Share

Bab 7

Penulis: Galih Rembulan
Menghadapi tatapan menyelidik Haris, Adrian pun berkata, "Ini benar. Awalnya aku juga nggak percaya dengan kenyataan ini. Makanya, aku melakukan beberapa kali tes. Tapi, hasilnya … kesimpulannya selalu sama."

Haris tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia menatap Adrian dengan tajam, seakan sedang menilai dan mengamatinya dengan saksama.

Wajah Adrian langsung menjadi getir. Dia pun berkata dengan putus asa, "Kesimpulan ini juga sudah kutunjukkan pada Kamila."

"Oh, kamu sudah kasih tahu dia? Lalu, gimana kelanjutannya?"

"Benar, aku sudah kasih tahu dia. Tapi, aku nggak tahu apa yang dia pikirkan. Dia malah nggak percaya dengan hasil ilmiah ini. Dia nggak mau ngaku, nggak mau jujur dan nggak bisa diajak bicara baik-baik. Ayah, masalah ini nggak kuumbar ke mana-mana. Saat ini, baru kita bertiga aja yang tahu. Aku harap masalah ini bisa diselesaikan secara damai."

"Masalah ini bukan perkara sepele. Tindakanmu untuk nggak mengumbarnya sudah benar. Tapi, bagaimanapun, ini semua terlalu mendadak. Ayah juga belum siap secara mental. Sebagai seorang ayah, Ayah percaya dengan kepribadian Kamila. Dia nggak akan mungkin …."

'Sial, mereka benar-benar Ayah dan anak yang sehati' …. Adrian mulai merasa agak panik. "Ayah nggak tahu kalau Kamila itu, dia …."

Adrian sebenarnya ingin mengatakan jika putri kedua dan putri ketiga mereka juga anak haram. Namun, di saat itu juga, sebuah pemikiran mendadak terlintas di benak Adrian, bagaimana jika Haris sebenarnya sudah mengetahui kelakuan Kamila dan saat ini hanya sengaja menenangkan dirinya?

Adrian pun berkata, "Keadaannya sudah seperti ini. Aku cuma ingin tahu kebenarannya. Rani itu sebenarnya anak siapa? Kamila nggak mungkin nggak tahu kalau dia mengandung anak pria itu. Lalu, kenapa dia nggak hidup bersama pria itu saja dan malah memilihku? Kalau memang dia memilihku, kenapa dia menyembunyikan hal ini dariku? Ayah, apa Ayah tahu sesuatu?"

"Ayah juga nggak tahu. Ayah akan suruh dia pulang untuk kasih penjelasan."

Mendengar hal itu, ketenangan dan keberanian yang sebelumnya tampak di wajah Haris perlahan-lahan memudar dan berganti dengan raut kebingungan. Akhirnya, Haris menelepon putrinya dan menyuruhnya untuk segera datang saat itu juga.

Selama menunggu, Haris sempat menanyakan beberapa pertanyaan teknis kepada Adrian mengenai hasil tes DNA itu. Melihat Adrian bisa menjawabnya dengan sangat jelas, Haris pun baru tersadar jika Adrian adalah seorang dokter dengan pengalaman belasan tahun. Jika Adrian sudah berani menunjukkan hasil tes DNA ini, hampir bisa dipastikan jika cucunya, si Rani itu, memang bukan anak kandung Adrian.

Haris juga menyuruh istrinya untuk segera pulang.

Kamila bergegas masuk ke rumah. Saat melihat Adrian juga ada di sana, dia merasa agak terkejut dan bingung. Namun, Kamila berpikir kehadiran Adrian di sini justru bagus. Dia bisa memanfaatkan wibawa orang tuanya untuk membujuk Adrian pulang. Akan tetapi, begitu melihat ayahnya menyodorkan hasil tes DNA dan memintanya memberikan penjelasan, Kamila pun langsung terkejut. Detik berikutnya, dia menatap Adrian dengan pandangan menyelidik sekaligus penuh amarah. "Apa-apaan kamu ini? Kalau kamu nggak puas denganku, katakan langsung padaku! Kenapa kamu malah mengadu ke orang tuaku? Apa sebenarnya maumu?"

Adrian juga tidak gentar. "Jelaskan saja masalah ini sampai tuntas."

Kamila merobek-robek hasil tes DNA itu dan berkata, "Apa yang perlu dijelaskan? Rani itu anakmu! Jangan harap kamu bisa menggunakan hal-hal seperti ini untuk memfitnahku demi mencapai tujuan tersembunyimu itu!"

Kamila pun langsung menoleh dan berkata kepada ayahnya, "Ayah, Ayah tahu nggak? Dia mau menggunakan kesimpulan palsu ini untuk menceraikanku dan menuntut ganti rugi sebesar 3,2 triliun! Serakah banget dia. Dia ini bukan orang yang baik!"

Haris langsung menatap Adrian dengan tatapan yang tajam. "Jadi, ini niatmu yang sebenarnya?"

