Compartir

Bangun Tapi Tidur

Autor: Romendr
last update Fecha de publicación: 2026-11-04 09:54:49

AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri.

"Test pack," desisnya.

Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.

Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?

Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.

Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.

Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?

Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan ponsel di dada, menunggu layar menyala. Layar itu tidak pernah menyala. Menjelang dini hari, matanya menyerah dan ia terseret ke tidur yang dangkal.

Pukul lima, tubuh kecil menggoyang lengannya.

"Papa... bangun. Udah Subuh."

Arga membuka mata. Arka berdiri di samping sofa dengan rambut mencuat ke segala arah, memeluk bantal kecilnya.

"Iya, iya. Papa bangun," katanya serak, sambil tersenyum.

Selesai salat Subuh, ia menyiapkan sarapan. Arka duduk di kursinya, menguap lebar-lebar sambil menyendok nasi. Meski baru lima tahun, ia sudah menolak disuapi.

"Papa."

"Hm?"

"Mama pulang hali ini, kan?"

"Iya. Mama pulang hari ini."

"Papa jemput, kan?" Arka menatapnya penuh harap, sendoknya menggantung.

"Mama kan udah gede. Bisa pulang sendiri."

Arka menggeleng keras. "Enggak mau. Papa halus emput Mama."

"Kenapa harus?"

"Pokoknya halus."

Arga terkekeh. "Kalau Papa nggak jemput, Mama nggak bisa pulang?"

Arka mendongak, berpikir serius. "Emm... bica."

"Nah, tuh."

"Tapi nanti Mama nyasal."

"Bandara sama rumah kita kan dekat. Masa Mama nyasar?"

Arka ikut tertawa, bahunya naik turun. "Kacian Mama! Halus Papa yang emput!"

"Iya, iya. Nanti Papa jemput," ujar Arga, pura-pura mengeluh. Arka tersenyum puas dan kembali sibuk dengan nasinya. Arga memandanginya sebentar, dadanya mengencang tanpa alasan yang bisa ia sebutkan.

Rina datang lebih pagi dari biasanya, sesuai permintaan Arga. Sebelum berangkat, Arga menghampiri Arka yang sudah bermain dengannya di karpet, lalu menggendongnya.

"Papa berangkat kerja ya."

"Buat beli mainan?"

"Kalau Arka rajin makan dan nggak nakal." Arga memencet hidungnya.

"Aku nggak nakal!"

"Iya, anak Papa paling baik." Ia mencium kening Arka dan menurunkannya. Tangan kecil itu masih memegangi jarinya.

"Papa nanti pulang kan?"

"Iya Papa pulang."

"Es klim?"

"Nanti, kalau Arka udah bisa baca. Kebanyakan es nanti pilek."

"Udah bica baca! Mana pilek? Enggak kok."

Arga mengalah. "Ya udah. Es krimnya pas Papa pulang, ya. Kalau Mama nggak marah-marah."

"Aasiiik! Buat Mbak Lina juga ya!"

"Iya," sahut Arga sambil tertawa. Ia melangkah keluar, tawanya baru surut setelah pintu pagar tertutup di belakangnya.

---

Bengkel sudah ramai ketika ia tiba. Beberapa motor berjajar menunggu giliran, Dito dan Aziz sudah berkeringat di antara mereka.

"Dit, yang ini udah selesai?"

"Udah, Bang. Tinggal dites."

Arga menstarter motor itu, memutar gasnya, mendengarkan mesinnya. Normal. Suara mesin, bau oli, dentang kunci pas beradu dengan besi. Hari berjalan seperti biasa.

Kecuali kepalanya.

Residivis. Tukang perkosa.

Dua kata itu menempel sejak semalam, seperti oli yang tak mau lepas dari sela kuku. Tiga orang asing berdiri di depan bengkelnya dan meneriakkan itu seolah sedang membacakan vonis. Dan ia tidak punya jawaban, tidak untuk mereka, tidak untuk dirinya sendiri.

Ia membongkar busi, lalu sadar sudah dua kali memasang cincin yang sama dalam arah yang salah. Ia membongkarnya lagi. Pernah ia menatap satu baut di telapak tangannya begitu lama sampai Dito menegur pelan.

"Bang?"

"Hm."

"Kopi, Bang?"

"Nanti."

Aziz membuka mulut, tapi Dito menyikutnya. Tak lama kemudian, segelas kopi tanpa gula muncul di ujung meja kerjanya, tanpa komentar. Arga meliriknya, mengangguk kecil, lalu kembali menunduk ke mesin. Ia tidak menyentuh kopi itu sampai dingin.

Menjelang siang, ia menyingkir ke sisi bengkel yang lebih sepi dan menelepon Iren. Dering ketiga, diangkat.

"Halo."

"Ya, halo. Nanti aku jemput." Ia mengusahakan nada ringan, tapi yang keluar lebih mirip perintah.

"Nggak usah. Nanti malah ngerepotin. Aku bisa naik taksi kok."

"Aku mau jemput. Takut kejadian semalem keulang."

Iren tertawa kecil. "Kenapa sih? Semalem kan mereka nyari kamu."

Nyari aku? Bukan. Yang mereka teriakkan itu nama istrinya. Arga masih memegang keyakinan itu, dan ia memilih tidak membantahnya.

"Arga," lanjut Iren, nadanya melunak, "sayang, suamiku... kejadian semalem kayaknya nggak ada hubungannya sama aku. Aku bisa pulang sendiri. Kamu kerja, bengkel lagi ramai. Aku takut ngerepotin."

"Bisa aku tinggal. Ada Dito sama Aziz."

Jeda. Cukup panjang untuk terdengar.

"Jangan-jangan kamu lagi cemburu, ya?" Suaranya mendadak lebih lembut.

