Mag-log inSetelah pertarungan dengan gadis utusan langit Yingge terluka berat. Ia bahkan tak punya kemampuan untuk kembali ke alam iblis.
Terkatung-katung ia berjalan ke kedalaman hutan mencari tempat persembunyian.
Sayangnya ia terlalu lemah untuk berjalan.
Pandangan matanya menjadi kabur dan perlahan menggelap.
Bruuukh!
Pada akhirnya tubuh Yingge terbaring tak sadarkan diri di tengah hutan.
Begitu membuka mata ia menyadari telah berada di tempat yang asing.
“Di mana aku?”
“Nona, kau sudah bangun?”
Suara seorang lelaki menarik perhatiannya.
Pemuda tampan berpenampilan lusuh masuk ke dalam ruangan sambil membawa semangkuk ramuan.
Mata Yingge melotot.
Pemuda itu dengan santainya duduk di sisi Yingge dan menyodorkan mangkuk ramuan ke arahnya.
Yingge dengan cepat mengambil mangkuk itu.
Praang!
Ia memecahkannya dan menggunakan pecahan yang tajam ke leher sang pemuda.
“No-nona.”
Pemuda itu tak bergerak dan memasang wajah ketakutan, “no-nona, jangan salah paham, aku bukan orang jahat.”
Yingge terdiam memperhatikan pemuda itu.
“Aku menemukanmu tak sadarkan diri dan terluka di tengah hutan,” lanjut sang pemuda menjelaskan.
Meski semua penjelasan itu masuk akal, tapi Yingge masih berwaspada.
Saat ini energinya belum pulih, menodongkan pecahan mangkuk ke arah pemuda itu adalah satu-satunya cara.
Namun semakin lama memperhatikan, Yingge menemukan ke anehan terhadap pemuda itu.
Meski wajah sang pemuda sangat mirip dengan pemuda utusan langit yang pernah ia temui, tapi tidak ada aura makhluk abadi langit ataupun energi alam langit di tubuhnya.
Sreek!
Pemuda tampan memajukan lehernya sendiri, membuat luka goresan di kulitnya.
Yingge terperangah.
Meski pemuda meringis kesakitan, tetapi ia masih saja melanjutkan tindakannya.
Melihat respon itu, Yingge menarik tangannya.
Ia masih terdiam menatap pemuda.
“Nona, jika aku orang jahat, aku pasti telah membiarkanmu di tengah hutan. Percayalah padaku!” ucap sang pemuda segera berdiri.
Yingge sekali lagi memperhatikan penampilan sang pemuda dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
Ia masih tidak percaya ada orang yang wajahnya sangat mirip.
Namun pada akhirnya ia menurunkan kewaspadaan setelah memperhatikan lebih detail lagi pemuda yang berdiri di depannya.
Yingge kembali menekan bagian yang terluka di tubuhnya, namun ia malah menemukan sesuatu yang lain pada penampilannya.
Pakaiannya telah berubah.
Bahkan lukanya telah dibalut.
“No-nona, maaf aku terpaksa harus melakukannya karena tidak ada orang lain yang bisa membantuku,” sosor sang pemuda saat melihat ekspresi Yingge.
“Jangan khawatir, aku melakukannya dengan mata tertutup—”
“Sudahlah!” sela Yingge kesal, “jika kau menutup mata bagaimana caramu membalut luka dan mengganti pakaianku?”
Wajah sang lelaki terlihat tak terima, “no-nona, aku berkata jujur.”
Pemuda itu melanjutkan dengan mengangkat tangannya dan membentuk dua jari, “jika aku berbohong aku pasti akan disambar petir!”
“Jika Nona masih tidak terima aku akan bertanggung jawab!” lanjut pemuda itu dengan wajah gugup.
Yingge terdiam memperhatikan wajah sang pemuda. Ia bahkan hampir tertawa mendengar perkataan itu.
“Oh? Jadi, Tuan penolong mau bertanggung jawab padaku seperti apa?” tanya Yingge memasang wajah menggoda.
“Nona jangan khawatir, a-aku akan merawat Nona dan menjaga Nona seumur hidupku!” ucapnya tegas.
Usai berucap pemuda itu memasang wajah gugup menatap ke arah Yingge.
Deg!
Namun anehnya jantung Yingge berdetak cepat.
“Apa kau bodoh? Kau mau menjagaku seumur hidup? Memangnya berapa lama kau bisa hidup?”
Yingge membuang pandangannya sambil tersenyum remeh.
Kehidupan manusia dan iblis jauh berbeda. Bagi manusia kehidupan terlama mereka mungkin tidak sampai mencapai seratus tahun, tapi bagi iblis seratus tahun bagaikan seratus hari.
“Aku tahu, bagi iblis seratus kehidupan tidaklah Berarti, tapi….”
Mata Yingge melotot saat menyadari ternyata pemuda itu mengetahui identitasnya.
“Bagi manusia sepertiku yang mungkin tidak akan bisa mencapai seratus tahun, aku akan menepati janjiku pada Nona. Aku akan menemani dan menjaga Nona seumur hidupku!”