Adrian tidak menyangka jika istrinya akan memutarbalikkan fakta, hingga membuatnya tampak seperti seorang pengecut yang serakah. Adrian pun berpikir sejenak dan memilih untuk mengakuinya. Dia lalu mengangguk dan berkata, "Benar. Kamila, aku memang mau cerai darimu dan kamu harus membayar ganti rugi! Kalau kemarin kamu mau tanda tangan, nilainya memang 3,2 triliun. Tapi, sekarang, aku minta lebih banyak lagi!"

"Kurang ajar!"

Haris langsung naik pitam. Dia langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Adrian. Melihat Adrian tidak membalas, Haris berniat kembali memukulnya, tetapi buru-buru ditarik oleh Kamila.

Kamila sendiri tidak menyangka jika ayahnya akan main tangan. Dia pun buru-buru berkata kepada Adrian, "Cepat akui kesalahanmu, minta maaf pada Ayah dan minta maaf kepadaku. Minta Ayah untuk memaafkanmu dan setelah ini jangan pernah lagi bikin Ayah marah …."

Adrian tertawa sinis. Dia bisa merasakan gusinya berdarah akibat pukulan itu. Setelah memutar lidahnya di dalam mulutnya, Adrian lalu meludahkan darah ke lantai. "Aku nggak salah, buat apa aku minta maaf? Kamila, perceraian ini harus diresmikan hari ini juga!"

"Dasar manusia nggak tahu terima kasih! Hari ini, bakal kuhajar kamu sampai mati!"

Haris yang naik pitam hendak kembali memukul Adrian. Namun, tepat di saat itu, ibu mertua Adrian mendorong pintu dan masuk. Melihat situasi tersebut, ibu mertua Adrian pun terkejut setengah mati dan langsung berseru, "Aduh, Haris! Kamu, kamu kenapa pukul orang? Cepat berhenti!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Any Tobing
sanat menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 460

    Melihat hal itu, Adrian pun berkata, “Sudah kubilang, kalian nggak bakal percaya padaku. Kalian boleh tanya pada Tito. Aku mengobatinya sama persis seperti cara yang tertulis di situ. Sebenarnya, aku juga nggak meminta kalian menirunya mentah-mentah. Kalian semua itu spesialis. Jadi, tentu paham prinsip kalau pengalaman orang lain bisa dijadikan pelajaran.”“Baiklah, aku terima dulu!”Melihat Sita hendak pergi, Adrian pun berdeham beberapa kali.Adrian berkata, “Kamu nggak benar-benar berniat main ambil, lalu pergi begitu saja, seperti memungut barang gratis di pinggir jalan, ‘kan?”“Silsilah keluarga? Beberapa hari ini aku akan mencari kesempatan untuk masuk ke Gunung Aruni dan akan kuusahakan sebisaku untuk menemukannya untukmu.”“Kamu ini benar-benar pandai bicara omong kosong yang nggak berguna! Kalau aku menunggu kamu berbaik hati, kesempatan itu pasti sudah lama lewat. Soal silsilah keluarga, sudah kuselesaikan. Yang kubutuhkan adalah data rahasia seluruh anggota Keluarga Nandana

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 459

    "Adrian, jangan marah, dengarkan aku dulu! Kamu itu dokter. Makin banyak orang yang kamu selamatkan, makin besar pula prestasimu dan kamu akan bangga karena sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Lagi pula, aku mencari uang juga demi kebaikanmu. Hanya dengan menghasilkan uang, kita bisa hidup dengan baik. Coba kamu pikir, kalau kamu nggak punya uang dan aku juga nggak punya uang, apa hidup kita bisa enak? Pepatah bilang, pasangan suami istri yang hidup dalam kemiskinan akan mengalami banyak kesedihan, pertengkaran dan masalah dalam segala urusan rumah tangganya, benar ‘kan?"Melihat Adrian seperti itu, Kamila pun buru-buru menenangkannya.Akan tetapi, Adrian sudah bukan lagi dirinya yang dahulu. Sekarang, Adrian tidak akan percaya sepatah kata pun yang diucapkan istrinya.Adrian tidak akan menyelamatkan Yohana dan tekadnya tidak akan pernah goyah untuk mencari tahu siapa ayah kandung anak-anak itu, yaitu selingkuhan istrinya. Dendam karena dikhianati berkali-kali ini benar-benar tidak

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 458

    Kamila menemui Anna selain untuk membicarakan soal investasi Anna dalam sebuah proyek, dia juga punya satu permintaan pribadi, yaitu meminta Anna untuk memberikan rencana pengobatan ALS milik Tito.Anna merasa heran dan balik bertanya, “Apa maksudmu sebenarnya?”“Terus terang saja, aku bukannya bermaksud untuk nggak menghormatimu maupun ayahmu. Hanya saja, Yohana sudah didiagnosis menderita ALS. Ini masih tahap awal. Kalau rencana pengobatan ayahmu bisa dipakai, meski nggak menirunya persis, tapi pepatah bilang, pengalaman orang lain bisa dijadikan pelajaran. Jadi, rencana pengobatan ayahmu itu bisa menjadi bahan referensi bagi dokternya,” kata Kamila, mengungkapkan yang sebenarnya.“Oh, bukankah Yohana sedang mengincar putrimu? Kamu malah masih berpikir untuk menyelamatkannya?” tanya Anna. Adrian menyuruh Anna untuk mengarahkan serangan pada Yohana, tetapi sekarang Kamila justru ingin melindungi Yohana. Hal yang saling bertentangan seperti itu membuat Anna merasa serba salah.“Kalau a

