Share

Bab 5

Author: Galih Rembulan
Adrian masuk ke bar dan mencari wanita pemilik bar tersebut. Begitu melihat pemilik bar itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam legam, Adrian kembali curiga jika rekaman kamera pengawas yang dilihatnya di hotel adalah palsu.

Benar saja, saat Adrian ingin mengembalikan biaya kamar dan uang deposit hotel, pemilik bar itu menolaknya. Dia membantah sudah memesankan kamar untuk Adrian dan malah menggoda Adrian dengan mengatakan bahwa jika dia ingin tidur dengan Adrian, dia bisa melakukannya di ruang istirahat bar, tidak perlu sampai menyewa kamar hotel. Pemilik bar itu juga menambahkan bahwa dia menyukai laki-laki muda berusia 18 tahun, bukan pria paruh baya yang sudah tidak menarik lagi seperti Adrian.

Hal ini membuat Adrian benar-benar bingung. Dia pun meminta untuk melihat rekaman kamera pengawas bar, tetapi pemilik bar itu mengatakan bahwa kamera-kamera tersebut hanya pajangan belaka, lalu menolak untuk menuruti permintaan Adrian yang tidak masuk akal itu.

Dengan hati kecewa dan gelisah, Adrian kembali ke mobilnya. Dia melihat kembali pesan di ponselnya dan berpikir dalam hati, 'Apa aku benar-benar mengirimkannya pada Kamila secara nggak sadar?'

Adrian lalu kembali menyewa sebuah kamar hotel. Setelah menatap kembali surat hasil tes DNA itu, Adrian kembali menampar wajahnya sendiri. Rasa sakit itu membuatnya tersadar sepenuhnya jika ini adalah dunia nyata.

Adrian lalu mengirimkan pesan singkat kepada kepala bagian rawat inap untuk mengajukan cuti. Dengan kondisi mentalnya yang seperti sekarang, jika dia tetap memaksakan diri untuk mengobati pasien, hal itu bisa dengan mudah memicu konflik antara dokter dan pasien.

Saat memikirkan posisinya yang biasa-biasa saja di rumah sakit, hati Adrian dipenuhi penyesalan dan kepedihan. Dahulu, dia lulus S1 dengan nilai yang hampir sempurna, lalu masuk rumah sakit ini. Dua tahun setelahnya, dia berhasil mendapatkan hak menulis resep obat, meraih gelar magister dan menyandang gelar dokter spesialis, masa depannya begitu cerah. Namun, dia malah bertemu dengan Kamila. Adrian jatuh cinta setengah mati pada Kamila, lalu menikah dan memiliki anak dengannya. Lantaran Keluarga Hadinata kaya raya dan berkuasa, Kamila merasa pekerjaan Adrian tidak terlalu penting. Kamila pun meminta Adrian untuk fokus pada keluarga dan mengurus putri mereka. Akibatnya, Adrian mengambil cuti kuliah setelah baru satu tahun kuliah S3 dan tidak lagi ikut serta dalam penilaian kenaikan jabatan. Jika bukan karena masih memiliki harga diri dan tekad sebagai seorang dokter, dia pasti sudah menuruti kata-kata istrinya untuk langsung resain, lalu menjadi bapak rumah tangga dan suami penuh waktu di rumah.

Lalu, apa hasilnya? Istrinya selingkuh dan putrinya bukan darah dagingnya, Adrian sudah ditipu habis-habisan. Pengorbanan dan kerja kerasnya selama belasan tahun berakhir sia-sia.

Hati Adrian begitu hancur dan merasa begitu tidak berdaya, hingga tidak ingin menemui siapa pun.

Setelah beberapa hari menginap di hotel, pada suatu malam, pintu kamarnya mendadak terbuka oleh kartu kunci. Istrinya, Kamila, melangkah masuk ke kamar.

"Adrian, kamu nggak pulang ke rumah, juga nggak kerja. Apa yang kamu lakukan dengan bersembunyi di tempat seperti ini?"

