INICIAR SESIÓN_o0o_
Dua pekan berlalu, kasus racun afrodisiak berakhir tanpa adanya hukuman karena pelaku utama sudah meninggal, para utusan kekaisaran Zhu meminta maaf atas keteledoran yang terjadi. Situasi istana kala itu sedikit gempar karena penangkapan serta penginterogasian beberapa orang.
Orang-orang juga bertanya-tanya siapa yang menjadi korban racun itu. Tapi atas perintah Ka
Salju pertama yang turun pada hari ketujuh menjadi pertanda bahwa musim dingin akhirnya tiba. Pada awalnya, butiran tipis itu jatuh perlahan, nyaris seperti abu yang ditiup angin. Namun pada malam harinya, udara mengeras, suhu turun drastis, dan lapangan luas di kaki Pegunungan Huashan itu berubah dari tanah coklat dingin menjadi hamparan putih licin yang menusuk tulang.Di pagi hari pertama minggu kedua, pasukan Feng dan Zhu sama-sama membuka mata pada dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali seminggu sebelumnya. Langkah kaki kuda meninggalkan jejak berlubang yang cepat terisi air. Beberapa tenda prajurit Feng bahkan roboh semalam terdorong angin beku dari arah utara.Di sisi barat lapangan, Feng Wu Lan berdiri di luar tendanya, nafasnya berubah menjadi uap yang langsung hilang diterpa angin. Zirah peraknya sudah ia lapisi minyak agar tidak mudah mem
_o0o_Pada hari kedua, udara pagi berhembus dingin. Kabut tipis masih menggantung di kaki pegunungan Huashan saat suara terompet perang dari barisan Kekaisaran Zhu kembali menggema. Mereka maju lebih awal, mencoba menekan pasukan Feng sebelum matahari tinggi.Huang Ji, meski masih dengan kain yang menutup tangannya, memimpin sayap kanan dengan penuh amarah. Melihat bendera merah milik Kekaisaran Zhu berkibar terlalu dekat dengan garis depan pasukan Feng membuat darahnya mendidih."Jangan biarkan mereka melewati batu penanda itu!" teriaknya, menunjuk formasi pasukan Zhu yang mulai menanjak.Serangan balasan dari pasukan tombak Jenderal Tao datang bagaikan gelombang baja. Namun tanah yang basah membuat pergerakan lambat, banyak tombak yang meleset dan pasukan panah harus m
Kabut berputar pelan seperti nafas raksasa yang menahan amukan. Di kedua sisi, pasukan menahan hasrat untuk bergerak lebih cepat. Ketika genderang pertama terdengar dari barisan Zhu, detik-detik itu terasa seperti napas yang ditahan bersama seluruh darah yang mengalir di medan perang.Suara genderang kedua bergema, menggetarkan dada setiap prajurit yang berdiri di garis depan. Di sisi lembah sebelah timur, Komandan Ren Jia menundukkan kepala sejenak sebelum mengangkat tangannya tinggi"Majuuuu!"Seruan itu disambut oleh dentuman ribuan langkah kaki. Tanah bergetar, debu lapangan perang mulai naik menutupi pandangan.Di sisi seberang, dari bawah balik kabut, Huo Li melihat gerakan besar di bawah lembah. "Pasukan tombak mereka mulai maju," katanya.
_o0o_Kabut pagi menggantung berat di perbatasan timur, menyelimuti lapangan luas di kaki Pegunungan Huashan. Tanah disana terbentang lapang, namun bergelombang oleh bukit-bukit kecil yang menjadi posisi ideal bagi pasukan pemanah dan pengintai.Udara dingin membawa aroma besi dan tanah lembab. Ketika genderang perang berdentum, gema suaranya bergema hingga ke puncak gunung yang tertutup salju tipis.Di bawah langit kelabu, dua ratus ribu prajurit Kekaisaran Feng berdiri dalam barisan rapi. Zirah baja mereka berkilau diterpa cahaya obor. Di sisi berlawanan, pasukan Kekaisaran Zhu yang berjumlah lebih dari tiga ratus ribu telah bersiap, memenuhi seluruh lembah hingga tampak seperti lautan manusia. Warna panji merah dan hitam mereka bergoyang di antara kabut tebal, membawa bayangan mengancam bagi siapa pun yang menata
_o0o_Masih terlalu dini ketika bunyi genderang perang menggema dari halaman timur istana. Udara pagi menggigit kulit, kabut menutupi seluruh pelataran, dan panji-panji naga emas perang Kekaisaran Feng berkibar pelan diterpa angin dingin. Di bawah langit yang kelabu, ribuan prajurit sudah berbaris, senjata mereka berkilat tertimpa cahaya obor.Feng Wu Lan berdiri di depan barisan, mengenakan zirah hitam dengan lambang naga emas di dada. Di sisi kanan berdiri Huang Ji dan Huo Li, sementara beberapa jenderal serta komandan lapangan siap dengan pasukan masing-masing."Setiap langkah kita hari ini adalah untuk melindungi rumah kita," suara Feng Wu Lan terdengar berat namun tegas. "Kekaisaran Zhu mungkin memiliki lebih banyak prajurit, tapi mereka tak memiliki alasan sekuat kita untuk berjuang. Kita bertempur bukan demi
Li Yue memperhatikan hasilnya dari kejauhan dengan sedikit senyum puas. "Kurang setengah jengkal ke kiri," katanya. "Tapi itu sudah jauh lebih baik dari kemarin."Li Yue beralih menatap tumpukan peti yang berisikan pedang-pedang di dalamnya. Secara bergilir, pedang-pedang yang digunakan prajurit itu dilebur dan dibuat kembali oleh para pandai besi terbaik Kekaisaran Feng.Atas permintaan Li Yue, pedang yang baru selesai dibentuk segera dilapisi dengan campuran lilin lebah dan minyak wijen agar darah atau air tidak mudah melekat pada pedang. Hal ini ia lakukan karena mempertimbangkan musim dingin yang sebentar lagi akan datang.Berdasarkan prakiraan, musim dingin akan datang dua minggu lagi, berkaca pada perang antara kedua Kekaisaran terdahulu yang menghabiskan waktu bertahun-tahun membuat dirinya ingin meningkatkan







