LOGINCita memejamkan mata sejenak, menenangkan perasaannya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan suami yang baru ia nikahi. Dengan cepat Cita menghapus air matanya menggunakan ujung dasternya.
Cita lalu menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan suara sebelum berjalan membuka pintu secara perlahan. "Ada apa lagi, Mas?" tanya Cita pelan, suaranya terdengar serak namun sudah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Berhadapan seperti itu, Rayhan menyadari sesuatu. Wajah Cita tampak lesu, kedua matanya sembab dan hidung wanita itu memerah dan basah. Rayhan menarik napas panjang, menatap Cita dengan tatapan bersalah. "Aku ... aku mau minta maaf soal tadi. Aku tahu ucapanku keterlaluan dan pasti menyinggung perasaan kamu." Cita hanya bergeming, memerhatikan Rayhan yang tampak bersalah. "Aku salah karena mengungkit masa lalu Zain dan menyalahkanmu sebagai ibu," lanjut Rayhan, nada suaranya kini terdengar begitu tulus. "Aku cuma nggak habis pikir dengan laki-laki seperti itu...." "Iya," sahut Cita singkat sembari mengangguk pelan. "Aku maafkan, Mas." Rayhan menghela napas lega saat mendengar jawaban Cita. Entah mengapa saat melihat wajah sedih wanita itu membuatnya merasa terbebani dan juga iba. "Oke. Makasih," ujar pria itu sembari tersenyum tipis. Namun, alih-alih berbalik dan kembali ke ruang tamu, Rayhan justru masih berdiri menatap ke dalam kamar Cita. Matanya memerhatikan ruangan sempit dengan satu kasur itu, sekaligus menatap Zain yang tidur lelap dan nyaman. Cita mengernyitkan dahi melihat Rayhan yang tak kunjung pergi. "Sudah malam, Mas. Sebaiknya Mas balik tidur." "Eummm... Cit," panggil Rayhan pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya... dari tadi malam aku nggak bisa tidur nyenyak di luar." "Kenapa? Mas kan sekarang udah bawa kasur sendiri," balas Cita heran. "Bukan masalah kasurnya, Cit," ujar Rayhan lagi. "Terus? Nyamuk?" "Kalau nyamuk nggak ada, sih. Cuma...." Rayhan hendak memberi alasan. "Cuma apa?" tanya Cita yang kali ini terdengar tak sabaran. "Cuma... ruang tamu terlalu terbuka, Cit," jawab Rayhan akhirnya, berusaha mencari alasan yang terdengar wajar. "Suasana di luar bikin aku nggak tenang. Dingin dan berisik. Kamu kan tahu aku biasanya tidur di ruangan tertutup." Cita menatap Rayhan heran. "Mas, kita udah sepakat dari awal. Mas nggak boleh masuk ke kamarku." "Aku tahu, Cit. Aku ingat," potong Rayhan cepat. Ia mengambil satu langkah mendekat, membuat jarak di antara mereka terkikis. Tatapan matanya kini berubah menjadi lebih tajam dan dalam. "Tapi kita ini udah sah secara agama dan hukum. Kita suami istri," lanjutnya sembari menahan pintu dengan satu tangannya. Dada Cita berdesir hebat. Perasaannya mendadak tak karuan mendengar ucapan Rayhan. "Mas, maksud kamu apa?" Tangan Rayhan mulai mendorong pelan pintu kamar, mencegah wanita itu menutupnya. "Maksudku, kita sudah menikah. Jadi... Bukankah kita harus malam pertama?" Cita terpaku. Wajahnya kaget mendengar kata malam pertama dari mulut bujang pengangguran itu. "Aku hanya tidak boleh masuk ke dalam kamarmu, kan? Jadi... aku tetap boleh menagih malam pertamaku sebagai suamimu," lanjut Rayhan, suaranya berbisik namun penuh penekanan. Matanya menatap intens ke arah bibir Cita yang sedikit terbuka karena terkejut. "Malam ini... kamu harus mengajariku tentang malam pertama," bisik pria itu lagi, semakin mendesak wanita di depannya. "Nggak mau!" tolak Cita sembari menggeleng pelan. Ia melangkah mundur satu langkah ke belakang. Melihat Cita panik, Rayhan justru merasa senang. Setidaknya