Home / Romansa / Kawin Grebek / 5. Bukan Anak Haram

Share

5. Bukan Anak Haram

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-09-09 15:12:29

Gerakan tangan Cita yang sedang menyuapkan nasi ke mulut seketika terhenti. Tatapannya kosong sesaat setelah mendengar pertanyaan Rayhan.

“Bukan urusan kamu,” jawab Cita dingin sebelum kembali menyendok nasi.

Rayhan yang duduk di hadapannya mengerutkan kening. “Aku cuma tanya. Ayahnya Zain masih hidup atau sudah meninggal?”

Cita menghela napas panjang. “Masih hidup.”

“Dia pernah kirim uang buat kalian?”

Cita hanya menggeleng pelan. Tangannya kembali bergerak menyuapkan nasi, seolah ingin mengakhiri percakapan.

“Dasar bodoh.” Rayhan meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar. “Kamu seharusnya minta pertanggungjawabannya. Minimal buat biaya hidup Zain. Jangan semua kamu tanggung sendiri sampai kamu yang repot dan menderita. Lagian Zain itu anak kalian, bukan anakmu seorang.”

Cita menatap nasi di piringnya. “Sudahlah. Itu nggak penting.”

“Nggak penting?” Rayhan mendengus. Nada suaranya mulai terdengar kesal. “Atau jangan-jangan... sebenarnya kamu memang nggak tahu siapa ayah Zain, seperti yang digosipkan Mak Gonjreng?”

Tangan Cita kembali terhenti. Suasana di antara mereka mendadak sunyi.

“Zain ... punya ayah,” ucap Cita lirih tanpa mengangkat wajah.

“Kalau begitu, hubungi suamimu itu.” Rayhan menyandarkan punggungnya pada dinding sambil menatap Cita. “Sebagai seorang ibu, kamu nggak seharusnya menanggung semuanya sendirian. Bukannya aku nggak mau menafkahi Zain, tapi—”

“Aku nggak tahu siapa ayah Zain.”

Ucapan Cita yang tiba-tiba memotong membuat Rayhan terdiam.

Cita meletakkan sendoknya perlahan. Wajahnya menegang saat menatap Rayhan. “Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Mas Rayhan. Zain bukan anak haram seperti yang digosipkan.”

Rayhan tertegun melihat kemarahan yang begitu dalam di mata wanita itu.

“Aku tahu,” ujarnya lebih pelan. “Di dunia ini nggak ada yang namanya anak haram.”

“Kalau begitu, jangan pernah tanya asal-usul Zain lagi.” Cita menarik napas panjang, lalu bangkit sambil membawa piringnya. “Aku nggak mau membicarakannya.”

Ia membawa piring ke dapur dan meninggalkan Rayhan yang masih terdiam di tempat.

Rayhan hanya mengembuskan napas. Ia tidak menyangka pertanyaannya bisa membuat Cita semarah itu.

Sementara itu, Cita masuk ke kamar dan menutup pintu. Setelah bersandar di baliknya, ia mengepalkan kedua tangan. Dadanya terasa sesak ketika ingatannya kembali pada masa lalu.

Sebenarnya, Cita tahu betul siapa ayah kandung Zain. Ia tahu nama lengkap dan wajah pria itu meski hanya pernah melihatnya lewat foto.

Pria itu adalah suami mendiang kakaknya sendiri. Pria tidak bertanggung jawab yang telah menghancurkan hidup kakaknya, meninggalkannya saat kandungannya sudah tua, hingga membuat wanita itu menderita dan akhirnya mengembuskan napas terakhir sesaat setelah melahirkan Zain.

Cita memejamkan mata, menahan kebencian yang kembali membuncah.

'Aku nggak akan biarin pria itu menemukan Zain...' gumam Cita dalam hati.

Cita berjalan dengan langkah gontai menuju tepi kasur. Kamar kecil berukuran tiga kali dua meter itu terasa begitu sesak, seolah udara di dalamnya tersedot habis oleh rasa sakit yang tiba-tiba kembali muncul dari ingatan masa lalunya.

