Share

Kebohongan Membawa Petaka
Kebohongan Membawa Petaka
Author: Romendr

Tiga Preman

Author: Romendr
last update publish date: 2026-11-04 09:48:05

Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.

Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga.

"Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."

Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu menjawab perkataan istrinya tadi.

"Enggak apa-apa sih, soalnya Arka nanyain kamu terus tuh," ucapnya pelan. Arka adalah anak mereka yang berusia lima tahun.

"Heeum, tiga hari jadi lima. Bisa-bisa jadi tujuh hari. Terus kalau udah beres, kamu cepet pulang ya. Oke?" tambah Irene, permintaan yang nadanya lebih mirip perintah.

"Iya. Iya. Habis dokumen ini, aku langsung siap-siap... Tenang aja, oke? Nanti aku bawa oleh-oleh. Kamu tunggu aja di rumah."

Arga mengangguk, meski Iren tidak bisa melihatnya. Ia baru saja hendak mengucapkan selamat tidur ketika sebuah suara lain menyusup dari belakang suara Iren. Samar, seperti datang dari ruangan yang agak jauh.

"Heem… Iren… say…"

Lalu telepon terputus begitu saja.

Arga menatap layar ponselnya, lalu menelepon balik. Nada sambung berbunyi beberapa kali, lalu mati. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama.

Semenit kemudian pesan masuk.

[Jgan telpon aku lgi beresin dokumen, udah pesen tiket. Jam empat sore sampe. Bsok nggak usah jemput. Dari bandara aku pesan taksi aja, love you muaaah]

Arga membacanya dua kali. Ibu jarinya berhenti di atas layar.

Enam tahun menikah, Iren tidak pernah dinas lebih dari tiga hari tanpa penjelasan panjang. Biasanya dia yang menelepon duluan, bercerita kenapa harus tinggal lebih lama, bilang kangen, minta maaf. Kali ini tidak. Kali ini ada suara laki-laki yang menyebut namanya dengan cara yang terlalu akrab, dan pesan yang terlalu rapi.

Ia mengetik satu kata.

[Oke]

Ponsel masuk saku, keluar lagi, masuk lagi.

Ah Mungkin rekan kerja. Atasan. Orang hotel yang kebetulan lewat. Arga mengulang daftar itu dalam kepala, seakan makin sering diulang, makin benar jadinya. Tapi suara itu tetap menempel.

Heem… Iren… say…

Ia berdiri, merapikan kunci-kunci yang berserakan di meja kerja, lalu mematikan kompresor yang sedari tadi berdengung. Semua dikerjakannya tanpa berpikir.

Rolling door ia tarik turun. Besi bergesekan dengan lantai, panjang dan nyaring di jalan yang sudah sepi.

Gembok sudah terpasang. Arga masih berdiri membelakangi rolling door, kunci motor di tangan kanan, ketika deru mobil terdengar dari ujung jalan. Lampunya menyapu tembok rumah sebelah, lalu mobil itu melambat dan berhenti miring sekitar lima langkah di belakang motornya, moncongnya mengarah ke bengkel. Mesin dibiarkan menyala. Sorot lampunya jatuh tepat di dada Arga.

Pintu-pintu terbuka.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tiga pria turun, semuanya berjeans dan berjaket hitam. Yang paling depan bertubuh besar, usianya empat puluhan, bahunya lebar, dan sorot matanya menekan. Di sisi kirinya, pria kurus yang kakinya tidak bisa diam. Yang ketiga tidak ikut maju. Ia bersandar di sudut belakang mobil, menatap dingin seperti sedang mengukur Arga. Bau alkohol terbawa angin malam.

"Anda suaminya Irene Maharani, kan?"

Bukan "istri Anda", bukan "Bu Iren". Nama lengkap, disebut utuh, seperti dibaca dari selembar kertas.

"Iya. Irene Maharani istri saya."

Ketiganya saling melirik. Arga menangkap sesuatu yang lewat di mata mereka rasa lega, seperti orang yang akhirnya menemukan alamat yang dicari. Mereka tidak kebetulan lewat.

