Share

Dua

Author: Khody Didi
last update publish date: 2026-04-23 11:09:13

Carmen kembali ke ruang kelasnya untuk melanjutkan pelajaran yang sebenarnya tak bisa ditangkap oleh otaknya. Bukan berarti dia bodoh, di sekolah dasar dia selalu mendapat peringkat pertama, namun setelah SMP semua berubah. Dia mulai memberontak, dia membenci dirinya sendiri. Dia tak suka jika ada teman-temannya yang memamerkan ibu mereka.

Sementara ibunya? Kabur di usianya lima tahun, entah ke mana? Yang dia dengar dari neneknya, ibunya pergi dengan laki-laki lain ke luar negeri.

Ayahnya pengusaha restoran all you can eat bernama Nuansa Food. Restoran itu cukup berkembang pesaat, saat ini sudah memiliki belasan cabang di kota besar.

Nuansa Bayu Wardana, merasa telinganya gatal. Tubuhnya tinggi, saat ini dia memakai kaos tangan pendek dan celana pendek, dia berada di tempat gym, tempat yang membuatnya bisa lupa akan semua permasalahannya. Seminggu lima kali dia berada di rumah keduanya ini, selain mengecek cabang restorannya satu persatu.

Pria berusia tiga puluh lima itu menjatuhkan plat besi ke lantai karena hendak bersin, seorang wanita berpakaian olah raga seksi itu memegang bahunya.

“Sakit?” tanyanya sambil mengusap punggung Nuansa yang berkeringat.

“Entah, apa ada yang ngomongin?” tanyanya. Wanita yang sudah setahunan ini mendekatinya hanya tersenyum lebar.

“Pria tampan dan mapan sepertimu wajar jika menjadi buah bibir,” ujarnya sensual. Tubuhnya begitu indah, bentukan dari olah raga yang digelutinya. Pinggangnya ramping sementara gundukan di atas begitu besar dan padat. Bagian bawah begitu bulat mempesona. Siapa pun mungkin akan tergiur untuk tidur dengannya. Namun yang diinginkan wanita bernama Caroline itu hanyalah Nuansa.

“Mungkin Carmen,” ujar Nuansa.

“Putrimu yang nakal itu?” ujar Caroline masih ingat betapa anak itu gemar sekali mengerjainya, pernah dia berpura baik dan memberinya makanan yang ternyata sudah dituang garam. Atau sekedar menempelkan permen karet di sepatu lari milik wanita itu.

“Dia enggak nakal Carol, dan jangan sebut dia nakal.”

“Ups sorry, tapi kamu memang belum pantas punya anak sebesar itu sayang, atau kamu yang memang nakal dulunya? Hmmm sampai sekarang juga nakal banget sih,” ucap Caroline mengusap lengan Nuansa.

“Hmmm banyak bilang pernikahan kami karena pernikahan dini, tapi perlu kamu tahu bahwa yang terjadi enggak seperti itu. Aku sangat mencintainya dulu, cinta yang menggebu yang enggak pernah aku alami sampai kini, cara satu-satunya mendapatkannya adalah menikahinya, tapi ... ya begitu lah, terlalu muda untuk kami berumah tangga,” ujar Nuansa.

“Sore ini kita mau ke hotel  mana?” tanya Caroline mengalihkan pembicaraan. Nuansa menggeleng.

“Mau pulang,” ujarnya sambil meninggalkan wanita yang mendengus itu. Susah sekali mendapat perhatian dari Nuansa, dia selalu iri ketika Nuansa bercerita tentang istri yang dicintainya, yang justru meninggalkannya itu.

Nuansa memasuki locker room, mengambil pakaian ganti. Dia sangat ingin pulang entah kenapa? Sebenarnya dia juga ingin memberi perhatian bagi Carmen. Namun dia tak bisa, lidahnya selalu kelu jika berhadapan dengan gadisnya itu. 

Sehingga yang dia tanyakan hanyalah apakah Carmen butuh uang? Ada barang yang ingin dibeli? Atau les yang ingin dilakukan? Dia tak pernah menanyakan apakah Carmen butuh kasih sayang darinya?

Rumah Nuansa yang juga rumah Carmen, berada di perumahan yang cukup elit. Sejak kepergian ibu Carmen, Nuansa benar-benar menyibukkan diri dengan bisnis, dia sempat jatuh kala itu. 

Dia membangun restoran dari nol. Dari yang hanya satu restoran all you can eat menjadi belasan bahkan kini hampir dua puluh restoran dia miliki dengan omset yang sangat fantastis karena tema yang dipakainya benar-benar tema yang kekinian dan dia selalu mengupgrade agar tak ketinggalan jaman.

Managemen yang bagus, kualitas makanan dan karyawan yang baik yang menjadi daya tariknya, di tambah dia berani mematok harga yang terjangkau yang jarang ditawarkan oleh restoran-restoran serupa lainnya. Hanya saja, waktu baginya adalah sebuah kemewahan. Dia menjadi member gym yang berada di banyak kota, saat istirahat adalah saat dia berolah raga.