Cita meraih ponselnya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka galeri foto yang tersimpan rapi. Matanya kini tertuju pada sebuah foto yang diambil beberapa bulan yang lalu.

Di dalam foto itu, tampak seorang wanita cantik tersenyum manis dengan perut besar sedang merangkul bahu Cita. Wanita itu adalah Indah, kakak kandungnya. Indah tersenyum begitu ceria ke arah kamera, matanya berbinar penuh harapan karena menyambut kelahiran buah hati yang dikandungnya. Namun Cita juga ingat betul bagaimana suami kakaknya pergi begitu saja tanpa kabar.

Dada Cita semakin sesak. Kenangan pahit kembali berputar di kepalanya. Senyum Indah di foto itu adalah senyuman terakhir yang masih bisa diabadikan. Tanpa bisa ditahan lagi, pertahanan Cita akhirnya runtuh. Air matanya menetes, membasahi layar ponselnya. Saat menangis, ia menutup mulutnya, menahan agar suara isakannya tidak membangunkan Zain yang sudah tidur.

Tok tok tok

Ketukan pelan di pintu kamar membuat Cita terperanjat. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas kasur.

"Cita?" Suara Rayhan terdengar ragu dari balik pintu kayu. "Kamu belum tidur, kan?"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kawin Grebek   92. Berubah Manja

    Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja

  • Kawin Grebek   91. Wasiat

    "Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin

  • Kawin Grebek   90. Jangan Jumawa

    Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp

  • Kawin Grebek   89. Tak Bisa Menahan Diri

    "Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny

  • Kawin Grebek   88. Kebiasaan Baru Rayhan

    Drrrt drrrt drrrt Suara getaran alarm ponsel membangunkan Cita. Wanita itu langsung membuka mata dan meraih ponselnya sebelum mematikan suara berisik itu."Mas Rayhan?" panggilnya pelan saat menyadari suaminya sudah tidak berada di sampingnya.Cita segera duduk sembari mengikat rambutnya. Ia lalu memeriksa Zain terlebih dahulu, memastikan bayi kecil itu masih terlelap sebelum keluar kamar untuk mencari suaminya."Mas...?" panggil Cita pelan. Wanita itu melangkah keluar sembari mencari. Lalu ia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.'Apakah Mas Rayhan melakukannya sendiri lagi?' gumam wanita itu dalam hati. Kedua pipinya mulai terasa panas saat teringat Rayhan mendesah memanggil namanya.Cita membeku di tempatnya. Ia memilih kembali ke kamar, membiarkan Rayhan yang sedang menuntaskan hasratnya sendirian sebelum ia harus bersiap-siap pergi bekerja ke pasar pagi ini.Cita duduk di tepi tempat tidur dengan kedua pipi yang kembali memanas. Rasa malu d

  • Kawin Grebek   87. Ini Bukan Salahmu

    Suara tangisan Zain langsung merusak suasana romantis kedua orang tuanya. Sensasi panas dan kehangatan yang baru saja membakar tubuh Rayhan dan Cita seketika menguap, berganti dengan keheningan yang serba salah."Ehem. Zain kebangun," deham Rayhan.Tangan pria itu yang tadinya tengah menarik naik kain daster Cita mendadak terhenti di atas perut mulus istrinya. Gerakan tangannya membeku. Pria dewasa itu mengeratkan rahangnya, menahan gejolak gairah yang sedang berada di puncak tinggi namun terpaksa harus dipadamkan secara mendadak.Rayhan menarik napas panjang, berjuang menguasai emosinya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Sebuah senyuman paksa pun terkembang di bibirnya saat ia menolehkan kepala ke arah sumber suara tangisan.Di bawah kungkungan Rayhan, Cita juga terdiam kaku. Matanya terpejam sejenak sebelum perlahan terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Pipinya yang tadi memerah padam karena rasa malu dan gairah kini terasa semakin p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status