Mag-log inProses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.
Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam.
"Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian."
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.
Begitu Pak RT dan para saksi berlalu, Rayhan dan Cita melangkah menuju pintu. Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar suara lantang Mak Gonjreng yang sedang mengobrol dengan tetangga yang lain.
"Lihat tuh. Pengangguran dapat janda cantik cuma modal seratus ribu doang!" seru Mak Gonjreng.
"Itu sih karena jandanya aja yang mau!" sahut teman Mak Gonjreng tak kalah lantang.
"Kasihan Zain. Nanti gede dibilang apa coba? Jelas-jelas anak haram, eh malah dipaksa punya bapak baru yang nggak kerja begitu sama ibunya," ujar Mak Gonjreng lagi.
Kata 'anak haram' itu tentu saja menghantam dada Cita. Langkahnya terhenti seketika dan ia menoleh dengan amarah yang tergambar di wajah cantiknya. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya naik turun menahan amarah dan sakit hati yang teramat sangat.
"Zain bukan anak haram!" serunya dengan suara bergetar. Namun Mak Gonjreng dan kelompoknya tentu saja tidak peduli.
"Sudahlah, kita masuk saja. Jangan pedulikan mereka," ajak Rayhan lembut sembari menarik Cita dan membawanya masuk ke dalam kontrakan.
*
Malam itu, aroma asing menusuk hidung Rayhan saat ia terbangun dari lantai beralaskan tikar tipis. Di atas meja dapur, sudah tersaji piring berisi tumis kangkung dan telur goreng yang masih mengepulkan uap panas. Cita baru saja selesai memasak untuk makan malamnya.
Rayhan hanya diam. Setelah menikah ia hanya makan mi instan saja. Malam ini pun sepertinya ia juga harus makan mi instan lagi untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.
"Minggir," usir Cita tiba-tiba. Wanita muda itu menendang pelan kaki Rayhan.
"Ck." Pria itu hanya berdecak pelan lalu segera duduk dan menyingkirkan bantalnya.
"Lagian habis Maghrib kok tiduran," oceh Cita lagi sembari meletakkan tumis kangkung dan juga telur goreng di atas tikar. Rayhan pun melirik masakan sederhana itu dengan menelan ludahnya.
"Sana ambilin nasi sama piring!" perintah Cita dengan sinisnya.
"Kamu yang mau makan, kenapa malah menyuruhku?" dengus Rayhan kesal.
Cita menatap wajah Rayhan. Jika dari jarak sedekat ini, bujang pengangguran itu memang terlihat jelas ketampanannya. Wajahnya dengan rahang tegas dan bersih, serta alis tebal dan mata tajam itu benar-benar potret yang sempurna.
"Kamu mau makan nggak? Atau mau buat perutmu sakit gegara kebanyakan makan mi instan?" tanya Cita sinis.
Rayhan kembali mendengus. "Tinggal bilang mau ngajak makan bareng aja apa susahnya?"
"Ya udah cepet!"
Rayhan tanpa kata lagi segera beranjak dan mengambil nasi serta piring untuk mereka berdua. Malam itu menjadi malam pertama bagi mereka makan bersama dalam suasana yang begitu sederhana.
'Ternyata enak,' puji Rayhan yang tentu saja diucapkan dalam hati. Selama dua bulan ini ia hanya makan mi dan membeli makan di luar. Namun kini, masakan istri barunya itu benar-benar terasa begitu lezat.
"Gimana? Enak, kan?" tanya Cita tiba-tiba.
Rayhan sedikit terkejut. Lalu ia menatap Cita. "Biasa aja," jawabnya datar.
"Oh. Kalau masih kurang, tambah aja nasinya. Aku nggak mau besok pagi ada nasi sisa," ucap Cita lagi dan Rayhan hanya diam saja.
*
"Soal pernikahan kita, kalau kamu berat menikah dengan janda, sebaiknya kamu segera ceraikan aku dan pindah dari sini," ucap Cita saat Rayhan sedang mencuci piring sebagai bentuk terima kasihnya.
Pria itu diam sejenak lalu mengeringkan tangannya dengan kain lap. "Memangnya kenapa? Apa karena jumlah maharku yang sedikit?" tanya pria itu datar.
Cita menyandarkan punggungnya pada dinding kamar mandi yang ada di dekat dapur. "Nggak. Cuma pernikahan kita itu karena dipaksa keadaan, Mas. Kamunya juga belum dapat kerjaan. Aku nggak mau membebani dan juga terbebani," ujarnya jujur.
Rayhan menatap dalam manik mata istrinya. "Bukankah aku sudah bilang, kita bisa bercerai kalau Zain sudah agak gede. Lagian aku juga udah cari kerjaan. Jadi aku nggak akan membebani kamu."
"Tapi, Mas Rayhan–"
"Oekkk oekkk oekkk!"
Belum juga Cita melanjutkan kalimatnya, Zain terbangun dan mulai menangis. Bayi mungil itu merasa tak nyaman karena mengompol. Segera saja Cita bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mulai memeriksa Zain. Ia lalu mengambil ember kecil di dalam kamar mandi dan mengisinya dengan air hangat.
