Share

Kebangkitan Sang Patriark
Kebangkitan Sang Patriark
Penulis: Galih Rembulan

Bab 1

Penulis: Galih Rembulan
Adrian Pramudya terpaku menatap tiga lembar hasil tes DNA di depannya. Tulisan "Dinyatakan Tidak Memiliki Hubungan Darah" di dalam stempel merah itu terlihat begitu menusuk mata.

Ketiga putrinya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Putri sulungnya berusia 15 tahun, putri kedua 11 tahun dan si bungsu berusia enam tahun. Anak-anak yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang selama bertahun-tahun ini, ternyata bukan darah dagingnya sendiri!

Benar-benar konyol!

Seluruh tubuh Adrian terasa dingin. Kedua tangannya yang mencengkeram kemudi gemetar dan hatinya dipenuhi rasa sakit serta penderitaan.

Adrian seumuran dengan istrinya, Kamila Hadinata. Mereka saling mengenal dan jatuh cinta di usia 24 tahun, lalu menikah dan hidup bahagia selama 16 tahun.

Selama periode itu, Kamila banyak berkorban untuk Adrian dengan melahirkan tiga putrinya. Banyak wanita mengalami perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan, tetapi hal itu tidak terjadi pada Kamila. Justru setelah tiga kali melahirkan, tubuh Kamila menjadi lebih matang dan sempurna, dengan lekuk tubuh yang begitu indah. Wajah Kamila juga tidak memiliki kerutan sedikit pun, terlihat putih bersih dan halus, seakan-akan Kamila tetap berusia 28 tahun selamanya.

Kamila berasal dari keluarga terpandang dan merupakan anak tunggal. Lima tahun yang lalu, Kamila mewarisi bisnis keluarganya dan menjabat sebagai presdir Grup Hadinata, sehingga dalam sekejap menjadi wanita terkaya di Kota Raksi.

Kamila adalah sosok wanita yang cantik, kaya dan punya latar belakang terhormat yang sempurna. Ditambah dengan kehadiran tiga putri mereka yang bagaikan malaikat, Adrian sempat merasa jika dirinya adalah pria paling bahagia di seluruh Kota Raksi.

Akan tetapi, siapa yang mengira jika ….

Adrian teringat akan asal-usulnya yang hanya dari keluarga nelayan, latar belakang keluarga yang sangat biasa. Setelah kedua orang tua Adrian meninggal dunia karena sakit lima tahun lalu, Adrian tidak memiliki latar belakang apa pun lagi.

Adrian juga hanya dokter biasa di bagian rawat inap Rumah Sakit Afiliasi Universitas Raksi. Setelah bekerja selama 18 tahun, pencapaian Adrian juga hanya sebatas menjadi dokter spesialis yang sama sekali tidak terkenal.

Selama bertahun-tahun ini, Kamila mungkin hanya menganggap Adrian sebagai orang yang bodoh, atau seekor anjing penurut dan bisa diperintah sesuka hati, bahkan dikhianati dan dipermalukan. Semua kebaikan dan toleransi yang diberikan Kamila kepada Adrian selama ini mungkin hanya merupakan bentuk sedekah dari posisinya yang jauh lebih tinggi.

Adrian berpikir, seandainya dia pulang sekarang dan membongkar kelakuan bejat Kamila, Kamila yang bergelimang harta itu kemungkinan besar hanya akan melemparkan sejumlah uang kepadanya sebagai biaya perceraian dan uang tutup mulut. Bahkan, Adrian mungkin tidak akan pernah tahu siapa pria selingkuhan istrinya. Lebih parahnya lagi, sekalipun Kamila memberitahukan identitas pria selingkuhannya itu, Adrian tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa. Pemikiran ini membuat Adrian merasa makin frustrasi.

Oleh karena itu, Adrian memilih untuk melarikan diri dan tidak pulang ke rumah. Saat melewati sebuah bar, Adrian langsung masuk ke bar itu.

Sejak duduk di area sofa, tangan Adrian tidak pernah berhenti menuang minuman.

Adrian berwajah tampan, bersih, mengenakan setelan kemeja juga celana dan memancarkan aura terpelajar. Namun, dari caranya menenggak minuman, terlihat jelas jika dia sedang memendam masalah besar, seakan-akan kisah hidupnya tertulis di wajahnya sendiri. Tak heran jika dalam sekejap, Adrian langsung menjadi incaran para wanita penggoda di bar itu.