Dia bilang rasa sakit ototnya bisa membuatnya lupa akan kesakitan hatinya. Dan rumah hanyalah tempat tidur baginya.

Sudah pukul sepuluh malam ketika dia tiba di rumahnya, rumah itu masih seperti tiga tahun lalu ketika dia berhasil memilikinya. Masih sepi, kosong dan dingin. Hanya ada satu asisten rumah tangga di rumah itu, yang sejak dulu membantunya merawat Carmen.

Ketika dia hendak membuka pintu kamar, terdengar suara langkah kaki mendekat, dia pun menoleh. Mendapati Sumi, asisten rumah tangga yang berusia lima puluh tahunan menghampirinya.

“Pak,” sapanya.

“Kenapa Mbok?” tanya Nuansa.

“Non Carmen, belum pulang dari sekolah tadi,” ucap Sumi.

“Carmen?” tanya Nuansa.

“Lho, kok bisa?” 

“Sebenarnya,” ucap Sumi meremas ujung bajunya sendiri, “non sering pulang malam, tapi biasanya sebelum bapak pulang, dia sudah tiba di rumah.”

“Astaga, ke mana anak itu?” gerutu Nuansa seraya menekan panggilan telepon untuk tersambung ke putrinya.

“Handphonenya enggak aktif pak, saya sudah coba telpon sejak satu jam lalu,” ucap Sumi. Nuansa membanting tasnya geram, dia hendak mencari putrinya, namun baru saja dia membuka pintu depan. Putrinya sudah berdiri seperti ingin membuka pintu.

Masih mengenakan seragam sekolah menengah pertama, rok panjang yang sengaja dijahit sampai betisnya dan bermodel span sehingga lekuk tubuhnya terlihat. Dua kancing teratas seragam yang tak dikaitkan, dan rambut yang digerai.

“Carmen! Kamu dari mana saja?” ujar Nuansa. Carmen berdecak dan mendorong pintu untuk melewatinya.

“Biasanya juga pulang jam segini, enggak usah lebay!” ujar Carmen.

“Carmen! Papa masih ayah kamu! Hormati papa!” ujar Nuansa setengah berteriak.

Carmen membalik tubuhnya, mengeluarkan surat dari dalam tasnya.

“Bersikaplah seperti ayah jika kamu memang ayahku!” ujar Carmen, lalu dia berjalan cepat meninggalkan ayahnya setelah mendorong kertas itu ke dadanya. Nuansa menahan napas ketika membaca sebuah surat yang bertuliskan surat peringatan!

Kepalanya mendadak pening! Dan dia menyadari putrinya sudah terlalu jauh!

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Empat Puluh Lima

    Nayaka terbangun cukup siang, ketika dia keluar kamar, dilihat Mbok Sumi tengah membersihkan rumah dengan kemoceng, dia menyapa Mbok Sumi dan menuju dapur. Dengan tergopoh asisten rumah tangga itu mengekornya.“Mau kopi apa teh, Bu?” tanya Sumi.“Siang-siang gini, es kopi enak kali ya Mbok,” ucap Nayaka yang kemudian duduk di meja makan.“Saya buatin ya, ibu mau sambil makan?” tanya mbok Sumi. Nayaka mengangguk, perutnya terasa lapar, beruntung sang asisten tersebut sudah membuat sajian makan siang. Sambil menunggu es kopinya dibuat. Nayaka pun menikmati makan siangnya.Lalu dia melihat putrinya keluar dari kamar, sudah memakai pakaian rapih. Carmen menghampirinya, “mama bangun juga akhirnya,” ucap Carmen membuat Nayaka tersenyum tipis.“Mau ke mana kamu?” tanya Nayaka. Carmen menarik kursi untuk duduk di sampingnya.“Sebenarnya aku mau minta izin ke mama, papa sih udah ngizinin,” ucap Carmen.“Mau main sama teman-teman?” tanya Nayaka santai. Carmen menggeleng, wajahnya menatap ibu s

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Empat Puluh Empat

    Sambil terus memandangi Nayaka dari jauh, Caroline mengeluarkan ponsel dari clutch kecilnya. Dia menyalakan kamera, merekam beberapa menit penampilan DJ Shai. Fokusnya bukan hanya pada wajah penuh peluh dan energi Nayaka. Namun juga pada pengunjung club yang menjerit memanggil namanya, pada lampu club yang berkerlip. Semua bukti yang bisa dia gunakan nanti.Caroline membayangkan bagaimana reaksi kepala sekolah tempatnya mengajar jika menerima video ini? Bagaimana murid-murid akan bergunjing jika tahu guru teladan mereka adalah DJ malam?Namun, Caroline memiringkan wajahnya, video ini tak cukup kuat dan menjijikkan untuk menjebak Nayaka. Dia akan memikirkan cara lainnya selain video ini dan juga membuat Nuansa tak ada di sampingnya. Dia meneguk habis wine di gelasnya. “Aku akan buat kamu jatuh, Nayaka. Aku akan pastikan semua orang tahu siapa kamu sebenarnya!”Musik akhirnya mencapai puncak. Nayaka menutup set-nya dengan gebrakan keras, membuat penont

