LOGINNayaka mencoba menetralkan perasaannya yang campur aduk, sudahlah seperti ada petir yang menyambar di pagi hari yang cerah. Bagaimana bisa? Orang yang dijodohkan padanya adalah orang tua dari murid nakalnya. Dan lagi ... dia sudah memperlihatkan salah satu sisi paling buruk dari dirinya.
Di ruangan guru ini tak ada guru lain karena semua memiliki jadwal jam pertama, berbeda dengannya. Nayaka memang minta diatur untuk hari senin dia tak mendapat jadwal mengajar jam pertama, tentu saja karena dia yang sering mengantuk karena menjadi DJ pada hari minggu. “Selamat pagi, silakan ikut saya,” sapa Nayaka setelah menjabat tangan Nuansa, berpura bahwa mereka tak ada insiden apa-apa. “Ibu pernah ketemu papa?” tanya Carmen membuat Nayaka menghentikan langkahnya dan menoleh sambil tersenyum kecil lalu mengangguk ragu. Dia mengajak mereka ke salah satu ruangan yang memang di peruntukkan untuk pertemuan dengan tamu. Ruangannya berada di sebelah ruang kepala sekolah, dalam ruang guru juga. Nayaka duduk di sofa tunggal, sementara Nuansa dengan santainya duduk di sofa panjang di samping Carmen, putrinya. Nayaka memperhatikan mereka berdua, pantas saja wajah Nuansa tidak terlalu asing, dia sangat mirip dengan putrinya. “Jadi seperti yang sudah saya katakan pada Carmen, ini adalah kejadian kedua saya memergoki dia yang merokok,” ucap Nayaka. Nuansa memajukan wajahnya, punggungnya tampak tegap, “di rumah tidak ada yang merokok, apa mungkin dia mencontoh seseorang?” tanya Nuansa, jelas sekali ada sindiran di kata-katanya. Nayaka merasa Nuansa sedang mengibarkan bendera ajakan untuk perang. “Carmen, kamu boleh tunggu di luar, luarrrrr sekali, jangan di ruang guru,” ucap Nayaka. Carmen menunduk, “baik Bu, tapi tolong jangan keluarkan aku dari sekolah, aku ingin wisuda bareng teman-teman,” ucap Carmen. Nuansa menoleh pada putrinya, tak pernah melihat putrinya yang pembangkang ini bersuara dengan nada putus asa. Nuansa mengusap kepala putrinya, putri kecilnya yang dulu, yang kini telah sangat besar, “tenang sayang, papa enggak akan biarkan kamu dikeluarkan dari sekolah ini,” ucap Nuansa memaksakan senyumnya. Nayaka menarik sudut bibir kanannya, berdecih kecil tanpa bisa didengar. Carmen pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Nayaka dan Nuansa yang sudah saling bertatapan dengan tatapan permusuhan. Tak ada lagi wajah Nayaka yang menunjukkan bahwa dia seorang guru yang berwibawa, dia menyilang kakinya dan bersandar di sofa sambil mendelikkan matanya ke arah Nuansa. Nuansa pun melakukan hal yang sama. Dia bersandar di sofa sambil melipat tangan di dadanya, “jadi ... sosok ini yang orang tua gue tahu?” ujar Nuansa. “Sosok apa? Gondoruwo?” cebik Nayaka. “Lebih mirip kuntilanak sih,” sindir Nuansa. “Sialaa ... ups di sekolah,” ucap Nayaka yang kemudian memilih menarik napas panjang. “Kita bicarakan tentang Carmen dulu.” “Oke lanjutkan, setelah itu kita bahas tentang lo,” ujar Nuansa. Nayaka benar-benar mendapat lawan yang sepadan kali ini. “Guru-guru banyak yang mengeluhkan tentang Carmen, nilainya merosot, jarang membuat PR, sering tidur di kelas, dan jika ada jam kosong dia pergi. Ternyata dia merokok di toilet yang jarang dihuni.” “Hancurkan saja toiletnya,” ujar Nuansa. “Nuansa!” geram Nayaka. “Terus? Bukannya itu tugas guru mendisiplinkannya. Sebagai orang tua, jika sudah menaruh anak di sekolah, harusnya sudah menjadi tanggung jawab para guru dong?” “Apa lo tahu cita-cita Carmen?” tanya Nayaka. Nuansa terdiam, cita-cita? Terakhir ketika TK Carmen berkata ingin menjadi guru atau dokter. “Dokter?” tanya Nuansa. “Dia bukan anak TK lagi,” decih Carmen seperti bisa menebak isi pikiran Nuansa. “Lalu?” “Dia ingin tidur panjang.” “Ha?” “Ya, lo enggak tahu kan seberisik apa isi kepalanya sampai-sampai dia ingin tidur panjang. Jawaban itu