Mag-log inErick mulai berpikir keras. Siapa Erick Sebastian? Apa itu dirinya? Tapi nama belakangnya Erick Hermawan bukan Sebastian. Ratna Tania Orlando? Kenapa ada nama keluarga Orlando di belakang nama wanita itu? Bukankah itu nama keluarga Aland Orlando? Sebenarnya ada apa ini? Erick lalu mencari-cari sesuatu lagi, siapa tahu ia mendapatkan petunjuk baru. Pria itu mengacak-acak rak buku tersebut, siapa tahu ada sesuatu lebih yang ia temukan. Benar saja, pria itu menemukan sebuah album foto-foto lawas milik orang tuanya. Karena penasaran, ia membuka lembaran-lembaran foto itu. Pria itu melihat kedua orang tuanya sedang bersama keluarga lain. Ia lihat satu persatu wajah-wajah itu. Hingga akhirnya ia melihat wajah pria dan wanita yang sedang menggendong bayi, sedang berfoto dengan kedua orang tuanya. Wanita yang menggendong bayi itu terlihat sudah tua dan memberikan bayi yang digendongnya kepada sang Mama, Nyonya Rose. "Mama! Itu bayi siapa yang Mama gendong?" gumam Erick yang mulai panik.
Setelah tahu jika Erick adalah anak nyonya Ratna, Aland menjadi sedikit pendiam. Selama ini ia tidak menyangka jika Nyonya Ratna memendam rahasia itu begitu rapat. Malam itu setelah Aland mengetahui segalanya. Vina melihat suaminya sedang berdiri termenung di depan jendela kamar seolah sedang memikirkan sesuatu. Ia mendekatinya sambil berdiri di samping pria itu. "Apa yang kamu pikirkan, Mas? Kenapa belum tidur?" Suara Vina mengejutkan pria itu. Aland menoleh sambil mengubah posisinya. "Tidak apa-apa!" jawabnya singkat. "Kalau tidak ada apa-apa kenapa kamu belum tidur? Sudah malam, tidur yuk!" Vina mengajak suaminya untuk istirahat. Belum sampai beranjak, Aland mengatakan sesuatu yang sedari tadi ia pikirkan. "Salah nggak sih aku bicara seperti itu pada Tante? Aku memang bukan anaknya, sadar diri seharusnya aku tidak bicara demikian. Aku cuma nggak rela saja jika Erick menjadi anaknya. Dia itu bajingan!" katanya. Vina menghela napas. Sepertinya ia juga ikut bertanggungjawab atas
Suara Nyonya Ratna mengejutkan pria itu. Aland terdiam sesaat. Wajah pria itu menghadap ke tembok dengan kedua tangannya mengepal kuat. Nyonya Ratna mendekati sang keponakan dengan tangan gemetaran. Pria yang selalu menyayanginya dan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Setelah kematian kedua orang tuanya, Nyonya Ratna lah yang mengasuhnya sampai Aland menjadi orang yang hebat. Di sisi lain, Vina dan Romi tampak khawatir. Mereka ikut berdiri di belakang Nyonya Ratna. Takut jika Aland benar-benar mengamuk dan membanting apa pun di sekitarnya. Nyonya Ratna semakin mendekat, ia berharap bisa mendapatkan pengampunan dari Aland yang sudah ia bohongi selama ini. "Aland, Tante tahu kamu marah. Tante tahu kamu kecewa. Tante juga tidak berharap ini ternyata. Semua itu salah Tante. Maaf jika aku menyembunyikan ini dari kamu. Aku tidak ingin kamu berpikir buruk tentang aku. Tante yang salah, kamu bisa memarahiku sepuasnya. Erick memang putraku, dia adik sepupumu!" Dengan segala keb
"Bos!" Romi juga memanggil sang atasan. Sepertinya Aland benar-benar dilema. Padahal ia belum tahu yang sebenarnya. Nyonya Ratna menegakkan kepalanya. Dilihatnya sang keponakan pergi meninggalkan ruangan. Aland benar-benar marah. Sedangkan dirinya tidak ingin anaknya celaka di tangan keponakan. "Aku harus bicara dengannya. Aku harus bicara yang sebenarnya jika Erick adalah saudara sepupunya...!" batin Nyonya Ratna sambil beranjak berdiri untuk menyusul Aland. Melihat itu, Vina langsung memanggil Nyonya Ratna. Romi pun ikut menahan karena ia tahu jika Aland sedang dalam keadaan emosi. "Tante mau ke mana?" Suara Vina seketika membuat nyonya Ratna berhenti. "Nyonya di sini saja. Sepertinya bos masih butuh sendiri!" kata Tomi yang ikut menenangkan wanita itu. "Tapi aku harus bicara dengannya, dia harus tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau Aland menyakitinya, aku tidak mau...!" rengek Nyonya Ratna. Tentu saja Vina menjadi lebih penasaran. Karena apa yang dikatakan nyonya
Aland mengerutkan keningnya mendengar kata Nyonya Ratna. Kenapa wanita itu ingin dirinya memaafkan Erick? Ada hubungan apa ini! "Maksud Tante apa?" Aland mendekati sang Tante dengan tatapan yang serius. Nyonya Ratna sepertinya sangat gugup. Ia bingung harus menjawab apa. "Ehh! Iya, aku rasa mungkin kamu cuma salah paham, Land. Aku tahu sekali anaknya Rose itu. Dia anak yang baik, jadi nggak mungkin Erick mencelakai kalian!" jawab Nyonya Ratna. Wanita itu berusaha untuk membela putranya. "Salah paham! Tante, aku nggak ngerti ya apa yang Tante pikirkan tentang laki-laki itu. Sudah jelas-jelas aku menanyai anak buahnya yang waktu itu hampir saja membuat istriku tidak selamat. Mereka menjawabnya dengan jelas bahwa Erick Hermawan lah yang telah membayar mereka untuk mencelakaiku. Masih kurang jelas juga!" Aland membalasnya dengan nada tinggi. Kali ini pria itu merasa kesal karena sang Tante justru membela pria yang ingin membunuhnya. "Aland, dengarkan Tante dulu!" sahut Nyonya Ratna.
Aland juga ikut bertanya. Pasalnya jika nyonya Ratna tahu nama ibunya Erick, itu artinya Nyonya Ratna juga mengenal pria itu. "Iya, dari mana Tante tahu nama ibunya Erick? Tante kenal sama mereka?" tanya Aland dengan wajah yang tak kalah serius dari Vina. Ruangan berubah menjadi lebih dingin. Nyonya Ratna yang sedang menggendong baby Raisya, wanita itu harus terlihat tenang agar sang bayi tidak menangis. Sementara itu Romi, sepertinya pria itu harus mengungkapkan semuanya. Tapi, ia juga memikirkan bagaimana respon Aland nanti jika tahu bahwa Erick adalah adik sepupunya sendiri. "Ya Tuhan, ini semakin pelik. Aku harap bos bisa mengerti keadaan nyonya Ratna. Sebenarnya kasihan juga melihatnya seperti ini. Dia pasti sangat merindukan putranya!" batin Romi yang masih berdiri di belakang Aland. Karena Nyonya Ratna sudah terlanjur mengatakan demikian. Akhirnya wanita itu mengaku jika dirinya sudah mengenal Nyonya Rose. "Ohhh iya, aku.. aku cuma menebak saja. Tante lupa kalau dulu







