Home / Romansa / Kawin Grebek / 4. Satu Atap

Share

4. Satu Atap

Author: Rizu Key
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-09 15:10:48

"Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.

Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai.

"Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.

Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.

Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.

Sesampainya di depan kontrakan yang juga merupakan milik sang ketua RT, Bu RT keluar dari dalam, meninggalkan Zain yang masih tidur.

Cita bergegas melangkah mendekat, dadanya masih terasa sesak. "Apa Zain kebangun, Bu?" tanya wanita muda itu.

"Nggak kok, Mbak. Zain dari tadi tidur anteng," jawab Bu RT tenang.

"Terima kasih banyak sudah mau menjaga Zain, Bu," ucap Cita terdengar lelah.

"Sama-sama, Mbak Cita," jawab Bu RT dengan senyum tipis dan segera berdiri di samping suaminya.

Pak RT melangkah maju sebelum Cita dan Rayhan kembali masuk ke dalam kontrakan. Pria paruh baya itu memanggil mereka berdua.

"Mas Rayhan, Mbak Cita...."

Cita berbalik, begitu pula dengan Rayhan. Pak RT pun mendekati mereka berdua dengan punggung tegapnya.

"Karena sekarang kalian berdua sudah sah secara agama, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tapi masalah ini belum benar-benar selesai," tegas Pak RT.

Cita mendongak, matanya yang sembap menatap pria paruh baya itu. "Maksud Pak RT bagaimana? Bukankah kita sudah menikah? Ini kan sudah sesuai dengan tuntutan warga," sahutnya.

Pak RT beralih menatap Rayhan dengan tajam. "Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang atau ada fitnah baru di desa kita lagi. Besok kalian berdua harus ikut saya ke kantor KUA. Pernikahan ini harus segera didaftarkan secara resmi di mata hukum negara!" tegasnya.

"Tapi, Pak...." Cita hendak menyela. Menikah siri saja sudah menjadi kejutan besar dalam hidupnya, kini malah harus meresmikannya secara hukum.

"Tidak ada 'tapi', Mbak," potong Pak RT tegas. "Ini juga demi kebaikan Mbak dan Zain. Saya tidak mau Mas Rayhan nanti lepas tanggung jawab begitu saja dan meninggalkan Mbak setelah situasi tenang. Kalau ada buku nikah resmi, Mas Rayhan punya kewajiban hukum untuk menafkahi Mbak dan anak Mbak Cita. Mas Rayhan paham, kan?"

Rayhan yang sejak tadi berdiri diam hanya mengangguk pelan. Wajahnya tetap datar, tapi ia tidak menolak. "Baiklah, Pak RT. Besok kami akan ke KUA. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab."

Mak Gonjreng yang belum masuk ke dalam rumahnya sejak tadi menyimak dengan sikap bersedekap sambil mencibir keras. "Bagus itu, Pak RT! Biar si pengangguran ini nggak bisa kabur! Awas saja kalau cuma mau enaknya aja tapi nggak mau kasih makan janda dan anaknya!"

Pak RT mengangkat tangannya, memberi isyarat wanita tukang gosip itu diam. Ia kembali menatap Rayhan dan Cita. "Satu hal lagi. Mulai malam ini, kalian berdua wajib tinggal dalam satu kontrakan.

"Apa?!" Cita dan Rayhan sama terkejutnya dengan keputusan sepihak ini. Sudah cukup mereka kaget dengan penggrebekan, pernikahan dadakan, kini mereka disuruh tinggal bersama.

"Kalian sudah sah menikah, jadi tidak baik kalau kalian pisah tempat tinggal. Lagi pula ukuran satu kontrakan cukup untuk kalian bertiga tinggali. Ini demi menjaga nama baik kalian berdua dan juga warga sekitar," papar Pak RT dengan tenang namun tetap tegas.

"Besok juga silakan Mas Rayhan pindahkan semua barang-barang Mas ke kontrakan Mbak Cita," lanjut Pak RT.

"Kenapa harus saya?" tanya Rayhan merasa tak adil dengan keputusan ini.

"Karena nggak mungkin Mbak Cita yang punya bayi pindahan," jawab Pak RT.

Jantung Cita seakan berhenti berdetak. Tinggal seatap dengan Rayhan yang selalu berdebat dengannya?

"Pak RT, apa tidak sebaiknya...." Cita mencoba menawar dengan suara bergetar.

"Keputusan ini demi menjaga ketertiban lingkungan," tegas Pak RT tak mau diganggu gugat. "Sekarang sudah larut malam. Silakan kalian berisitirahat. Besok siang siapkan berkas untuk mengurus surat nikah di KUA."

Mak Gonjreng dengan wajah mengejeknya berjalan menjauh sambil sesekali menoleh sinis ke arah kontrakan Cita dan masuk ke dalam rumahnya. Dalam beberapa menit, halaman kecil itu kembali sepi.

Pak RT dan istrinya juga pamit setelah memastikan situasi aman. Kini, tinggal Cita dan Rayhan yang berdiri kaku di teras kontrakan mereka yang berdempetan.

"Masuklah. Besok kita bahas lagi," kata Rayhan, memecah keheningan sementara yang terjadi di antara mereka. Suaranya juga terdengar lelah.

Cita tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan masuk ke dalam kontrakan berukuran empat kali enam meter itu, diikuti oleh Rayhan yang melangkah pelan di belakangnya.

"Kok kamu ikutan masuk?" tanya Cita kaget karena ternyata pria itu mengikutinya di belakang. Kedua alisnya saling bertaut saat menatap ke arah tetangga kontrakan yang kini menjadi suami dadakan.

"Kamu tidak dengar kata Pak RT tadi? Kita harus mulai tinggal satu atap," sahut Rayhan datar.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kawin Grebek   6. Mahar Seratus Ribu

    Proses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam."Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian.""Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.Begitu Pak

  • Kawin Grebek   5. Bertanggungjawab

    "Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu."Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. "Eh, tunggu!"Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontr

  • Kawin Grebek   4. Satu Atap

    "Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai."Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.Sesampainya di depan kontrakan yang juga merup

  • Kawin Grebek   3. Sah Menikah

    "Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan."Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam."Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius."Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu ma

  • Kawin Grebek   2. Dituduh Berzina

    Cita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya. "Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-" "Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju. Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya. Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam. "Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak

  • Kawin Grebek   1. Kena Grebek

    "Oekkk oekkk oekkk!" Malam semakin larut di Desa Geger, namun tangisan bayi di dalam kontrakan petak berukuran empat kali enam meter itu belum juga reda. Cita, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tampak kelelahan. Ia terus menimang Zain, bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terus saja menangis. Cita sudah berusaha menenangkannya mulai dari memberikan susu formula, membalurkan minyak telon, sampai menimang-nimang dan bernyanyi untuk Zain. Namun, bayi mungil itu tak kunjung diam, membuatnya semakin kerepotan. "Zain, Sayang. Tolong berhenti menangis... Zain anak baik bobok ya...." ucap Cita frustasi. Cita sama sekali tidak memiliki pengalaman merawat bayi sebelumnya. Apalagi Zain bukanlah anak kandung Cita. Bayi itu adalah anak kakaknya yang meninggal dunia usai melahirkan. Demi merawat satu-satunya peninggalan sang kakak, Cita rela merantau dan menyewa kontrakan sederhana ini. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jela

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status