memang sangat aneh, di saat yang lain bercita-cita menjadi wanita karir, menjadi pengusaha, atau apa pun itu. Tapi ... Carmen butuh orang tuanya, bukan hanya guru di sekolah, karena dia bersama kami hanya enam sampai tujuh jam, dan sisanya, dia di rumah.” “Carmen?” “Ya, dia mengalihkan perhatian dengan merokok, dia enggak sepenuhnya merokok, hanya membuang asap ke udara, jarinya masih nunjukkin bahwa dia baru mulai coba-coba. Tapi kalau dibiarkan, dia bisa terjerumus. Dia pasti sering pulang larut malam, dan mungkin di rumah enggak bisa langsung tidur, itu sebabnya dia sering tidur di sekolah.” Nuansa terdiam hanya mendengar penuturan Nayaka, sosok ini benar-benar tampak berbeda dibanding kemarin. Yang menurut Nuansa lebih urakan. “Jadi apa yang harus gue lakukan untuknya?” “Beri dia waktu bersama, sepertinya kalian sudah lama enggak ngobrol atau sekedar jalan bareng. Hari ini Carmen kena skorsing jadi ajak dia pulang, hmmm enggak, jangan pulang. Ajak dia jalan-jalan, ke mall mungkin, belanja atau apa pun itu?” “Lo mau ikut?” tanya Nuansa. “Gue? Gile aja gue masih ada jadwal ngajar,” ujar Nayaka. Nuansa mendengus, “sekarang kita bahas tentang lo,” ujarnya. “Apa lagi?” tanya Nayaka dengan tatapan tajamnya. “Lo guru, tapi bagaimana lo bisa contohin ke murid lo kalau kelakuan lo aja urakan gitu? Jangan-jangan Carmen mencontoh lo?” tunjuk Nuansa membuat Nayaka mendengus dan mendorong jari Nuansa menjauh dari wajahnya. “Gue enggak pernah merokok di lingkungan sekolah, mereka enggak tahu kebiasaan gue. Di sekolah, gue adalah guru yang baik. Lu harus catet itu,” tukas Nayaka. “Oiya, kalau sampai dia ketahuan merokok lagi, mungkin kepala sekolah akan memberhentikannya, karena enggak mau nama baik sekolah ini tercemar,” imbuhnya. Nuansa menarik napas panjang, “gue enggak bisa jadi ayah sepenuhnya buat dia,” keluhnya.“Euhm, Mas,” ucap Nayaka ketika jemari itu mulai menelusup di balik seragamnya.“Sesekali, main siang, nafsu banget aku liat kamu pakai ini,” ucap Nuansa yang kemudian mendaratkan kecupan di leher Nayaka. Nayaka melepas sepatu dan kaos kakinya, lenguhannya terdengar ketika Nuansa menjilati lehernya.Lalu dalam sekali angkat, Nuansa memposisikan Nayaka duduk di pangkuannya. Dia menatap gunung kembar yang masih tertutup kain berbusa itu, kini jemari Nuansa menelusup ke balik punggung Nayaka mencari kaitnya dan melepaskannya dalam sekali sentakan kecil. Bagian atas baju Nayaka sudah terbuka dan pria itu menurunkannya sampai perut Nayaka, membiarkan gunung kembarnya tampak menonjol dan menantang.Dilahapnya dengan lumatan yang panas hingga Nayaka terus melenguh dan melentingkan tubuhnya ke atas. Puas bermain di gunung kembar Nayaka. Nuansa meminta wanita itu bangkit. Nuansa melepas pakaiannya dan kembali duduk.“Yakin di ruang ta
Caroline menemui temannya, Sara. Mereka bisa terbilang sangat dekat. Jika Caroline adalah ratu Gym, Sara adalah ratu Party. Dia sangat menyukai pesta di mana pun dia berada, hingga dia mendapat keuntungan dari itu juga, di bekerja sebagai Party Project. Setiap orang yang ingin mengadakan pesta bisa menghubunginya, dia memiliki ratusan ide tentang pesta apa pun itu.Sara mengunjungi Caroline di apartmennya, dia baru saja reda dari hangover atau mabuk yang menderanya. Semalam dia menghadiri pesta teman-teman pecinta club malamnya. Sayangnya saat pesta memanas, Disk Jockeynya justru diganti karena sakit.“Coba lihat,” ujar Sara memegang dagu Caroline, ada bekas cakaran di wajah itu yang sudah diberi salep.“Kan aku sudah bilang, ngapain masih macarin suami orang itu, sudahlah kalau dia sudah enggak mau lagi ya enggak perlu dipertahankan,” ucap Sara.“Kamu tahu kan aku enggak pernah kalah dengan siapa pun, termasuk dengan wanita
