Inicio / Romansa / Kawin Grebek / 3. Sah Menikah

Compartir

3. Sah Menikah

Autor: Rizu Key
last update Fecha de publicación: 2026-09-09 15:09:10

"Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan.

"Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.

Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam.

"Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius.

"Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu mau anak kamu yang baru lahir itu dicap sebagai anak haram selamanya sama orang-orang ini?" tanya pria tampan itu.

"Tapi Zain sebenarnya bukan...."

"Sudahlah. Kita hanya menikah saja. Aku cuma mau kita hidup tenang di sini," potong Rayhan.

Cita terdiam. Ia melirik pintu kamar tempat Zain tertidur. Mengingat tuduhan keji warga soal asal-usul bayi mungil itu membuat hatinya sakit.

"Aku tahu kita nggak pernah akur, Cita," lanjut Rayhan lagi, matanya mengunci pandangan Cita. "Tapi malam ini, biarkan aku bertanggung jawab karena sudah bikin kamu terseret masalah ini. Soal urusan kita nanti setelah ini, kita bahas belakangan. Sekarang, yang penting lindungi nama kita dan Zain. Percaya padaku, cuma ini satu-satunya cara supaya mulut mereka diam."

Cita mengepalkan kedua tangannya sangat erat hingga buku-buku tangannya memutih. Rasa benci, takut, dan pasrah bercampur aduk di dalam dirinya. Pria pengangguran yang paling sering berdebat dengannya, tiba-tiba menjadi satu-satunya pelindung yang berdiri di depannya. Cita akhirnya mengangguk pelan, ia menyerah pada keadaan.

Melihat anggukan itu, Rayhan menghela napas lega. Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi. "Siapa nama ayah kandung kamu?"

"Hah?" Cita tertegun sejenak, terkejut dengan pertanyaan mendadak itu. Wajahnya mendongak dan kembali bertemu mata dengan Rayhan.

"Nama ayah kamu, Cita. Siapa nama lengkapnya? Biar besok pas diucap saat ijab qabul nggak salah," jawab Rayhan dengan ekspresi datar.

"J-Joko Susanto...." jawab Cita terbata-bata.

"Ngapaian kalian mojok di situ?! Mau kabur dan mempermalukan desa kami?" teriak Mak Gonjreng.

Rayhan mengabaikannya lalu mengangguk paham atas jawaban Cita. Ia lalu berbalik kembali menghadap para warga dan Pak RT yang sudah menunggu dengan tak sabaran. "Pak RT, kami setuju. Kami akan menikah."

"Bagus kalau begitu. Malam ini juga kalian ikut kami ke masjid," ucap Pak RT sembari mengangguk. Nampaknya pria paruh baya itu sudah lelah mengurusi masalah warganya ini.

"Tunggu. Malam ini?" tanya Cita kaget.

"Ya malam ini lah. Kan kita nggak tahu kalau kalian habis ini berzina lagi. Lebih baik nikahin sekarang biar nggak nambah dosa!" sahut Mak Gonjreng sewot.

"Tapi...." Cita hendak menolak. Namun Rayhan menggenggam tangannya.

"Kita turuti saja," bisik Rayhan singkat tanpa menoleh ke arahnya. Lalu genggaman tangan itu terlepas begitu saja.

Cita menoleh ke arah kamar. Ia tak ingin meninggalkan Zain, namun juga tak mau membawa bayi sekecil itu keluar malam-malam. Hingga tiba-tiba ada salah satu ibu-ibu yang mendekat. Seorang wanita paruh baya yang merupakan istri dari Pak RT.

"Biar Zain, Ibu yang tunggu," ujar wanita itu.

Cita akhirnya pasrah. Wanita muda itu pun segera pergi bersama Rayhan dan para warga ke masjid desa yang berjarak sekitar seratus meter dari kontrakan. Pak RT yang memimpin rombongan kecil itu. Cita mengusap air matanya. Dadanya bergemuruh. Ia berjalan di samping Rayhan yang melangkah dengan tegap, berbeda dengan dirinya yang berjalan membungkuk karena rasa malu dan bersalah.

"Semua ini gara-gara kamu, Mas," bisiknya pelan tapi masih tertangkap telinga Rayhan.

Suasana masjid malam itu terasa begitu dingin dan hening saat rombongan kecil itu tiba, sangat kontras dengan keributan yang baru saja terjadi di depan kontrakan Cita. Lampu utama masjid kembali dinyalakan, memancarkan cahaya putih yang menyinari karpet hijau tempat mereka berkumpul. Ustadz Abdul, ustadz desa setempat, sudah dibangunkan oleh salah satu warga dan kini duduk bersila di hadapan Rayhan dan Pak RT.