“Jika kau tahu aku iblis, apa kau tidak takut aku akan membunuhmu saat sadar?”
Sang pemuda terlihat menyembunyikan ketakutan di wajahnya, tapi ia tetap berusaha tenang bahkan mengucapkan perkataan yang membuat Yingge terdiam.
“Manusia, iblis, siluman, setan, ataupun abadi langit, semuanya sama. Ada yang jahat ada yang baik.”
“Aku percaya Nona adalah iblis yang baik!”
Perkataan itu terngiang-ngiang di telinga Yingge bahkan ketika sang pemuda telah keluar dari ruangan.
“Jika semua makhluk di dunia berpikiran sepertimu, mungkin semua alam akan tenang. Dan mungkin saja Linlin….” Yingge menghentikan perkataannya.
Memikirkan sahabatnya kembali membangkitkan amarah Yingge.
Kali ini ia harus memikirkan rencana agar bisa menemukan Yingge dengan cepat.
Wangi yang entah berasal dari mana membuyarkan pikiran.
Ia keluar dari kamar mencari asal aroma yang membuat perutnya bergemuruh.
Dari kejauhan terlihat sang pemuda sibuk mengerjakan sesuatu di depan tungku perapian.
Penasaran akan hal itu, Yingge menghampirinya.
“Tuan penolong, apa yang kau buat?”
Pemuda itu terkejut dengan kehadiran Yingge. Ia menyuruh Yingge duduk dan menyajikan satu persatu hidangan di atas meja.
“Kau menyajikan semua ini untukku?” tanya Yingge menelan salivanya.
“Kau pasti sangat lapar setelah tiga hari tak sadarkan diri. Aku membuatkannya untukmu.”
Yingge membuang pandangan dari hidangan yang telah membuatnya tergiur.
“Nona tidak menyukainya?”
“Benar! Kau tidak tahu apa yang menjadi makanan para iblis?”
Pemuda itu terdiam dengan wajah kaku.
Melihat ekspresi sang pemuda Yingge mengulurkan tangan ke arah sang pemuda. Ia menjalankan telunjuk ke leher pemuda lalu perlahan turun ke bawah.
Berhenti tepat di dada sang pemuda.
“Kami para iblis sangat menyukai jantung manusia,” lanjut Yingge dengan nada datar.
“Jika bisa menghilangkan rasa lapar Nona, maka aku bersedia memberikannya, tapi Nona harus meminum obatmu dulu!”
Yingge terpaku!
Ia tak percaya ada manusia sebaik ini hingga sangat bodoh!
“Tidak perlu! Jantungmu saja bisa menyembuhkan semua lukaku,” lagi Yingge berucap pelan.
Sang pemuda memejamkan matanya, “kalau begitu, lakukan saja, Nona. Tolong lakukan dengan cepat.”
Yingge menatap tajam!
Ia menekan kuat telunjuknya ke dada sang pemuda.
Tsk!
Yingge segera menghadang di depan harimau putih.“Baihu, kau kenapa? Bukankah sudah aku katakan tidak boleh menakuti manusia?”Sayangnya harimau putih semakin kehilangan kendali, menghancurkan kereta dagangan di samping dengan menabrakkan kepala.“Siluman jahat! Beraninya kau mengacau?!”Para utusan langit bermunculan dari berbagai arah.Hingga salah satu dari mereka yang ternyata adalah pedagang kalung menunjukkan wujud aslinya yang ternyata adalah salah satu utusan langit.Paham akan sesuatu Yingge segera berlari mendekati harimau putih yang masih menabrak-nabrak ke arah sembarangan.“Maaf, Baihu. Ini salahku,” ucapnya sambil memegang kalung lonceng, “tenanglah Baihu, aku akan melepaskan benda menjijikkan ini dari lehermu!”Sayang sekali upaya Yingge berakhir sia-sia. Kalung itu tidak bisa dilepaskan sama sekali.“Dasar licik! Cepat lepaskan benda menjijikkan ini!”“Kau pikir rantai pengikat siluman bisa dilepaskan semudah itu?! Pada dasarnya siluman tetaplah siluman, hanya jika ia
“Long Zhen, hentikan!” teriak Yingge menoleh.“Sudah terlambat! Kalian pergilah dari sini! Kami tidak menerima kehadiran kalian!” ucap gadis setengah manusia.Pohon besar yang menjulang tinggi perlahan mengering beriring satu persatu makhluk kembali ke wujud semula. Bahkan kini mereka telah menjadi berbagai jenis hewan.Yingge yang hendak mendekati beberapa hewan di depannya mendadak menghentikan langkah, sebab semua hewan berlari dan menghilang dari pandangan.Ia kembali terbayang bagaimana gadis setengah hewan itu dan semua makhluk memperlakukannya selama berada di wilayah ini.“Kenapa?”“Kenapa semua yang memperlakukanku dengan baik harus direbut oleh makhluk alam langit sepertimu!?” ucapnya dengan nada dingin menatap tajam ke arah Long Zhen.Kegeraman Yingge meledak.Ngiiiiingg!Energi iblis di dalam tubuhnya kini telah kembali.Wuuusssh!Yingge menyerang cepat ke arah Long Zhen.Akar bunga kematian yang tertuju cepat ke arah lelaki itu berhasil dihadang dengan kemunculan energi p
