Home / Romansa / Kawin Grebek / 2. Dituduh Berzina

Share

2. Dituduh Berzina

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-09-09 15:07:32

Cita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya.

"Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-"

"Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju.

Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya.

Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam.

"Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak ngapa-ngapain!"

"Sembunyi doang apa sambil ngelakuin yang lain?" cetuk Mak Gonjreng, disusul tawa mengejek dari warga yang berkumpul.

"Cita benar, Pak RT." Rayhan akhirnya membuka suara. Suaranya berat, dalam, dan berusaha sekeras mungkin untuk tetap tenang meski rahangnya mengeras. "Saya hanya numpang sembunyi dari banci Maria, soalnya pas pintunya Cita kebuka."

"Halah, alasan!" Mak Gonjreng bersedekap, matanya memicing tajam menatap Cita dan Rayhan bergantian. "Waktu saya lewat tadi jelas-jelas nggak ada si Maria. Lagian dia ada di terminal, nggak sampai ke sini. Mau apa urusannya sama sampeyan, Mas! Alasan aja biar bisa zina sama janda."

"Jangan fitnah, Mak!" teriak Cita frustrasi.

"Bukti udah jelas gini masih dibilang fitnah? Udahlah kalian nikah aja. Malu-maluin desa kami. Lagian kalian juga pendatang," balas Mak Gonjreng membuat Cita terdiam.

Pak RT yang sejak tadi kalah suara dari Mak Gonjreng, akhirnya mengangkat tangan kanan meminta ketenangan. Suara bisik-bisik warga perlahan mereda.

"Sudah, sudah. Jangan ribut begitu," tegas Pak RT. Ia memandang Rayhan, lalu beralih pada Cita. "Saya tidak tahu niat kalian apa, tapi aturan di lingkungan kita ini sudah jelas. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh berada dalam satu rumah, apalagi malam-malam begini. Terlebih lagi saya menerima laporan bahwa kalian sering berduaan."

Suasana mendadak hening. Cita tak tahu lagi harus bersuara seperti apa karena semua akan percuma. Akhirnya, ia hanya bisa menatap Rayhan dengan tajam dan penuh kebencian.

"Semua ini gara-gara kamu," bisik Cita kesal kepada Rayhan.

Rayhan hanya diam. Masalah utama memang dari dirinya yang menerobos masuk begitu saja ke dalam kontrakan Cita. Tak disangka malam ini mereka akan dikepung warga.

"Bagaimana, Mas Rayhan dan Mbak Cita?" tanya Pak RT disertai rasa tidak sabar dari para warga.

Rayhan menegakkan kepalanya. Ia menatap satu per satu warga desa tersebut, terutama Mak Gonjreng yang memang selalu membuat masalah dengan Cita.

"Baiklah, saya akan menikahi Cita," jawab Rayhan akhrinya.

"Apa?" Cita menatap tak percaya pada keputusan tiba-tiba itu.

Bukannya membela diri, Rayhan malah mengiyakan putusan sepihak sang Ketua RT.

“Mas Rayhan, kamu gila, ya?” bisik Cita tak percaya. Ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu menjauh dari kerumunan.

“Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!” Napas Cita memburu, air matanya masih membasahi pipi.

Rayhan menatapnya serius. “Dengarkan aku dulu, Cita. Kamu lihat sendiri mereka. Mak Gonjreng dan warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus menolak, besok nama kita bisa semakin hancur. Kamu mau anakmu yang baru lahir dicap sebagai anak haram oleh mereka?””

“Tapi, Zain itu buk—”

“Aku tahu kita nggak pernah akur,” potong Rayhan cepat. “Tapi malam ini biarkan aku bertanggung jawab karena sudah menyeretmu ke masalah ini. Kita cuma perlu menikah supaya mereka berhenti bicara. Soal urusan kita setelahnya, bisa dibicarakan nanti.”

