FAZER LOGINCita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya.
"Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-"
"Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju.
Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya. Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam.
"Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak ngapa-ngapain!"
"Sembunyi doang apa sambil ngelakuin yang lain?" cetuk Mak Gonjreng, disusul tawa mengejek dari warga yang berkumpul.
"Cita benar, Pak RT." Rayhan akhirnya membuka suara. Suaranya berat, dalam, dan berusaha sekeras mungkin untuk tetap tenang meski rahangnya mengeras. "Saya hanya numpang sembunyi dari banci Maria."
"Halah, alasan!" Mak Gonjreng bersedekap, matanya memicing tajam menatap Cita dan Rayhan bergantian. "Waktu saya lewat tadi jelas-jelas nggak ada si Maria. Lagian dia ada di terminal, nggak sampai ke sini. Mau apa urusannya sama sampeyan, Mas! Alasan aja biar bisa zina sama janda," ujarnya sinis.
"Lagian, janda muda kaya Mbak Cita ini juga ngapain malam-malam biarin bujangan masuk ke dalam rumah? Kalau memang mau sembunyi ya sembunyi di kontrakan sendiri," lanjutnya.
"Benar itu. Kalian berdua hanya alasan saja," timpal salah satu ibu-ibu yang merupakan teman Mak Gonjreng.
Pak RT yang sejak tadi kalah suara dari Mak Gonjreng, akhirnya mengangkat tangan kanan meminta ketenangan. Suara bisik-bisik warga perlahan mereda.
"Sudah, sudah. Jangan ribut begitu," tegas Pak RT. Ia memandang Rayhan, lalu beralih pada Cita. "Saya tidak tahu niat kalian apa, tapi aturan di lingkungan kita ini sudah jelas. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh berada dalam satu rumah, apalagi malam-malam begini. Terlebih lagi saya menerima laporan bahwa kalian sering berduaan."
"Itu nggak benar, Pak RT. Saya-"
"Kalian harus menikah. Itu keputusan terbaiknya agar terhindar dari fitnah," tegas Pak RT kembali mendesak keduanya segera menikah.
"Tapi Pak RT, saya dan Mas Rayhan itu nggak punya hubungan apa-apa" Cita kembali membela diri.
"Itu benar. Saya hanya numpang sembunyi saja. Kami nggak seperti yang kalian tuduhkan," imbuh Rayhan.
"Wah, pinter ya main dramanya," sahut Mak Gonjreng lagi, tidak mau kalah. "Pura-pura musuhan di depan umum tapi di dalam kontrakan mesum. Jangan-jangan selama ini sebenarnya kalian memang ada main?"
"Jangan fitnah, Mak!" teriak Cita frustrasi.
"Bukti udah jelas gini masih dibilang fitnah? Udahlah kalian nikah aja. Malu-maluin desa kami. Lagian kalian juga pendatang," balas Mak Gonjreng membuat Cita terdiam.
Prasangka dari para warga sudah tidak bisa dibantah lagi. Cita ingin kembali menjelaskan, namun Mak Gonjreng si tukang julid, selalu saja menimpali dengan lantang.
"Kamu nggak usah sok suci, Mbak Cita. Dulu waktu kamu datang bawa bayi masih merah, kamu sendiri nggak datang sama ayah dari bayinya. Terus nggak lama Mas Rayhan datang," celetuk Mak Gonjreng lagi mulai memprovokasi. "Jangan-jangan... si Zain itu sebenarnya anak haram dari hubungan gelap kalian berdua dari dulu?"
Kata-kata itu menghantam Cita. Wajahnya seketika memerah, bukan lagi karena marah, tapi karena rasa dihina yang luar biasa. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membashi pipi.
"Jaga mulut Mak, ya!" Suara Cita bergetar. "Silakan fitnah saya sepuasnya! Bilang saya perempuan gatal, bilang saya janda gatel, terserah! Tapi jangan sekali-kali bawa-bawa Zain! Zain itu-"
"Halah. Udah deh nggak usah bela diri terus. Bukti aja udah nyata," bantah Mak Gonjreng lagi dengan sengit.
Dari dalam kamar, terdengar suara tangisan bayi yang terbangun. Zain sepertinya terbangun karena mendengar kegaduhan dan suara teriakan Cita. Cita langsung berbalik, hendak masuk ke kamar untuk menenangkan anaknya, tetapi langkahnya tertahan di ambang pintu saat Mak Gonjreng bersuara lagi dengan makin lantang.
"Tuh kan, ketakutan! Kalau nggak merasa, kenapa mesti nangis begitu? Kalau memang nggak ada apa-apa, buktiin! Biar warga nggak kena sial karena lingkungan ini dipakai buat perzinahan!"
Pak RT mengetuk-ngetukkan tangannya ke tiang teras kontrakannya sendiri. "Cukup! Cukup! Sekarang sebaiknya kita segera nikahkan mereka saja supaya tidak terjadi hal-hal seperti ini lagi!" tegas Pak RT menatap Rayhan dan Cita dengan raut wajah sangat serius.
Cita menggigit bibir bawahnya. Suara Zain sudah berhenti. Sepertinya bayi itu kembali tertidur lagi. Menikah dengan Rayhan bukanlah pilihan, tapi pemaksaan. Mereka sudah lama bermusuhan sejak pria pengangguran itu datang.
Tatapan Cita kini tertuju pada Rayhan, begitu tajam penuh kebencian. "Semua ini gara-gara kamu," bisiknya.
Rayhan hanya diam. Masalah utama memang dari dirinya yang menerobos masuk begitu saja ke dalam kontrakan Cita. Tak disangka malam ini mereka akan dikepung warga.
"Bagaimana, Mas Rayhan dan Mbak Cita?" tanya Pak RT disertai rasa tidak sabar dari para warga.
Rayhan menegakkan kepalanya. Ia menatap satu per satu warga desa tersebut, terutama Mak Gonjreng yang memang selalu membuat masalah dengan Cita.
"Baiklah, saya akan menikahi Cita," jawabnya.
"Apa?" Cita menatap tak percaya pada keputusan tiba-tiba itu. Bukannya membela diri, Rayhan malah mengiyakan putusan sepihak Sang Ketua RT.
***
Proses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam."Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian.""Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.Begitu Pak
"Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu."Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. "Eh, tunggu!"Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontr
"Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai."Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.Sesampainya di depan kontrakan yang juga merup
"Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan."Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam."Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius."Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu ma
Cita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya. "Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-" "Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju. Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya. Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam. "Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak
"Oekkk oekkk oekkk!" Malam semakin larut di Desa Geger, namun tangisan bayi di dalam kontrakan petak berukuran empat kali enam meter itu belum juga reda. Cita, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tampak kelelahan. Ia terus menimang Zain, bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terus saja menangis. Cita sudah berusaha menenangkannya mulai dari memberikan susu formula, membalurkan minyak telon, sampai menimang-nimang dan bernyanyi untuk Zain. Namun, bayi mungil itu tak kunjung diam, membuatnya semakin kerepotan. "Zain, Sayang. Tolong berhenti menangis... Zain anak baik bobok ya...." ucap Cita frustasi. Cita sama sekali tidak memiliki pengalaman merawat bayi sebelumnya. Apalagi Zain bukanlah anak kandung Cita. Bayi itu adalah anak kakaknya yang meninggal dunia usai melahirkan. Demi merawat satu-satunya peninggalan sang kakak, Cita rela merantau dan menyewa kontrakan sederhana ini. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jela







