로그인Sementara di kantor. Enzo, awalnya masih mode CEO serius, baca chat sambil rapat sama Pak Deon dan para manajer. `Huh, tikus?! Masa di rumah ada tikus?` Dahinya mengeryit heran. Terus balasan Zoya masuk. 'Ting!' `Iya ada, Mas. Namanya Frisca.` `PUFF!` Enzo yang lagi minum kopi langsung nyembur! "BWUAAHAHAHAHA!" Tawanya pun pecah. Lupa kalau sedang di ruang meeting. Satu ruang langsung hening. Semua nengok ke Enzo. Pak Deon yang lagi presentasi grafik penjualan supermarket, langsung diam. Matanya melotot ke arahnya. "Enzo? Ada apa? Ada yang lucu?" katanya sedikit membentak. Enzo buru-buru nutup mulut, ngelap pakai tisu, pura-pura batuk. "Eh! Enggak Pa! Enggak! Maaf, lanjut Pa! Lanjut! Grafiknya bagus Pa! Naik terus!" Padahal dalam hati, `Awas aja kamu Fris, berani ganggu Nyonya Besar ku, kamu resmi jadi tikus got sekarang!' Terus dia bales chat lagi diam-diam di bawah meja. 'Oh, tikus yang itu. Harusnya tadi kamu panggil kucing, Sayang. Biar sekalian a
"Frisca! Ngapain kamu ke sini?!" Zoya kaget, mundur selangkah, pegangan ke pinggiran ranjang. Kakinya masih perih. Frisca `BRAK!` tutup pintu! Dikunci! "Aku tanya sama kamu, Zoya! Apa sih maunya kamu?!" Frisca jalan mendekat, mukanya merah, napas ngos-ngosan habis berantem sama Damar. Zoya bingung. "Apa maksud kamu? Aku gak ngerti!" "GAK NGERTI! Gak ngerti katamu?!" Frisca nunjuk-nunjuk muka Zoya. "Kamu tuh udah jadi istri Enzo! Kenapa masih aja goda-godain suami aku?! Hah?!" Zoya melotot heran. "Aku gak pernah godain Damar! Kamu aja yang ngarang!" "NGARANG?! Tadi aku liat sendiri! Damar ngintip kamu dari pintu! Senyum-senyum kamu di dalam! Kamu pasti sengaja buka pintu biar dia liat kamu, kan?! Biar dia kasian sama kamu?! Dasar... Janda gatel!" `JLEB!` Kata-kata terakhir itu sudah kelewatan! Zoya yang biasanya sabar, langsung meledak! Tak peduli kakinya sakit! "JAGA MULUT KAMU, FRISCA!" Zoya maju. Walau pincang, dia pasang wajah garang. "Aku dari tadi di kamar
`DUK DUK DUK` Suara langkah turun dari atas. Semua nengok. Enzo turun. Sudah pakai kemeja putih rapi, celana bahan hitam, rambut gondrongnya disisir rapi ke belakang. Wangi. Beda banget sama Enzo yang dulu acak-acakan. Pak Deon senyum puas. "Nah, ini baru anak Papa. Ganteng. Ayo berangkat bareng Papa ke kantor pusat." Enzo angguk mantap. "Siap, Pa." Frisca yang masih kesel, nyinyir lagi, "Tuh kan, istrinya aja gak turun nganterin suami berangkat kerja. Istri macam apa itu?" Enzo yang denger, langsung berhenti. Natap Frisca dingin. "Istriku lagi sakit, Fris. Karena kamu dorong semalam. Jadi dia istirahat. Ada masalah?" Frisca langsung ciut. "Enggak." Enzo dan Pak Deon pun berangkat. Pintu besar ketutup. Semua sudah selesai sarapan. Piring kosong. Damar ikut berdiri, pura-pura buru-buru. "Eh, aku berangkat kerja dulu ya. Tapi, kayaknya ada berkas ketinggalan di atas." Frisca gak peduli, lagi sibuk main HP. "Ya sana!" Damar naik pelan. Bukan ke kamarnya. Tapi
