Share

Bab 6

Author: Galih Rembulan
Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang menghasilkan. Tapi, selama enam belas tahun ini, kamu benar-benar sudah membohongiku. Kasih aku 200 miliar per tahun sebagai ganti rugi atas kerugian mental, dengan total 3,2 triliun untuk 16 tahun, menurutku itu sama sekali nggak berlebihan!"

Ekspresi Kamila langsung menjadi dingin. Matanya yang indah menatap tajam ke arah Adrian, mencoba membaca apa yang sebenarnya dipikirkan Adrian melalui ekspresi dan sorot mata Adrian. Kesimpulan yang didapatkan Kamila membuat Kamila merasa jika Adrian yang berada di hadapannya ini tiba-tiba menjadi begitu asing. Pria yang sudah tidur seranjang dengannya selama 16 tahun ini, ternyata bisa berubah menjadi begitu asing seperti ini.

Sementara itu, Adrian mengira Kamila enggan memberikan uang itu, sehingga dia pun tertawa sinis, "Kamila, begitu bicara soal uang, wajahmu langsung berubah. Tapi, ini juga membuatku melihat sisi burukmu yang lain. Kalau kamu pikir aku cuma mengincar uangmu, aku nggak lagi menginginkan uang itu. Mari kita segera cerai sekarang juga."

"Kamu …."

Kamila memang mengira jika tuntutan Adrian sebesar 3,2 triliun itu hanyalah sebuah alasan. Dia tidak mungkin mengabulkan permintaan itu dan hendak menegur Adrian. Namun, begitu Adrian menyatakan rela melepaskan uang tersebut asalkan mereka bercerai, Kamila pun mendadak tidak mampu berkata-kata.

"Kamila, kamu nggak mengakui perselingkuhanmu, nggak mau kasih aku ganti rugi dan nggak sudi bercerai denganku. Sebenarnya apa maumu itu? Kamu pikir, kamu bisa terus mengendalikan dan memanfaatkanku? Biar kuperjelas, jangan harap!"

Nada bicara Adrian terdengar makin dingin.

"Adrian, aku katakan sekali lagi, aku nggak selingkuh dan nggak mengkhianatimu! Kalau kamu terus memfitnah, mencemarkan nama baikku dan merusak reputasiku, aku bisa menuntutmu. Jangan mentang-mentang kita ini suami istri, aku tetap bisa membuatmu merasakan akibatnya."

Setelah memperingatkan Adrian, Kamila segera mengubah taktiknya dengan menggunakan pendekatan yang lebih lembut. Dengan suara yang sedikit lebih lembut, dia pun berkata, "Adrian, ayolah jangan ribut lagi. Pulanglah bersamaku, ya? Aku membutuhkanmu, anak-anak membutuhkanmu dan keluarga kita jauh lebih membutuhkanmu."

Jika tidak menyinggung soal anak, Adrian masih bisa menahan amarahnya. Namun, anak-anak di rumah itu bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Dia sama sekali tidak punya kewajiban untuk merawat maupun membesarkan ketiga anak haram itu!

Tentu saja, Adrian bukanlah tipe orang yang suka membuat keributan. Dia lebih memilih untuk menghadapi masalah ini dengan tenang, terutama setelah mendengar ada suara langkah orang di koridor luar. Adrian pun menyahut dengan nada yang lebih tenang, "Kamila, aku sudah menunjukkan bukti yang begitu jelas. Bagaimana bisa kamu memilih untuk mengabaikannya? Aku tegaskan sekali lagi, anak-anak itu bukan anakku!"

"Keras kepala banget! Aku suruh kamu pulang, tapi kamu nggak mau. Kalau gitu, nggak usah pulang sekalian! Tinggal saja di sini dan ratapi nasibmu!"

Kamila merasa sangat kecewa pada Adrian. Dia pun berbalik dan pergi begitu saja.

Adrian berdiri di dekat jendela. Dari sana, dia bisa melihat mobil mewah istrinya di bawah. Kamila menunggu di bawah selama sekitar 30 menit. Jelas sekali, Kamila bermaksud memberikan kesempatan bagi Adrian untuk menyerah.

'Kamu sudah selingkuh, kamu melahirkan tiga anak haram untuk pria lain dan kamu sudah menghancurkan seluruh cinta yang kuberikan kepadamu!'

