LOGINMalam itu, meja makan yang biasanya sunyi dipenuhi percakapan. Keira bercerita tentang kehidupan di luar negeri, tentang rumah mode yang ia bangun dari nol hingga berhasil tampil di ajang mode internasional.
Kevin dan Dion menanggapinya dengan heboh. Alres, yang biasanya lebih banyak diam, juga beberapa kali menanggapi cerita itu.
"Klien pertamaku benar-benar cerewet," keluh Keira sambil terkekeh kecil. "Aku kesal sekali melayani permintaannya yang macam-macam. Waktu itu, aku sedikit menyesal menerima klien dari kenalan Alres."
"Kalau bukan karena dia, rumah modemu tidak sebesar ini," balas Alres. Meski terdengar datar, semua orang tahu kalau Alres bukan tipe pria yang suka menanggapi obrolan kecil.
Ia bisa bersikap seperti ini di depan Keira, membuktikan seberapa besar kedekatan mereka.
Keira tertawa. "Dasar. Aku cuma curhat. Masih saja suka menyindir."
Alena mengaduk sup ayam di depannya yang dari tadi tidak tersentuh. Ia juga duduk di sebelah Alres, tapi pria itu terlalu fokus dengan wanita di sebelah kirinya.
Pada dasarnya, ia merasa seperti tamu sekarang karena tidak ada yang mengajaknya mengobrol. Semuanya fokus dengan Keira.
"Kamu masih tidak suka sup ayam?"
Celetukan Keira itu membuat Alena menoleh. Ia memerhatikan mangkuk suaminya yang masih menyisakan lebih dari setengah porsinya.
Alres menjawab datar. "Tidak juga."
"Bagaimanapun, kamu tetap harus makan sayuran," Keira spontan mengambil potongan sayur dari piring Alres, lalu mengarahkannya ke mulut Alres. "Buka mulutmu. Aaa."
Gerakan itu begitu alami. Seolah sudah menjadi kebiasaan mereka sejak lama.
Kevin dan Dion bersiul-siul menggoda. Sementara Alena hanya diam. Meski begitu, dadanya terasa remuk melihat pemandangan itu hingga dia buru-buru mengalihkan pandangannya.
Selama lima tahun menjadi istri Alres, baru malam itu ia mengetahui pria tersebut tidak menyukai sup ayam.
Selama ini, Alres selalu memakannya tanpa komentar jika Alena menghidangkannya. Alena merasa malu. Karena hanya itu satu-satunya makanan yang Alres habiskan, ia dengan seenaknya menganggap Alres menyukainya.
Pria itu bahkan tidak jujur tentang makanan yang disuka. Ia ternyata sangat tertutup dengannya.
“Nanti akan aku makan. Taruh saja di piring,” ucap Alres yang mendapat sorakan kecewa dari Kevin dan Dion.
“Oh ya, Res. Kamu jadi memasukkan Keira sebagai Creative Director di Arta Group?” celetuk Dion tiba-tiba.
Alena yang sedang menuangkan air ke gelas perlahan menghentikan gerakannya. Creative Director? Dia baru mendengar soal itu.
Alena menoleh sekilas ke arah Alres. Tapi, pria itu tetap menikmati makan malamnya tanpa membantah sedikit pun. Seolah mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu.
Kevin kembali berseru dengan semangat. "Gila, Al. Akhirnya Arta Group punya divisi kreatif yang benar-benar dipimpin ahlinya."
"Setelah lihat portofolio Keira, aku sampai mikir kita telat lima tahun merekrut dia."
Dion mengangguk setuju.
"Brand fashion milik Keira sekarang sudah masuk majalah internasional. Nama besarnya pasti berpengaruh untuk citra perusahaan."
Keira menggeleng sambil tertawa kecil. "Kalian memang suka membesar-besarkan."
"Bukan membesar-besarkan." Kevin terkekeh. "Untung saja Alres keras kepala menunggumu pulang, jadi kamu tidak direbut perusahaan lain."
Gelak tawa kembali memenuhi meja makan.
Alena lagi-lagi hanya diam.
Selama lima tahun, ia tidak pernah sekali pun diajak berbicara mengenai perusahaan. Alres sendiri juga tidak pernah mau memberitahukannya tiap ia bertanya, dan berkata jika Alena tidak perlu mengkhawatirkannya.
Jadi, wajar saja kalau Alres bisa memasukkan Keira dengan gampang ke perusahaannya, tanpa sepengetahuan Alena.
