Masuk
Rusaknya batu jiwa yang membatasi kelima wilayah membuat alam iblis dan siluman berulah di dunia manusia.
Melihat kekacauan yang dibuat oleh alam iblis dan siluman, kaisar langit memerintahkan semua peri di alam langit untuk mengatasi permasalahan itu.
Dengan adanya bantuan dari alam langit setiap iblis dan siluman yang mengacau di dunia manusia akan ditangkap dan di bawa ke langit untuk dihancurkan.
“Tolooong!” teriak seorang gadis berpakaian pengantin dengan cadar merah menutupi setengah wajahnya.
Ia berlari cepat diikuti oleh sekelompok lelaki berwajah aneh.
Sayangnya seberapa cepat gadis itu berlari, pada akhirnya ia tetap saja tertangkap.
“Tolooong! Siapa saja tolong aku!” lagi teriak gadis itu dengan sekuat tenaga, berupaya merontah.
Wuusshh!
Bukh! Bukh!
Para lelaki yang mengelilingi sang gadis terlempar.
Kedua peri muncul dan menyerang semua lelaki berwajah aneh.
“Tangkap mereka!” seru salah seorang peri langit.
Kelompok lelaki berwajah aneh kesal akan kedatangan kedua peri yang mengganggu kegiatan mereka.
“Kalian alam langit jangan ikut campur dengan urusan kami!”
“Berani berulah terhadap manusia di bawah mata kami, matilah kalian!”
“Manusia? Apa maksudmu?” sela seorang lelaki berwajah aneh, “kau bahkan tidak tahu siapa gadis yang ada di belakangmu—”
Perkataannya terhenti, para peri segera menyerang hingga membuat semua lelaki berwajah aneh terluka parah dan segera melarikan diri.
Namun baru saja kedua peri itu hendak berbalik, mereka telah diserang oleh seseorang.
Di balik cadar, bibir merah gadis itu melengkung beriring sorot mata tajam tertuju ke arah kedua peri.
“Si-siapa kau?!”
“Kalian bahkan tidak mengenaliku? Dasar bodoh!”
Sang gadis merubah penampilannya dengan cepat.
Seluruh tubuhnya memancarkan aura merah menyala bagaikan api.
Di telapak tangannya muncul bayangan bunga kematian yang berapi.
“Kau! Putri iblis!” kedua peri membelalak.
“Kalian alam langit telah menangkap sahabatku, sekarang katakan padaku di mana dia!”
Yingge mengulurkan tangan ke depan, dua akar bunga kematian dengan cepat melilit tubuh kedua peri.
“Siluman seperti kalian pantas mati! Begitu juga dengan temanmu!”
Yingge semakin geram, tatapan kejamnya mempererat cengkeraman akar yang melilit hingga kedua peri hancur berkeping-keping.
Wush!
Syuut!
“Siapa?!” Yingge segera berbalik setelah berhasil menghindari sebuah pedang yang menyerang dari arah belakangnya.
Sosok pemuda tampan berpakaian putih dengan corak naga emas berdiri di depannya.
“Siluman kecil sepertimu, terlalu berani!”
Yingge terdiam.
Menyadari kekuatan pemuda di depannya ia segera melarikan diri. Namun tindakan itu dihentikan oleh sebuah perisai yang mengelilingi sekitarnya.
Yingge berbalik, ia mencoba menghancurkan perisai penekan iblis seperti biasa yang ia lakukan saat para peri menggunakan untuk menangkapnya.
Namun kali ini tidak terjadi apa-apa.
“Penekan iblis yang sangat kuat!” gumam Yingge menatap pemuda yang perlahan berjalan mendekati.
“Berhentilah menyia-nyiakan kekuatan kecilmu!” ucap pemuda dengan wajah datar.
“Tidak ada satupun iblis atau siluman yang bisa terlepas dari penekan iblisku!”
Mata Yingge membulat besar saat tangan pemuda mendekati wajahnya.
Kedua pasang mata saling menatap dalam.
Syuuuh!
Angin bertiup kencang.
Sliing!
Seorang pria menyerang pemuda tampan hingga terenyak jauh.
Yingge mengembus napas lega. Hampir saja wajahnya dilihat pemuda itu.
