LOGIN"Aku nggak meminta apa-apa darimu, Cita," tambah Rayhan lagi, suaranya berubah melembut. "Aku hanya butuh tempat untuk bertahan sebentar, dan kamu butuh perlindungan untuk Zain. Kita saling memanfaatkan keadaan ini."
Cita menatap Rayhan cukup lama. Dengan helaan napas berat dan kepasrahan yang tersisa, Cita akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi ada syaratnya." "Apa syaratnya?" tanya Rayhan. "Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin," tegas Cita. Bibir Rayhan terangkat sedikit. Ia pun mengangguk pelan. "Setuju. Sekarang tidurlah. Aku udah ngantuk." Rayhan menata bantal dan segera berbaring tepat di depan Cita. Dengan sengaja ia mendorong Cita dengan bahunya agar segera pergi. "Ck." Cita berdecak pelan sebelum masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Zain yang masih tertidur lelap. Hari berikutnya, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Rayhan terbangun karena suara tangis Zain. Ia menggeliat di atas tikar tipis, lalu meringis saat punggungnya terasa pegal. Tak lama, Cita keluar dari kamar sambil membawa botol bayi. Rambutnya masih berantakan dan wajahnya tampak mengantuk. Tanpa menyapa Rayhan, ia langsung menuju dapur kecil untuk membuat susu. “Kalau lapar, Mas bisa bikin mie di lemari. Kalau nggak mau, ya beli sendiri,” ujar Cita tanpa menoleh, tangannya tetap sibuk menyiapkan susu untuk Zain. Rayhan yang baru saja duduk sambil memegangi perutnya hanya menghela napas. “Semalam belum makan. Gara-gara kejadian sama banci itu, aku sampai lupa.” “Oh iya, jangan lupa siapin berkas yang dibawa ke KUA,” kata Rayhan mengingatkan, bangkit dan melipat selimutnya, lalu melirik Cita yang kembali masuk ke kamar. “Iya, nanti aku siapin.” Cita mengangguk singkat sebelum membuka lemari plastik di kamarnya. Saat mencari dokumen, jemari Cita berhenti pada ijazah terakhirnya. Tatapannya berubah murung. Jika bukan karena harus mengurus Zain, mungkin sekarang ia sudah melanjutkan kuliah hingga S2. “Cit.” Suara Rayhan dari ambang pintu membuat Cita tersentak. Ia buru-buru memasukkan ijazah itu kembali ke dalam map. “Ada apa?” tanyanya sambil menutup lemari. “Aku mau ambil berkas sama pindahin barang-barangku ke sini. Biar sekalian semuanya selesai hari ini,” jawab Rayhan sambil menunjuk ke luar. Cita mengangguk. “Ya sudah pindahin saja. Tapi jangan taruh barang sembarangan. Aku nggak suka rumah berantakan.” Rayhan terkekeh kecil. “Iya, Bu Bos. Aku juga nggak niat bikin rumahmu tambah berantakan.” Setelah sarapan, Cita membawa Zain berjemur di depan kontrakan, sementara Rayhan sibuk memindahkan barang-barangnya. Melihat mereka, Mak Gonjreng langsung melontarkan sindiran dari depan rumahnya. “Aduh, pengantin baru pagi-pagi sudah repot! Jangan lupa nikah di KUA, biar nggak dosa serumah. Kasihan Mbak Cita, sudah repot rawat bayi, sekarang dapatnya pengangguran!” Cita langsung mengepalkan tangan. Wajahnya memerah menahan kesal. “Sudah, jangan diladeni.” Rayhan menghentikan langkahnya dan melirik Cita. “Kalau diladeni, mulutnya malah makin panjang.” Cita mendengus sambil memalingkan wajah. Tepat pukul satu siang, Pak RT datang bersama Ustadz Abdul dan dua warga yang ditunjuk sebagai saksi. Mereka kemudian berangkat ke KUA menggunakan angkutan umum yang disewa Pak RT. Cita menggendong Zain yang tertidur di dadanya, sedangkan Rayhan duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam, sama-sama memandang ke luar jendela dengan pikiran masing-masing. Proses di KUA berlangsung cepat karena Pak RT sudah menghubungi pihak KUA terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas, Pak RT, dan para saksi, Rayhan kembali mengucapkan ijab kabul. Mas kawinnya pun sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya. Saat menyerahkan buku nikah, salah satu pegawai KUA sempat menatap Cita dengan pandangan aneh. Mereka tahu wanita itu masih muda dan belum pernah menikah, tetapi sudah memiliki seorang anak. Cita bisa merasakan ada penilaian dalam tatapan tersebut, tetapi ia memilih diam. “Tolong diingat, ya, Mas Rayhan, Mbak Cita.” Pak RT menatap mereka bergantian. “Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya harap setelah ini jangan bikin masalah lagi di kampung saya. Jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar aneh dari kontrakan kalian.” “Baik, Pak. Kami mengerti,” jawab Rayhan sambil mengangguk. Cita hanya mengangguk kecil. “Iya, Pak.” Setelah berpamitan, mereka pun meninggalkan KUA bersama Pak RT dan para saksi. Tak lama kemudian, rombongan itu kembali ke kampung dan berpisah di depan kontrakan. Cita baru saja hendak masuk sambil menggendong Zain ketika suara Mak Gonjreng terdengar dari depan rumahnya. Wanita itu rupanya sedang mengobrol dengan beberapa tetangga dan langsung melontarkan sindiran begitu