"Ada apa?"

Pria besar menunjuk mobil dengan dagunya. "Ikut."

Arga tertawa pendek, tanpa humor. "Lu siapa? Ngomong di sini aja."

Pria itu melangkah mendekat sambil menyeringai. "Residivis tukang perkosa kayak lo nggak perlu banyak tanya."

"Apa?"

Kata itu menggantung. Beberapa detik Arga hanya menatapnya, menunggu tawa, tanda bahwa ini lelucon buruk.

Tidak ada.

Hanya seringai dan bau alkohol. Tanpa sadar, ia mengukur jarak: pria besar dua langkah di depan, si kurus bergeser ke kiri mendekati sisi tubuhnya, dan di belakang mobil, pria ketiga akhirnya menegakkan badan.

"Lu... salah... alamat."

"BACOT!" Pria besar menoleh ke kedua temannya. "Bawa dia."

Si kurus yang bergerak lebih dulu. Ia menerjang dari kiri dengan pukulan lurus. Arga menangkisnya dengan lengan kiri, dan nyerinya langsung merambat sampai bahu. Belum sempat ia menarik lengan itu, tinju pria besar masuk dari kanan, telak di sudut bibirnya.

Kepalanya terlempar ke samping. Rasa asin darah memenuhi mulut. Pipinya panas, dan punggungnya menghantam besi rolling door, bunyinya berdentang nyaring di jalan yang sepi.

Pria besar menyeringai sambil menarik tangan untuk pukulan berikutnya. "Sekarang, mati lu!"

Arga tidak menunggu. Ia merunduk, dan kepalan itu lewat di atas rambutnya, menghantam besi tempat kepalanya tadi bersandar. Ia keluar dari sudut itu dengan satu langkah geser ke kanan, dagu turun, kedua tangan naik. Napasnya mengatur sendiri. Dua pukulan pendek ia hujamkan ke perut si kurus yang terlalu dekat.

Si kurus melipat, terbatuk, dan mundur terhuyung.

Pria besar menggeram dan menyerbu lagi, pukulannya lebar dan berat. Arga membaca bahunya yang bergerak lebih dulu. Ia membiarkan pukulan itu lewat tipis di depan wajah, merendahkan badan, lalu menyapu kaki penyangga pria itu dari samping. Pria besar kehilangan pijakan, menghantam kap mobil dengan punggungnya, lalu merosot ke aspal dan tidak langsung bangkit.

Dua jatuh. Napas Arga sudah pendek-pendek.

Dan ia baru ingat pada yang ketiga. Pria itu sudah tidak lagi berada di belakang mobil.

Tendangan menghantam rusuk kirinya dari sisi yang tidak terjaga, sisi yang sejak awal ia biarkan terbuka karena sibuk dengan dua orang di depan.

Napasnya pecah. Pandangannya memutih sesaat dan lututnya goyah. Ia membungkuk memegangi rusuknya, setiap tarikan napas seperti pisau yang ditusukkan pelan-pelan.

Satu lengan melingkar dari belakang, melilit leher dan menariknya tegak. Si kurus, hidungnya basah, tapi sudah bangkit lagi. Arga mengangkat dagu agar tidak tercekik, mengunci napas, lalu menghentakkan kepala ke belakang sekuat tenaga.

Krak.

Cengkeraman itu lepas disertai makian. Si kurus mundur dengan tangan menutup hidung yang kini berdarah.

Pria ketiga maju dengan hook kiri, rapi dan terukur. Kali ini Arga lebih cepat. Ia memiringkan kepala, membiarkan hook itu menyambar angin, lalu menumpukan seluruh berat badan ke kaki depan dan melepas satu pukulan keras ke rahang. Kepala pria itu terlempar, matanya memutih, dan tubuhnya jatuh ke aspal seperti karung. Tidak bangun lagi.

Lalu sunyi.