Kamila mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak ada aroma wanita lain dan penataan kamar pun terbilang cukup rapi. Hanya saja, di atas meja kopi terdapat sisa makanan cepat saji yang belum habis dan masih menyisakan bau makanan. Sementara itu, suaminya, Adrian, sedang berbaring di atas ranjang sambil menonton drama.

Melihat penampilan Adrian yang begitu terpuruk dan berantakan, Kamila merasa sangat tidak puas dan entah kenapa menjadi marah.

Adrian juga merasa kesal. "Aku mau ngapain aja, terserah aku, apa urusannya denganmu? Bukannya terakhir kali aku sudah bilang kalau kita akan cerai. Aku nggak ada hubungan apa-apa lagi denganmu! Karena kamu sudah telanjur datang, tanda tangani saja ini. Besok kita pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus semua prosedurnya."

Adrian lalu turun dari ranjang, mengambil dua salinan surat kesepakatan cerai dari dalam tas kerjanya, lalu menyodorkannya kepada Kamila.

"Kamu, kamu bahkan sudah menyiapkan surat kesepakatan cerai? Kamu benar-benar serius mau menceraikanku?"

Kamila sama sekali tidak menyangka jika Adrian akan kembali mengungkit masalah yang paling sensitif itu. Dia datang menemui Adrian bukan untuk bercerai, melainkan untuk membujuknya pulang dan berbaikan kembali.

Adrian pun berkata dengan tegas dan penuh percaya diri, "Bukankah aku sudah memperlihatkan hasil tes DNA itu kepadamu? Rani bukan anakku, dia anak hasil hubunganmu dengan orang lain. Kamu sudah selingkuh dan mengkhianatiku, jadi kita harus cerai. Semua poin perjanjiannya ada di sini, lihat saja baik-baik."

Kamila pun berkata, "Rani itu anakmu, aku nggak pernah mengkhianatimu, juga nggak selingkuh. Adrian, makan boleh sembarangan, tapi kalau bicara nggak boleh sembarangan …."

"Aku sudah mengatakannya dan akan terus mengatakannya. Kamila, kamu sudah selingkuh dan Rani itu anak haram hasil hubunganmu dengan pria-pria liar di luar sana! Apa pun konsekuensi dari ucapanku ini, aku yang akan tanggung jawab sepenuhnya. Kamila, apa kamu berani tanggung jawab atas semua perbuatanmu?"

Adrian tidak gentar sedikit pun. Dia tidak berutang apa pun pada Kamila. Sebaliknya, Kamila-lah yang berutang sangat banyak kepadanya.

Kamila pun mengerutkan kening. "Berani berbuat, berani tanggung jawab apa? Aku nggak selingkuh, juga nggak mengkhianatimu. Kamu mau aku mengakui apa?"

"Banyak bicara juga nggak ada gunanya. Lihat aja surat kesepakatannya. Kalau nggak ada keberatan, langsung tanda tangan."

Kamila pun membolak-balik surat kesepakatan itu. Amarahnya membuatnya enggan melihat klausul-klausulnya. Namun, begitu melihat nominal uang, Kamila langsung menjadi sangat sensitif. Dia pun menatap Adrian dengan tatapan kosong. "Kamu menuntutku membayar ganti rugi sebesar 3,2 triliun?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 274

