Se connecterSeperti dibius. Vina merasakan tubuhnya kaku dan tidak berdaya. Inilah kelemahannya dan Aland tahu betul di mana letak kelemahan wanita itu. Belum sampai Vina mendorong dada Aland. Pria itu sudah menyerangnya terlebih dahulu. Sebuah ciuman yang begitu brutal mendarat begitu sempurna pada bibir Vina yang terbuka. "Emmmpppttt!" Entah sebuah paksaan atau memang mereka yang menginginkannya. Tapi nyatanya Vina tak menolaknya atau memberontak. Justru wanita itu ikut terpejam padahal ia berusaha untuk sadar. "Plis Vina! Jangan ikut larut. Sudah sekian kali kamu tidak bisa menolak pria ini! Come on Vina. Sadarlah! Pria ini telah menipumu!" Hati kecil Vina sedang berisik. Tapi rupanya bisikan kecil itu tak mampu membendung perasaan mereka yang bergejolak. Aland sangat yakin sekali jika Vina tidak akan pernah bisa menolaknya. Apalagi pria itu langsung menyentuh titik kelemahan wanita yang sangat dicintainya itu. Vina melototkan matanya, ia berusaha untuk melepaskan ciuman itu. Tapi apa!
"Masih sakit?" tanya Vina sesaat ia menjauhkan tangannya."Ya masih! Tapi aku bukan pria yang manja. Luka seperti sudah biasa aku rasakan. Sembuhnya juga cepat. Lebih baik aku terluka karena tusukan pisau daripada aku terluka karena cinta yang menusukku, rasanya jauh lebih sakit!" kata Aland seraya menatap wajah Vina yang berada dalam gendongannya.Vina menelan ludahnya susah-susah. Pria ini, adalah Aland Orlando. Tapi, di dalam jiwa pria itu juga ada Ramli. Mereka satu orang yang sama. Meskipun begitu, Vina masih belum bisa memaafkan apa yang sudah dilakukan oleh Aland. Pria itu mentah-mentah telah menipunya. Membuatnya mendendam dan benci. Tapi pria itu juga sudah memberinya anak-anak yang lugu. Hingga akhirnya Aland bertemu dengan Romi yang sedang mencarinya. Sang asisten terkejut saat melihat sang bos yang sedang menggendong seorang wanita. Tapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah darah yang keluar dari tubuh Aland, menandakan bahwa pria itu sedang terluka. "Astaga, Anda kenapa
Benar saja, Rangga menyeret Vina dan membawanya kembali ke rumah kosong itu. Dalam keremangan cahaya malam di tempat sepi itu. Aland bisa melihat dengan jelas seseorang sedang membawa Vina pergi. "Brengsek!" Tanpa basa-basi lagi, Aland segera berlari. Ia tidak peduli dadanya terluka dan berdarah. Yang ia lakukan sekarang adalah menyelamatkan Vina. "Emmmmm!" Vina terus berusaha untuk berteriak. Sedangkan Rangga, pria itu sudah geram ingin segera memberi pelajaran kepada mantan istrinya itu. "Diam! Sekarang kamu tidak akan pernah bisa lepas. Dasar perempuan jalang!" kata Rangga tepat di telinga Vina. Wanita itu tidak berdaya. Kekuatan Rangga membuatnya lemas, belum lagi aroma tubuh pria itu yang sangat tidak enak. Aland berlari secepat mungkin dan beruntung pria itu bisa mengejar Rangga yang sedang membawa Vina. "Lepaskan dia brengsek!" Meskipun dalam cahaya gelap gulita. Aland dengan mudah melihat bayangan seseorang yang sedang membawa Vina dengan paksa. Pria itu segera menyeran
Mendengar ucapan Vina. Aland langsung protes sambil menunjukkan bagaimana kondisi tubuhnya saat itu."Kamu tidak lihat! Aku terluka gara-gara kamu dan sekarang kamu nyalahin aku nggak bisa jalan cepat! Dasar wanita, sukanya menyakiti tapi tidak mau tahu!" jawab Aland. Kesal? Tentu saja. Meskipun ia kesal dengan ucapan Aland tapi wanita itu tidak mungkin membiarkan Aland dalam keadaan seperti itu. "Bisa diem nggak sih! Aku tuh lagi nolongin kamu!" sahut Vina. "Nolongin ya nolongin, tapi jangan nyalahin aku dong! Aku kayak gini juga gara-gara kamu. Kalau aku nanti mati, kamu yang harus bertanggungjawab! Aku akan menghantuimu selamanya!" kata Aland tak mau kalah. "Hiiii, terserah aku tidak peduli! Buruan cepetan!" desak Vina sambil terus memegangi tangan Aland. Menemani pria itu hingga Aland mendapatkan pertolongan. Vina yang menyakiti, dia pula yang panik melihat darah keluar banyak dari tubuh pria itu. Entah kebetulan atau memang disengaja. Lengan Aland menyentuh buah melon milik