"Kamila, kelakuanmu benar-benar bejat!"

Adrian menutup tirai, lalu kembali menonton televisi, sampai akhirnya dia tertidur tanpa disadari.

Keesokan harinya saat terbangun, Adrian menyadari jika bantalnya terasa agak dingin, itu adalah bekas air matanya.

'Sialan, apa kedatangan Kamila semalam langsung membuat pertahananku runtuh?'

Adrian selalu mengira jika dirinya adalah sosok yang kuat. Namun, kenyataannya, saat dia terlelap dalam tidur yang menenangkan pikirannya, kelemahannya datang tanpa suara, hingga tanpa disadari air matanya membasahi bantal.

Setelah termenung dengan perasaan gundah untuk waktu yang cukup lama, Adrian pun kemudian meninggalkan hotel dan tiba di depan rumah mertuanya. Adrian sempat berdiri terpaku di sana untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya memantapkan hati untuk mendorong pintu dan melangkah masuk.

Rumah mertuanya juga berupa sebuah vila. Meski itu adalah bangunan lama, lingkungan di sekitar tempat itu sangatlah asri. Orang-orang yang tinggal di kompleks ini rata-rata adalah para pensiunan pejabat tinggi atau mantan direktur yang dahulunya pernah merajai dunia bisnis. Singkatnya, mereka semua adalah orang-orang kaya ataupun terpandang.

Begitu melangkah masuk, Adrian melihat ayah mertuanya, Haris Hadinata, sedang bermain catur dengan salah seorang pensiunan pejabat. Setelah menyapa mereka, Adrian baru mengetahui jika ibu mertuanya sedang tidak ada di rumah karena pergi mengunjungi sahabat lamanya untuk menjaga silaturahmi.

Permainan catur Haris sudah memasuki babak pertengahan menuju akhir. Haris tampak begitu kesulitan hingga tanda-tanda kekalahannya mulai terlihat. Haris pun memberikan isyarat mata kepada Adrian untuk meminta bantuan. Setelah mendapatkan petunjuk dari Adrian, Haris akhirnya berhasil memaksakan hasil pertandingan menjadi seri.

Pensiunan pejabat itu merasa agak tidak rela karena posisi awalnya sudah sangat menguntungkan. Sambil melirik Adrian yang berdiri di sampingnya, dia pun berkata, "Haris, situasi yang sudah sebagus ini bisa kamu balikkan. Aku nggak terima, ya. Ayo kita main satu babak lagi. Tapi, kalian berdua, mertua dan menantu, nggak boleh saling kasih kode mata lagi."

"Ayah, aku pergi baca buku sebentar, ya. Setelah Ayah selesai main catur, ada hal yang mau kubicarakan."

Adrian tahu jika pensiunan pejabat itu merasa tidak senang. Jadi, setelah mendapat persetujuan dari Haris, Adrian pun pergi ke ruang kerja terlebih dahulu.

Sekitar setengah jam kemudian, Haris memanggil Adrian keluar untuk bersama-sama mengantarkan pensiunan pejabat tersebut pulang. Begitu kembali ke ruang tamu, Haris menyuruh Adrian duduk dan mengajaknya bermain catur. Haris menyadari jika Adrian berniat mengincar hasil seri, sehingga dia pun terpaksa mengakhiri permainan itu dengan cepat.

Haris juga melihat Adrian menyuruh pembantu rumah tangga pergi agar di rumah itu hanya tinggal mereka berdua saja. Haris pun lalu berkata, "Ada apa? Kenapa begitu misterius? Katakan saja langsung."

Adrian menanyakan beberapa hal mengenai kesehatan Haris. Lalu, berdasarkan pengamatannya terhadap rona wajah Haris, Adrian pun menilai jika kondisi fisik Haris masih cukup bugar. Ucapan yang akan dia sampaikan nanti seharusnya tidak sampai membuat Haris syok. Oleh karena itu, Adrian langsung mengeluarkan hasil tes DNA itu dan menyerahkannya kepada Haris untuk dilihat.