Arga terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. Tawa yang ia pasang rapi. "Tiap hari juga aku cemburu."

"Oh ya? Kok nggak keliatan?"

"Soalnya kamu nggak pernah nyadar."

Iren tidak tertawa kali ini. Di seberang, Arga mendengar napasnya, lalu suaranya turun. "Aku pulang sendiri aja, ya... Aku capek. Nanti malah ditanya macem-macem."

Ditanya macem-macem. Oleh siapa? Arga mengernyit. Ia sudah hampir bertanya, tapi lidahnya memilih jalan lain.

"Jam berapa?"

Tidak ada jawaban.

Hening. Yang masuk ke telinganya hanya bunyi kompresor dan Aziz yang memanggil Dito di belakang. Matanya jatuh ke noda oli di sepatunya, dan tanpa sadar bibirnya bergerak.

"...Test pack."

Nyaris tanpa suara. Sesaat ia pikir ia hanya membayangkannya.

Di seberang, napas Iren terhenti. Atau tidak. Arga tidak bisa memastikan. Detik yang meregang itu bisa saja gangguan sinyal, bisa juga bukan.

"Pesawat landing jam empat," kata Iren akhirnya, datar. "Udah ya, aku masih ada kerjaan."

"Oke."

Sambungan terputus. Arga menatap layar yang menggelap, genggamannya mengencang sampai plastik casing-nya berderit. Nada datar itu masih berputar di kepalanya, lebih nyaring dari kompresor di belakangnya. Landing jam empat. Bukan jemput aku". Bukan "ya sudah".

Pukul setengah tiga, ia mengelap tangan dan memanggil dua karyawannya.

"Kalau ada yang servis lagi, kalian yang tangani ya. Gue mau ke bandara."

"Siap, Bang."

Ia pulang mengambil mobil. Arka masih tidur lelap di kamar, dan Rina duduk di ruang tengah memainkan ponselnya.

"Arka tidur, Rin?" bisik Arga.

"Iya, Pak. Baru aja."

"Kalau bangun, bilang Papa pergi jemput Mama ya."

"Iya, Pak."

---

Jalanan macet. Setiap kali lampu merah menahan mobilnya, jemarinya mengetuk setir tanpa irama. Di kaca spion, kursi belakang kosong, kursi anak yang biasanya diisi Arka. Ia teringat bon belanja yang masih terlipat di saku celananya. Ia tidak mengeluarkannya. Ia hanya tahu benda itu ada, seperti batu kecil di dalam sepatu.

Aku jemput, jawaban Iren tadi, nggak usah. Dua kali ia menolak, lalu ia bilang takut ditanya macam-macam. Arga mengerem tepat sebelum bemper truk di depannya, dan baru sadar ia menahan napas sejak tadi.

Pukul empat lewat sepuluh ia tiba. Layar kedatangan menunjukkan pesawat dari kota Iren sudah mendarat, hanya satu penerbangan dari sana hari ini. Tidak mungkin salah.

Ia duduk di kursi tunggu menghadap pintu kedatangan, kunci mobil diputar-putar di tangan. Setiap perempuan berambut panjang yang keluar membuat bahunya terangkat sedikit. Setiap kali bukan Iren, bahunya turun lagi.

Lalu Iren keluar, menyeret koper, dari pintu sebelah kiri. Arga berdiri. Ia sempat mengangkat tangan setengah, lalu tertahan.

Mata mereka bertemu.

Satu detik. Mungkin kurang. Lalu pandangan Iren bergeser, bukan lengah, tapi seperti sengaja dipindahkan, dan langkahnya berbelok. Bukan ke arah kursi tunggu tempat Arga berdiri melambai, melainkan lurus ke pintu keluar di sisi seberang, menyeret koper dengan langkah lebih cepat dari biasanya.

Arga masih berdiri di tempat. Mungkin ia belum lihat, pikirnya. Tapi matanya tadi jelas menangkap matanya.

Ia melangkah menyusul. "Iren?" Terlalu pelan, tenggelam oleh pengumuman keberangkatan. Mungkin dia mau ke toilet dulu, atau mampir ke gerai di sana. Alasan-alasan itu muncul satu per satu dan ia membuangnya satu per satu. Kenapa nggak nunggu? Kenapa nggak ke sini dulu?

Dia menghindar?

Baru beberapa langkah, sesuatu berkilat di sudut matanya. Seorang pria baru keluar dari pintu kedatangan sambil menyeret koper kabin, berjalan cepat. Kacamata hitam bertengger di wajahnya, padahal ini di dalam gedung, dan di pergelangan tangannya ada kilau jam yang menyambar lampu langit-langit. Orang-orang di sekelilingnya mendongak ke papan informasi atau mencari-cari penjemput. Pria itu tidak. Kepalanya lurus mengarah ke punggung Iren.

Arga memperlambat langkah. Ia menoleh ke Iren, lalu kembali ke pria itu.

Langkah pria itu makin cepat. Roda kopernya berderit, memotong jalur, persis searah dengan Iren, seolah tak peduli siapa pun di jalannya.

Arga melangkah ke samping untuk memberi jalan. Terlambat.

Bahu pria itu menghantamnya dari samping.

Bukk!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kebohongan Membawa Petaka   Ferdi Jalus

    "Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem

  • Kebohongan Membawa Petaka   Pria Aneh

    Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan

  • Kebohongan Membawa Petaka   Bangun Tapi Tidur

    AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon

  • Kebohongan Membawa Petaka   Aaah

    "Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men

  • Kebohongan Membawa Petaka   Arka Dan Sangkalan Ibunya.

    Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me

  • Kebohongan Membawa Petaka   Tiga Preman

    Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status