LOGINSetelah seluruh proses pernikahan dadakan itu selesai, Cita benar-benar telah menjadi istri Rayhan di mata agama. Namun, rupanya masalah mereka belum berakhir sampai di sana.
“Karena kalian sudah sah sebagai suami istri, besok kalian harus ikut saya ke KUA,” tegas Pak RT. “Pernikahan ini harus segera didaftarkan secara resmi agar sah di mata hukum negara dan tidak menimbulkan masalah baru.” Cita menatapnya dengan mata sembap. Menikah siri saja sudah cukup membuat hidupnya berantakan, kini ia harus mengurus pernikahan resmi pula. “Tapi, Pak—” “Tidak ada tapi-tapi,” potong Pak RT. “Ini demi kebaikan kamu dan Zain. Saya juga tidak mau Rayhan lepas tangan setelah keadaan tenang. Dengan buku nikah, dia punya kewajiban hukum untuk menafkahi kalian.” Rayhan yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk. “Baik, Pak. Besok kami ke KUA. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab.” “Bagus!” seru Mak Gonjreng dari belakang. “Biar si pengangguran ini nggak bisa kabur begitu saja!” Pak RT mengangkat tangannya, memberi isyarat wanita tukang gosip itu diam. Ia kembali menatap Rayhan dan Cita. "Satu hal lagi. Mulai malam ini, kalian berdua wajib tinggal dalam satu kontrakan. "Apa?!" Cita dan Rayhan sama terkejutnya dengan keputusan sepihak ini. Sudah cukup mereka kaget dengan penggrebekan, pernikahan dadakan, kini mereka disuruh tinggal bersama. "Kalian sudah sah menikah, jadi tidak baik kalau kalian pisah tempat tinggal. Lagi pula ukuran satu kontrakan cukup untuk kalian bertiga tinggali. Ini demi menjaga nama baik kalian berdua dan juga warga sekitar," papar Pak RT dengan tenang namun tetap tegas. "Besok juga silakan Mas Rayhan pindahkan semua barang-barang Mas ke kontrakan Mbak Cita," lanjut Pak RT. "Kenapa harus saya?" tanya Rayhan merasa tak adil dengan keputusan ini. "Karena nggak mungkin Mbak Cita yang punya bayi pindahan," jawab Pak RT. Jantung Cita seakan berhenti berdetak. Tinggal seatap dengan Rayhan yang selalu berdebat dengannya? "Pak RT, apa tidak sebaiknya...." Cita mencoba menawar dengan suara bergetar. "Keputusan ini demi menjaga ketertiban lingkungan," tegas Pak RT tak mau diganggu gugat. "Sekarang sudah larut malam. Silakan kalian berisitirahat. Besok siang siapkan berkas untuk mengurus surat nikah di KUA." Mak Gonjreng dengan wajah mengejeknya berjalan menjauh sambil sesekali menoleh sinis ke arah kontrakan Cita dan masuk ke dalam rumahnya. Dalam beberapa menit, halaman kecil itu kembali sepi. Pak RT dan istrinya juga pamit setelah memastikan situasi aman. Kini, tinggal Cita dan Rayhan yang berdiri kaku di teras kontrakan mereka yang berdempetan. "Masuklah. Besok kita bahas lagi," kata Rayhan, memecah keheningan sementara yang terjadi di antara mereka. Suaranya juga terdengar lelah. Cita tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan masuk ke dalam kontrakan berukuran empat kali enam meter itu, diikuti oleh Rayhan yang melangkah pelan di belakangnya. "Kok kamu ikutan masuk?" tanya Cita kaget karena ternyata pria itu mengikutinya di belakang. Kedua alisnya saling bertaut saat menatap ke arah tetangga kontrakan yang kini menjadi suami dadakan. "Kamu tidak dengar kata Pak RT tadi? Kita harus mulai tinggal satu atap," sahut Rayhan datar. “Tapi kasurnya cuma satu. Itu saja cukup untuk aku sama Zain,” protes Cita kesal. Rayhan melirik ruang tamu yang hanya beralaskan tikar. Ia menghela napas. Setelah seharian dikejar-kejar sampai desa dan sekarang harus menikah dadakan, rasanya tidur di tikar bukan masalah besar. “Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimut dulu.” "Eh, tunggu!" Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar. Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontrakan yang dihuni Rayhan. Ruang tamu kecil itu terasa amat sempit sekarang. Rayhan ikut duduk berhadapan dengan Cita yang menatapnya dengan kesal. “Ini semua gara-gara kamu, Mas. Kenapa tadi sembunyi di sini? Kenapa nggak di kontrakanmu sendiri?” "Iya, aku salah, oke. Tapi aku tadi benar-benar panik dan nggak sempat mengeluarkan kunci kontrakanku sendiri," jawab Rayhan dengan tatapan tajam. Cita mendengus. “Tapi kenapa kamu setuju sampai sejauh ini? Menikah siri saja sudah gila. Sekarang malah harus daftar ke KUA dan tinggal serumah. Kita ini nggak saling mencintai. Kita bahkan hampir setiap hari berantem!” Rayhan menghela napas. “Memangnya aku punya pilihan lain? Kamu lihat sendiri bagaimana warga tadi. Kalau kita menolak, besok bisa saja kita diusir atau dipermalukan keliling desa. Kamu mau digiring di jalan sambil bawa Zain?” “Tapi Zain sebenarnya bukan—” “Aku tahu!” potong Rayhan cepat sambi bergeser sedikit mendekat. Tatapannya tetap serius, tetapi suaranya lebih tenang. “Aku tahu Zain bukan anakku. Aku juga tahu kamu bukan perempuan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi semua ini terjadi karena aku masuk ke kontrakanmu malam ini. Jadi, sudahlah aku akan bertanggung jawab.” “Lalu kenapa harus sampai menikah dan tinggal serumah?” “Supaya mulut mereka berhenti.” Rayhan menyandarkan punggungnya ke dinding. “Anggap saja kita jalani ini sampai keadaan tenang. Setelah semuanya aman, kita bisa urus perceraian secara baik-baik.” Cita terdiam sambil meremas ujung dasternya. Entah kenapa, mendengar Rayhan bicara soal perceraian bahkan sebelum mereka sempat menjalani kehidupan sebagai suami istri justru membuatnya semakin kesal. ***Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja
"Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin
Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp
"Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny
Drrrt drrrt drrrt Suara getaran alarm ponsel membangunkan Cita. Wanita itu langsung membuka mata dan meraih ponselnya sebelum mematikan suara berisik itu."Mas Rayhan?" panggilnya pelan saat menyadari suaminya sudah tidak berada di sampingnya.Cita segera duduk sembari mengikat rambutnya. Ia lalu memeriksa Zain terlebih dahulu, memastikan bayi kecil itu masih terlelap sebelum keluar kamar untuk mencari suaminya."Mas...?" panggil Cita pelan. Wanita itu melangkah keluar sembari mencari. Lalu ia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.'Apakah Mas Rayhan melakukannya sendiri lagi?' gumam wanita itu dalam hati. Kedua pipinya mulai terasa panas saat teringat Rayhan mendesah memanggil namanya.Cita membeku di tempatnya. Ia memilih kembali ke kamar, membiarkan Rayhan yang sedang menuntaskan hasratnya sendirian sebelum ia harus bersiap-siap pergi bekerja ke pasar pagi ini.Cita duduk di tepi tempat tidur dengan kedua pipi yang kembali memanas. Rasa malu d
Suara tangisan Zain langsung merusak suasana romantis kedua orang tuanya. Sensasi panas dan kehangatan yang baru saja membakar tubuh Rayhan dan Cita seketika menguap, berganti dengan keheningan yang serba salah."Ehem. Zain kebangun," deham Rayhan.Tangan pria itu yang tadinya tengah menarik naik kain daster Cita mendadak terhenti di atas perut mulus istrinya. Gerakan tangannya membeku. Pria dewasa itu mengeratkan rahangnya, menahan gejolak gairah yang sedang berada di puncak tinggi namun terpaksa harus dipadamkan secara mendadak.Rayhan menarik napas panjang, berjuang menguasai emosinya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Sebuah senyuman paksa pun terkembang di bibirnya saat ia menolehkan kepala ke arah sumber suara tangisan.Di bawah kungkungan Rayhan, Cita juga terdiam kaku. Matanya terpejam sejenak sebelum perlahan terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Pipinya yang tadi memerah padam karena rasa malu dan gairah kini terasa semakin p







