LOGINMing Yue mendengus pelan. “Kalau begitu coba saja iris lengan Anda dan buktikan khasiatnya.”
Pria itu mengangkat alisnya, lalu mengeluarkan sebuah belati dari balik jubahnya. Tanpa ragu, ia benar-benar menggores lengannya sendiri. Ming Yue sontak terperanjat, wajahnya berubah kaku, padahal ia sama sekali tidak bermaksud serius dengan perkataannya tadi.
“Apa yang kau lakukan?!” serunya kaget.“Seperti yang Anda katakan, saya sedang memastikan khasiatnya,” sahut tuan Song santai.
Dan saat lengannya yang teriris mengeluarkan darah, pria itu mengambil botol kecil tadi dan meneteskannya. Perlahan, luka di lengannya tertutup kembali dengan sangat cepat. Sedangkan Ming Yue masih terpaku, dia tak menyangka pria itu benar-benar nekat melukai dirinya hanya demi membuktikan ucapannya. Sepertinya orang-orang Song She memang aneh.
“Ternyata memang benar.” Pria itu mengangguk, terlihat mulai percaya. “Ini bisa jadi penemuan yang luar biasa.”
Ming Yue menghela napas panjang, lalu kembali menata ekspresinya agar terlihat tenang seperti biasa.
“Sekarang, bisakah kita bicara tentang kesepakatannya?” tanyanya.“Tentu saja.” Tuan Song menatapnya penuh minat. “Tapi saya ingin tahu, dari mana Anda mendapatkannya? Anda membuatnya sendiri?”
“Itu rahasia bisnis. Tidak bisa kukatakan pada siapa pun.” Ming Yue menjawab tegas, nada suaranya tak memberi celah untuk dibantah.
Tuan Song tertawa kecil. “Benar juga. Kalau begitu, akan saya siapkan kontraknya.” Ia menarik sebuah kertas dari laci meja, bersama pena bulu angsa, lalu mulai menuliskan perjanjian mereka.
Isi kotrak itu jelas, Ming Yue akan memberikan eliksir tersebut secara berkala, meskipun dalam jumlah terbatas. Sebagai gantinya, Ming Yue meminta agar dukungan Song She serta melindungi keluarganya apa pun yang terjadi, dan ia pun akan mendapat keuntungan dari penjualan elixir. Itu syarat yang mudah bagi Song She, karena mereka sendiri diberi keuntungan dengan memiliki elixir langka itu.
“Oh ya satu hal terakhir,” ucap Ming Yue dengan wajah lebih serius. “Jangan berikan pada orang-orang dari istana kekaisaran.”
“Kenapa?”
“Tak bisa kukatakan alasannya. Dan jangan beri label harga yang murah.”
Tuan Song memiringkan kepala sambil tersenyum tipis. “Tentu saja. Benda seberharga ini mungkin akan mencapai 100.000 keping emas.”
Ming Yue terbelalak. “Se–seratus ribu?”
“Kenapa? Keberatan? Atau justru terlalu murah?” Tuan Song terlihat santai, seolah harga itu hanya sebutir kacang baginya.
Ming Yue menggeleng cepat. “Tidak. Terserah kalian bagaimana menjualnya.”
Dalam hatinya, ia tak pernah menyangka bahwa beberapa tetes darahnya bisa dipatok harga setinggi itu. Padahal di kehidupannya yang lalu, darah yang sama harus ia relakan sampai habis, tanpa imbalan apa pun, hanya untuk memenuhi ambisi seseorang.
“Baiklah, kurasa urusanku sudah selesai.” Ming Yue berdiri, hendak pergi.
“Tunggu,” tuan Song menghentikan, lalu pria itu membunyikan lonceng di sampingnya.
Tak lama kemudian muncul seorang petugas toko yang Ming Yue temui sebelumnya.
“Dia Xiao Lin, dia akan jadi pelayan pribadimu, jaminan dariku bahwa seluruh keluargamu akan dilindungi,” ucap tuan Song memberitahu.
Ming Yue menyipitkan mata, lirikan tajam melintas sekilas. ‘Cih, kau pasti hanya ingin memata-mataiku,’ batinnya sinis.
Namun ia tak benar-benar mengatakannya. “Baiklah. Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Song.” Ia menunduk tipis, lalu berbalik meninggalkan ruangan, dengan Xiao Lin mengikuti langkahnya dari belakang.
Tuan Song masih duduk di kursinya. Ia mengangkat botol kecil itu, mengayunkannya perlahan sambil tersenyum samar.