Dengan wajah kesal pria berusia setengah paruh bayah menatap Yingge lalu menghancurkan perisai di tubuhnya.
Yingge dibawa oleh pria itu kembali—menghilang dari alam manusia.
Tak lama berteleportasi, Yingge dan pria itu muncul di suatu tempat.
“Aku—”
Belum sempat Yingge berucap, suara seorang lelaki menyela.
“Kau pikir dunia manusia adalah tempatmu bermain-main!?” bentak seorang lelaki berwatak garang yang duduk di atas singgasana.
Yingge menundukkan kepala, memasang wajah bersalah.
Di depannya duduk seorang lelaki berjubah hitam, menatap dengan wajah menahan geram.
“Lalu di mana lagi aku harus bermain? Aku terlalu bosan di alam iblis!” lanjut Yingge dengan suara pelan.
“Bosan katamu?!”
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rencanakan?!”
Raja iblis Mo Guang melirik ke arah pria yang menyelamatkan Yingge.
Pria itu menjelaskan semuanya. Setiap gerak-gerik Yingge diam-diam dipantau oleh kepercayaan raja Mo Guang.
“Hanya karena siluman kecil sepertinya, kau berani melanggar perintahku?!”
Yingge mendongak. Memasang wajah kesalnya.
“Dia adalah sahabatku!” bentak Yingge.
PLAK!
Wajah Yingge sontak terenyak ke samping.
“Kau berani membentakku?!”
Yingge terpaku. Kali ini dia benar-benar telah membuat ayahnya marah.
“Mingkun! Kurung putri Yingge di wilayah lautan iblis!”
“Tanpa perintahku, jangan biarkan dia keluar!”
Di depan lautan tak berbatas yang mengeluarkan aura hitam sepasang mata memandang dengan wajah pasrah.
Rencana yang telah ia susun selama beberapa tahun ini gagal.
Terakhir kali ia dihukum oleh ayahnya di wilayah lautan iblis memakan waktu hingga ratusan tahun.
Sekarang entah berapa lama lagi dia akan berada di lautan jiwa.
Semua pintu penjagaan di berbagai arah telah diperketat oleh penjagaan, bahkan diperisaikan oleh Mingkun.
Yingge berjalan hingga ke tepi laut, duduk di atas batu karang. Energi hitam yang berada di sekitar lautan mengelilingi tubuhnya.
Ia duduk bersila, memulai ritual, menyerap energi hitam yang mengelilinginya.
Beberapa minggu berdiam diri, akhirnya ia kehabisan kesabaran.
Ia pergi ke samping gerbang, mencoba untuk menghancurkan segel yang dipasang Mingkun.
Braak!
Sesuatu hal di luar pemikirannya terjadi!
Sebelumnya ia tak pernah berhasil menghancurkan segel penghalang Mingkun, tapi kali ini ia merasakan kekuatannya telah meningkat, segel penghalang sangat mudah dihancurkan.
“Putri Yingge, kau tak boleh keluar!”
“Raja iblis akan menghukum kami jika ia mengetahuinya!”
Yingge mengibaskan tangannya, membuat kedua penjaga pingsan.
Sebelumnya ia takut jika diketahui ayahnya, tapi saat mendengar pembicaraan kedua penjaga bahwa ayahnya terburu-buru keluar dari alam iblis, Yingge akhirnya menggunakan peluang ini.
“Tenang saja, kalian tidak akan dihukum. Aku akan kembali secepatnya!”
Akhirnya Yingge berhasil melewati perbatasan alam dan tiba di alam manusia.
Agar rencananya tidak dihalangi oleh para peri, ia berbaur, menyegel aura iblisnya sendiri dan menyamar seperti gadis yang berasal dari dunia manusia.
Keramaian di dunia manusia merupakan hal yang baru bagi Yingge.
Hingga hari telah malam, Yingge tidak juga menemukan jejak sahabatnya.
Jalanan semakin sunyi, tapi suara musik dan nyanyian menarik perhatiannya.
Penasaran akan hal itu Yingge segera menuju ke arah keramaian.
Di depannya berdiri bangunan tinggi yang dipenuhi dengan hiasan Bunga dan cahaya lampu.
