Share

Bab 2

Author: Galih Rembulan
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Adrian terbangun dari rasa pusing akibat mabuk berat dan menyadari jika dirinya sudah berada di sebuah tempat tidur hotel yang mewah dan besar.

Di balik selimut, Adrian mendapati dirinya sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Melihat jejak-jejak kekacauan yang ada, pasti telah terjadi "hal yang menyenangkan".

Kepala Adrian terasa agak berdengung. Adrian berusaha keras mengingat kejadian semalam. Lantaran mengetahui pengkhianatan istrinya dan tidak ingin menghadapinya, Adrian pun memilih untuk mabuk-mabukan. Akan tetapi, Adrian sama sekali tidak ingat apa yang terjadi setelah dia mabuk.

Adrian benar-benar hilang ingatan karena terlalu mabuk.

'Jangan-jangan aku pergi ke hotel dengan wanita dari bar? Kalau gitu, secara fisik aku juga udah selingkuh. Apa bedanya aku dengan Kamila? Nggak, jelas beda! Aku dan Kamila sudah mau cerai. Aku nggak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Ke depannya, gimana aku mau menjalani hidup, itu urusanku sendiri!'

Adrian mencari-cari alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Saat hendak bangun, tiba-tiba kepala Adrian terasa begitu sakit, sehingga Adrian tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang kesakitan.

Tidak lama kemudian, Adrian mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Saat Adrian menoleh, dia melihat istrinya berjalan keluar dari kamar mandi.

'Apa aku ketahuan selingkuh di tempat tidur? Kamila, kamu sudah membohongiku begitu lama dan sialnya aku sama sekali nggak pernah curiga kalau kamu selingkuh dan mengkhianatiku. Aku bahkan nggak menyadari sedikit pun tentang dirimu dan pria simpananmu itu. Sementara aku, baru sekali ini aku khilaf karena mabuk, langsung tertangkap basah olehmu di tempat kejadian. Sialan, benar-benar nggak adil!'

Adrian berpikir seperti itu. Dia menatap istrinya dengan tatapan nanar, sambil memikirkan bagaimana harus bicara dengannya.

Akan tetapi, di saat seperti itu, istrinya malah berkata, "Kamu sudah bangun? Minum alkohol sebanyak itu, lalu baru bisa tidur setelah berulah sampai subuh. Sekarang badanmu pasti capek dan nggak karuan, 'kan? Sudah nggak muda lagi, masih aja minum sepuasnya begini. Besok-besok nggak boleh lagi, ya. Aku sudah siapkan sup untukmu. Ayo, bangun dan makan."

Adrian tidak melihat tanda-tanda istrinya marah. Sebaliknya, Kamila malah membantunya duduk dan melayaninya, sehingga membuat Adrian menjadi agak bingung.

"Bagaimana aku bisa sampai di sini? Lalu kamu, kok kamu bisa datang ke sini?"

Dalam kondisi setengah sadar, Adrian tiba-tiba teringat jika semalam bukankah dia mendatangi rumah baru istrinya? Seharusnya dia tidak berada di sini.

"Semalam kamu mengirim pesan dan menyuruhku datang menemanimu. Aku nggak nyangka kamu minum sebanyak itu sampai mabuk berat, bahkan sampai berbuat nekat saat mabuk. Semalam kamu agak menakutkan, gaya mainmu beda dari biasanya sampai membuatku kewalahan. Lain kali, kalau mau main seperti itu lagi, kamu harus bilang dulu biar aku bisa siap-siap. Kalau nggak, kamu bisa menyakitiku."

Kamila tersenyum tipis, matanya yang indah seakan memancarkan kebahagiaan yang manis dan pipinya yang merona memancarkan pesona kedewasaan yang begitu menggoda. Adrian semalam benar-benar sangat tangguh dan kembali berhasil menaklukkannya.

