INICIAR SESIÓN"Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat.
"Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan. Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!" "Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah. "Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak. "Itu bukan jawaban," sela Arga. "Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat. "Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi. Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang." "Kenapa?" Arga heran. "Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu. "Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren. "Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga. "Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...." Setelah jeda, Iren menjawab, "Arga, aku bilang besok! Jangan bikin aku tambah pusing. Aku udah bilang aku pulang besok. Ah ... sabar dong, sayang." Ada nada memohon yang aneh di ujung kalimatnya. Tut. Telepon terputus sepihak. Hati Arga mencelos, ini untuk pertama kali, istrinya menutupi sesuatu darinya. Arga menatap layar ponselnya yang gelap. Untuk beberapa saat ia tidak bergerak sama sekali, hanya diam menatap kekosongan. "Papa. Pulang.." Suara itu mengalihkan hatinya yang penasaran dan marah Arga menggendong Arka lalu berdiri. "Iya, kita pulang," ucapnya sambil mengusap kepala Arka dengan lembut. Lalu ia berkata pada Rina, "Rina, kamu pulang aja ke rumah. Besok datang lebih pagi." Arga mengeluarkan selembar uang dari sakunya dan memberikannya pada Rina. "Iya, Pak," jawab Rina, lalu mencium tangan Arga. "Kainnya?" Arga meminta kain jarik yang dibawa Rina. Rina menyerahkan kain itu, dan membantu Arga mengikatkan kain itu supaya Arka tidak terjatuh selama perjalanan pulang. "Anak baik, kuatir sama papa ya," kata Arga sambil mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Ngantuk," ucap Arka pelan sambil matanya yang tertutup di gendongan Arga. ------- Arga tiba di kompleks perumahan mereka. Setelah melewati tikungan, tampak rumah manis yang menjadi tempat tinggal mereka. Rumah itu dibeli Iren tunai, enam tahun lalu, tak lama setelah ia ikut menangani kasus yang ramai di berita. Arga masih ingat hari akadnya: Iren tersenyum, tangannya tenang menandatangani berkas, sementara Arga hanya bisa berdiri di belakangnya. Nilainya miliaran. Gaji Iren waktu itu tidak seberapa, dan orang tua Iren bukan orang yang mampu membelikan rumah seperti ini. Bonus? Tabungan? Arga tidak pernah bertanya. Dulu, ia tidak merasa perlu. Arga mengerutkan dahi. Kejadian malam ini seolah menggali kembali pertanyaan yang terkubur selama enam tahun. Ketika berada di rumah, dengan gerakan hati-hati, Arga membawa Arka ke kamar, membaringkannya perlahan di tempat tidur, dan menyelimutinya. Setelah memastikan anaknya tidur nyenyak, Arga kembali ke depan. Ia merapikan motornya, lalu memasukkannya ke garasi. Baru saja hendak menggembok pagar, suara berat seorang pria membuat gerakannya terhenti mendadak. "Tadi ada tiga orang laki-laki datang ke sini." Arga menoleh cepat. Pak Darwis, ketua RT sekaligus pensiunan polisi, berdiri di depan rumahnya dengan sorot mata tajam khas mantan aparat. "Iya, Pak. Tadi udah ketemu," jawab Arga, berusaha tetap tenang walau tubuhnya masih pegal-pegal. Pak Darwis terkekeh, tapi sorot matanya tetap waspada. "Kata satpam mereka bukan orang sini, gerak-geriknya mencurigakan," ujarnya sambil menyipitkan mata. "Kelihatan kayak orang yang mau nagih utang." Sebelum Arga sempat menjawab, Pak Darwis bertanya lagi, kali ini lebih menyelidik. "Memang utang kalian banyak?" tanyanya, alisnya terangkat. Arga tersentak. Namun ia segera memasang wajah tenang, menutupi keterkejutan itu secepat mungkin. "Enggak juga, Pak. Saya sama Iren enggak punya masalah soal utang." "Oh ... cuma tebakan saya aja." Pak Darwis mengangkat bahu santai. "Soalnya memang kelihatannya mencurigakan." Sebelum pertanyaan lain keluar, Arga segera memotong, ingin cepat mengakhiri percakapan. "Saya