Tanpa pikir panjang Yingge masuk ke dalam.
Pemandangan di dalam sana membuat mata Yingge berbinar.
“Eee, Nona sepertinya kau salah masuk tempat,” ucap seorang perempuan beriasan tebal dan berpakaian sedikit terbuka.
Yingge tak memedulikan perkataan perempuan itu, matanya sibuk mencari sesuatu.
Sementara wanita yang di depannya memperhatikan lebih dekat ke arah Yingge.
“Nona, kau mencari seseorang?”
“Benar!” spontan jawab Yingge, “dia sahabatku, kau pernah melihatnya?”
Dengan mata berbinar ia memperlihatkan selembar kertas lukisan wajah temannya.
“Aaah, ternyata dia sahabatmu? Ayo Nona, masuk ke dalam. Aku akan membawamu bertemu dengan sahabatmu.”
Yingge membuang pandangan. Ia mengacuhkan Lizheng, berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya.“Lizheng bodoh! Kalau kau mau kembali, silahkan. Lagipula kau sudah terlibat denganku, jadi mereka tak akan melepaskanmu juga.”Kiik! Braakh!Beriring dengan bunyi pintu kamar tertutup, bayangan Lizheng menghilang dari ruang kamar.Pikir Yingge, Lizheng terlalu kesal dan meninggalkannya, tapi tak lama kemudian lelaki itu kembali masuk ke dalam kamar.Dengan wajah kesal ia meletakkan semangkuk ramuan di atas meja yang berada di dekat tempat tidur.“Ulurkan tanganmu!” ucap Lizheng bernada kesal.Yingge mematuhi perintahnya sambil tersenyum kecil.Ia duduk dan mengulurkan tangan ke arah Lizheng.Meski masih terlihat kesal, tapi lelaki itu tetap saja memperhatikan kesehatannya.“Cepat minum obatnya sebelum dingin!”Perintah itu dituruti Yingge. Ia meneguk habis ramuan yang diberikan Lizheng.Setelah melihat Yingge menghabiskan ramuan, Lizheng berdiri sedikit menjauhinya.Tatapan ane
Kuku tajam Yingge menusuk kuat, membuat tubuh sang pemuda terluka dan mengeluarkan sedikit darah segar.Sedikitpun tak ada suara yang keluar dari mulut pemuda itu, melainkan hanya kernyitan di kedua alisnya.“Apa sakit?” tanya Yingge tersenyum kejam.“Tidak sakit!”“Nona, lakukan saja. Jangan pedulikan aku!” lanjut pemuda itu tersenyum.Yingge semakin kesal. Tapi kali ini rasa kesal itu tidak berarti membenci sang pemuda, melainkan membenci dirinya yang entah mengapa tak bisa meneruskan tindakannya itu.“Cih!” Yingge menarik kembali tangannya dari tubuh sang pemuda.“Lupakan. Kali ini aku tidak punya selera memakan jantungmu.”Sang pemuda kembali membuka matanya sembari menahan dada yang terluka.“Masih saja berlagak kuat. Bukankah tadi kau bilang tidak sakit?”“Nona, meski kau iblis, tapi aku tahu kau iblis yang baik. Jika aku mengatakan sakit, kau pasti tak tega untuk membunuhku.”Perasaan aneh semakin membuatnya bingung. Ia pun mengulurkan telapak tangan ke depan dada sang pemuda.
