FAZER LOGINTabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.
Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai. Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak. "Kalau jalan lihat-lihat!" Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka. Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat. Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya. Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan pria itu hanya mengenai udara. Pria itu terhuyung, wajahnya memerah karena gagal di depan orang banyak. Rahangnya mengeras. Dia memaki Arga, "Sial!!" Arga menggeleng. Ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan pria ini, meski ia tahu betul pria itulah yang lebih dulu menabrak. Pandangannya tidak tertuju pada pria itu, melainkan menyapu keramaian di sekitarnya, mencari sosok Iren. Tidak ada Iren di sana. Arga akhirnya menoleh pada pria itu. "Oke, sorry. Saya ada urusan, jangan halangin saya," ucapnya, tenang dan datar. Badannya tidak condong ke arah pria itu. "Oh, enggak bisa. Lu yang ngehalangin gue," jawab pria itu sambil maju mendekat. Tangannya langsung menyambar kerah kaos Arga dan mencengkeramnya kuat-kuat. Arga bereaksi tanpa berpikir. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu melepaskannya dari kerah kaosnya dengan sentakan cepat dan kasar. "Lepas!!" teriak Arga. Pria itu meringis, tangannya terlempar ke samping. "Sial, lu berani!!" suaranya pecah, menggema sampai ke sudut area kedatangan. Kini orang-orang di sekitar mereka berhenti bergerak. Obrolan mereda, koper-koper berhenti didorong. Semua mata tertuju pada dua laki-laki itu, dan kerumunan mulai terbentuk. "Bos, lu yang nabrak duluan, makanya jalan pake mata!!" balas Arga. Suaranya keras dan tegas, tanpa sedikit pun gentar. Pria itu mendengus. Kacamata hitamnya dilepas dengan gerakan kasar. Ia menunjuk wajahnya sendiri dengan jari gemetar, dagunya terangkat congkak, lalu menatap Arga lekat-lekat tanpa kacamata. "Minta maaf lu!" pria itu berdesis keras. "Seharusnya anda, bos, minta maaf. Saya nggak marah aja, anda harusnya senang," ujar Arga sambil terkekeh pelan. Senyum itu bagaikan bensin yang disiramkan ke api bagi pria itu. "Sialan lu! Mau mati lu!!" Makian itu menggema di udara, matanya membelalak. Beberapa langkah kaki terdengar cepat dari belakang. Tiga laki-laki berbadan tegap menerobos kerumunan dan langsung berdiri di sisi pria itu. Rupanya mereka anak buahnya. Dari arah lain, dua sekuriti bandara bergegas datang sambil menyibak orang-orang yang menonton. Arga mendecak kesal. Kerumunan yang makin rapat menutup pandangannya, dan ia tidak bisa lagi melihat Iren. Pria itu menggeram. Ditatapnya Arga tajam-tajam, rahangnya bergerak menahan amarah. Salah satu anak buahnya mengambil koper pria itu, sementara dua lainnya merapat dan mengepung Arga. Tanpa peringatan, pria itu menerjang dan mendorong dada Arga dengan kedua tangan. Arga memiringkan tubuh dan dorongan itu kembali lolos. Namun saat ia menghindar, seorang anak buah pria itu menghantam punggungnya dari samping. Pukulan itu pendek dan terukur, bukan ayunan sembarangan. Dan sialnya, hantaman itu masuk tepat ke rusuk kirinya yang sejak semalam masih nyeri. Kakinya goyah, dan ia jatuh berlutut di lantai yang dingin. Kepalan tangannya sempat menegang di sisi tubuh. Insting petinjunya menyuruhnya bangkit dan membalas. Tapi ia menahannya. Satu pukulan di tengah keramaian ini hanya akan menahannya lebih lama, dan Iren semakin jauh. Seorang anak buah pria mengayunkan tangan, bersiap memukul. Dua sekuriti