Se connecter"Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem
Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan
AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon
"Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men
Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me
Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men