Rafael yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Yang penting sekarang Arta Group bisa berkembang lebih cepat."
Semuanya mengangguk-angguk menyetujui. Kevin lalu menoleh kepada Alena.
"Maaf, Lena, kamu pasti bosan mendengar obrolan soal bisnis ini," ucap Kevin sambil menatap iba padanya.
"Benar juga. Alena dari dulu memang paling tidak mau tahu bahasan perusahaan. Yang penting buat dia Alres pulang tepat waktu." Dion menimpali sambil tertawa kecil.
Alena menarik sudut bibirnya tipis. Dia sudah beberapa kali mendengar pembicaraan yang merendahkannya ini. Biasanya, Alena hanya diam dan menerimanya, tapi kali ini dia tidak akan melakukannya.
“Tidak juga. Aku suka membahas masalah perusahaan bersama ayahku, kok,” ucap Alena ringan sambil mengendikkan bahunya. “Ayahku mengajariku banyak sejak aku kecil, karena aku dipersiapkan mewarisi Hartawan Corporation.”
Ucapan itu membuat meja makan seketika hening. Orang-orang menatapnya dengan terdiam, tidak menyangka seorang Alena akan menjawabnya, apalagi membawa nama Hartawan yang bukan perusahaan sembarangan. Ia secara tidak langsung mengingatkan statusnya yang tinggi.
Di sisi meja lain, Alres mengerutkan alisnya dalam. Alena tahu, ia telah menyinggung Alres dengan membuat suasana yang canggung di antara teman-temannya.
Sebelum Alres buka mulut untuk menegurnya, Alena lanjut berkata, “Oh ya, selamat ya, Kak Keira. Aku harap kakak betah di Arta Group.”
Wajah Keira berubah keruh. Senyum paksa terukir di wajahnya. “Oh, ya. Terima kasih, Alena.”
Di tengah suasana yang menegang, Kevin tiba-tiba berceletuk.
“Bagaimana kalau kita minum-minum malam ini untuk merayakan kepulangan Keira?” Ia mengeluarkan sebotol wine berlabel tahun klasik dari paper bag yang dibawanya sejak datang. “Aku bawa wine spesial dari Prance. Ini momen yang tepat untuk membukanya!”
Celetukan Kevin itu disambut penuh semangat oleh yang lain. Alres pun tidak terlihat menolak juga.
Alena kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dapur. Ia sudah biasa menjadi tuan rumah untuk acara-acara kecil seperti ini. Dengan gerakan natural ia mengambilkan gelas wine.
Tidak disangka, Keira ikut berdiri dan berjalan menyusulnya ke dapur. “Lena, aku bantu juga.”
Alena sedikit terganggu dengan sikap Keira yang bergerak bebas di dalam rumahnya. Mungkin karena mengetahui hubungannya di belakang dengan Alres, ia menjadi risih dengan keberadaan wanita itu.
Tapi, Alena hanya diam dan membiarkan Keira melakukannya. Lagipula, Alres sendiri menyatakan jika Keira juga tuan rumah, meski tanpa persetujuan Alena.
Keduanya berjalan berdampingan menuju lemari kaca di sudut ruang makan. Bik Isa segera turun tangan membantu, tetapi Alena lebih dulu berkata, "Biar kami saja, Bik."
Karena Keira bersikeras, ia pun membawa nampan berisi gelas-gelas. Membiarkan Keira yang melangkah hati-hati, Alena berjalan lebih dulu kembali ke meja makan.
Di belakangnya, Keira menyusul dengan buru-buru. Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju meja makan, Keira tiba-tiba terjatuh hingga mendorong Alena di depannya.
PRANG!
Gelas-gelas kaca itu seketika pecah berkeping-keping menghantam lantai, beriringan dengan jatuhnya Keira dan Alena. Perut Alena membentur sudut lantai marmer dengan keras.
Rasa nyeri luar biasa langsung menjalar dari perut hingga pinggangnya. Bekas tindakan medis beberapa hari lalu seakan kembali ditarik paksa. Tubuhnya refleks meringkuk sambil memegangi perut.
"Keira!"
Alres berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. Ia berlari melewati Alena yang meringkuk di lantai.
"Mana yang sakit?" tanyanya sambil berlutut di depan Keira.
"Kakiku ... kena serpihan kaca,” mata Keira berkaca-kaca.