Cara yang diajarkan Long Zhen berhasil membuat para makhluk setengah manusia memandang Yingge dengan berbeda. Mereka mengiringnya dengan meriah di bawah pohon yang menjulang tinggi dan besar.Para makhluk itu mulai bergandengan tangan membentuk lingkaran, membiarkan Yingge sendirian di tengah-tengah lingkaran.Mereka mulai menari dan menyanyi.Namun ketika mendengar beberapa kalimat sajak dalam nyanyian itu, Yingge mulai merasa aneh.Perasaannya tak nyaman.Ia berusaha keluar dari dalam lingkaran itu, akan tetapi para makhluk yang menari dan menyanyi justru berkerumun mendekatinya.Mereka terlihat bahagia, tapi tidak dengan Yingge.Semakin lama mendengar, dadanya semakin terasa sesak.Pohon besar di atas mereka bereaksi. Perlahan muncul energi yang membentuk sekian banyak kelopak bunga.“Dewi memberkati kita!”“Setelah sekian lama, akhirnya pohon roh berbunga!” seru beberapa makhluk dengan wajah berseri.Kelopak-Kelopak bunga itu jatuh mengenai para makhluk. Tubuh mereka perlahan beru
Begitu tersadar kembali, Yingge telah terbaring di tempat tidur.Sepasang matanya memperhatikan sekeliling ruangan ia berada.Ruang yang dibangun dengan kayu dan berhiasan begitu banyak macam bunga mekar, menenangkan perasaan Yingge.Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan sambil memperhatikan pemandangan di sekitarnya.Bayangan seorang wanita memantul di cermin.Terkejut dengan penampilannya, ia segera mendekatkan diri ke depan cermin.Bukan hanya pakaiannya yang berubah menjadi lebih anggun layaknya dewi dari alam langit, melainkan rambut yang dihias dengan ornamen bunga, serta riasan wajahnya benar-benar telah membuatnya memuji kecantikan diri sendiri.“Dewi, akhirnya kau sadar!” seru seorang gadis dari belakang.Yingge sontak terkejut dan membalikkan badannya.Sosok gadis berwajah setengah hewan dengan tanduk rusa di kepala tersenyum menatapnya.“Kau memanggilku apa tadi?” tanya Yingge dengan senyum aneh sambil mengarahkan telunjuknya sendiri ke depan wajah.“Benar! Kau adalah De
Rooaarrr!Auman keras harimau putih tidak membuat Yingge berhenti melangkah.Ia berjongkok, memandang sepasang mata harimau itu.“Jangan takut,” ucap Yingge mendalamkan tatapan.“Aku tahu, tadi kau tidak berniat menyerang kami. Jika kau percaya padaku, aku akan membantumu,” lanjut Yingge memperhatikan tubuh harimau putih.Ia mengulurkan tangannya, mencoba memeriksa seluruh tubuh harimau, hingga akhirnya menemukan sesuatu.Ada pergerakkan di dalam perut tubuh harimau putih yang besar.“Kau akan melahirkan?!”Sepasang mata harimau berkedip seolah meminta bantuan Yingge.“Jangan khawatir, aku akan menyelamatkanmu dan anakmu,” lanjut Yingge mengelus pelan perut harimau.Gerakan dari dalam perut harimau putih terasa di telapak tangannya hingga membuat senyuman kecil terukir di bibir Yingge. Sayang sekali senyuman itu menghilang begitu saja.“Hei, dewa bodoh! Kemarilah!” kesal Yingge usai tindakannya terhenti oleh benang halus yang melingkar di pergelangan tangannya.“Ka-kau menyuruhku memb
Sayang sekali dengan kondisi tubuhnya yang sekarang, ia masih harus menelan semua kegeraman itu, karena terakhir kali ia bertindak mengikuti emosinya tanpa memikirkan kemampuan diri justru membuatnya sekarat dan ayahnya terluka.“Ckckck!”Yingge berdecak menggelengkan kepala berkali-kali.Ia memandang jijik ke arah Long Zhen setelah mengetahui identitas asli lelaki yang berdiri di depannya.“Ternyata seorang putra kaisar langit yang menjadi panutan di alam langit, diam-diam menyembunyikan sifat aslinya.”“Apa lagi maksudmu?” Long Zhen memasang wajah bingung.Yingge kembali menatap kesal.“Kau bahkan tak mau mengakui apa yang kau lakukan terhadapku?!”Mendengar perkataan Yingge, wajah Long Zhen berubah menjadi kaku, gerakan tubuhnya menunjukkan kecanggungan.“Dengarkan!” seru Yingge sekeras mungkin, “anak dari kaisar langit, Long Zhen telah berbuat mesum terhadapku! Dia bahkan tak mau mengakui perbuatannya setelah merugikanku!”“Diam!” bentak Long Zhen memasang wajah serius.“Jika aku