Adrian segera mengumpulkan kesadarannya, lalu memeriksa ponselnya. Adrian mendapati jika semalam dirinya memang benar-benar mengirim pesan kepada Kamila, sehingga membuatnya langsung menjadi bingung. Adrian sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam. Bagaimana mungkin dalam kondisi semabuk itu, dia masih bisa mengirim pesan dan bahkan melakukan hal itu?

Baiklah, ini akan menjadi yang terakhir kalinya dia melakukan hubungan suami istri dengan Kamila. Adrian pun menerima kenyataan ini. Dia segera merapikan diri dan check-out dari hotel. Adrian baru tahu jika kamar itu ternyata dipesan dengan menggunakan KTP-nya sendiri, lalu biaya kamar dan uang deposit sebesar dua puluh juta sudah dibayar secara tunai. Adrian sempat meminta untuk melihat rekaman kamera pengawas semalam, tetapi pihak hotel menolak dengan alasan melindungi privasi pelanggan. Adrian hanya berhasil mendapatkan informasi jika orang yang mengantarkannya ke hotel adalah seorang wanita berambut pendek dengan warna merah.

Untuk sesaat, Adrian tidak bisa memikirkan siapa wanita itu. Ditambah lagi karena Kamila sudah mendesaknya, Adrian pun bergegas meninggalkan lobi hotel untuk pergi makan bersama istrinya.

Emeline adalah salah satu restoran kelas atas terbaik di Kota Raksi, yang merupakan milik Keluarga Hadinata.

Kamila meminta pelayan untuk membukakan sebuah ruang VIP yang tenang. Selain memesan beberapa hidangan lezat, Kamila juga secara khusus memesankan sup ayam dan jahe untuk Adrian, guna memulihkan staminanya. Bagaimanapun, gairah Adrian kepadanya semalam benar-benar membuat Kamila merasa sangat puas dan merasakan kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Adrian tidak terlalu berselera makan. Setelah menyantap sedikit makanannya, dia meletakkan sendok dan garpunya. Adrian lalu menatap pesan yang terkirim dari ponselnya: [Aku sedang minum dan malas pulang ke rumah. Sudah lama kita nggak main di hotel. Aku ingin mengulang masa-masa itu, cepatlah datang.] Pesan seperti itu tidak mungkin dikirimkan Adrian kepada Kamila, terutama dalam situasi di mana Adrian sudah tahu jika istrinya sudah mengkhianatinya.

Melihat Adrian yang tampak melamun, Kamila pun tertawa kecil. "Ayo, cepat habiskan supnya. Kamu memang masih sehebat dulu, tapi kamu kan sudah 40 tahun. Soal yang satu itu, harus santai saja, jangan dipakai terus-menerus, biar bisa tahan lama!"

Adrian sama sekali tidak bisa menikmati godaan itu. Menatap Kamila yang tampak begitu cantik menawan di depannya, hati Adrian justru perlahan-lahan menjadi terasa getir. Kamila adalah tipe wanita yang begitu cantik dan memikat. Bahkan, setelah memandangnya selama belasan tahun sekalipun, Adrian tetap tidak pernah merasa bosan. Jika bukan karena mengetahui fakta jika istrinya sudah selingkuh dan mengkhianatinya, Adrian pasti akan tetap terus tergila-gila pada wanita itu hingga puluhan tahun ke depan.

Adrian pun bertanya kepada Kamila, "Kamila, kamu begitu cantik. Apa di luar sana ada pria yang mengejarmu?"

"Tentu saja ada."

Istrinya, Kamila, mengunyah makanannya perlahan-lahan dengan gerakan yang begitu anggun.