langsung menubruknya dan menahan lengannya. "Eh, eh, udah! Jangan pukul! Mas Ivan, tolong jaga anak buahnya!!" Sekuriti lainnya merentangkan tangan di antara Arga dan yang lain, berusaha membuat jarak. Suara radio komunikasi di pinggangnya berdesis. Bantuan lain sedang menuju ke sana. "Ayo ke kantor, jangan diem aja, bawa ke kantor!" teriak salah satu sekuriti kepada rekannya. Dua sekuriti lagi mendekat dari arah berlawanan. Mendengar kata kantor, wajah pria itu berubah. Ia melirik petugas yang mulai mengepung, lalu orang-orang yang mengarahkan ponsel ke arahnya. Rahangnya mengatup. Ia memasang kembali kacamata hitamnya dengan gerakan kaku dan menunjuk Arga sekali lagi tanpa suara, matanya tersembunyi di balik lensa gelap. Namun sebelum berbalik, pandangannya sempat melirik ke arah pintu keluar terminal. Hanya sekejap. Terlalu cepat untuk Arga pahami. Lalu ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh. Anak buahnya saling pandang sejenak, kemudian bergegas menyusul sambil menyeret koper. Dalam hitungan detik, punggung mereka lenyap di antara arus penumpang. Seorang sekuriti membantu Arga berdiri. "Bapak nggak apa-apa?" "Nggak apa-apa," jawab Arga pendek. Ia menepis debu dari lututnya. Kerumunan perlahan bubar. Arga berdiri di tempatnya dengan napas yang masih berat. Matanya menyapu area kedatangan, dari pintu keluar ke stan tempat Iren tadi berbelok, lalu ke deretan kursi tunggu. Seorang pria di kerumunan mendekat. "Ada apa, Mas? Ribut sama dia? Saya tahu orangnya. Dia Ivan Wijaya, bos Wijaya Grup." Arga menoleh. "Ivan Wijaya?" "Iya. Yang punya grup itu, lho." Pria itu mengangguk ke arah pintu keluar. "Emang sombong dia," ujar seorang wanita dengan nada kesal sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mentang-mentang anak pejabat, bos konglomerat." Arga mencatat nama itu di kepalanya. Ivan Wijaya. "Dia pernah dipenjara," timpal pria di sampingnya, suaranya merendah, nyaris berbisik. Arga berhenti sejenak. Dipenjara. Kata itu menggantung di kepalanya, lalu menyambung ke malam sebelumnya. Tiga pria. Nama Irene Maharani. Dan tuduhan yang dilempar ke mukanya seperti sudah dipersiapkan. Residivis. Tukang perkosa. Kebetulan? Arga tidak percaya kebetulan. Semalam ada orang yang menyebutnya residivis. Hari ini, pria yang menabraknya juga punya masa lalu pidana. Tapi Iren masih di luar sana, dan ia tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang. Percakapan di sekitarnya makin ramai. Orang-orang saling menimpali, saling menebak. Arga tidak menggubris satu pun. Hanya satu hal di kepalanya. Menemukan Iren. Ia berjalan menyusuri terminal kedatangan, memeriksa satu per satu sudut yang bisa ia jangkau. Tidak ada. Ia bahkan sampai ke depan toilet dan menunggu cukup lama, berharap istrinya muncul dari sana. Batang hidung Iren tetap tidak terlihat. Hanya lalu lalang pengunjung bandara, beberapa di antaranya meliriknya karena kejadian tadi. Akhirnya Arga memutuskan pulang. Ia sempat membuka nama Iren di layar ponselnya, lalu menutupnya lagi. Tidak ada telepon, tidak ada pesan. Kini sudah jelas Iren tidak berniat menemuinya di bandara, dan ia tidak mau pertengkaran mereka dimulai lewat telepon. Ia melangkah keluar dengan langkah lemah. Dari pintu keluar terminal kedatangan, ia melihat Iren berdiri di trotoar. Istrinya berdiri sendirian di tepi trotoar, kopernya di sebelahnya. Tangannya melambai ke arah sebuah mobil Alphard yang meluncur pergi meninggalkan bandara. Arga tidak dapat melihat siapa yang dilambaikan, karena jendelanya sudah hampir menutup. Ia