Share

Bab 4

Author: Gekko
last update Last Updated: 2025-09-17 11:38:49

Ming Yue melangkah masuk ke dalam toko pakaian Song Dian, sebuah gedung besar bertingkat dua yang terletak di pusat ibu kota. Toko itu terkenal di kalangan bangsawan, bahkan beberapa anggota keluarga kekaisaran pun kerap datang ke sini.

Kain-kain sutra warna-warni bergelantungan di rak, sementara lampion-lampion giok memantulkan cahaya hangat, menambah kesan mewah. Desain pakaian yang dipajang di etalase sungguh indah, memancarkan aura status tinggi bagi pemakainya.

“Xiao Dai, tolong kau pilih juga pakaian musim dingin untuk para pelayan di kediaman kita,” ucap Ming Yue memerintahkan.

Pelayan muda itu menoleh dengan mata berbinar. “Benarkah? Untuk para pelayan juga, Nona?!” suaranya bergetar penuh haru.

“Benar. Hitung saja semuanya dan berikan pada kasir. Aku yang akan membayar,” jawab Ming Yue santai.

Xiao Dai langsung membungkuk, wajahnya penuh rasa syukur. “Baik, terima kasih banyak, Nona!” katanya gembira.

“Pergilah, aku akan melihat pakaian di lantai dua,” tambah Ming Yue.

Pelayan itu mengangguk lalu pergi mencari pakaian untuk rekan pelayannya di kediaman Ming. Sementara itu, Ming Yue menaiki tangga kayu berukir, menuju lantai kedua, yang mana lebih banyak dikunjungi para bangsawan dan anak pejabat.

Namun alih-alih memilih pakaian, Ming Yue justru berjalan lurus menuju meja kasir yang dijaga seorang pelayan wanita yang masih terlihat muda dan bertanya. “Permisi, saya ingin memesan pakaian model ‘She’ sekarang, apa bisa?”

Penjaga kasir bernama Xiao Lin itu tersentak. Tangannya yang sedang menata kertas catatan hampir jatuh. Ia buru-buru menoleh kanan-kiri, memastikan tidak ada telinga asing yang mendengar.

Dengan suara rendah ia berbisik, “N-nona, apa Anda tahu maksud ‘pesanan’ Anda?” tanyanya memastikan.

Ming Yue mengangguk yakin. “Tentu saja, dan aku ingin pesananku selesai sekarang,” desaknya dengan tegas.

Xiao Lin terdiam sesaat, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah. Ikuti saya.”

Tanpa banyak bicara, ia melangkah cepat. Ming Yue mengikutinya melewati deretan rak kain, lalu masuk ke ruang ganti pakaian yang tampak biasa saja. Namun di balik cermin tinggi, terdapat sebuah pintu rahasia. Xiao Lin mendorongnya, memperlihatkan lorong yang cukup panjang.

Lorong itu berkelok-kelok, empat kali belokan yang saling menyerupai. Udara di dalamnya lembap, suara langkah kaki mereka bergema di sepanjang jalan. Ming Yue berusaha menghafal setiap belokan dengan cermat, pikirannya penuh kewaspadaan.

Sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu kayu berwarna biru tua. Xiao Lin berhenti. “Silakan masuk, Nona.” Ia membuka pintu.

Ming Yue melangkah masuk tanpa ragu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan mewah yang kontras dengan lorong gelap tadi.

Di tengah ruangan, sebuah meja kayu hitam berukir naga berdiri megah. Di balik meja itu duduk seseorang berjubah hitam, dengan topeng yang menutupi mata hingga dahinya. Sosok itu memancarkan aura misterius dan berbahaya.

“Selamat datang. Silakan duduk, Nona muda Ming,” ucap seorang pria itu menyambutnya dengan santai.

Ming Yue duduk di kursi berhadapannya, sorot matanya menyipit. ‘Kupikir pemimpinnya perempuan. Apakah ingatanku keliru?’ batinnya tertegun.

Orang yang ia temui adalah pemimpin organisasi Song She, jaringan pedagang raksasa yang mendominasi perekonomian kekaisaran, mulai dari pakaian, perhiasan, restoran dan masih banyak lagi. Namun di balik gemerlap bisnisnya, Song She juga menguasai perdagangan informasi, jasa perlindungan, bahkan pembunuhan secara diam-diam.

Di kehidupan sebelumnya, Qiang Yuze berhasil menaklukkan benua berkat dukungan besar dari Song She. Dan kali ini, Ming Yue berniat merebut kekuatan itu terlebih dahulu.

“Bagaimana Anda bisa tahu kode itu, Nona?” tanya pria berjubah hitam itu, suaranya berat namun penuh selidik. “Sangat jarang ada orang yang mengetahuinya.”

Kode yang dimaksud adalah kata ‘She’ yang Ming Yue sebutkan sebelumnya, kata rahasia yang hanya segelintir orang tahu, kunci untuk bisa bertemu langsung dengan pemimpin Song She.

“Kalau kau ingin tahu, buka dulu topengmu. Kau sendiri tahu siapa aku,” jawab Ming Yue dengan penuh percaya diri, menolak  untuk menjawab.

Pria itu terdiam sesaat, lalu terdengar tawa kecil dari balik topengnya. “Baiklah, saya tidak akan bertanya lebih jauh. Jadi, ada urusan apa Anda ingin bertemu dengan saya?”

“Sebelumnya, dengan apa aku harus memanggilmu, Tuan pemilik Song She?” Ming Yue balik bertanya.

“Panggil saja saya tuan Song.”

“Baiklah tuan Song, saya kemari ingin mengajukan penawaran.”

“Penawaran apa?” sahut tuan Song sedikit tertarik untuk mendengar.