Melihat kerepotan Cita, Rayhan hanya berdiri di depan pintu kamar wanita itu. Ia memerhatikan Cita yang sedang membersihkan ompol, memakaikan popok, lalu kembali sibuk menggendong Zain dengan kain jarik dan membuatkan sebotol susu.
"Ini susunya, Sayang," ucap Cita lembut sembari menimang-nimang Zain.
Jika diperhatikan, Cita sebenarnya cantik. Kulitnya putih bersih, hanya saja wajahnya sedikit kusam dan tubuhnya tampak kurus. Berbeda dengan bayi tiga bulanan dalam gendongannya yang terlihat berisi dan sehat. Cita benar-benar merawat keponakannya itu dengan sangat baik dari pada merawat dirinya sendiri.
"Cup cup cup, sayangnya Mama jangan nangis, ya. Ini susunya," ucap Cita sembari memberikan sebotol susu hangat pada Zain. Wanita bertubuh kurus itu tampak begitu kerepotan, namun Rayhan sendiri tidak bisa membantu.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang aneh bergejolak di dalam dada Rayhan. Rasa canggung, bingung, dan sedikit panik. Baru pertama kali ini ia melihat bagaimana repotnya menjaga seorang bayi.
Setelah beberapa menit lamanya Cita berjuang menenangkan Zain, akhirnya ruangan itu kembali hening. Cita menghela napas lega yang panjang. Sementara Rayhan kini duduk di atas kasurnya yang sudah tertata rapi, siap tidur.
Cita pun segera membaringkan Zain di dalam kamarnya. Saat melihat bayi mungil itu tertidur pulas di atas kasur, tiba-tiba muncul rasa penasaran di dalam benak Rayhan.
"Ayahnya Zain sebenarnya di mana?" tanya Rayhan tiba-tiba, suaranya datar namun terdengar menuntut dari ruang tamu kontrakan yang sempit itu.
Gerakan tangan Cita yang sedang membenarkan selimut Zain seketika terhenti. Matanya tiba-tiba kosong mendengar pertanyaan itu. "Bukan urusan kamu."
"Aku cuma tanya. Apa ayahnya masih hidup atau sudah meninggal?" balas Rayhan mulai terdengar kesal.
Cita menghela napas panjang. "Dia masih hidup."
"Dia kirim uang buat kalian?"
Kali ini Cita menjawab dengan gelengan pelan.
"Dasar bodoh. Kamu seharusnya minta tanggung jawab dia, minimal buat biaya hidup Zain. Jangan membuat dirimu sendiri yang repot dan menderita di sini. Lagian itu anak kalian, bukan anakmu saja," ucap Rayhan datar dan tajam.
"Sudahlah. Itu nggak penting," sahut Cita.
"Nggak penting? Atau jangan-jangan... sebenarnya kamu nggak tahu siapa ayahnya Zain seperti yang digosipkan Mak Gonjreng?"
***
Proses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam."Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian.""Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.Begitu Pak
"Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu."Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. "Eh, tunggu!"Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontr
"Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai."Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.Sesampainya di depan kontrakan yang juga merup
"Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan."Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam."Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius."Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu ma
Cita membulatkan kedua matanya. Ia lalu menoleh ke arah Rayhan yang juga menatapnya. "Nggak, Pak RT. Ini salah paham. Kami nggak-" "Nggak apa, Mbak Cita? Udah jelas kalian berduaan di dalam kontrakan malam-malam begini. Kalau nggak mesum ya apa?" potong Mak Gonjreng dengan suara melengking yang sukses membuat warga lain yang berkumpul ikut mengangguk-angguk setuju. Cita menekan dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teras kontrakannya. Di sebelahnya, Rayhan yang baru diseret keluar, masih berdiri mematung dengan wajah sama pucatnya. Pria itu tampak memejamkan mata sejenak, mencoba menahan napas agar emosinya tidak meledak di depan Pak RT dan belasan pasang mata yang menatap mereka dengan tajam. "Demi Allah, Pak RT, warga sekalian! Tolong dengerin saya dulu," Cita mencoba bersuara lagi, nada suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk. "Mas Rayhan datang ke sini karena dikejar banci. Dia... dia cuma numpang sembunyi. Kami nggak
"Oekkk oekkk oekkk!" Malam semakin larut di Desa Geger, namun tangisan bayi di dalam kontrakan petak berukuran empat kali enam meter itu belum juga reda. Cita, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tampak kelelahan. Ia terus menimang Zain, bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terus saja menangis. Cita sudah berusaha menenangkannya mulai dari memberikan susu formula, membalurkan minyak telon, sampai menimang-nimang dan bernyanyi untuk Zain. Namun, bayi mungil itu tak kunjung diam, membuatnya semakin kerepotan. "Zain, Sayang. Tolong berhenti menangis... Zain anak baik bobok ya...." ucap Cita frustasi. Cita sama sekali tidak memiliki pengalaman merawat bayi sebelumnya. Apalagi Zain bukanlah anak kandung Cita. Bayi itu adalah anak kakaknya yang meninggal dunia usai melahirkan. Demi merawat satu-satunya peninggalan sang kakak, Cita rela merantau dan menyewa kontrakan sederhana ini. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jela







