Chapter: The BestPonsel itu masih di tangan Arga, baru setengah terangkat ke telinga, ketika suara pria di seberang terdengar lagi. Pelan, ragu, dan jelas bukan suara yang ia kenal. Ia baru membuka mulut, tapi Iren lebih cepat. Jemarinya menyambar ponsel itu dari tangan Arga."Pak, sebentar ya, saya lagi sama suami," katanya, terlalu keras untuk ruang mobil yang sempit."Oh, iya?" Suara pria di seberang terdengar serius.Iren memutus sambungan, lalu menekan tombol mati sampai layarnya gelap.Arga menoleh. Alisnya terangkat, rahangnya mengeras. "Siapa dia?""Pak Dimas." Iren menjawab tenang, terlalu tenang. "Dia emang suka sayang-sayangan sama anak buahnya."Tangan Arga meremas setir sampai buku jarinya memutih."Itu bukan Pak Dimas, Ren."Iren diam."Aku kenal suara Pak Dimas. Aku pernah denger dia manggil kamu, enggak kayak gitu."Iren masih diam, matanya lurus ke depan.Di kaca spion, Rina berdiri di mulut garasi sambil menggendong Arka. Anak itu tertawa
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Siapa Love You"Siapa Love You?" Rahang Arga mengeras, urat lehernya menonjol."Bukan siapa-siapa. Orang iseng. Kamu kok curigaan banget sih?" Suara Iren naik satu nada.Klakson di belakang mereka berbunyi lagi, lebih panjang dan nyaring.Teeeet! Teeeet!Udara di dalam mobil terasa pengap. Di luar, matahari sore memantul dari aspal dan menembus kaca. Sekuriti berseru, "Cepet, Pak!" sambil mengetuk jendela dengan buku catatannya. Tiap ketukan terasa menekan pelipis Arga."Sebentar!" Arga menurunkan kaca, lalu meraih kartu RFID warga dari laci dasbor.Ponsel Iren berdering lagi, nadanya menusuk di sela bunyi klakson. Arga melirik layarnya dan sempat membaca dua kata di sana: Love You. Tangannya terulur, tapi palang portal masih menutup dan klakson tidak mau berhenti. Iren lebih dulu menekan tombol mati. Layarnya padam, tapi tulisan itu masih membekas di mata Arga."Berisik banget," gerutu Arga sambil menempelkan kartu ke pembaca akses.Portal besi terbuka pelan, relny
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Ferdi Jalus "Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Pria AnehTabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Bangun Tapi TidurAC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: Aaah"Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men
Last Updated: 2026-11-04