Namun, ketika wanita pertama, seorang wanita dewasa yang mengenakan riasan smokey eyes dan gaun yang ketat maju mendekat, dia langsung disemprot oleh Adrian dengan makian, "Dasar pelacur, pergi sana!" dan usaha merayu wanita itu pun gagal total. Melihat hal itu, wanita-wanita penggoda lainnya langsung menahan diri. Meski begitu, mereka tetap bersiap-siap menunggu Adrian mabuk berat, lalu maju untuk memanfaatkan keadaan.

Adrian sama sekali tidak tahu, juga tidak peduli. Saat ini, Adrian hanya ingin mabuk sepuasnya untuk melupakan masa lalu, masa kini, dan masa depannya bersama Kamila. Dalam keadaan mabuk, Adrian ingin meratapi masa mudanya yang sia-sia, pernikahannya yang absurd, serta jalan hidupnya yang penuh drama.

Entah sejak kapan, DJ bar sudah mengganti lagunya dengan lagu berjudul Kembalinya Si Anak Hilang.

Rokok dinyalakan satu demi satu.

Minuman ditenggak segelas demi segelas.

Kuharap kamu bisa memahamiku.

Aku tidak pandai minum, tapi tetap dipaksa minum terus.

Adrian minum dengan lebih menggila lagi. Akhirnya, setelah menghabiskan gelas yang satu itu, kesadarannya mulai kabur dan Adrian pun jatuh pingsan karena mabuk.

Dalam keadaan setengah sadar, Adrian merasa tubuhnya dipapah untuk berjalan pergi. Bahu orang yang memapahnya terasa lembut dan tenaganya kurang kuat, sehingga berjalan terhuyung-huyung ke kiri dan ke kanan. Jelas sekali jika orang itu adalah seorang wanita. Namun, Adrian tidak mampu membuka mata, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.

Kemudian, Adrian dibawa masuk ke mobil. Di tengah guncangan mobil yang terasa nyaman layaknya ayunan, Adrian merasa lebih rileks. Adrian sempat memaksakan matanya sedikit terbuka dan samar-samar melihat kilatan cahaya lampu yang melintas cepat di luar jendela mobil.

Ketika melihat ke arah orang yang sedang menyetir, tampak rambut panjang yang terurai indah seperti air terjun. Adrian mengira itu adalah "istrinya", sehingga dia pun langsung mencecarnya, "Kamila, kenapa kamu membohongiku? Kenapa kamu mengkhianatiku? Siapa laki-laki simpananmu di luar sana?"

Orang yang menyetir itu tidak memedulikan Adrian, sehingga Adrian pun melanjutkan kata-katanya, "Nggak usah banyak alasan. Aku punya bukti perselingkuhan dan pengkhianatanmu. Begitu aku membeberkannya, reputasimu bakal hancur lebur."

Orang di depannya tetap diam dan tidak menjawab, sehingga membuat Adrian berteriak, "Katakan sesuatu! Aku begitu mencintaimu, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, tapi kenapa kamu tega membohongiku? Kebohongan, semuanya cuma kebohongan sialan!"

Tenaga Adrian sepertinya hanya tersisa sampai di situ saja. Setelah meluapkan semua kekesalannya, Adrian pun kembali tertidur.

Saat mobil berhenti, Adrian dipapah untuk turun. Hanya dengan bersandar pada "istrinya" itulah, Adrian tidak ambruk. Adrian kembali memaksakan matanya terbuka. Dalam kondisi setengah sadar, Adrian menyadari jika mereka berada di sebuah tempat parkir bawah tanah. Berpikir jika itu adalah properti baru yang dibeli "istrinya", Adrian pun mendengus, "Kamila, akhirnya kamu menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Kamu membeli begitu banyak rumah, apa demi memudahkanmu kencan sembunyi-sembunyi dengan pria jalangmu itu? Iya, 'kan? Katakan, kenapa kamu diam saja? Berani berbuat, nggak berani mengakui, ya?"

"Istrinya" tidak menjawab. Dia memapah Adrian masuk ke rumah. Namun, karena tidak kuat lagi untuk membawa Adrian sampai ke kamar tidur, mereka berdua akhirnya ambruk bersama di atas karpet ruang tamu.