Setelah pertarungan dengan gadis utusan langit Yingge terluka berat. Ia bahkan tak punya kemampuan untuk kembali ke alam iblis.Terkatung-katung ia berjalan ke kedalaman hutan mencari tempat persembunyian.Sayangnya ia terlalu lemah untuk berjalan.Pandangan matanya menjadi kabur dan perlahan menggelap.Bruuukh!Pada akhirnya tubuh Yingge terbaring tak sadarkan diri di tengah hutan.Begitu membuka mata ia menyadari telah berada di tempat yang asing.“Di mana aku?”“Nona, kau sudah bangun?”Suara seorang lelaki menarik perhatiannya.Pemuda tampan berpenampilan lusuh masuk ke dalam ruangan sambil membawa semangkuk ramuan.Mata Yingge melotot.Pemuda itu dengan santainya duduk di sisi Yingge dan menyodorkan mangkuk ramuan ke arahnya.Yingge dengan cepat mengambil mangkuk itu.Praang!Ia memecahkannya dan menggunakan pecahan yang tajam ke leher sang pemuda.“No-nona.”Pemuda itu tak bergerak dan memasang wajah ketakutan, “no-nona, jangan salah paham, aku bukan orang jahat.”Yingge terdiam
Perbuatan Yingge di dunia manusia menyebabkan kemarahan besar alam langit.Tindakannya yang hendak membunuh para kelompok perampok digagalkan oleh utusan alam langit.“Kalian alam langit selalu saja mengganggu kesenanganku!”Yingge menoleh ke arah gadis cantik dan beberapa lelaki yang berdiri di belakangnya.“Iblis jahat! Selama ada aku di sini, tidak akan aku biarkan kau berulah lagi!”Syuuh!Gadis yang berdiri berbicara mulai menyerang Yingge.Serangan itu menyadarkan Yingge akan siapa yang kali ini dihadapinya.Dari sekian banyak utusan langit, baru kali ini ia berhadapan dengan seseorang yang kekuatannya hampir seimbang dengan pemuda tampan yang pernah ia temui.“Baik! Ternyata alam langit masih punya peri yang lumayan dibandingkan dengan sebelumnya!”“Peri katamu?” gadis itu tersenyum remeh, “kau pikir seorang peri bisa memiliki kekuatan sepertiku?!”Di depan Yingge, bayangan merak muncul di atas gadis itu.Wuussh!Buum!Serangan secepat kilat menuju ke arah Yingge.Jika tidak me
Tanpa bertanya Yingge dibawa oleh kedua gadis cantik ke lantai dua.Begitu masuk ke kamar, ia ditinggalkan di sana dalam keadaan pintu dikunci dari luar.Sambil mencari sesuatu Yingge melangkah lebih dalam, namun tak lama ia mulai merasakan sesuatu hal aneh terhadap tubuhnya.Pandangan mulai bergoyang, kepala terasa berat.Ia teringat dengan cerita sahabatnya tentang kelicikkan manusia yang menggunakan ramuan untuk menaklukkan wanita.“Beraninya mereka!”Yingge kesal! Upayanya untuk menghilangkan efek obat tak berhasil sebab kekuatannya telah disegel.Bruukh!Tubuh Yingge terjatuh ke lantai.Begitu tersadar, pemandangan di sekitar membuat matanya terbelalak.Puluhan lelaki duduk di kejauhan mengitari tempat ia berada.Cahaya terang terarah kepadanya.Ia semakin bingung saat melihat lima gadis cantik di dalam kurungan besi yang berada tak jauh darinya.Teng!Bunyi lonceng mengalihkan perhatian Yingge.Wanita cantik muncul ke tengah-tengah ruangan dan mengumumkan bahwa acara mereka tela
Rusaknya batu jiwa yang membatasi kelima wilayah membuat alam iblis dan siluman berulah di dunia manusia.Melihat kekacauan yang dibuat oleh alam iblis dan siluman, kaisar langit memerintahkan semua peri di alam langit untuk mengatasi permasalahan itu.Dengan adanya bantuan dari alam langit setiap iblis dan siluman yang mengacau di dunia manusia akan ditangkap dan di bawa ke langit untuk dihancurkan.“Tolooong!” teriak seorang gadis berpakaian pengantin dengan cadar merah menutupi setengah wajahnya.Ia berlari cepat diikuti oleh sekelompok lelaki berwajah aneh.Sayangnya seberapa cepat gadis itu berlari, pada akhirnya ia tetap saja tertangkap.“Tolooong! Siapa saja tolong aku!” lagi teriak gadis itu dengan sekuat tenaga, berupaya merontah.Wuusshh!Bukh! Bukh!Para lelaki yang mengelilingi sang gadis terlempar.Kedua peri muncul dan menyerang semua lelaki berwajah aneh.“Tangkap mereka!” seru salah seorang peri langit.Kelompok lelaki berwajah aneh kesal akan kedatangan kedua peri yan