Perasaan Adrian langsung tidak nyaman. Dian pun bertanya, "Lalu, apa kamu pernah tidur dengan mereka?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 100

    Adrian tidak mengetahui soal kejadian di sekolah khusus putri itu. Hari ini, pihak Rumah Sakit Pengobatan Tradisional kembali datang memintanya untuk melakukan operasi. Awalnya, Adrian mempelajari kondisi penyakit tersebut dan merasa itu cukup sulit, tetapi masih dalam batas kemampuannya, sehingga Adrian pun menyetujuinya.Pasiennya tetaplah seorang pria lanjut usia yang mengalami masalah pada jantung dan paru-parunya. Kondisinya sangat kritis. Awalnya, pasien itu hendak dikirim ke Rumah Sakit Umum agar Willy yang menjadi dokter bedah utamanya. Namun, karena akhir-akhir ini Rumah Sakit Umum terus-menerus mengalami masalah, keluarga pasien menjadi ragu.Di ruang konsultasi, Adrian terlebih dahulu berkata, "Pak Farid, Pak Johan, ada pepatah yang mengatakan kalau semua harus dibatasi. Ini sudah operasi ketiga. Apa rekan-rekan di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional nggak keberatan dengan kehadiranku sebagai orang luar yang terus datang membantu operasi di rumah sakit kalian?"Adrian merenda

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 99

    Di luar dugaan Adrian dan Kamila, seorang tamu tak diundang mendatangi Rani di sekolah khusus putri tersebut. Tujuan awal Kamila menempatkan putrinya di lingkungan yang asing, bahkan mengatur asrama terpisah, adalah agar putrinya itu tidak diejek atau mendapat pengaruh buruk orang lain. Namun, saat ini terlihat jelas jika ada saja hal yang terlewatkan.Setelah selesai mengikuti pelajaran dan kembali ke asrama, Rani mendapati ada seorang wanita muda di sana. Usianya belum genap 30 tahun, wajahnya biasa saja, tetapi bentuk tubuhnya cukup bagus dan sintal, sampai-sampai membuat Rani berharap bisa memiliki tubuh seperti itu saat dia dewasa nanti."Apakah Anda guru baru? Atau siapa yang menyuruh Anda masuk untuk mencari saya? Kamila, atau siapa?""Oh?" Wanita muda itu merasa sedikit penasaran, apakah dirinya begitu mudah ditebak hanya dengan sekali lihat saja?"Sebelum masuk ke sekolah ini, saya sudah memeriksa seluruh data staf pengajar dan siswa di sini. Cuma Anda yang nggak ada di dalam

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 98

    Adrian segera mengisap rokoknya dalam-dalam, mencoba menekan niat jahat yang muncul di hatinya itu. Adrian terus memperingatkan dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang dokter, bukan tukang jagal dan bukan seorang pembunuh."Seberapa akrab kamu dengan istriku?" tanya Adrian."Soal itu, kamu harus tanyakan langsung pada Kamila, hehehe!""Aku sudah tanya, tapi dia nggak jawab. Tapi, aku tahu dia cuma menutup-nutupi. Pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Karena kamu sudah datang, katakan saja semuanya.""Dia nggak kasih tahu kamu, itu karena kamu nggak berhak untuk tahu!""Nggak berhak?""Benar, memangnya apa latar belakangmu? Apa kamu merasa pantas bicara denganku? Tadinya kamu nggak punya apa-apa. Cuma karena Kamila sudi menikah denganmu, barulah kamu bisa masuk ke kalangan atas. Meski begitu, kamu tetaplah terlihat hebat di luarnya saja. Penting bagi orang untuk menyadari posisinya sendiri!""Kata-kata seperti itu sudah pernah diucapkan oleh ayah mertuaku. Bagiku, 20 tahun masa

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 97

    Di Grup Hadinata.Kamila mengetahui jika Adrian kembali pergi memancing di tepi sungai. Dengan adanya pembantu muda yang membuntuti, Kamila tidak terlalu memikirkannya.Namun, saat melihat Adam masuk, hati Kamila tetap merasa cemas. Kamila pun langsung berkata, "Kenapa kamu datang tanpa diundang? Sekarang ada banyak orang yang mencari tahu tentang hubungan kita.""Masalah seperti ini sudah lama dicurigai orang. Kalau kamu terus menutup-nutupinya, itu malah bakal bikin orang makin curiga. Bagiku, mendingan kita bersikap kayak biasanya saja, bergaul secara terang-terangan.""Cuma karena itu? Kalau nggak ada urusan lain, pergilah.""Nggak ada urusan besar, cuma mau mampir sebentar, lalu malam nanti kita pergi minum.""Untuk saat ini nggak bisa, aku harus pulang.""Dokter di rumahmu itu pasti sedang kesal, ‘kan? Sudah membesarkan anak perempuan sebesar itu malah nggak mengakuinya dan malah mengakuiku. Oh ya Kamila, sebenarnya Rani itu anak siapa?""Ya, tentu saja anak suamiku.""Masa, sih?