Si kurus terduduk di trotoar, satu tangan menutup hidung, tidak berani berdiri. Arga bertumpu pada lututnya, menarik napas pendek-pendek. Setiap tarikan menusuk rusuk kirinya, dan bibirnya berdenyut mengikuti detak jantung. Tangan kirinya masih memegangi sisi tubuh. Ia menegakkan badan perlahan, satu sisi lebih rendah dari sisi lain.

Pria besar masih telentang di samping mobil. Arga menghampirinya dengan langkah yang tidak lagi ringan, menjambak kerah jaketnya, dan menariknya setengah duduk.

"Siapa yang nyuruh kalian?"

Pria itu terbatuk. Darah menetes dari bibirnya. Ia tidak menjawab. Ia malah tertawa, rendah dan basah.

"Gue tanya sekali lagi." Suara Arga masih pelan.

"Lu pikir gue takut sama lu?" Pria itu meludah ke samping. "Lu cuma sayur. Pukul aja. Ayo pukul!"

Rahang Arga mengeras, urat di pipinya menonjol.

"Kenapa tangan lu gemeteran?" ledek pria itu.

Memang gemetar. Tapi bukan karena takut. Ia sedang menahan sesuatu.

"Lu bilang gue apa tadi?" Suaranya turun, nyaris berbisik. "Residivis. Tukang perkosa. Lu sebut itu di depan bengkel gue, ke muka gue, kayak lagi nyebut nama."

"Itu yang gue dengar."

"Dari siapa?"

Pria besar diam. Matanya melirik ke arah mobil, hanya sepersekian detik, lalu kembali. Arga melihatnya.

"Liat gua." Arga mendekatkan wajahnya. "Lu nyebut nama istri gua lengkap. Lu tahu alamat bengkel ini. Lu tahu jam gua tutup. Lu bukan orang mabok nyasar. Ada yang ngasih kalian alamat ini. Ada yang bayar lu. Siapa?"

Seringai di wajah itu menipis, tapi tidak hilang. "Pukul gue, baru gue ngomong."

"Jangan nantang."

Giginya kuning kehitaman saat ia menyeringai lebih lebar. "Pantes aja istri lu…"

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Dada Arga seperti dihantam sesuatu yang lebih keras daripada tinju mana pun malam ini. Rasa nyeri di rusuknya mendadak tak terasa. Cengkeramannya mengeras sampai otot lehernya menegang.

"Apa lu bilang? Kenapa istri gua?"

Di belakang, si kurus berbisik pada temannya, "Bang, udahlah, gue nggak ikut-ikutan lagi…" lalu terdiam ketika Arga menoleh sekilas.

Arga menatap pria besar itu lagi. Ia menarik napas lewat hidung, panjang dan berat, lalu membanting kepala itu ke aspal. Tidak sekeras yang bisa ia lakukan. Cukup untuk membuat mata pria itu berputar dan lehernya lunglai.

Ia menegakkan badan. Tangan kanannya mengepal pelan-pelan sampai buku-buku jarinya memutih. Pria di bawahnya tidak bisa bangun dan tidak bisa melindungi wajahnya.

"Siapa yang nyuruh lu?" Suaranya serak, menggeram. "Sebut namanya sekarang!"

Pria besar itu masih bisa tersenyum, meski matanya tidak fokus karena pening. Senyum yang membuat sisa kendali di kepala Arga terkikis.

"Ini yang terakhir. Siapa yang nyuruh lu? Jawab!"

Arga mengangkat kepalannya tinggi-tinggi. Ia tahu, ketika kepalan itu mendarat, senyum itu akan hilang bersama kesadarannya.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebohongan Membawa Petaka   Ferdi Jalus

    "Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem

  • Kebohongan Membawa Petaka   Pria Aneh

    Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan

  • Kebohongan Membawa Petaka   Bangun Tapi Tidur

    AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon

  • Kebohongan Membawa Petaka   Aaah

    "Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men

  • Kebohongan Membawa Petaka   Arka Dan Sangkalan Ibunya.

    Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me

  • Kebohongan Membawa Petaka   Tiga Preman

    Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status