Hanya dalam hitungan detik, ujung pisau itu telah menembus kain dan kulit luar dada besar Aland, lalu melukai daging dan akhirnya memecah pembuluh darah. Cairan merah pekat mulai mengalir pelan dari ujung pisau yang tertancap itu. Kedua mata mereka saling bertemu. Tak bisa dipungkiri ada getaran-getaran halus yang merambat meskipun hanya lewat tatapan mata. Tangan Vina masih memegang gagang pisau itu. Wanita itu menekan pelan, didorong rasa dendam yang tersisa. Tapi, ia menangis. Sebenarnya bukan seperti ini yang ia harapkan. Di sisi lain, bukannya melawan, Aland justru tersenyum. Ia membiarkan Vina menumpahkan kekesalannya pada dirinya. Ia tahu jika wanita itu sangat lemah dan rapuh. Ujung pisau itu menancap di dada Ramli cukup dalam. Sakit memang, namun ia tahu, itu tidak sebanding dengan sakitnya hati Vina yang ayahnya telah ia bunuh. "Kenapa berhenti? Jika kamu belum puas... Kamu bisa menusuk lagi. Aku ikhlas jika itu membuatmu lega. Atau kamu bisa sekalian membunuhku...!" K
"Ayo kita pergi, tempat ini sangat berbahaya!" Aland langsung melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Vina. Segera pria itu mengajak Vina pergi bersamanya dan membiarkan Rangga tak berdaya di tempat itu. Vina menolaknya, ini tidak mungkin. Aland bukan Ramli. Wanita itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aland adalah Ramli. "Kau! Jangan pernah pegang tanganku brengsek!" Vina segera menepis tangan Aland dan memalingkan wajahnya dengan sinis. Aland sendiri tidak bisa lagi berpura-pura. Sudah cukup ia menyembunyikan identitasnya dari Vina. Sudah waktunya ia mengakhiri semuanya. Ia hanya ingin bahagia bersama Vina dan anak-anaknya. "Jangan menatapku seperti itu! Iya, ini adalah aku. Aland Orlando, Ramli bin Sanusi. Pelayan Bu Vina dan Pak Rangga!" Seperti tersambar petir di siang bolong. Vina terkejut bukan main. Dirinya ditipu mentah-mentah oleh pria itu. Pria yang selama ini sangat ia benci ternyata sudah membodohinya begitu saja. "Kau, Ramli? Enggak, itu nggak mungkin. Kam
Sandra tertawa kecil sambil melihat wajah Vina yang salah tingkah. "Bener kan ucapanku, Mbak?" tanyanya sambil menggoda. Entah kenapa obrolan yang awalnya serius berubah menjadi candaan. "Emmm, iya begitulah!" jawab Vina. "Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, gimana rasanya dengan Ramli? Enak mana
Vina dengan tegas mengatakan itu, baginya sang Papa adalah segalanya. Tak boleh ada orang yang menyakiti sang Papa. Jika itu terjadi maka Vina akan membuat orang itu hancur sehancur-hancurnya. "Papa bangga padamu, Sayang. Kamu memang anak Papa yang paling berharga. Baiklah, Papa tutup dulu telpon
Ramli memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut Vina. Wanita itu masih terhenyak dan tercengang. Hingga tanpa sadar air matanya menetes dan tubuhnya masih mematung. Ramli meletakkan piringnya di atas meja lalu pria itu mengusap air mata yang jatuh di pipi Vina. "Dimakan ya, jangan nangis! Kata orang
"Dih, tinggal jawab aja apa susahnya sih!" sahut Sandra. Semua yang ada di sana dibuat pusing dengan jawaban Ramli. "Hah, sudah, sudah! Ngapain juga mikirin pisangnya Ramli. Nggak usah mikir macam-macam deh kalian, Mbok Yem juga, nggak usah terlalu mikirin omongan si Ramli. Dia itu edyan!" kata E