Haris melirik surat itu sekilas. Haris yang awalnya terlihat santai, langsung mengerutkan kening. Samar-samar, dia pun mulai merasa gelisah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sampe Batara
menarik untuk dibaca
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 274

    Kamila merasa Sita itu gila, benar-benar gila. Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa datang ke rumah dan mengatakan hal seperti itu. Kamila pun menelepon Adrian, tetapi tidak ada yang mengangkat teleponnya."Adrian, kamu nggak pulang hari demi hari. Berapa banyak orang yang ingin kamu sakiti?"Kamila benar-benar kesal. Kebakaran yang melanda Grup Hadinata sama sekali di luar prediksinya dan hingga kini masih belum diketahui siapa pelakunya. Tentu saja, melalui proses eliminasi, mereka sudah mencoret kemungkinan keterlibatan faksi ibu kota.Samar-samar, Kamila dan timnya merasa jika masih ada kekuatan lain di Kota Raksi yang arogan, tidak berperikemanusiaan dan sangat berbahaya. Mereka harus menemukan kekuatan itu dan kemudian menghancurkannya!Di Kota Raksi, tidak boleh ada keberadaan yang sekuat itu.Kamila pun kembali ke kamar dan melihat Rani sedang menguping. Kamila lalu berkata, "Mau ngapain lagi kamu? Kalau ingin mencari tahu urusan ayahmu, tanyakan saja terang-terangan. Ayahmu

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 273

    ‘Apa dia sengaja memancingku agar aku menunjukkan kelemahan?’Adrian tahu betul di dalam hati. Dia bertukar pandang dengan Sita, lalu tersenyum lega. Adrian memutuskan untuk menganggap Sita tidak ada. Dia lalu membuka dokumen di komputernya dan mulai bekerja.Melihat Adrian merapikan rekam medis dan membalas email dari para dokter di departemennya, yang berisi pertanyaan medis dan beberapa kasus klinis yang sulit, Sita pun berkata, "Kamu buang-buang waktu dengan melakukan pekerjaan ini. Kamu nggak pantas memegang jabatan wakil kepala departemen dan ketua tim medis rumah sakit.""Kalau begitu, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?" Adrian menanggapi dengan santai dan balik bertanya."Kamu seharusnya berada di garis depan ruang gawat darurat, menggunakan kemampuan medismu untuk menyelamatkan nyawa pasien semaksimal mungkin.""Kamu benar. Tapi, lain kali nggak usah mengatakannya lagi." Adrian meminta kepala perawat masuk untuk memberikan beberapa tugas, lalu dia pergi menemui Mirza.M

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 272

    "Dokter Adrian, ini Sita Nandana. Dia dijuluki Dokter Sakti Cilik Kota Raksi. Dia ingin mengetahui rencana pengobatanmu untuk Emir, serta pemikiranmu mengenai hal itu." Direktur sementara memperkenalkannya pada Adrian."Terima kasih atas bantuannya, Dokter Adrian. Aku datang atas perintah, mohon maaf kalau mengganggu." Sita si Dokter Sakti Cilik itu tersenyum dan mengangguk, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Adrian.Dokter Sakti Cilik? Jika itu bukan sekadar pujian, dengan usia semuda itu sudah menyandang gelar tersebut, jelas menunjukkan kemampuan medis Sita luar biasa. Keluarga Nandana di Kota Raksi ini benar-benar memiliki fondasi yang sangat kuat. ‘Aku belum pernah melihat rekam jejak pengobatan Dokter Sakti Cilik ini dan bahkan belum pernah mendengarnya sama sekali. Benar-benar misterius. Pantas menjadi anggota keluarga misterius ….’ Adrian mulai menjadi serius dan tertekan di dalam hati. Namun, dia sudah punya strategi. Adrian lalu membuka ponselnya, mencari berkas pemeriksaan

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 271

    Adrian langsung ditanya balik oleh Rani, "Apa yang kamu katakan itu benar? Apa nama keluargaku benar-benar Nandana? Siapa nama ayah kandungku?"“Sejauh ini, aku cuma berhasil menyelidiki sampai di sini. Tanyakan pada Kamila. Kamu baru akan tahu, kalau dia memberitahumu. Rani, sekarang kamu benar-benar sudah bisa membanggakan diri.”Adrian menutup teleponnya, lalu kembali merokok dan kembali berpikir. Dia mulai merasa agak menyesal. Seharusnya dia mengambil sedikit sampel biologis dari Hardi, sebaiknya darah atau semacamnya, sehingga bisa digunakan untuk tes DNA. Jika Rani dan yang lainnya benar-benar anak Hardi, dia tidak perlu lagi tersiksa oleh masalah ini. Sisanya, terserah pada bagaimana Kamila memilih dan menjelaskannya.Saat ini, Kamila sibuk menangani dampak negatif dari kebakaran Grup Hadinata. Kamila sama sekali tidak punya waktu untuk menemui Adrian.Larut malam, Adrian menerima pesan dari Lindri, lalu keduanya berbicara melalui telepon."Kamu lagi nggak sama Hardi?""Kekasih

