Início / Romansa / Kawin Grebek / 5. Bertanggungjawab

Compartilhar

5. Bertanggungjawab

Autor: Rizu Key
last update Data de publicação: 2026-09-09 15:12:29

"Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.

Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu.

"Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. 

"Eh, tunggu!"

Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. 

Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.

Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontrakan yang dihuni Rayhan. Ruang tamu kecil itu terasa amat sempit sekarang.

Rayhan ikut duduk berhadapan dengan Cita.

"Ini semua gara-gara kamu, Mas. Kenapa kamu malah sembunyi di sini? Bukan di kontrakanmu?" protes Cita kembali membahas masalah mereka.

"Aku salah, oke. Tapi aku tadi benar-benar panik dan nggak sempat mengeluarkan kunci kontrakanku sendiri," jawab Rayhan dengan tatapan tajam.

Cita mengusap air matanya yang kembali jatuh dengan kasar. Ditatapnya Rayhan dengan tatapan penuh dengan amarah yang meluap.

"Tapi kenapa, Mas? Kenapa kamu harus setuju sampai sejauh ini...?" bisik Cita penuh penekanan, takut membangunkan Zain. "Menikah siri saja sudah gila, sekarang kamu malah setuju buat daftar ke KUA dan tinggal serumah! Kita ini nggak saling mencintai, Mas. Kita bahkan nggak pernah akur...."

Rayhan menghela napas panjang, meraup wajahnya yang tampak lesu itu. "Kamu pikir aku punya pilihan lain, Cita? Kamu lihat sendiri tadi bagaimana warga memojokkan kita. Kalau aku menolak, besok kita bakal diusir dari desa ini. Parahnya diarak keliling desa. Kamu mau diarak di jalan sambil bawa anakmu?"

"Tapi Zain sebenarnya bukan...."

"Aku tahu!" potong Rayhan cepat sebelum Cita menyelesaikan kalimatnya. Rayhan menggeser tempat duduknya sedikit ke tengah hingga Cita bisa merasakan aura dominan dari pria pengangguran itu. "Aku tahu ini salahku. Makanya maaf...." cicitnya sembari menatap lurus ke arah Cita.

"Meski Zain bukan anakku, tapi aku tahu kamu bukan perempuan seperti yang dituduhkan warga. Aku bakalan tanggung jawab atas kesalahanku," lanjutnya.

Cita tertegun. Pandangannya terkunci pada manik mata Rayhan yang berkilat serius di bawah remang lampu ruang tamunya.

"Lalu kenapa kamu mau melakukan sampai sejauh ini?" cicit Cita.

"Karena aku sadar ini salahku," jawab Rayhan pelan. "Kalau saja malam ini aku nggak masuk ke kontrakanmu, kita nggak akan digrebek seperti ini."

Rayhan menatap wajah Cita yang pucat. "Soal pendaftaran di KUA dan tinggal seatap, anggap saja ini untuk meredam mulut warga. Setelah semuanya tenang, situasinya juga aman, dan Zain agak besar, kita bisa cerai baik-baik secara hukum nanti."

Cita meremas kain dasternya.

"Aku nggak meminta apa-apa darimu, Cita," tambah Rayhan lagi, suaranya berubah melembut. "Aku hanya butuh tempat untuk bertahan sebentar, dan kamu butuh perlindungan untuk Zain. Kita saling memanfaatkan keadaan ini."

Cita menatap Rayhan cukup lama. Dengan helaan napas berat dan kepasrahan yang tersisa, Cita akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?" tanya Rayhan.

"Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin," tegas Cita.

Bibir Rayhan terangkat sedikit. Ia pun mengangguk pelan. "Setuju. Sekarang tidurlah. Aku udah ngantuk."

Rayhan menata bantal dan segera berbaring tepat di depan Cita. Dengan sengaja ia mendorong Cita dengan bahunya agar segera pergi.

"Ck." Cita berdecak pelan sebelum masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Zain yang masih tertidur lelap.

*

Hari berikutnya, saat matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, Rayhan yang tertidur lelap beralaskan tikar tipis mulai terbangun. Pria itu menggeliat pelan, meringis merasakan punggungnya yang pegal. Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran penuh, suara tangis nyaring dari dalam kamar langsung membangunkannya secara paksa.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Cita keluar dengan wajah bangun tidur dan rambut sedikit berantakan sambil menggenggam botol bayi. Langkahnya terhenti ketika matanya berpapasan dengan Rayhan yang masih berbaring dan mengucek kedua matanya.

"Ck. Lupa kalau ada dia," gumamnya pelan.

Cita enggan menyapa, lalu berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan untuk menyeduh air panas. Dalam diam ia membiarkan susu formula untuk Zain yang masih menangis.