mematung sesaat. Matanya mengikuti Alphard itu sampai hilang di tikungan jalan, lalu kembali pada istrinya. Ada yang mengganjal di dadanya, tapi ia menahan diri dan melangkah cepat ke arah Iren. Iren menoleh ke sekitar, dan dari jarak itu mata mereka bertemu. "Iren?" panggil Arga dari kejauhan. Iren tersentak. Wajahnya tampak panik, tapi dalam sekejap ia menguasai diri dan menurunkan tangannya yang tadi masih terangkat. Arga terus mendekat. Iren menunggu di tempatnya, diam, memeluk tasnya di depan dada. Baru ketika Arga berdiri tepat di hadapannya, ia melihat wajah istrinya memerah. Entah karena apa, ia tidak bisa mengerti. "Iren, ternyata kamu di sini?" tanya Arga, suaranya sedikit bergetar, pikirannya berkecamuk. Pertanyaan yang sebenarnya ingin ia lontarkan—ke mana kamu tadi—tertahan di tenggorokan. Kenapa Iren bersikap seperti itu? "Hey, kamu kenapa?" tanya Arga lembut, berusaha meredam emosinya agar tidak mengusik Iren. "Enggak apa-apa," jawab Iren. Ia menyibakkan rambutnya sedikit dan memalingkan muka dari Arga. Arga melirik ke jalan yang dilalui Alphard tadi. "Siapa yang di mobil itu?" Iren menggigit bibir, matanya bergerak ke mana-mana."Eh, dia si bos, Pak Dimas, baru aja pulang," jawab Iren dengan wajah tenang. Pipinya merah. Iren berkulit terang, jadi rona merah itu langsung terlihat. "Terus kenapa muka kamu merah begitu? Kamu takut terbongkar?" "Lho, kan di sini memang panas. Kamu tau aku enggak biasa panas-panasan," jawab Iren terdengar kesal. Iren menggenggam pegangan kopernya. "Ya udah, kalau curiga terus, aku naik taksi aja," ucapnya, seolah akan pergi dari situ. Arga memegang pundak Iren. "Aku udah di sini, ngapain naik taksi?" Ia sedikit menarik pundak Iren sehingga mereka berdiri berhadapan. "Kalau mau ngajakin ribut, ngapain jemput!" suara Iren pelan, tapi nadanya marah. Arga mendengus kecil. Ia meraih pegangan koper dari tangan Iren, tapi ditepis. "Enggak usah." Arga memaksa mengambilnya. "Jangan ribut di sini, enggak enak sama orang." ucapnya setengah berbisik. Iren diam ketika Arga mulai mem
Tabrakan itu cukup keras hingga Arga terhuyung ke depan satu langkah.Namun pria yang menabrak itu justru kehilangan keseimbangannya sendiri. Kakinya salah berpijak setelah tubuhnya menghantam Arga, dan ia terjatuh ke lantai.Pria itu bangkit dengan cepat dan langsung berteriak."Kalau jalan lihat-lihat!"Teriakannya keras, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.Arga mengernyit. Lho, yang nabrak dia, kok malah dia yang marah? Ia tidak menjawab pria itu. Matanya sibuk mencari ke arah Iren tadi berjalan, tapi Iren sudah tidak terlihat.Arga kembali menatap pria di depannya. Dari dekat, penampilannya mencolok. Polo bermerek yang dikenakannya tampak mahal, jam tangan berkilau di pergelangan tangannya. Rantai emas menggantung di leher, anting berlian terlihat di telinga kirinya, dan kacamata hitam menutupi matanya.Dengan menyeringai meremehkan, seolah pria itu sudah mengenal Arga cukup lama, ia maju dan hendak mendorong Arga. Tapi Arga bergeser setengah langkah ke samping, dan tangan