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 457

    "Hah, nggak cocok!"Keesokan harinya, Adrian melihat data hasil eksperimen awal dan ternyata sampel-sampel itu tidak cocok dengan DNA putri-putrinya. Ini menunjukkan jika putri-putrinya tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.Tentu saja, ini hanyalah hasil tes cepat. Hasil yang paling akurat baru akan keluar tiga hari kemudian. Hanya saja, kedua hasil tersebut tidak akan memiliki perbedaan yang terlalu besar.Meski Adrian masih menunggu hasilnya, pada dasarnya dia sudah bisa mencoret nama orang-orang yang menjadi kandidat. Dari delapan orang, dipersempit lagi menjadi lima orang.Dalam satu sampai dua hari ini, masih akan ada sampel yang datang. Saat itu, Adrian seharusnya bisa kembali menguji semuanya. Adrian tahu jika hal ini tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.Sita menelepon dan meminta Adrian pergi ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional untuk menghadiri konsultasi medis mengenai pengobatan ALS yang diderita Yohana.Adrian mencari alasan untuk menolaknya dengan halus. Apa h

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 456

    Juwita berkata seperti itu. Dia juga berharap Adrian bisa bersama kakaknya, karena bagaimanapun, selama bertahun-tahun ini Adrian-lah yang paling baik kepada Lindri. Jauh lebih baik dibanding orang seperti Hardi.“Sekarang, dia nggak mau menerimaku. Apa setelah bercerai nanti, dia akan menerimaku? Menurutmu, apakah kemungkinan itu ada? Dia tahu apa yang pernah kulakukan. Setelah dia bebas nanti, wanita seperti Anna juga punya kesempatan yang lebih besar dariku.”“Tapi, urusan perasaan itu nggak bisa dipaksakan. Jangan bertindak semaunya sendiri dan mengubah hal baik yang ada sekarang menjadi buruk. Selain itu, menurutku, kerja samamu diam-diam dengan Kamila itu sudah melanggar batas Adrian. Apa nggak sebaiknya kamu pertimbangkan kembali?”“Kamu nggak tahu keadaan Keluarga Estiawan. Sebenarnya, Keluarga Estiawan sudah lama bangkrut dan hanya tampak megah di luarnya saja. Uang yang mereka miliki, sudah lama dikuras orang. Aku bekerja sama dengan Kamila untuk mencari sedikit uang, biar bi

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 455

    Setelah semua sampel itu dikirim, Adrian langsung memulai proses pengujian dan sisa waktunya dihabiskannya untuk menunggu.Malam harinya, Adrian tetap tinggal di klinik.Kamila tidak datang. Namun, Lindri dan Juwita datang berkunjung.Juwita sudah menjalani pengobatan dari Adrian. Setelah pulang dan berhubungan intim dengan suaminya, Juwita benar-benar hamil. Namun, karena beberapa alasan, Juwita tidak bisa mempertahankan kehamilannya tersebut, sehingga dia datang untuk berkonsultasi dengan Adrian mengenai cara menggugurkannya.Adrian menyarankan Juwita untuk menjalani pemeriksaan di bagian ginekologi, lalu mengikuti saran kepala departemen ginekologi. Masalah itu adalah masalah sepele. Jadi, Adrian tidak mau menangani kasus tersebut.Setelah selesai memeriksa pasien, Adrian mencuci tangan, lalu minum teh bersama mereka dan berkata, “Kalian berdua datang di saat yang tepat. Aku ingin minta sedikit bantuan dari kalian. Aku ingin tahu lebih banyak mengenai orang bernama Niko Nandana.”“O

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 5

    Adrian masuk ke bar dan mencari wanita pemilik bar tersebut. Begitu melihat pemilik bar itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam legam, Adrian kembali curiga jika rekaman kamera pengawas yang dilihatnya di hotel adalah palsu.Benar saja, saat Adrian ingin mengembalikan biaya kamar dan ua

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 4

    Menghadapi tuntutan istrinya yang tidak masuk akal itu, Adrian tentu saja langsung menolaknya. "Nggak mungkin! Aku nggak salah bicara. Hasil tes DNA itu nyata, jadi perselingkuhanmu itu juga nyata. Kamu sudah nggak setia dan nggak suci lagi. Jadi, pernikahan kita nggak ada gunanya lagi dipertahankan

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 3

    Dahulu, Kamila adalah wanita tercantik di Kota Raksi. Meski sekarang sudah menginjak usia 40 tahun, Kamila merawat tubuhnya dengan sangat baik dan hidup dalam gelimang kemewahan. Alih-alih terlihat menua, parasnya justru tampak seperti wanita berusia 28 tahun. Usia 40 tahun itu seakan hanya menambah

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 6

    Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status