“Hmm, sepertinya seratus ribu keping emas masih terlalu murah.” Tatapannya jatuh pada lengannya yang kini sama sekali tak memiliki bekas luka. Bahkan tabib terbaik pun tak pernah bisa melakukan hal sehebat ini.Dari balik tirai, sosok pria berpakaian serba hitam muncul dan membungkuk hormat. “Tuan, apa Anda yakin dengan kesepakatan ini? Rasanya hanya akan memberikan banyak keuntungan bagi Nona Ming.”
Tatapan Tuan Song berubah tajam. “Kau meragukan pendapatku?”
Pria berpakaian hitam itu langsung menunduk segan. “Tidak tuan, hanya saja-“
“Tidak perlu mempermasalahkan hal ini,” ucap tuan Song menyela dengan tegas.
“Baik tuan.” Bawahannya hanya bisa mengangguk patuh. Namun dalam hati dia bergumam. ‘Baru kali ini kulihat Tuan langsung menerima tawaran kerja sama dengan mudah. Sepertinya obat itu sangat luar biasa.’
Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat
Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb
"Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,
Setelah menceramahi putranya, Qiang Jun kini mengulurkan tangan menarik Qiang Wangyi untuk berdiri.“Jika kau sudah sedikit lebih sadar dengan kesalahanmu, cepatlah kembali ke aula dan minta maaf pada Suli,” perintah Qiang Jun.Qiang Wangyi kembali berdiri tegak, sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. “Nanti saja,” jawabnya, menolak dengan sikap ketus yang masih tersisa. “Aku tidak mau meminta maaf di depan kerumunan orang seperti itu.”Setelah mengatakan itu, Qiang Wangyi berbalik dan melangkah pergi begitu saja.Qiang Jun terdiam di tempat, dengan raut wajah keheranan, tak percaya dengan sikap Putranya itu.‘Astaga. Kenapa anakku bisa sangat menyebalkanseperti ini?’ gumamnya menggerutu dalam hati. Qiang Jun tak sadar dia pun sering kali bersikap persis seperti itu dulu sebelum bertemu dengan Istrinya.Sementara itu, di aula pesta yang masih berlangsung.Bisik-bisik di antara para bangsawan dan pejabat yang hadir masih terdengar, meski berusaha diredam oleh suara musik yang me
Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya. “A-Ayahanda?! Kenapa kau—”Tapi belum sempat bertanya, Qiang Jun sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah pakaian Qiang Wangyi, dan menariknya turun dari dahan pohon.Qiang Wangyi terpelanting, lalu diseret pergi oleh Ayahnya seperti membawa anak kucing jalanan.“Akh!” teriak Qiang Wangyi meringis, sekaligus merasa sesak di leher karena kerah bajunya yang tertarik. Dia meronta-ronta. “Lepaskan aku! Ayahanda, lepaskan!”Di lapangan pelatihan ksatria istana yang luas.Qiang Jun melepas cengkeramannya yang kuat di leher Qiang Wangyi dengan sedikit kasar, hingga pemuda itu tersungkur.“Ugh! Kenapa Ayah tiba-tiba menyeretku ke sini?!” protes Qiang Wangyi. Perlahan bangkit sambil mengusap lehernya yang terasa panas, wajahnya masih merah oleh emosi dan rasa malu.Qiang Jun masih tak menjawab. Dia berjalan dengan menuju rak senjata di sisi lapangan, mengambil dua buah pedang latihan.
Pertanyaan si pejabat tua itu sontak membuat mereka yang mendengarnya di aula istana ikut berbisik-bisik penasaran, seolah baru teringat akan sebuah masalah yang mengambang. Suasana yang tadi riang perlahan bergeser menjadi penuh dengan intrik dan desas-desus.“Benar juga. Kenapa tak diumumkan, ya?” “Tapi bukankah sudah jelas Pangeran Qiang Wangyi yang akan jadi penerus? Dia putra satu-satunya.” “Benar! Hanya dialah satu-satunya putra Kaisar yang sah.”Qiang Wangyi tentu saja mendengar bisikan-bisikan yang membelanya. Wajahnya yang tadi cemberut kini menyunggingkan seringai penuh kemenangan.Pandangannya yang menantang beralih ke arah adik perempuannya. “Kau dengar itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjadi pen—”Belum selesai berbicara dengan nada sombongnya itu, suara lain memotongnya. Sang Kaisar, Qiang Jun, akhirnya bersuara dengan tegas dan penuh wibawa.“Aku masih belum memutuskan, tidak perlu terburu-buru. Penetuan penerus tahta bisa ditunda sampai penerus itu benar-benar lay







