Home / Mafia / Kebohongan Membawa Petaka / Arka Dan Sangkalan Ibunya.

Share

Arka Dan Sangkalan Ibunya.

Author: Romendr
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-04 09:53:16

Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.

Semua orang menoleh.

Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.

Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos.

"Papa.... !"

Arga membeku.

Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul.

"Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.

Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian.

"Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.

Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap membuka ikatannya dan menurunkan Arka.

Begitu kakinya menyentuh tanah, Arka langsung berlari kecil dan memeluk kaki Arga erat-erat.

"Papa pulang... Alka akut, papa pulang." Suaranya serak, hampir menangis. "

Arga berlutut. Rusuknya berteriak, dan ia tidak peduli. Ia memeluk Arka, lalu menjauhkannya sedikit, memeriksa wajahnya, lengannya, kakinya. Tidak ada yang luka. Ia memeluknya lagi, lebih erat, tangannya mengusap rambut anak itu berulang-ulang.

Dari balik bahu Arka, matanya menangkap gerakan.

Ketiga pria itu sudah bangun. Sempoyongan, tapi berdiri. Si besar menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Pandangannya jatuh ke Arka, bertahan di sana, lalu naik ke Arga. Lalu turun lagi ke Arka. Rahangnya yang tadi kaku sedikit mengendur.

"Bos kayaknya bukan yang ini," gumam si kurus, hampir tidak terdengar. "Liat tuh, sama anaknya. Nggak mungkin, Bos. Katanya orangnya kasar enggak bisa berantem."

Si pria besar tidak menjawab. Ia menatap Arga satu detik lebih lama, lalu menarik lengan kedua temannya. "Udah. Cabut."

Pintu mobil dibanting satu per satu. Avanza hitam itu melesat, ban berdecit, lalu lampu belakangnya mengecil dan menghilang di ujung jalan.

Arga masih berlutut. Matanya mengikuti mobil itu sampai tidak ada lagi yang bisa diikuti.

Bukan yang ini.

"Maaf, Pak..." Rina bicara pelan, tersendat. Matanya berkaca-kaca. "Tadi ada yang datang ke rumah. Nanyain Ibu Iren, terus Bapak di mana. Orangnya serem, Pak. Saya takut. Arka dari tadi rewel, manggil Papa terus, takut ada apa-apa sama Bapak. Saya telepon Ibu nggak diangkat-angkat. Ya udah, saya bawa ke sini aja."

Arga berdiri perlahan.

"Pak..." Rina menelan ludah. "Mereka tadi yang datang ke rumah. Mereka itu siapa sih?"

"Nggak tahu," jawab Arga. "Nggak jelas."

Lalu Arga bertanya lagi pada Rina. "Mereka yang tadi cari ke rumah ya? "

Rina mengangguk matanya ke arah lain di jalan "kayaknya iya Pak."

"Kayaknya?" sahut Arga heran.

Rina mengangguk "Iya pak, yang besar itu. "

"Oke." Arga mengeluarkan dompet dan memberikan satu lembar merah pada Rina. "Besok datang lebih pagi, ba'da subuh"

"Iya Pak," sahut Rina yang ia lalu menaiki motornya dan pulang.

Arga menunduk. Arka berdiri di sampingnya, satu tangan menggenggam ujung kausnya. Arga meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya, kali ini lebih erat.

Pertanyaan itu masih di kepalanya. Mereka mencari suami Irene Maharani. Dan ia sudah menjawab iya. Tapi kalau memang dia orangnya, kenapa mereka pergi begitu melihat Arka?

Ia berlutut lagi. Mata Arka sudah setengah tertutup, dia terdengar lebih merengek.

"Papa, pulang... Alka akut..."

Arga tersenyum, mengelus rambutnya. "Iya, Sayang. Udah aman kok. Mereka kabur, dihajar Papa. Kita pulang."

Tapi ia tidak langsung berdiri. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Jempolnya masih sedikit bergetar waktu menekan nama Iren.

Nada sambung. Panjang. Tidak diangkat.

Ia menatap layar sebentar, rahangnya mengeras, lalu mengulang.

Sebuah tarikan kecil di kausnya. "Papa..."

"Sebentar, Sayang."

Nada sambung lagi. Tarikan itu datang lagi, lebih kuat.

"Papa ... pulang yuk."

"Sebentar ya, ganteng." Suaranya agak tersangkut.