    Kamila merasa Sita itu gila, benar-benar gila. Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa datang ke rumah dan mengatakan hal seperti itu. Kamila pun menelepon Adrian, tetapi tidak ada yang mengangkat teleponnya."Adrian, kamu nggak pulang hari demi hari. Berapa banyak orang yang ingin kamu sakiti?"Kamila benar-benar kesal. Kebakaran yang melanda Grup Hadinata sama sekali di luar prediksinya dan hingga kini masih belum diketahui siapa pelakunya. Tentu saja, melalui proses eliminasi, mereka sudah mencoret kemungkinan keterlibatan faksi ibu kota.Samar-samar, Kamila dan timnya merasa jika masih ada kekuatan lain di Kota Raksi yang arogan, tidak berperikemanusiaan dan sangat berbahaya. Mereka harus menemukan kekuatan itu dan kemudian menghancurkannya!Di Kota Raksi, tidak boleh ada keberadaan yang sekuat itu.Kamila pun kembali ke kamar dan melihat Rani sedang menguping. Kamila lalu berkata, "Mau ngapain lagi kamu? Kalau ingin mencari tahu urusan ayahmu, tanyakan saja terang-terangan. Ayahmu

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 273

    ‘Apa dia sengaja memancingku agar aku menunjukkan kelemahan?’Adrian tahu betul di dalam hati. Dia bertukar pandang dengan Sita, lalu tersenyum lega. Adrian memutuskan untuk menganggap Sita tidak ada. Dia lalu membuka dokumen di komputernya dan mulai bekerja.Melihat Adrian merapikan rekam medis dan membalas email dari para dokter di departemennya, yang berisi pertanyaan medis dan beberapa kasus klinis yang sulit, Sita pun berkata, "Kamu buang-buang waktu dengan melakukan pekerjaan ini. Kamu nggak pantas memegang jabatan wakil kepala departemen dan ketua tim medis rumah sakit.""Kalau begitu, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?" Adrian menanggapi dengan santai dan balik bertanya."Kamu seharusnya berada di garis depan ruang gawat darurat, menggunakan kemampuan medismu untuk menyelamatkan nyawa pasien semaksimal mungkin.""Kamu benar. Tapi, lain kali nggak usah mengatakannya lagi." Adrian meminta kepala perawat masuk untuk memberikan beberapa tugas, lalu dia pergi menemui Mirza.M

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 272

    "Dokter Adrian, ini Sita Nandana. Dia dijuluki Dokter Sakti Cilik Kota Raksi. Dia ingin mengetahui rencana pengobatanmu untuk Emir, serta pemikiranmu mengenai hal itu." Direktur sementara memperkenalkannya pada Adrian."Terima kasih atas bantuannya, Dokter Adrian. Aku datang atas perintah, mohon maaf kalau mengganggu." Sita si Dokter Sakti Cilik itu tersenyum dan mengangguk, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Adrian.Dokter Sakti Cilik? Jika itu bukan sekadar pujian, dengan usia semuda itu sudah menyandang gelar tersebut, jelas menunjukkan kemampuan medis Sita luar biasa. Keluarga Nandana di Kota Raksi ini benar-benar memiliki fondasi yang sangat kuat. ‘Aku belum pernah melihat rekam jejak pengobatan Dokter Sakti Cilik ini dan bahkan belum pernah mendengarnya sama sekali. Benar-benar misterius. Pantas menjadi anggota keluarga misterius ….’ Adrian mulai menjadi serius dan tertekan di dalam hati. Namun, dia sudah punya strategi. Adrian lalu membuka ponselnya, mencari berkas pemeriksaan

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 271

    Adrian langsung ditanya balik oleh Rani, "Apa yang kamu katakan itu benar? Apa nama keluargaku benar-benar Nandana? Siapa nama ayah kandungku?"“Sejauh ini, aku cuma berhasil menyelidiki sampai di sini. Tanyakan pada Kamila. Kamu baru akan tahu, kalau dia memberitahumu. Rani, sekarang kamu benar-benar sudah bisa membanggakan diri.”Adrian menutup teleponnya, lalu kembali merokok dan kembali berpikir. Dia mulai merasa agak menyesal. Seharusnya dia mengambil sedikit sampel biologis dari Hardi, sebaiknya darah atau semacamnya, sehingga bisa digunakan untuk tes DNA. Jika Rani dan yang lainnya benar-benar anak Hardi, dia tidak perlu lagi tersiksa oleh masalah ini. Sisanya, terserah pada bagaimana Kamila memilih dan menjelaskannya.Saat ini, Kamila sibuk menangani dampak negatif dari kebakaran Grup Hadinata. Kamila sama sekali tidak punya waktu untuk menemui Adrian.Larut malam, Adrian menerima pesan dari Lindri, lalu keduanya berbicara melalui telepon."Kamu lagi nggak sama Hardi?""Kekasih