Cita mengepalkan tangan. Rasa benci, takut, dan pasrah bercampur menjadi satu. Namun, demi Zain dan rasa lelahnya atas semua gosip yang beredar, akhirnya ia mengangguk.

Rayhan menghela napas lega. Ia mendekat sedikit, lalu bertanya dengan suara pelan, “Siapa nama ayah kandung kamu?”

“Hah? Buat apa?” Cita mendongak, kembali bertemu tatapan Rayhan.

"Nama ayah kamu, Cita. Siapa nama lengkapnya? Biar besok pas diucap saat ijab qabul nggak salah," jawab Rayhan dengan ekspresi datar.

"J-Joko Susanto...." jawab Cita terbata-bata.

"Ngapaian kalian mojok di situ?! Mau kabur dan mempermalukan desa kami?" teriak Mak Gonjreng.

Rayhan mengabaikannya lalu mengangguk paham atas jawaban Cita. Ia lalu berbalik kembali menghadap para warga dan Pak RT yang sudah menunggu dengan tak sabaran. "Pak RT, kami setuju. Kami akan menikah."

"Bagus kalau begitu. Malam ini juga kalian ikut kami ke masjid," ucap Pak RT sembari mengangguk. Nampaknya pria paruh baya itu sudah lelah mengurusi masalah warganya ini.

"Tunggu. Malam ini?" tanya Cita kaget.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kawin Grebek   92. Berubah Manja

    Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja

  • Kawin Grebek   91. Wasiat

    "Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin

  • Kawin Grebek   90. Jangan Jumawa

    Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp

  • Kawin Grebek   89. Tak Bisa Menahan Diri

    "Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny

  • Kawin Grebek   88. Kebiasaan Baru Rayhan

    Drrrt drrrt drrrt Suara getaran alarm ponsel membangunkan Cita. Wanita itu langsung membuka mata dan meraih ponselnya sebelum mematikan suara berisik itu."Mas Rayhan?" panggilnya pelan saat menyadari suaminya sudah tidak berada di sampingnya.Cita segera duduk sembari mengikat rambutnya. Ia lalu memeriksa Zain terlebih dahulu, memastikan bayi kecil itu masih terlelap sebelum keluar kamar untuk mencari suaminya."Mas...?" panggil Cita pelan. Wanita itu melangkah keluar sembari mencari. Lalu ia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.'Apakah Mas Rayhan melakukannya sendiri lagi?' gumam wanita itu dalam hati. Kedua pipinya mulai terasa panas saat teringat Rayhan mendesah memanggil namanya.Cita membeku di tempatnya. Ia memilih kembali ke kamar, membiarkan Rayhan yang sedang menuntaskan hasratnya sendirian sebelum ia harus bersiap-siap pergi bekerja ke pasar pagi ini.Cita duduk di tepi tempat tidur dengan kedua pipi yang kembali memanas. Rasa malu d

  • Kawin Grebek   87. Ini Bukan Salahmu

    Suara tangisan Zain langsung merusak suasana romantis kedua orang tuanya. Sensasi panas dan kehangatan yang baru saja membakar tubuh Rayhan dan Cita seketika menguap, berganti dengan keheningan yang serba salah."Ehem. Zain kebangun," deham Rayhan.Tangan pria itu yang tadinya tengah menarik naik kain daster Cita mendadak terhenti di atas perut mulus istrinya. Gerakan tangannya membeku. Pria dewasa itu mengeratkan rahangnya, menahan gejolak gairah yang sedang berada di puncak tinggi namun terpaksa harus dipadamkan secara mendadak.Rayhan menarik napas panjang, berjuang menguasai emosinya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Sebuah senyuman paksa pun terkembang di bibirnya saat ia menolehkan kepala ke arah sumber suara tangisan.Di bawah kungkungan Rayhan, Cita juga terdiam kaku. Matanya terpejam sejenak sebelum perlahan terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Pipinya yang tadi memerah padam karena rasa malu dan gairah kini terasa semakin p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status