Partager

Ferdi Jalus

Auteur: Romendr
last update Date de publication: 2026-11-05 19:30:46

"Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang.

Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat.

"Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?"

"Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal.

Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ.

Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan.

"Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah.

Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis.

"Enggak usah."

Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik.

Iren diam ketika Arga mulai membawa kopernya. Arga menyeretnya menuju mobil di parkiran. Derit roda koper berbunyi di aspal, sementara keduanya diam. Iren hanya mengikuti dari belakang.

Ini tidak seperti biasanya. Jika Arga menjemput, Iren selalu berceloteh tentang pekerjaan, teman-temannya, bahkan kasus yang sedang berjalan, yang tidak dipahami Arga. Kali ini hanya kesibukan bandara yang terdengar di antara mereka.

Mungkin dia merasa diinterogasi, batin Arga.

Di parkiran, Arga membuka bagasi dan memasukkan koper. Iren sudah lebih dulu masuk ke mobil. Arga menyusul, dan Iren mengeluh, "Panas banget sih."

"Ya kan AC-nya belum dinyalain," jawab Arga sambil menyalakan mesin.

Iren masih mengibaskan tangan ke wajahnya. Angin dari AC mulai berembus, tapi udaranya masih panas.

Arga tidak langsung menjalankan mobil. Tanpa menatap Iren, ia bertanya, "Ren..."

Iren menoleh. "Iya, ada apa?" Tangannya masih mengibas ke arah leher.

"Kamu hamil?" tanya Arga singkat.

Iren diam sebentar.

"Enggak. Aku enggak hamil."

"Test pack..." Arga berucap pelan. Sebelum Iren menjawab, ia menjelaskan, "Kamu beli test pack dua minggu lalu. Ada bonnya di rumah. Kamu hamil kan?"

"Lha, aku kan minggu kemaren mens. Kamu kok aneh, lupa gitu?" jawab Iren ketus.

Arga terdiam sambil memegangi stir. Kapan mens-nya? Ia tidak ingat.

Iren mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memencetnya. "Nih, liat," katanya sambil menyodorkan layar pada Arga.

Arga membaca percakapan di layar. Pak Dimas meminta Iren menyiapkan keterangan untuk seorang korban pemerkosaan, dan menyebut perlu memastikan apakah korban hamil. Layar itu ditarik kembali sebelum Arga sempat melihat tanggalnya.

"Aku butuh test dulu, soalnya takutnya korban itu hamil," kata Iren, masih ketus.

Arga langsung menatapnya. "Iren, kok aneh. Kan bisa langsung ke lab, lebih akurat," ucapnya dengan nada tinggi.

"Ya aku enggak tau, kan si bos yang nyuruh. Biar cepet kali.... Kok kamu nanyanya aneh gini. Aku capek ditanya-tanya hal begini," jawab Iren, terdengar seperti mengeluh.

"Ya udah." Arga tidak mau menyambung soal test pack. Pertanyaannya sudah setengah terjawab. Ia baru ingat mereka memang tidak berhubungan minggu lalu. Waktu itu Iren bilang kelelahan, bukan haid. Tapi mungkin Iren hanya tidak mau menjelaskan.

Mens, lalu korban. Dua alasan untuk satu test pack, batinnya.

Ia memasukkan persneling ke D, tapi mobil belum bergerak. Pertanyaan baru muncul di kepalanya.

"Semalem mereka nyari suami Irene Maharani, Ren. Nama lengkap kamu. Bukan nyari Arga Utama. Aku bukan residivis, SKCK-ku bersih."

Iren langsung menyambar dengan agak berteriak kesal, "Emang nama Irene Maharani cuma satu!"

"Lho, siapa lagi emangnya? Itu nama unik yang aku tau," tangkis Arga, tapi ia jadi tidak yakin.

"Sok tau!" Iren langsung mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, tanpa mencari sedikit pun. "Nih, baca." Ia menyodorkan kertas itu dengan gerakan marah.

Arga membaca kertas itu. Berkas kasus pemerkosaan dan pembunuhan, Ferdi Jalus tersangkanya. Tulisannya kecil-kecil, dan Iren tidak memberinya waktu untuk membaca semuanya.

"Apaan nih?" tanya Arga tidak mengerti.

"Liat tuh siapa nama istrinya." Iren membuka lembaran lampiran di tangan Arga.

Arga membaca: Irene Maharani, istri Ferdi Jalus.

"Mereka tuh cari Ferdi Jalus. Itu dendam kayaknya. Aku juga heran tadinya, ternyata setelah dicari, ini penyebabnya," ucap Iren, lalu menoleh ke depan.

Iren menyadari mobil tidak kunjung berjalan. "Ih, ngapain sih, cepetan maju, pengen mandi nih. Arka pasti lagi nungguin kan?"