"Ngantuk," gumam Arka. Kepalanya sudah bersandar di paha Arga.

Arga menoleh. Anak itu berdiri dengan kelopak yang turun naik, hampir tertidur di tempat. Arga menarik napas panjang lewat hidung, lalu mengangkat Arka ke pelukannya, satu lengan di punggung anak itu, tangan satunya tetap memegang ponsel.

Panggilan putus. Tidak ada jawaban.

Ia menekan nomor itu sekali lagi, lebih keras dari yang perlu.

Tiga nada. Empat. Lima.

Lalu tersambung.

"Apaan sih? Telepon terus?" Suara Iren, lelah dan ketus.

Punggung Arga menegang. "Ada yang nyariin kamu."

"Hah?"

"Tadi tiga orang datang ke bengkel." Ia bicara cepat. "Nyari kamu. Nanya aku suaminya Irene Maharani bukan. Aku jawab iya. Terus mereka nyerang aku."

Hening.

Cukup lama untuk disadari.

"Nyari aku?" Datar. "Masa?"

"Iya! Kok kamu nggak percaya?"

"Mereka kan nanya kamu, bukan aku. Kamu ada urusan sama siapa?"

Arga mengerjap. "Aku nggak tahu mereka siapa, Ren. Kamu yang ada urusan sama siapa? Mereka nyebut nama kamu. Bukan nama aku."

"Kamu kenapa sih, bawa-bawa nama aku?"

"Itu masalahnya. Mereka datang karena nama kamu."

Tidak ada suara dari seberang. Arga mendengar napas Iren, hanya itu.

"Ren?" Ia menunggu. "Sayang?"

"Aku..." Iren berhenti. "Aku nggak tahu. Mungkin itu urusan kamu."

Arga menatap ke depan, ke jalan yang kosong. "Kamu nggak tahu?"

"Arga! Aku bilang aku nggak tahu!"

Arga diam. Dadanya naik turun. Di lengannya, Arka sudah tertidur, napasnya hangat di lehernya. Ia membetulkan pegangan supaya kepala kecil itu tidak miring. Tangannya mengusap rambut anaknya, pelan, sementara suaranya ia tahan.

"Ren, aku serius..."

Iren menghembuskan napas panjang. "Ya ampun, sebenernya ada apa sih... Arka gimana? Ada sama kamu nggak?"

Arga mengerutkan kening.

"Arka baik. Lagi sama aku sekarang. Jangan ngalihin pembicaraan, Ren. Ada apa sebenernya?"

"Ooh..." Jeda. Iren seperti bicara dengan seseorang yang lain. "Nggak ada apa-apa."

Terlalu cepat.

"Jangan bilang nggak ada apa-apa." Suara Arga turun, kasar dan rendah. "Kalau nggak ada apa-apa, kenapa ada tiga orang datang nyari aku?"

"Aku lagi kerja, Arga!"

"Kerja."

"Iya, kerja!" Napas Iren terdengar tersengal. "Kasusnya rumit. Aku capek, Ga. Dua hari ini hampir nggak tidur. Dokumen belum selesai, klien telepon terus, dan sekarang kamu malah..."

Lalu hanya ada erangan panjang yang tertahan.

Arga berhenti bicara. Ia menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layarnya, lalu menempelkannya lagi, lebih rapat. Alisnya mengernyit.

"Ren," katanya pelan. "Aku nggak nanya soal kerjaan kamu."

Tidak ada jawaban. Hanya bunyi gesekan keras, seperti ponsel yang dipindah-pindahkan, disusul bunyi ponsel itu ditaruh dengan paks.

Arga menahan napas.

Arga diam beberapa detik. Ada sesuatu dari suara di seberang yang membuat tengkuknya terasa dingin. Ia menatap Arka yang tertidur dalam pelukannya, lalu kembali fokus pada telepon.

"Hei," katanya. "Siapa di samping kamu?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kebohongan Membawa Petaka   Ferdi Jalus

    "Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem

  • Kebohongan Membawa Petaka   Pria Aneh

    Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan

  • Kebohongan Membawa Petaka   Bangun Tapi Tidur

    AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon

  • Kebohongan Membawa Petaka   Aaah

    "Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men

  • Kebohongan Membawa Petaka   Arka Dan Sangkalan Ibunya.

    Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me

  • Kebohongan Membawa Petaka   Tiga Preman

    Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status