masuk dulu, ya, Pak. Kayaknya hari ini cukup capek juga. Banyak motor yang diservis." "Iya, iya. Sana istirahat, sembuhin lukanya," ucap Pak Darwis pelan. Ia sudah hendak berbalik pulang, tapi menyahut lagi, suaranya setengah bercanda namun tetap penuh perhatian. "Ga, kalau ada apa-apa, ketuk rumah saya saja. Jangan sok jagoan kayak dulu waktu masih tinju." Matanya tertuju ke bibir Arga yang terlihat berdarah di keremangan lampu. Arga mengangguk pelan sambil tersenyum. Pantas Pak Darwis menatapnya begitu. Tulang pipinya sendiri juga masih ngilu bekas pukulan tadi. "Iya, Pak," jawab Arga, kali ini dengan senyum yang lebih lebar. Pak Darwis berbalik dan berjalan pulang. Suara sandal jepitnya terdengar menyeret di atas aspal perumahan yang mulai lengang dan sunyi. Arga menunggu sampai lelaki tua itu masuk ke rumahnya. Barulah ia kembali menggembok pagar. Kali ini dua kali, tangannya menarik gembok itu kuat-kuat untuk memastikan pagar benar-benar terkunci. Entah kenapa, setelah kejadian malam ini, pagar rumahnya sendiri terasa seperti satu-satunya batas yang bisa ia percaya. Arga masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan pelan. Rumah itu hening total. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar dari kamar Arka. Anak itu sudah tertidur pulas, seolah tidak terjadi apa-apa malam ini. Dunia kecilnya masih utuh, tanpa cela. Arga berdiri di ruang tengah, tubuhnya berat sekaligus kosong. Iren? Pekerjaan macam apa itu? Suara pria yang terlalu akrab, erangan yang ditahan, lalu telepon terputus. Apakah pekerjaannya memang menuntut begitu, atau Iren benar-benar tidur dengan orang lain? Lalu apa hubungannya dengan tiga pria tadi? Mereka mencari suami Irene Maharani. Apa Iren punya suami lain—seorang residivis, pemerkosa? Arga tertawa sendiri, lalu menggeleng. Suami lain? Konyol. Tapi Iren berselingkuh? Membayangkannya saja sudah mengerikan. Mungkin ini cemburu berlebihan, tapi dadanya tetap berdenyut aneh. Matanya turun ke kedua tangannya yang mengepal. Tangan yang tadi kembali dipakai berkelahi. Siapa mereka? Kenapa begitu serius? Apakah tinju ini akan dipakai lagi? Ia berharap tidak. Dunia itu membuat orang jatuh dan sulit keluar; setelah menang, selalu ada lagi yang mencari. Tanpa sadar, tangannya meraih ponsel. Dengan gerakan gelisah.Ia membuka nama Iren dan menekan tombol panggil, jantungnya berdebar menunggu. Tidak ada nada sambung. Ponsel Iren dimatikan. Arga menatap layar beberapa detik, rahangnya mengeras. Akhirnya ia menjatuhkan tubuh ke sandaran sofa dengan lemas. Badannya tenggelam di bantalan empuk, kelelahan fisik dan batin bercampur jadi satu. "Ah... makin gila," desahnya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia mencoba mengabaikan pikiran buruk itu. Perutnya baru terasa lapar. Sejak sore ia belum makan apa-apa. Di lemari dapur ada beberapa pilihan mie instan yang disimpan dalam plastik besar. Ia mengambil satu, menyiapkan panci, lalu membuka bungkusnya dan membuangnya ke tempat sampah yang masih kosong. Saat mengambil mi instan, sesuatu di dalam plastik itu menarik perhatiannya: selembar kertas panjang. Ia menariknya keluar. Ternyata itu bon belanja bulanan, dengan tanggal sebelum Iren berangkat. Panjang sekali. Tidak biasanya Iren membeli kebutuhan sebanyak ini. Ia jadi penasaran apa saja yang dibeli istrinya waktu itu. Iren berbelanja sendirian, dan yang Arga ingat hanyalah banyaknya belanjaan yang diangkut ke dalam rumah sepulangnya. Biasanya ia tidak terlalu memperhatikan, tapi kejadian malam ini membuatnya ingin menyelidiki. Barang-barangnya tampak biasa saja. Sampai matanya berhenti di satu baris. Test pack 1 pcs."Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem
Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan
AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon
"Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men
Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me
Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men