melihat mereka. “Lihat tuh! Pengangguran dapat janda cantik cuma modal seratus ribu doang!” “Itu sih karena jandanya aja yang mau!” sahut salah satu tetangganya, disambut tawa kecil yang lain. Cita berusaha mengabaikannya, tetapi Mak Gonjreng kembali membuka mulut. “Kasihan Zain. Nanti gede dibilang apa? Jelas-jelas anak haram, malah dipaksa punya bapak baru yang nggak kerja begitu sama ibunya.” Kata-kata itu menghantam dada Cita. Langkahnya terhenti dan wajahnya seketika memerah. Tubuhnya gemetar, napasnya memburu menahan amarah dan sakit hati yang selama ini ia pendam. “Zain bukan anak haram!” seru Cita dengan suara bergetar. Mak Gonjreng dan kelompoknya tetap tak peduli. Rayhan yang melihat Cita mulai kehilangan kendali segera mendekat. "Sudahlah, kita masuk saja. Jangan pedulikan mereka," ajak Rayhan lembut sembari menarik Cita dan membawanya masuk ke dalam kontrakan. Malam itu, aroma asing menusuk hidung Rayhan saat ia terbangun dari lantai beralaskan tikar tipis. Di atas meja dapur, sudah tersaji piring berisi tumis kangkung dan telur goreng yang masih mengepulkan uap panas. Cita baru saja selesai memasak untuk makan malamnya. Rayhan hanya diam. Setelah menikah ia hanya makan mi instan saja. Malam ini pun sepertinya ia juga harus makan mi instan lagi untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. "Minggir," usir Cita tiba-tiba. Wanita muda itu menendang pelan kaki Rayhan. "Ck." Pria itu hanya berdecak pelan lalu segera duduk dan menyingkirkan bantalnya. "Lagian habis Maghrib kok tiduran," oceh Cita lagi sembari meletakkan tumis kangkung dan juga telur goreng di atas tikar. Rayhan pun melirik masakan sederhana itu dengan menelan ludahnya. "Sana ambilin nasi sama piring!" perintah Cita dengan sinisnya. "Kamu yang mau makan, kenapa malah menyuruhku?" dengus Rayhan kesal. Cita menatap wajah Rayhan. Jika dari jarak sedekat ini, bujang pengangguran itu memang terlihat jelas ketampanannya. Wajahnya dengan rahang tegas dan bersih, serta alis tebal dan mata tajam itu benar-benar potret yang sempurna. "Kamu mau makan nggak? Atau mau buat perutmu sakit gegara kebanyakan makan mi instan?" tanya Cita sinis. Rayhan kembali mendengus. "Tinggal bilang mau ngajak makan bareng aja apa susahnya?" "Ya udah cepet!" Rayhan tanpa kata lagi segera beranjak dan mengambil nasi serta piring untuk mereka berdua. Malam itu menjadi malam pertama bagi mereka makan bersama dalam suasana yang begitu sederhana. "Ayahnya Zain sebenarnya di mana?" tanya Rayhan tiba-tiba, suaranya datar namun terdengar menuntut dari ruang tamu kontrakan yang sempit itu. ***Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja
"Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin
Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp
"Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny
Drrrt drrrt drrrt Suara getaran alarm ponsel membangunkan Cita. Wanita itu langsung membuka mata dan meraih ponselnya sebelum mematikan suara berisik itu."Mas Rayhan?" panggilnya pelan saat menyadari suaminya sudah tidak berada di sampingnya.Cita segera duduk sembari mengikat rambutnya. Ia lalu memeriksa Zain terlebih dahulu, memastikan bayi kecil itu masih terlelap sebelum keluar kamar untuk mencari suaminya."Mas...?" panggil Cita pelan. Wanita itu melangkah keluar sembari mencari. Lalu ia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.'Apakah Mas Rayhan melakukannya sendiri lagi?' gumam wanita itu dalam hati. Kedua pipinya mulai terasa panas saat teringat Rayhan mendesah memanggil namanya.Cita membeku di tempatnya. Ia memilih kembali ke kamar, membiarkan Rayhan yang sedang menuntaskan hasratnya sendirian sebelum ia harus bersiap-siap pergi bekerja ke pasar pagi ini.Cita duduk di tepi tempat tidur dengan kedua pipi yang kembali memanas. Rasa malu d
Suara tangisan Zain langsung merusak suasana romantis kedua orang tuanya. Sensasi panas dan kehangatan yang baru saja membakar tubuh Rayhan dan Cita seketika menguap, berganti dengan keheningan yang serba salah."Ehem. Zain kebangun," deham Rayhan.Tangan pria itu yang tadinya tengah menarik naik kain daster Cita mendadak terhenti di atas perut mulus istrinya. Gerakan tangannya membeku. Pria dewasa itu mengeratkan rahangnya, menahan gejolak gairah yang sedang berada di puncak tinggi namun terpaksa harus dipadamkan secara mendadak.Rayhan menarik napas panjang, berjuang menguasai emosinya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Sebuah senyuman paksa pun terkembang di bibirnya saat ia menolehkan kepala ke arah sumber suara tangisan.Di bawah kungkungan Rayhan, Cita juga terdiam kaku. Matanya terpejam sejenak sebelum perlahan terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Pipinya yang tadi memerah padam karena rasa malu dan gairah kini terasa semakin p