Kruuukkk

Tiba-tiba terdengar suara perut lapar yang cukup panjang. Cita menoleh menatap Rayhan yang kini memegangi perutnya.

'Laper banget lagi. Lupa semalam belum makan gara-gara tuh banci,' gumam Rayhan dalam hati sembari duduk dan meregangkan otot-ototnya.

"Kalau lapar, Mas bisa buat mi instan di lemari. Kalau nggak mau ya beli," ucap Cita tanpa menoleh, sibuk membuat susu untuk bayinya.

"Hm," sahut Rayhan singkat.

Pria itu bangkit dan melipat selimutnya. "Oh iya. Jangan lupa siapin berkas buat dibawa ke KUA," lanjut Rayhan sembari mendongak menatap Cita yang sudah berjalan kembali ke kamarnya.

"Iya tahu," jawab Cita singkat.

Cita langsung membuka lemari plastik dan mengeluarkan map berisi dokumen-dokumen penting miliknya. Saat mencari dokumen yang dibutuhkan, ia terdiam sejenak ketika jemarinya menemukan ijazah terakhirnya. Ada rasa sesak di dadanya. Jika bukan karena mengurus Zain, mungkin ia bisa melanjutkan kuliah sampai S2.

"Cit."

Cita terlonjak. Ia menoleh ke arah pintu. Rayhan sudah berdiri dan sedang menatapnya di luar kamar.

"Apa?"

"Aku mau ambil berkasku sama pindahin barangku ke sini," jawab Rayhan kemudian.

"Iya," sahut Cita. Cepat-cepat ia menyembunyikan ijazah kuliahnya.

*

Pagi itu setelah sarapan, Cita membawa Zain berjemur di depan kontrakan, sementara Rayhan mulai sibuk memindahkan barang-barangnya ke dalam kontrakan Cita. Saat pria itu sibuk, Mak Gonjreng sudah berdiri di depan pintu rumahnya sambil menggenggam sapu lidi untuk menyapu halaman.

"Aduh, pengantin baru pagi-pagi udah repot banget!" seru Mak Gonjreng dengan nada menyindir yang khas. "Jangan lupa nikah di KUA, biar nggak bikin dosa serumah. Tapi ya ampun, kasihan banget ya Mbak Cita. Udah repot rawat bayi, eh sekarang cuma dapet pengangguran!"

Cita langsung tersinggung dengan kedua tangan terkepal.

"Udah biarin aja. Dia emang suka bikin ribut," ucap Rayhan menenangkan. Ia berhenti sejenak di dekat Cita dan wanita cantik itu hanya mendengus kesal.

Tepat jam satu siang, Pak RT datang bersama Ustadz Abdul dan dua orang warga setempat yang ditunjuk sebagai saksi. Mereka pun segera menuju ke KUA setempat.

Dengan menggendong Zain yang tertidur di dadanya, Cita melangkah keluar bersama Rayhan. Sepanjang perjalanan menuju kantor KUA menggunakan angkutan umum yang disewa Pak RT, tak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka. Rayhan hanya menatap jalanan dari balik jendela, sementara Cita terus memeluk Zain erat-erat.

***

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kawin Grebek   6. Mahar Seratus Ribu

    Proses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam."Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian.""Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.Begitu Pak

  • Kawin Grebek   5. Bertanggungjawab

    "Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu."Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. "Eh, tunggu!"Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontr

  • Kawin Grebek   4. Satu Atap

    "Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai."Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.Sesampainya di depan kontrakan yang juga merup

  • Kawin Grebek   3. Sah Menikah

    "Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan."Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam."Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius."Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu ma

  • Kawin Grebek   2. Dituduh Berzina

    Cita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya. "Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-" "Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju. Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya. Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam. "Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak

  • Kawin Grebek   1. Kena Grebek

    "Oekkk oekkk oekkk!" Malam semakin larut di Desa Geger, namun tangisan bayi di dalam kontrakan petak berukuran empat kali enam meter itu belum juga reda. Cita, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tampak kelelahan. Ia terus menimang Zain, bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terus saja menangis. Cita sudah berusaha menenangkannya mulai dari memberikan susu formula, membalurkan minyak telon, sampai menimang-nimang dan bernyanyi untuk Zain. Namun, bayi mungil itu tak kunjung diam, membuatnya semakin kerepotan. "Zain, Sayang. Tolong berhenti menangis... Zain anak baik bobok ya...." ucap Cita frustasi. Cita sama sekali tidak memiliki pengalaman merawat bayi sebelumnya. Apalagi Zain bukanlah anak kandung Cita. Bayi itu adalah anak kakaknya yang meninggal dunia usai melahirkan. Demi merawat satu-satunya peninggalan sang kakak, Cita rela merantau dan menyewa kontrakan sederhana ini. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jela

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status