Semua orang segera mengerubungi Keira. Kevin dan Dion ikut membantu menyingkirkan pecahan kaca.
Sementara itu, rasa nyeri yang dirasakan Alena semakin menjadi. Ia bahkan bisa merasakan darah perlahan merembes keluar dari bekas lukanya.
"Alres, perutku ...." Suaranya lirih hampir tak terdengar. "Alres ...." Ia mencoba memanggil sekali lagi.
Namun suaranya tenggelam oleh kepanikan di sekitar Keira.
"Astaga, kakimu berdarah, Kei,” ucap Kevin panik.
"Kita ke rumah sakit,” ucap Alres cepat dengan wajah mengeras. Ia menyelipkan tangannya ke bawah lutut Keira lalu menggendongnya dengan dekapan yang protektif.
Pria itu kemudian melangkah pergi tanpa menoleh padanya sedikit pun. Begitu juga dengan kedua temannya yang ikut bergegas keluar.
Mata Alena memanas. Air mata membayang di pelupuk matanya. Alres bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Apa dirinya tidak seberharga itu baginya?
Dalam pandangannya yang semakin samar, Alena melihat Rafael sempat terdiam sejenak. Pria itu menatapnya, terlihat ragu.
Tapi, ketika Bik Isa dan dua asisten rumah lainnya mendekati Alena, Rafael bergegas pergi.
"Non Alena! Anda tidak apa-apa? Apa Anda terluka?”
"Bik, tolong hubungi dokter,” ucap Alena pelan dengan suara bergetar, “Suruh mereka segera kesini."
Bik Isa mengangguk cepat. "Iya, Non. Saya telepon sekarang juga."
Kepala asisten itu segera melakukan panggilan telepon. Sementara Alena memejamkan matanya, memeluk perutnya lebih erat. Menahan nyeri yang menusuk perut dan hatinya.
Alena baru saja keluar dari ruang rapat Hartawan Corporation ketika ia mengembuskan napas panjang. Pertemuan tadi berlangsung hampir dua jam.Dulu, ia mungkin akan menganggap pembahasan laporan keuangan, proyek investasi, hingga perkembangan anak perusahaan sebagai sesuatu yang membosankan. Namun sekarang, justru semakin banyak hal yang membuatnya tertarik.Ia memang belum memahami semuanya. Masih banyak istilah yang harus dipelajari, laporan yang harus dibaca berulang kali, serta keputusan yang membutuhkan pertimbangan lebih matang. Namun, sedikit demi sedikit Alena mulai memahami dunia yang selama ini ia tinggalkan.Terlebih sejak beberapa kali melakukan pertemuan daring dengan Pak Regantara. Pria itu ternyata memiliki cara menjelaskan yang sederhana, tetapi tajam.Sayangnya, hingga sekarang Pak Regantara belum bisa menemuinya secara langsung karena beberapa urusan yang masih harus diselesaikannya di luar negeri.Alena tidak mempermasalahkannya. Bahkan, setiap kali mereka melakukan
Alres tiba di rumah ketika hari mulai gelap. Tidak ada Keira bersamanya. Dari pesan yang diterimanya beberapa jam lalu, Keira masih memiliki urusan di luar dan akan pulang lebih malam.Begitu memasuki rumah, Alres tidak langsung menuju kamar. Pandangan pria itu justru menangkap sosok Alena di halaman belakang.Wanita itu duduk di tepi kolam, kedua kakinya terendam di dalam air. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara pandangannya kosong menatap permukaan kolam yang sesekali beriak.Alres berjalan mendekat. “Kamu bisa masuk angin kalau berlama-lama berendam seperti itu.”Alena menoleh. Sesaat ia menatap Alres tanpa berkata apa-apa.Perhatian sederhana seperti itu ... Dulu, mungkin ia akan tersenyum senang dan menganggapnya sebagai bukti bahwa Alres sebenarnya peduli. Namun sekarang, perhatian tersebut terasa hampa.“Sebentar lagi aku masuk,” jawabnya singkat.Alres berdiri di sampingnya. “Kamu tadi bertemu siapa?”Alena mengernyit. “Maksudmu?”“Pria di kafe.”Alena menatapnya b