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Empat Puluh Tiga

    Pada malam sabtu berikutnya, Nayaka tengah bersiap untuk ke club malam. Langkahnya terhenti ketika dia menyadari rokok elektiknya menghilang LAGI! Untuk kesekian kali. Dia mengeram kesal. Dia sudah rapih dengan pakaiannya, menutupi baju dengan atasan terbuka itu dan memakai jaket tipis.Ketika dia keluar kamar, dia melihat Nuansa yang berpamitan pada Carmen, dia berkata ingin dinner dengan Nayaka dan meminta Carmen tidak menunggu mereka. Tentu saja Carmen tidak keberatan, dia justru senang jika ayahnya bisa lebih dekat dengan ibu sambungnya ini.Nayaka memasuki mobil dengan langkah dihentakkan, sebal sekali rasanya. Apakah ada tuyul di rumah?“Kenapa?” tanya Nuansa karena wanita itu terus melipat tangan di dada dengan wajah kesal.“Kayaknya kita harus pasang cctv di kamar deh, vape aku hilang terus,” gerutu Nayaka.“Yakin mau pasang CCTV, kalau diretas, aktifitas suami-istri kita akan ketahuan lho,” ujar Nuansa.

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Empat Puluh Dua

    Sudah cukup malam ketika Nayaka membuka laptop di kamar yang ditempati bersama Nuansa, dia membiarkan Jendela terbuka lebar karena dia lagi-lagi menghirup rokok elektriknya. Dia melihat file mixing yang biasa dia gunakan untuk bermain musik.Dihisap lagi rokok itu dan dihembuskan ke udara, Nayaka mengambil earphone dan menyambungkan ke laptop, tangannya menekan tombol play.Dia terus berpikir bagaimana jika sekolah tahu tentang pekerjaannya sebagai DJ? Bagaimana jika dia bertemu rekan DJ yang disewa sekolah yang merupakan teman yang dikenalnya?Asap dari rokok elektriknya berputar di udara sebelum menghilang. Pintu kamar terbuka, Nuansa memasuki kamar itu dan menutup rapat pintu sambil menguncinya. Dia melihat Nayaka yang tengah menghisap rokok.“Beli lagi?” tanya Nuansa. Nayaka melepas earphonenya, “kenapa?” tanya Nayaka karena tidak mendengar ucapan Nuansa. Nuansa menggeleng, “aku mau mandi,” ucapnya. Nayaka han

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Empat Puluh Satu

    Ruang rapat di sekolah SMP itu terasa lebih tegang dari biasanya. Deretan kursi kayu tersusun melingkar, papan tulis di depan dipenuhi coretan agenda acara perpisahan kelas sembilan yang tak lama lagi akan dilangsungkan.Kepala sekolah membuka diskusi, lalu memberi kesempatan pada para guru untuk menyampaikan pendapat setelah OSIS mengajukan usulan pesta perpisahan dengan mengundang DJ ke sekolah. Acara perpisahan memang biasanya diisi oleh tarian dari para adik kelas, atau seni pagelaran musik. Namun, sebelumnya tak pernah menghadirkan DJ.“Menurut saya, boleh saja kita izinkan,” ucap seorang pria yang merupakan guru olah raga, sambil menepuk meja pelan, “anak-anak butuh hiburan setelah ujian panjang dan melelahkan, lagi pula ini perpisahan. Tidak ada salahnya kita beri kesempatan bersenang-senang, karena mereka mungkin akan berbeda sekolah nantinya.”Namun, seorang wanita yang merupakan guru agama langsung menyahut dengan nada keb

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Empat Puluh

    Carmen mengangguk antusias, “tentu, senang banget dari pada Curut itu. Eh ngomong-ngomong Bu, eh Ma,” ujar Carmen menutup mulutnya, karena membahas tentang panggilan ibu Nay membuat Carmen jadi lupa. Nayaka hanya tertawa.“Ngomong-ngomong kenapa?” tanya Nayaka.“Papa sudah enggak berhubungan sama tante Caroline, kan?” tanya Carmen.Nayaka menggeleng, “papa sudah putus dengannya,” ucap Nayaka mengambil satu baju terusan mini yang mungkin roknya hanya sepahanya, membayangkan Nuansa pasti senang jika dia memakai pakaian ini di rumah.“Aku tadinya sempat mikir, apa papa masih jalin hubungan dengan tante itu ya? Aku takut mama sedih dan ninggalin papa,” ucap Carmen sambil menunduk. Nayaka mengusap punggung Carmen.“Mama enggak akan ninggalin papa, terutama ninggalin kamu. Jadi tenang saja ya,” ucap Nayaka. Carmen langsung menghambur memeluknya hingga keranjang pakaian di tangan Naya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status