Meski tempat ibadah ini suci, bisik-bisik tetangga tidak lantas berhenti. Di barisan belakang, Mak Gonjreng dan kelompok tukang julidnya masih sibuk bergunjing dengan suara setengah berbisik yang sengaja dikeraskan.

"Lihat tuh, Mbak Cita bukannya sedih malah kelihatannya pasrah aja. Dasar emang dari awal pengen dapet bujang gratisan," bisik Mak Gonjreng pada ibu di sebelahnya.

"Iya, lagian aneh banget kan, si Rayhan pengangguran begitu langsung mau aja disuruh nikah. Fix pasti emang udah lama kumpul kebo tuh di dalam kontrakan. Mereka pindah ke sini juga paling biar nggak ketahuan sama tetangganya dulu," sahut ibu-ibu lain sambil tersenyum sinis.

"Betul itu. Lagian udah janda gatel lagi. Gimana nanti kalau sebenarnya Zain anak pria nggak jelas, bukan anak kandung Mas Rayhan?"

"Duh mainnya begitu, ya? Mentang-mentang janda mintanya dipuasin mulu."

"Janda gatel."

Cita menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menulikan telinganya. Air matanya kembali menetes meresap ke dalam kain mukena yang ia pinjam dari masjid. Di sebelahnya, Rayhan mengepalkan tangannya, menahan amarah yang kembali membakar dada mendengar ocehan warga di belakang mereka. Namun, ia tahu, kekerasan tidak akan menyelesaikan apa pun saat ini.

"Ibu-ibu tolong berhenti bergunjing," tegur Ustadz Abdul dengan tegas namun lembut. Ibu-ibu yang sedang asyik bergosip itu pun akhirnya diam namun masih saja menatap sinis ke arah Cita. 

Bagaimana tidak sinis? Mereka sendiri sudah lama tidak menyukai Cita yang berstatus Janda Cantik. Mereka takut suami mereka yang akan mendekati Cita.

"Mari kita mulai." Suara lembut Ustadz Abdul kembali memecah suasana tegang tersebut. Beliau menatap Rayhan dengan pandangan teduh, lalu beralih ke Pak RT yang bertindak sebagai wali hakim karena ayah Cita telah tiada.

Prosesi pernikahan siri itu berlangsung sangat sederhana dan serba cepat. Tanpa dekorasi bunga, tanpa gaun pengantin, dan tanpa tawa bahagia. Cita hanya mengenakan daster rumahan tertutup mukena putih, sementara Rayhan masih mengenakan kemeja biru muda dan celana kain panjang yang ia pakai sejak tadi siang.

"Mas Rayhan sudah siap?" tanya Ustadz Abdul sembari mengulurkan tangan kanannya.

Rayhan mengangguk dan menjabat tangan sang ustadz.

Akhirnya setelah mengucapkan ikrar, pasangan itu pun sah menjadi suami istri.

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kawin Grebek   6. Mahar Seratus Ribu

    Proses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam."Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian.""Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.Begitu Pak

  • Kawin Grebek   5. Bertanggungjawab

    "Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu."Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. "Eh, tunggu!"Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontr

  • Kawin Grebek   4. Satu Atap

    "Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai."Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.Sesampainya di depan kontrakan yang juga merup

  • Kawin Grebek   3. Sah Menikah

    "Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan."Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam."Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius."Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu ma

  • Kawin Grebek   2. Dituduh Berzina

    Cita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya. "Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-" "Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju. Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya. Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam. "Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak

  • Kawin Grebek   1. Kena Grebek

    "Oekkk oekkk oekkk!" Malam semakin larut di Desa Geger, namun tangisan bayi di dalam kontrakan petak berukuran empat kali enam meter itu belum juga reda. Cita, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tampak kelelahan. Ia terus menimang Zain, bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terus saja menangis. Cita sudah berusaha menenangkannya mulai dari memberikan susu formula, membalurkan minyak telon, sampai menimang-nimang dan bernyanyi untuk Zain. Namun, bayi mungil itu tak kunjung diam, membuatnya semakin kerepotan. "Zain, Sayang. Tolong berhenti menangis... Zain anak baik bobok ya...." ucap Cita frustasi. Cita sama sekali tidak memiliki pengalaman merawat bayi sebelumnya. Apalagi Zain bukanlah anak kandung Cita. Bayi itu adalah anak kakaknya yang meninggal dunia usai melahirkan. Demi merawat satu-satunya peninggalan sang kakak, Cita rela merantau dan menyewa kontrakan sederhana ini. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jela

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status