begitu rapuh.Alena menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak langsung tertawa melihat betapa paniknya Regan menghadapi ancaman "ditinggal" olehnya. Sifat usil dan rasa sayangnya beradu di dalam dada. Ia menyadari bahwa candaannya tadi sudah melangkah terlalu jauh, membuat pria itu benar-benar ketakutan kehilangan dirinya.Perlahan, sudut bibir Alena terangkat membentuk seulas senyuman manis yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ia memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah mobil. Dengan langkah ringan, Alena kembali mendekati pintu SUV tempat Regan duduk merenung dalam keputusasaan.
Keheningan seketika menyergap di antara mereka. Pertanyaan telak yang dilontarkan Alena menggantung di udara, menuntut penjelasan yang masuk akal di tengah pemandangan pasukan taktis bersenjata lengkap yang masih sibuk membereskan area sekitar.Mendengar ucapan itu, Regan sontak terdiam. Pria itu langsung beradu pandang dengan Biru dalam sepersekian detik. Dari tatapan mata mereka, terlihat jelas ada kecanggungan dan kegelisahan tersembunyi—sebuah rahasia besar yang selama ini dijaga rapat-rapat dari Alena, kini hampir tersingkap di permukaan.Bella, yang berdiri di samping Alena, ikut menyipitkan mata. Ia baru saja menyadari keanehan yang sama. Selama ini ia mengira Regan hanyalah seorang CEO muda yang brilian dan berjuang memulihkan nama baik keluarganya. Namun, melihat kedisiplinan tingkat militer dan kepatuhan mutlak para pengawal itu, insting sosialitanya langsung menangkap bahwa ada dimensi lain dari diri Regan yang jauh lebih gelap dan berbahaya.Meski sempat diselimuti kepani
Suasana di halaman tengah pabrik tua itu berubah menjadi medan perang dalam hitungan detik. Lampu sorot yang menyilaukan dari segala penjuru mengunci pergerakan anak buah Bramantyo yang kini panik bukan kepalang. Terjebak di antara tembok beton yang tertutup rapat dan puluhan pria bersenjata dari pihak Regan, mereka kehilangan seluruh keunggulan jumlah."Serang!" teriak salah satu pengawal Bramantyo nekat, mencoba memimpin perlawanan.Namun, pertempuran itu berlangsung sangat singkat. Anak buah Regan yang terlatih khusus bergerak cepat dan terkoordinasi. Bentrokan fisik tak terhindarkan; suara hantaman, jeritan kesakitan, dan bunyi pentungan besi yang beradu mendominasi udara malam. Dalam waktu kurang dari lima menit, sebagian besar preman bayaran itu sudah tersungkur tak berdaya di atas tanah beton, dikepung ketat oleh pasukan Regan.Di tengah kekacauan itu, pemimpin pengawal Bramantyo—pria bertubuh gempal yang tadi sempat meremehkan Regan—mencoba merangkak mundur, berniat kabur ke a