Nuansa mengantar Caroline sampai apartmennya, wanita itu meminta Nuansa mengantar sampai dalam. Nuansa pun menurutinya. Caroline memeluknya erat. Suaranya serak penuh permohonan, “tolong jangan tinggalin aku,” isaknya yang sejak tadi tertahan.Nuansa membalas pelukannya dengan erat, “maafin aku Carol. Sejak bundanya Carmen pergi, aku sadar kalau kebahagiaanku itu melihat anakku bahagia, dan aku ... enggak mau menyakiti anak itu,” bisiknya.“Apa selama ini enggak pernah ada rasa sayang dari kamu untukku? Sedikit aja?”“Aku sayang kamu, tapi aku memakai logikaku Carol, dan logikaku menang.”Caroline memejamkan mata, pria dan logika adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, secinta apa pun pria pada wanitanya, namun mereka masih bisa menggunakan akal sehatnya. Berbeda dengan wanita yang disebut makhluk perasa, jika dia sudah mencintai laki-laki, maka dia hanya akan mengutamakan perasaannya saja tanpa memikirkan
“Cukup!! Stop!! Mbok bantuin!!” ujar Nuansa yang mencoba melerai keduanya, namun tidak berhasil. Kedua wanita itu sudah saling jambak, rambut mereka tampak berantakan pakaian mereka koyak tak beraturan.Hingga Nuansa akhirnya memeluk Nayaka dan melindunginya dari pukulan Caroline, meskipun dia juga menjadi sasaran amukan dari keduanya.Namun, dari sana Caroline bisa melihat bahwa Nuansa benar-benar melindungi istrinya.Napasnya tersengal, menatap Nuansa yang melindungi Nayaka dengan tubuhnya, sementara Mbok Sumi yang sudah membawa air di ember dari dapur itu hanya menatap pemandangan itu dengan bibir terkatup. Hampir saja dia menyiram keduanya menggunakan air, namun dia terlambat, pertengkarannya sudah usai.Nuansa yang bersusah payah memisahkan kedua orang yang bertengkar seperti kucing yang lagi berantem itu kini meminta keduanya saling menjauh.“Kamu tunggu di sana,” tunjuk Nuansa tegas pada Caroline. Meminta wanita yang rambutnya sudah berantakan itu untuk menunggu di ruang tamu,
Nayaka terbangun di pagi hari, dia sedikit menjauhkan diri hingga Nuansa kembali menariknya dalam pelukan.“Sudah siang,” ucap Nayaka melihat jendela yang sudah membiarkan cahaya mentari pagi menelusup dari balik gorden.“Sebentar lagi,” tutur Nuansa mengusap punggung sang istri lembut. Nayaka bisa merasakan aroma tubuh Nuansa, tidak bau, namun ada aroma yang membuat hormonnya naik dan merasa nyaman. Rupanya tidur sambil berpelukan seperti ini bisa membuatnya begitu tenang.Nayaka mendongak, menatap wajah pria tampan yang menikah dengannya itu, dia mengecup pipi Nuansa membuat Nuansa membuka matanya.“Kenapa? Mau lagi? Hm?” tanyanya dengan suara berat yang khas.“Kalau nanti mau lagi, boleh minta duluan?” tanya Nayaka.“Boleh dong, dengan senang hati,” ucap Nuansa.Dia terus memeluk tubuh sang istri dengan erat, hingga terdengar suara pintu diketuk.“Pak, ada tamu,” ucap Mbok Sumi.“Siapa, mbok?” tanya Nuansa.“Itu ... hmm anu ... ,” ucap Mbol Sumi dari balik pintu.“Siapa sih ganggu
“Ehm, Mas, eungghhh,” desahan lolos dari bibir Nayaka ketika Nuansa terus melumat labianya, menggigit kecil daging tumbuh yang ada di sana. Nayaka tersentak ketika merasakan jemari Nuansa mulai menari di bagian dalam miliknya, rasanya begitu menggairahkan seperti ada dorongan yang ingin keluar.Nayaka tak lagi menahan lenguhannya, dia meracau kenikmatan. Nuansa terus menggerakkan jemarinya dengan lihai, namun tak menyakiti, lidahnya pun ikut bermain memberikan rangsangan yang membuat Nayaka tak kuat lagi, diangkat pinggulnya dan dia melentingkan tubuhnya ketika merasakan sesuatu melesak keluar dari kewanitaannya.Nuansa masih mencumbunya, lalu dia melepas cumbuannya, menatap Nayaka yang dadanya turun naik setelah mendapat pelepasannya.Wajah Nayaka bersemu ditatap dengan intens oleh Nuansa seperti itu, Nuansa kemudian menurunkan kaki Nayaka, melepas sepatu wanita itu dengan perlahan dan meletakkan di lantai. Dia berdiri dan hendak mengambil pakaianya