Pagi jam 7. Meja makan besar keluarga Bautista sudah penuh. Pak Deon di ujung meja baca koran, Nenek sudah duduk manis, Damar duduk kaku masih kusut. Frisca dan Vanessa sudah dandan cantik mau sarapan. Tapi dua kursi kosong. Kursi Enzo dan Zoya. Pak Deon menurunkan korannya, dahinya mengerut. "Loh, Enzo sama Zoya mana? Kok belum turun sarapan? Tumben. Biasanya Enzo paling pagi kalau sudah niat kerja di pusat." Nenek yang sedang menuang teh, langsung menjawab dengan senyum lembut sambil melirik ke arah Frisca. "Zoya kakinya masih sakit, Deon. Bengkak habis didorong Amelia kemarin dan jatuh di tangga semalam karena didorong Frisca. Jadi Enzo gak ngijinin dia keluar kamar sama sekali." Nenek menyeruput tehnya pelan. "Tadi pagi Enzo sudah bilang ke Bi Ijah, semua sarapan, makan siang, makan malamnya Zoya diantar ke kamar aja. Biar Zoya istirahat total di ranjang. Kasian." `JLEB!' Satu meja langsung hening. Sambil hela napas, Pak Deon mengangguk maklum. "Ya sudah, biari
Wajah Enzo makin mendekat pelan. Zoya bisa merasakan napas Enzo yang hangat, nyentuh ujung hidungnya. Jarak mereka tinggal sejengkal. Sisa salep di tangan Enzo masih dingin, tapi napasnya panas. Mata Enzo turun. Dari mata Zoya, ke hidungnya, terus berhenti di bibirnya. `Deg. Deg. Deg!` Jantung Zoya kayak mau loncat. Kenceng banget. Sampe dia yakin Enzo juga denger. "Enzo..." bisik Zoya, suaranya kecil, gemeter. Enzo tak jawab. Tangannya yang tadi ngusap kaki, sekarang naik pelan, nahan tengkuk Zoya. Lembut. Seolah takut Zoya pecah kalau dipegang kuat. "Zo ...." balas Enzo, suaranya serak. "Boleh ya?" Mata Zoya merem. Bibirnya digigit. Tangannya sendiri malah meremas kemeja Enzo kenceng, nahan malu. Tinggal satu senti. Bibir Enzo hampir nempel. Harum mint dari napasnya kecium jelas. Zoya udah siap. Matanya merem total. Tapi pas detik terakhir... "AUW!" Zoya tiba-tiba meringis! Tangannya langsung megang punggung belakang! Wajahnya yang tadi merah karena malu, sekarang mera
"AUW!" Zoya meringis, matanya langsung berkaca-kaca nahan sakit di pinggang dan di kaki yang bengkaknya ketendang lagi. Botol minum yang ia bawa jatuh menggelinding. Damar yang duduk di sofa, refleks berdiri! Tangannya mau maju nolongin Zoya! Hatinya masih ada rasa iba, juga sedikit peduli. Walau bagaimanapun juga dulu Zoya adalah istrinya. Orang yang pernah dia cinta. Dan mungkin sampai sekarang rasa itu masih ada. Tapi baru satu langkah. `SREET!` Lengan Damar langsung ditarik oleh Vanessa dari belakang. "Eh, Damar! Mau ngapain?" Reflek Frisca menoleh dan menatap Damar tajam. Seolah ngasih kode. 'Berani kamu tolongin dia, aku ngamuk!' Damar langsung mematung. Gak berani. Tangannya mengepal tapi ia mundur lagi duduk di sofa, pura-pura tak melihat. Padahal wajahnya nyesel dan bersalah. Ia hanya bisa menunduk, tidak tega lihat Zoya jatuh. Vanessa yang gendong bayi Frisca, malah senyum licik dari sofa, nyorakin Zoya. "Rasain. Makanya jangan sok jadi Nyonya Besar!" Zoya