wanita itu lupa akan kesedihannya. "Menolak permintaan suami itu dosa loh." "Dosa Mbahmu!" pekik Cita sembari menahan pintu. "Hik hik...." Sebuah isakan kecil terdengar dari arah kasur. Zain sepertinya terganggu dengan perdebatan kedua orang dewasa itu dan mulai menggeliat pelan. Cita spontan menoleh ke belakang, kepalanya teralih sepenuhnya ke arah tempat tidur. Cita tak ingin Zain terbangun sepenuhnya. Melihat fokus Cita teralih, Rayhan memanfaatkan kesempatan itu. Pria itu melangkah masuk lebih jauh ke dalam kamar, bermaksud menutup pintu dan menyelesaikan pembicaraan mereka di dalam. "Eh?! Jangan masuk!" Cita refleks berbalik dan mendorong dada Rayhan dengan kedua tangannya. Namun, karena gerakan tiba-tiba itu, keseimbangan Cita justru hilang karena tersandung kakinya sendiri. "Awas–" Rayhan refleks memeluk pinggang Cita agar tidak jatuh ke lantai. Namun pria itu malah ikut kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk ke belakang dengan tubuh Cita yang menindihnya. "Ah!" Cita memekik pelan. Keduanya kini saling diam dan saling bertatapan. Jarak wajah mereka terlalu dekat. Hampir saja bibir mereka saling berciuman. "Mesum!" Cita mendorong kuat tubuh Rayhan dan melepaskan pelukannya. Wanita itu pun langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Sementara Rayhan hanya tersenyum tipis sembari menatap pintu kayu yang sudah tertutup rapat. ***Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja
"Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin
Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp
"Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny
Drrrt drrrt drrrt Suara getaran alarm ponsel membangunkan Cita. Wanita itu langsung membuka mata dan meraih ponselnya sebelum mematikan suara berisik itu."Mas Rayhan?" panggilnya pelan saat menyadari suaminya sudah tidak berada di sampingnya.Cita segera duduk sembari mengikat rambutnya. Ia lalu memeriksa Zain terlebih dahulu, memastikan bayi kecil itu masih terlelap sebelum keluar kamar untuk mencari suaminya."Mas...?" panggil Cita pelan. Wanita itu melangkah keluar sembari mencari. Lalu ia melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.'Apakah Mas Rayhan melakukannya sendiri lagi?' gumam wanita itu dalam hati. Kedua pipinya mulai terasa panas saat teringat Rayhan mendesah memanggil namanya.Cita membeku di tempatnya. Ia memilih kembali ke kamar, membiarkan Rayhan yang sedang menuntaskan hasratnya sendirian sebelum ia harus bersiap-siap pergi bekerja ke pasar pagi ini.Cita duduk di tepi tempat tidur dengan kedua pipi yang kembali memanas. Rasa malu d
Suara tangisan Zain langsung merusak suasana romantis kedua orang tuanya. Sensasi panas dan kehangatan yang baru saja membakar tubuh Rayhan dan Cita seketika menguap, berganti dengan keheningan yang serba salah."Ehem. Zain kebangun," deham Rayhan.Tangan pria itu yang tadinya tengah menarik naik kain daster Cita mendadak terhenti di atas perut mulus istrinya. Gerakan tangannya membeku. Pria dewasa itu mengeratkan rahangnya, menahan gejolak gairah yang sedang berada di puncak tinggi namun terpaksa harus dipadamkan secara mendadak.Rayhan menarik napas panjang, berjuang menguasai emosinya, lalu mengembuskannya secara perlahan. Sebuah senyuman paksa pun terkembang di bibirnya saat ia menolehkan kepala ke arah sumber suara tangisan.Di bawah kungkungan Rayhan, Cita juga terdiam kaku. Matanya terpejam sejenak sebelum perlahan terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Pipinya yang tadi memerah padam karena rasa malu dan gairah kini terasa semakin p