Mabuk Adrian makin parah. Adrian sama sekali tidak bisa membuka mata dan kesadarannya kian memudar. Adrian berbaring telentang. Sebelum sisa kesadaran terakhirnya benar-benar lenyap, Adrian sangat yakin jika "istrinya" sedang melepaskan pakaian yang dikenakan Adrian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 100

    Adrian tidak mengetahui soal kejadian di sekolah khusus putri itu. Hari ini, pihak Rumah Sakit Pengobatan Tradisional kembali datang memintanya untuk melakukan operasi. Awalnya, Adrian mempelajari kondisi penyakit tersebut dan merasa itu cukup sulit, tetapi masih dalam batas kemampuannya, sehingga Adrian pun menyetujuinya.Pasiennya tetaplah seorang pria lanjut usia yang mengalami masalah pada jantung dan paru-parunya. Kondisinya sangat kritis. Awalnya, pasien itu hendak dikirim ke Rumah Sakit Umum agar Willy yang menjadi dokter bedah utamanya. Namun, karena akhir-akhir ini Rumah Sakit Umum terus-menerus mengalami masalah, keluarga pasien menjadi ragu.Di ruang konsultasi, Adrian terlebih dahulu berkata, "Pak Farid, Pak Johan, ada pepatah yang mengatakan kalau semua harus dibatasi. Ini sudah operasi ketiga. Apa rekan-rekan di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional nggak keberatan dengan kehadiranku sebagai orang luar yang terus datang membantu operasi di rumah sakit kalian?"Adrian merenda

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 99

    Di luar dugaan Adrian dan Kamila, seorang tamu tak diundang mendatangi Rani di sekolah khusus putri tersebut. Tujuan awal Kamila menempatkan putrinya di lingkungan yang asing, bahkan mengatur asrama terpisah, adalah agar putrinya itu tidak diejek atau mendapat pengaruh buruk orang lain. Namun, saat ini terlihat jelas jika ada saja hal yang terlewatkan.Setelah selesai mengikuti pelajaran dan kembali ke asrama, Rani mendapati ada seorang wanita muda di sana. Usianya belum genap 30 tahun, wajahnya biasa saja, tetapi bentuk tubuhnya cukup bagus dan sintal, sampai-sampai membuat Rani berharap bisa memiliki tubuh seperti itu saat dia dewasa nanti."Apakah Anda guru baru? Atau siapa yang menyuruh Anda masuk untuk mencari saya? Kamila, atau siapa?""Oh?" Wanita muda itu merasa sedikit penasaran, apakah dirinya begitu mudah ditebak hanya dengan sekali lihat saja?"Sebelum masuk ke sekolah ini, saya sudah memeriksa seluruh data staf pengajar dan siswa di sini. Cuma Anda yang nggak ada di dalam

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 98

    Adrian segera mengisap rokoknya dalam-dalam, mencoba menekan niat jahat yang muncul di hatinya itu. Adrian terus memperingatkan dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang dokter, bukan tukang jagal dan bukan seorang pembunuh."Seberapa akrab kamu dengan istriku?" tanya Adrian."Soal itu, kamu harus tanyakan langsung pada Kamila, hehehe!""Aku sudah tanya, tapi dia nggak jawab. Tapi, aku tahu dia cuma menutup-nutupi. Pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Karena kamu sudah datang, katakan saja semuanya.""Dia nggak kasih tahu kamu, itu karena kamu nggak berhak untuk tahu!""Nggak berhak?""Benar, memangnya apa latar belakangmu? Apa kamu merasa pantas bicara denganku? Tadinya kamu nggak punya apa-apa. Cuma karena Kamila sudi menikah denganmu, barulah kamu bisa masuk ke kalangan atas. Meski begitu, kamu tetaplah terlihat hebat di luarnya saja. Penting bagi orang untuk menyadari posisinya sendiri!""Kata-kata seperti itu sudah pernah diucapkan oleh ayah mertuaku. Bagiku, 20 tahun masa

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 97

    Di Grup Hadinata.Kamila mengetahui jika Adrian kembali pergi memancing di tepi sungai. Dengan adanya pembantu muda yang membuntuti, Kamila tidak terlalu memikirkannya.Namun, saat melihat Adam masuk, hati Kamila tetap merasa cemas. Kamila pun langsung berkata, "Kenapa kamu datang tanpa diundang? Sekarang ada banyak orang yang mencari tahu tentang hubungan kita.""Masalah seperti ini sudah lama dicurigai orang. Kalau kamu terus menutup-nutupinya, itu malah bakal bikin orang makin curiga. Bagiku, mendingan kita bersikap kayak biasanya saja, bergaul secara terang-terangan.""Cuma karena itu? Kalau nggak ada urusan lain, pergilah.""Nggak ada urusan besar, cuma mau mampir sebentar, lalu malam nanti kita pergi minum.""Untuk saat ini nggak bisa, aku harus pulang.""Dokter di rumahmu itu pasti sedang kesal, ‘kan? Sudah membesarkan anak perempuan sebesar itu malah nggak mengakuinya dan malah mengakuiku. Oh ya Kamila, sebenarnya Rani itu anak siapa?""Ya, tentu saja anak suamiku.""Masa, sih?