Alena masih terdiam beberapa detik dalam dekapan pria itu. Begitu menyadari posisinya, ia segera menegakkan tubuh dan mundur satu langkah.“Maaf.”Pria itu melepaskan tangannya tanpa mengatakan apa-apa.Alena mengangkat wajahnya. Entah mengapa, wajah pria di hadapannya terasa begitu familiar. Tatapan datarnya, garis wajahnya ... seperti seseorang yang pernah ia kenal.Akan tetapi, sekeras apa pun ia mencoba mengingat, tidak ada satu pun nama yang muncul di kepalanya.“Terima kasih sudah menolong saya.”Pria itu hanya mengangguk singkat. Tanpa berekspresi.Alena membalas dengan senyum sopan. “Kalau begitu, saya permisi.” Ia berbalik dan berjalan kembali menuju kafe.Pria itu masih berdiri di tempatnya, memandangi punggung Alena yang semakin menjauh. Tatapannya tetap datar. Namun, ada sedikit kerutan di antara alisnya. Seolah ia sendiri sedang berusaha mengingat sesuatu.Tidak jauh dari sana, dua pasang mata memperhatikan kejadian tersebut. Keira berdiri di samping Angel. Wajahnya tamp
Alena meninggalkan Hartawan Corporation tepat pukul tiga sore. Hari itu pekerjaannya tidak terlalu banyak. Setelah hampir beberapa hari mempelajari laporan perusahaan, ia mulai memahami kondisi Hartawan Corporation dan beberapa anak perusahaan di bawahnya.Akan tetapi, sebelum pulang, ia sudah berjanji bertemu Bella di sebuah kafe. Alena memilih duduk di meja dekat jendela sambil menunggu sahabatnya itu datang. Ia baru saja membuka menu ketika sebuah suara terdengar dari belakang.“Alena?”Alena menoleh. Keira berdiri beberapa langkah darinya bersama seorang perempuan yang belum pernah ia temui.“Kak Keira,” gumam Alena, dalam hatinya berkata kenapa Keira ada dimana-mana.Keira tersenyum. “Kamu sendirian?”“Sedang menunggu Bella.”“Oh.”Keira kemudian memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Ini Angel, sahabatku.”Angel mengangguk singkat. Matanya memperhatikan Alena dari atas sampai bawah. “Oh ... jadi ini yang namanya Alena.”Alena sedikit mengernyit. Ada sesuatu dalam cara Angel me
Alena tiba di rumah menjelang sore. Begitu memasuki ruang utama, langkahnya sempat terhenti. Alres dan Keira sudah berada di sofa.Keduanya duduk begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Keira bahkan masih memegang lengan Alres sambil bercerita tentang kejadian di pusat perbelanjaan tadi.Alena hanya melirik sekilas. Tidak ada perasaan terkejut lagi. Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan semacam itu. Alena memilih melewati mereka tanpa berkata apa-apa.“Alena.”Langkahnya terhenti mendengar suara bariton Alres, pria itu menoleh kepadanya. “Kamu baru pulang?”Alena berbalik. “Ya.”“Dari mana saja, kenapa tidak langsung pulang?”“Masih ada urusan.” Jawaban singkat itu membuat Alres mengernyit.Ia dan Keira sebenarnya sudah pulang sejak kejadian di restoran tadi. Setelah memastikan Keira tidak mengalami apa-apa, Alres langsung membawanya kembali ke rumah.Sementara Alena ... Ia bahkan tidak tahu apakah wanita itu terluka atau tidak. Alres sempat sedikit khawatir. Namun,
Alena masih berdiri di depan meja yang menampilkan berbagai perlengkapan desain perhiasan. Jarinya menyentuh ujung salah satu pensil yang disediakan untuk pengunjung.Entah mengapa, melihat kertas kosong dan alat gambar itu membuat dadanya terasa hangat. Dulu, ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar sebuah desain.Sekarang, bahkan memegang pensil pun terasa seperti bertemu kembali dengan bagian dirinya yang telah lama hilang.“Alena.” Suara Alres membuat tangannya berhenti.Ia menoleh.Alres dan Keira ternyata masih berada beberapa langkah di belakangnya.“Ayo makan bersama,” ujar Alres. “Bukankah kamu datang ke sini untuk makan?”Alena terdiam. Ia sebenarnya ingin menolak. Namun jika terus menolak, bukan tidak mungkin Alres mulai bertanya-tanya.“Baiklah,” ujarnya, kebetulan juga Alena memang lapar.Mereka akhirnya meninggalkan area pameran dan menuju sebuah restoran di lantai yang sama.Alena duduk berseberangan dengan Alres dan Keira. Awalnya suasana cukup tenang. Na