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 270

    "Keluarga lapisan misterius? Keluarga Nandana?"Berkat kebangkitan Kamila, Keluarga Hadinata yang awalnya merupakan keluarga kelas menengah ke atas, langsung terdorong naik menjadi salah satu keluarga papan atas di Kota Raksi.Tentu saja, jika dilihat dari skala nasional, Keluarga Hadinata tetaplah termasuk keluarga kelas menengah ke atas.Setelah menutup telepon, Adrian berdiri di dekat jendela sambil merokok. Dia menatap pemandangan jalan di luar rumah sakit. Makin jauh suatu benda, makin kecil dia terlihat."Saat ini, kalau aku adalah pejalan kaki di jalan di bawah sana, orang Keluarga Nandana adalah para pengamat yang berdiri di ketinggianku ini. Mereka berada di atas sana dan hampir nggak dikenal oleh rakyat jelata. Itu sebabnya, mereka tampak begitu misterius. Tapi, kenyataannya, mereka juga manusia biasa, sama-sama makan nasi dan sayur, juga sama-sama mengalami kelahiran, penuaan, penyakit dan kematian!""Hardi juga manusia biasa. Dia nggak punya tiga kepala dan enam lengan."Ad

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 269

    Kondisi Hardi sebenarnya tidak terlalu parah. Namun, karena latar belakangnya terpandang, tetap saja diadakan beberapa kali konsultasi medis dengan para spesialis. Tentu saja, masalah utamanya tetap terletak pada rombongan Keluarga Nandana yang mendampinginya. Mereka berharap rumah sakit bisa menyusun rencana yang sempurna, agar masalah Hardi bisa diselesaikan dengan tuntas.Adrian berpegang pada batas kemampuan seorang dokter. Dia tidak memberikan jaminan yang berlebihan mengenai pengobatannya, sehingga dia hanya menyuruh Hardi untuk tetap tinggal dan dirawat di rumah sakit.Selama pengobatan itu, Adrian tidak pulang ke rumah dan tidak berinisiatif menghubungi Kamila. Apa pun yang dilakukan Kamila, tidak ada hubungannya dengan dirinya.Siang hari berikutnya, Hardi sadar dan merasa dirinya sudah sehat kembali. Dia lalu mencabut selang infus tanpa berkonsultasi dengan dokter dan langsung keluar rumah sakit begitu saja.Adrian memberitahukan hal ini kepada direktur sementara, meminta Kel

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 1

    Adrian Pramudya terpaku menatap tiga lembar hasil tes DNA di depannya. Tulisan "Dinyatakan Tidak Memiliki Hubungan Darah" di dalam stempel merah itu terlihat begitu menusuk mata.Ketiga putrinya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.Putri sulungnya berusia 15 tahun, putri kedua 11 tah

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 7

    Menghadapi tatapan menyelidik Haris, Adrian pun berkata, "Ini benar. Awalnya aku juga nggak percaya dengan kenyataan ini. Makanya, aku melakukan beberapa kali tes. Tapi, hasilnya … kesimpulannya selalu sama."Haris tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia menatap Adrian dengan tajam, seakan sedang me

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 5

    Adrian masuk ke bar dan mencari wanita pemilik bar tersebut. Begitu melihat pemilik bar itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam legam, Adrian kembali curiga jika rekaman kamera pengawas yang dilihatnya di hotel adalah palsu.Benar saja, saat Adrian ingin mengembalikan biaya kamar dan ua

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 4

    Menghadapi tuntutan istrinya yang tidak masuk akal itu, Adrian tentu saja langsung menolaknya. "Nggak mungkin! Aku nggak salah bicara. Hasil tes DNA itu nyata, jadi perselingkuhanmu itu juga nyata. Kamu sudah nggak setia dan nggak suci lagi. Jadi, pernikahan kita nggak ada gunanya lagi dipertahankan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status