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 96

    Hari itu, Adrian ingin keluar rumah. Pembantu muda itu kembali bersikeras untuk menjadi sopirnya."Kalau kamu pergi bersamaku, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah? Pembantu sebelumnya dipecat karena nggak mengerjakan tugasnya dengan baik. Meski kamu orang baru, kalau kamu nggak bisa bekerja dengan baik, aku juga bisa memecatmu.""Ini tugas yang diberikan Bu Kamila kepada saya. Bu Kamila bilang, saya ini orang kepercayaannya!" Pembantu muda itu tidak takut dengan ancaman Adrian. Selama beberapa hari ini, dia juga sudah paham jika di vila ini, Adrian sebagai kepala keluarga, adalah orang yang paling tidak punya uang dan kekuasaan."Kalau kamu begitu patuh pada Kamila, bagaimana kalau dia suruh kamu tidur denganku, apa kamu juga akan menurutinya?""Waktu saya datang, Bu Kamila sudah kasih tahu kalau dia nggak akan mengajukan permintaan seperti itu. Selain itu, Bu Kamila secara khusus berpesan, kalau Anda berani berbuat macam-macam pada saya, Bu Kamila mengizinkan saya untuk mengha

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 95

    Di rumah.Setelah membaca resep yang diberikan Sofia, Kamila mendapati jika itu hanyalah resep obat biasa, tidak ada kode rahasia apa pun. Namun, hal itu membangkitkan kenangan Kamila bertahun-tahun yang lalu. Sejak mengalami menstruasi pertama, Kamila selalu merasa begitu kesakitan setiap kali datang bulan. Sampai akhirnya, Kamila mengenal Adrian. Setelah menikah, berkat perawatan dari Adrian, nyeri haid Kamila pun menghilang."Sofia, aku nggak nyangka kalau kamu ternyata mengalami nyeri haid.""Waktu kecil, aku pernah jatuh ke sungai saat musim hujan. Tubuhku kedinginan sampai ke tulang, dan sejak itu, setiap kali datang bulan, aku selalu kesakitan sekali. Tapi, mengenai kondisiku yang satu ini, aku nggak pernah menceritakannya pada siapa pun, apalagi pada Kak Adrian. Dia cuma memeriksa denyut nadiku, lalu langsung tahu semuanya. Sulit dipercaya!" Sofia sempat curiga apakah Adrian sudah menyelidiki latar belakangnya. Namun, meski begitu, hal yang bersifat sangat pribadi seperti rahim

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 5

    Adrian masuk ke bar dan mencari wanita pemilik bar tersebut. Begitu melihat pemilik bar itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam legam, Adrian kembali curiga jika rekaman kamera pengawas yang dilihatnya di hotel adalah palsu.Benar saja, saat Adrian ingin mengembalikan biaya kamar dan ua

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 4

    Menghadapi tuntutan istrinya yang tidak masuk akal itu, Adrian tentu saja langsung menolaknya. "Nggak mungkin! Aku nggak salah bicara. Hasil tes DNA itu nyata, jadi perselingkuhanmu itu juga nyata. Kamu sudah nggak setia dan nggak suci lagi. Jadi, pernikahan kita nggak ada gunanya lagi dipertahankan

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 2

    Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Adrian terbangun dari rasa pusing akibat mabuk berat dan menyadari jika dirinya sudah berada di sebuah tempat tidur hotel yang mewah dan besar.Di balik selimut, Adrian mendapati dirinya sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Melihat jejak-jejak kekacauan yang a

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 3

    Dahulu, Kamila adalah wanita tercantik di Kota Raksi. Meski sekarang sudah menginjak usia 40 tahun, Kamila merawat tubuhnya dengan sangat baik dan hidup dalam gelimang kemewahan. Alih-alih terlihat menua, parasnya justru tampak seperti wanita berusia 28 tahun. Usia 40 tahun itu seakan hanya menambah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status