Dengan gerakan pelan, Arga menaruh kertas itu di dasbor. Kali ini ia merasa salah.

Mobil pun maju. Arga tidak bicara selama mobil keluar bandara. Ia merasa pertanyaannya terjawab, tapi juga merasa aneh. Kertas itu keluar terlalu cepat. Batinnya berkata, gak ada acara bongkar-bongkar tas. Seolah memang sudah di paling atas, tinggal sodorin.

Iren menyadarinya. Ia memiringkan badan ke arah Arga. "Sayang, honey, kamu ngambek ya?" ucapnya dengan nada manja.

Arga menjawab, "Enggak. Aku udah lama enggak gelut, nih liat," sambil menunjuk ujung bibirnya yang terlihat sobek.

"Iya, aku tau. Dari tadi juga keliatan bibir kamu luka. Berapa orang?" tanya Iren dengan lembut.

"Tiga," jawab Arga singkat.

"Wah hebat, bisa ngalahin tiga orang," kata Iren, terdengar kagum di telinga Arga.

Sialan, batin Arga memaki. Alih-alih khawatir, Iren malah mengganti topik.

"Aku udah nyangka sih mereka bukan cari kamu. Lagi pula kamu kan cuma tukang bengkel," ucap Iren dengan santai.

Arga menatap Iren. Tangannya di setir mengencang. Tadi siang di telepon dia bilang mereka nyari aku, batinnya. Sekarang bilang bukan.

Arga menepikan mobil. Iren menoleh heran. "Kenapa? Kok..."

"Bukan gitu, Ren. Mereka yakin banget semalem. Kamu nggak liat sendiri!" Arga memukul pelan stir yang dia pegang, dia merasa diremehkan tapi tidak mau mengungkapkannya.

Iren malah balas marah. "Lho, kamu kenapa berhentiin mobil sih? Kamu mau nurunin aku di jalan ya?"

"Huh, ya enggak lah. Masa nurunin istri di jalan. Aku cuma tukang bengkel, enggak kayak yang tadi, orang kaya. Kamu kalau ketemu dia pasti naksir."

"Siapa? Naksir? Kok kamu sensitif sih? Kamu curiga aku selingkuh?"

"Siapa lagi, itu yang namanya Ivan, katanya terkenal, pernah dipenjara," jawab Arga asal. Ia menjalankan mobil lagi tanpa menjawab pertanyaan Iren.

"Oh... dia anak konglomerat, aku kenal kok," kata Iren ringan.

"Kamu kenal? Deket?" tanya Arga sambil menoleh ke Iren.

"Ya kan dia terkenal, jadi aku pasti kenal. Kenapa emangnya?" jawab Iren santai.

Arga tidak menjawab.

"Kamu ribut tadi di bandara ya?" tanya Iren sambil tersenyum dan menatap Arga.

Arga menoleh sekilas. Dari mana dia tahu? batinnya.

"Ya udahlah, enggak usah dibahas. Kamu tadi malah menghindar bukannya nolongin,," jawabnya malas.

"Tadi nyari Pak Dimas, ada yang ketinggalan," jawab Iren. Ia mengambil ponselnya, lalu menelepon Rina, kemudian Arka.

"Mana Arka?"

Pembicaraan telepon Iren dengan Arka terus berlanjut sampai gerbang kompleks.

"Pak?" tanya sekuriti sambil menghormat.

Setiap warga yang memasuki gerbang harus menempelkan kartu pada mesin pembaca. Kartu itu disimpan di laci mobil, di sebelah kiri.

"Duh, kartunya di laci," ucap Arga. Ia membungkuk untuk membuka laci. Tepat saat tangannya hendak meraih kartu akses, ponsel Iren berdering.

Iren sibuk mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Arga sempat melirik layar ponsel yang menyala.

Love you.

Tangannya berhenti di dalam laci.

Iren menatap layar. Jemarinya sempat terdiam sebelum buru-buru menekan tombol untuk mematikan panggilan.

Arga mengurungkan niat mengambil kartu. Dia menoleh.

"Siapa Love you?"

Iren tidak menjawab.

Ponsel itu kembali berdering.

Arga menatapnya lebih tajam. "Siapa Love you?"

Di belakang mereka, sebuah mobil mulai membunyikan klakson.

Teeeet!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kebohongan Membawa Petaka   Ferdi Jalus

    "Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem

  • Kebohongan Membawa Petaka   Pria Aneh

    Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan

  • Kebohongan Membawa Petaka   Bangun Tapi Tidur

    AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon

  • Kebohongan Membawa Petaka   Aaah

    "Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men

  • Kebohongan Membawa Petaka   Arka Dan Sangkalan Ibunya.

    Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me

  • Kebohongan Membawa Petaka   Tiga Preman

    Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status