AC di atas kepalanya masih berdengung, tapi suaranya mendadak menjauh, tertelan denyut jantungnya sendiri."Test pack," desisnya.Hanya dua kata, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Tangannya sempat meraih knop kompor, lalu berhenti di udara. Ia menarik tangan itu, duduk di kursi makan, dan meratakan bon belanja yang tadi ia remas. Sekali. Dua kali. Kertas tipis itu tetap kusut.Kenapa Iren membeli ini? Dan tidak bilang apa-apa?Pikiran pertama datang pelan-pelan, hangat, nyaris membuatnya tersenyum. Iren hamil. Arka akan punya adik. Ia bahkan sempat membayangkan Arka mengomel soal mainannya yang harus dibagi.Lalu pikiran kedua menyusul, dingin, dan senyum itu padam begitu saja.Bagaimana kalau anak itu bukan anaknya?Arga menekan ujung meja sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berdiri, mengambil gelas, mengisinya, tidak meminumnya. Ia memeriksa pintu depan yang sudah terkunci. Memeriksanya lagi. Akhirnya ia rebah di sofa ruang tengah, menatap langit-langit dengan pon
"Gak ada," jawab Iren singkat, tapi suaranya tertahan dan terlalu cepat."Aku mau tau, jawab dengan jelas. Kenapa ada orang yang nyariin suami Irene Maharani sampai datang ke bengkel?" ucapan itu nadanya seperti perintah bukan pertanyaan.Iren hanya diam, Iren lalu mengeluh pelan, "Kamu jangan nakal!""Ren? ... Iren? Siapa yang nakal?!" suara Arga keras, terdengar marah."Besok aku pulang," jawab Iren cepat, nyaris berteriak, mengelak."Itu bukan jawaban," sela Arga."Arga... euuh." Suaranya lemah, menahan sesuatu yang berat."Iren... aku tanya kenapa?" tanya Arga lagi.Iren menarik napas panjang, terdengar terengah dan cepat. "Please, jangan sekarang.""Kenapa?" Arga heran."Karena aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Hush!" Iren seperti sedang mengusir sesuatu."Apa sih? Kenapa nggak bisa?" Arga makin heran mendengar suara Iren."Udah ... Pokoknya besok aku pulang," jawab Iren cepat, tidak menanggapi pertanyaan Arga."Ren..." Arga menjeda sebentar. "Iren...."Setelah jeda, Iren men
Tapi, dari ujung jalan terdengar suara motor tua.Semua orang menoleh.Motor itu mendekat, makin keras. Lampunya menyilaukan, dan Arga menyipitkan mata, belum bisa melihat siapa pun di baliknya.Di tengah deru mesin yang memekakkan, terdengar satu suara. Suara yang sangat dikenalnya. Dada Arga mencelos."Papa.... !"Arga membeku.Suara itu datang dari motor yang baru berhenti di trotoar. Di atasnya ada Rina pengasuh Arka, dan di dadanya, terikat kain jarik, ada kepala kecil yang menyembul."Pak Arga!" Rina berteriak. Tangannya gemetar di setang.Tinju Arga turun begitu saja. Pria besar di depannya, tiga orang tadi, jalanan itu, semuanya lenyap dari kepalanya. Ia setengah berlari menghampiri Rina, yang berhenti agak jauh dari tempat perkelahian."Rina?! Ngapain bawa Arka jam segini?!" Suaranya pecah, keras.Rina tidak menjawab. Ia menuntun motornya ke pinggir, tangannya sibuk melepas simpul jarik, matanya terus melirik ke arah tiga pria itu. Ia takut, kelihatan sekali. Tapi ia tetap me
Arga Utama adalah mantan petinju profesional. Ia memutuskan pensiun dini bukan hanya karena cedera yang dideritanya, melainkan juga karena Irene, istrinya, tak ingin melihatnya terus bertarung di atas ring.Malam itu, seperti biasa ketika mereka berjauhan, Arga menelepon istrinya. Percakapan ringan mengalir cukup lama, hingga akhirnya Irene berucap dengan nada lembut yang selalu enak didengar Arga."Besok aku pulang, kok. Aku tahu kamu pasti kangen, ya? Aku pengennya sih di sini refreshing, tapi susah lho… kayak kasusnya di Kalimantan ini kok rumit banget, ada inilah itulah, jadinya kayak, eum, capek banget. Mana enggak ada yang bantuin lagi. Kamu seharusnya bantuin dong, yang."Sementara istrinya bicara, Arga melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Hari itu ia belum pulang sama sekali, bahkan untuk makan siang. Order perbaikan di bengkel menumpuk. Karena ada pekerjaan yang harus ia tangani sendiri, ia membiarkan kedua pegawainya pulang sejak sejam lalu. Ia lalu men