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 96

    Hari itu, Adrian ingin keluar rumah. Pembantu muda itu kembali bersikeras untuk menjadi sopirnya."Kalau kamu pergi bersamaku, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah? Pembantu sebelumnya dipecat karena nggak mengerjakan tugasnya dengan baik. Meski kamu orang baru, kalau kamu nggak bisa bekerja dengan baik, aku juga bisa memecatmu.""Ini tugas yang diberikan Bu Kamila kepada saya. Bu Kamila bilang, saya ini orang kepercayaannya!" Pembantu muda itu tidak takut dengan ancaman Adrian. Selama beberapa hari ini, dia juga sudah paham jika di vila ini, Adrian sebagai kepala keluarga, adalah orang yang paling tidak punya uang dan kekuasaan."Kalau kamu begitu patuh pada Kamila, bagaimana kalau dia suruh kamu tidur denganku, apa kamu juga akan menurutinya?""Waktu saya datang, Bu Kamila sudah kasih tahu kalau dia nggak akan mengajukan permintaan seperti itu. Selain itu, Bu Kamila secara khusus berpesan, kalau Anda berani berbuat macam-macam pada saya, Bu Kamila mengizinkan saya untuk mengha

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 95

    Di rumah.Setelah membaca resep yang diberikan Sofia, Kamila mendapati jika itu hanyalah resep obat biasa, tidak ada kode rahasia apa pun. Namun, hal itu membangkitkan kenangan Kamila bertahun-tahun yang lalu. Sejak mengalami menstruasi pertama, Kamila selalu merasa begitu kesakitan setiap kali datang bulan. Sampai akhirnya, Kamila mengenal Adrian. Setelah menikah, berkat perawatan dari Adrian, nyeri haid Kamila pun menghilang."Sofia, aku nggak nyangka kalau kamu ternyata mengalami nyeri haid.""Waktu kecil, aku pernah jatuh ke sungai saat musim hujan. Tubuhku kedinginan sampai ke tulang, dan sejak itu, setiap kali datang bulan, aku selalu kesakitan sekali. Tapi, mengenai kondisiku yang satu ini, aku nggak pernah menceritakannya pada siapa pun, apalagi pada Kak Adrian. Dia cuma memeriksa denyut nadiku, lalu langsung tahu semuanya. Sulit dipercaya!" Sofia sempat curiga apakah Adrian sudah menyelidiki latar belakangnya. Namun, meski begitu, hal yang bersifat sangat pribadi seperti rahim

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 7

    Menghadapi tatapan menyelidik Haris, Adrian pun berkata, "Ini benar. Awalnya aku juga nggak percaya dengan kenyataan ini. Makanya, aku melakukan beberapa kali tes. Tapi, hasilnya … kesimpulannya selalu sama."Haris tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia menatap Adrian dengan tajam, seakan sedang me

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 6

    Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 5

    Adrian masuk ke bar dan mencari wanita pemilik bar tersebut. Begitu melihat pemilik bar itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam legam, Adrian kembali curiga jika rekaman kamera pengawas yang dilihatnya di hotel adalah palsu.Benar saja, saat Adrian ingin mengembalikan biaya kamar dan ua

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 4

    Menghadapi tuntutan istrinya yang tidak masuk akal itu, Adrian tentu saja langsung menolaknya. "Nggak mungkin! Aku nggak salah bicara. Hasil tes DNA itu nyata, jadi perselingkuhanmu itu juga nyata. Kamu sudah nggak setia dan nggak suci lagi. Jadi, pernikahan kita nggak ada gunanya lagi dipertahankan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status