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 270

    "Keluarga lapisan misterius? Keluarga Nandana?"Berkat kebangkitan Kamila, Keluarga Hadinata yang awalnya merupakan keluarga kelas menengah ke atas, langsung terdorong naik menjadi salah satu keluarga papan atas di Kota Raksi.Tentu saja, jika dilihat dari skala nasional, Keluarga Hadinata tetaplah termasuk keluarga kelas menengah ke atas.Setelah menutup telepon, Adrian berdiri di dekat jendela sambil merokok. Dia menatap pemandangan jalan di luar rumah sakit. Makin jauh suatu benda, makin kecil dia terlihat."Saat ini, kalau aku adalah pejalan kaki di jalan di bawah sana, orang Keluarga Nandana adalah para pengamat yang berdiri di ketinggianku ini. Mereka berada di atas sana dan hampir nggak dikenal oleh rakyat jelata. Itu sebabnya, mereka tampak begitu misterius. Tapi, kenyataannya, mereka juga manusia biasa, sama-sama makan nasi dan sayur, juga sama-sama mengalami kelahiran, penuaan, penyakit dan kematian!""Hardi juga manusia biasa. Dia nggak punya tiga kepala dan enam lengan."Ad

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 269

    Kondisi Hardi sebenarnya tidak terlalu parah. Namun, karena latar belakangnya terpandang, tetap saja diadakan beberapa kali konsultasi medis dengan para spesialis. Tentu saja, masalah utamanya tetap terletak pada rombongan Keluarga Nandana yang mendampinginya. Mereka berharap rumah sakit bisa menyusun rencana yang sempurna, agar masalah Hardi bisa diselesaikan dengan tuntas.Adrian berpegang pada batas kemampuan seorang dokter. Dia tidak memberikan jaminan yang berlebihan mengenai pengobatannya, sehingga dia hanya menyuruh Hardi untuk tetap tinggal dan dirawat di rumah sakit.Selama pengobatan itu, Adrian tidak pulang ke rumah dan tidak berinisiatif menghubungi Kamila. Apa pun yang dilakukan Kamila, tidak ada hubungannya dengan dirinya.Siang hari berikutnya, Hardi sadar dan merasa dirinya sudah sehat kembali. Dia lalu mencabut selang infus tanpa berkonsultasi dengan dokter dan langsung keluar rumah sakit begitu saja.Adrian memberitahukan hal ini kepada direktur sementara, meminta Kel

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 4

    Menghadapi tuntutan istrinya yang tidak masuk akal itu, Adrian tentu saja langsung menolaknya. "Nggak mungkin! Aku nggak salah bicara. Hasil tes DNA itu nyata, jadi perselingkuhanmu itu juga nyata. Kamu sudah nggak setia dan nggak suci lagi. Jadi, pernikahan kita nggak ada gunanya lagi dipertahankan

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 3

    Dahulu, Kamila adalah wanita tercantik di Kota Raksi. Meski sekarang sudah menginjak usia 40 tahun, Kamila merawat tubuhnya dengan sangat baik dan hidup dalam gelimang kemewahan. Alih-alih terlihat menua, parasnya justru tampak seperti wanita berusia 28 tahun. Usia 40 tahun itu seakan hanya menambah

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 2

    Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Adrian terbangun dari rasa pusing akibat mabuk berat dan menyadari jika dirinya sudah berada di sebuah tempat tidur hotel yang mewah dan besar.Di balik selimut, Adrian mendapati dirinya sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Melihat jejak-jejak kekacauan yang a

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 6

    Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status