Ming Yue kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil yang ia sembunyikan di balik lengan pakaian, dan meletakkannya di atas meja.

“Ini adalah elixir yang dapat menyembuhkan segala penyakit kronis atau luka. Seseorang yang sekarat pun perlahan bisa pulih dengan adanya benda ini,” ucapnya menjelaskan.

Ruangan mendadak hening. Tuan Song menatap botol itu di balik topengnya, seolah mempertimbangkan. Beberapa saat kemudian ia berkata, “Bagaimana saya bisa percaya? Tidak ada obat yang seperti itu di dunia ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 244

    Qiang Suli terdiam sejenak, alisnya mengernyit bingung. "Aku melarikan diri? Sungguh?""Iya. Kau menghilang tiga belas tahun lalu," jelas Ming Yue, ikut heran dengan reaksi."Aku hanya tau ibu adalah orang tuaku dan semua orang di istana. Aku tidak ingat bagaimana aku hilang," jawab Qiang Suli.Ming Yue menghela napas panjang. 'Ternyata dia tidak ingat,' pikirnya dengan perasaan pasrah yang bercampur kecewa. Lalu Ming Yue mengubah pertanyaannya lagi, mencoba pendekatan yang berbeda."Kalau begitu, bagaimana dengan gurumu? Kau bilang punya seorang guru yang merawatmu, kan? Seperti apa orangnya? Berasal dari mana?"Qiang Suli terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu. "Dia—"Tapi belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan pribadi Ming Yue, tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh."Yang Mulia!"Mereka refleks menoleh."Ada apa, Xin Yan?" tanya Ming Yue.Xin Yan datang dengan napas terengah-engah. "Saya baru dapat laporan. Di ibu kota, beberapa bangsawan dan pejabat

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 243

    Mendengar pernyataan adiknya yang bagai petir di siang bolong, Qiang Wangyi seketika melotot tajam padanya.“Menyerahkan tahta?!” desisnya, dengan suara rendah penuh ancaman. Tanpa pikir panjang, Qiang Wangyi mencengkeram kerah pakaian Qiang Suli. “Jadi kau juga mengincarnya? Sudah kuduga kau pasti yang menghasut Ayahanda!” bentaknya.Qiang Suli masih terlihat tenang di tengah cengkeraman kasar itu. Bahkan, ia tertawa pelan, seolah mengejek. “Kau bilang aku bisa minta apapun. Itulah permintaanku.”Tak kuasa menahan kekesalan dan kemarahan, Qiang Wangyi melempar tubuh adiknya itu ke atas kasur di belakangnya.“Kau bisa meminta apa pun kecuali yang satu itu! Atau kau memang ingin menantangku, hah?!” geram Qiang Wangyi.Qiang Suli sedikit terbentur dengan tiang tempat tidur kayu yang keras dan meringis sebentar. Namun, bukannya kesal atau takut, ia kembali tertawa, suaranya terdengar seperti cemoohan halus.“Astaga. Hanya sedikit bercanda, kau sudah terpancing seperti itu,” katanya samb

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 242

    "Sepertinya menyenangkan. Tapi aku harus dapat izin dari ayahanda," jawab Qiang Suli.Mendengar hal itu, Ming Hyun baru tersadar."Benar juga. Kaisar yang sangat posesif itu pasti tidak akan mudah mengizinkannya," gerutunya dengan helaan napas panjang.Qiang Suli hanya tersenyum tipis. "Tidak apa. Nanti akan kuusahakan. Ayahanda selalu mendengarkan permintaanku.""Aku mungkin bisa ikut, Ming Hyun. Asalkan paman Beiye juga ikut menjagaku," celetuk Qiang Ruxia di sampingnya.Ming Hyun mendelik tajam ke arahnya. "Siapa bilang aku mau mengajakmu juga? Aku hanya menawarkannya pada Kak Suli."Seketika, wajah Qiang Ruxia yang ceria berubah datar. Rahangnya menegang, menahan gelembung emosi yang mendidih. Tidak, dia tak bisa menahan lagi. Dengan gerakan cepat, kakinya menyepak punggung Ming Hyun dengan keras.Bugh!"Sialan! Kau bukan temanku lagi!" umpat Qiang Ruxia. Lalu merangkul lengan Qiang Suli. "Ayo, Kak. Kita tinggalkan pria brengsek seperti itu."Ming Hyun perlahan bangkit dari tanah,

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 241

    Setelah menceramahi putranya, Qiang Jun kini mengulurkan tangan menarik Qiang Wangyi untuk berdiri.“Jika kau sudah sedikit lebih sadar dengan kesalahanmu, cepatlah kembali ke aula dan minta maaf pada Suli,” perintah Qiang Jun.Qiang Wangyi kembali berdiri tegak, sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu. “Nanti saja,” jawabnya, menolak dengan sikap ketus yang masih tersisa. “Aku tidak mau meminta maaf di depan kerumunan orang seperti itu.”Setelah mengatakan itu, Qiang Wangyi berbalik dan melangkah pergi begitu saja.Qiang Jun terdiam di tempat, dengan raut wajah keheranan, tak percaya dengan sikap Putranya itu.‘Astaga. Kenapa anakku bisa sangat menyebalkanseperti ini?’ gumamnya menggerutu dalam hati. Qiang Jun tak sadar dia pun sering kali bersikap persis seperti itu dulu sebelum bertemu dengan Istrinya.Sementara itu, di aula pesta yang masih berlangsung.Bisik-bisik di antara para bangsawan dan pejabat yang hadir masih terdengar, meski berusaha diredam oleh suara musik yang me

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 240

    Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya. “A-Ayahanda?! Kenapa kau—”Tapi belum sempat bertanya, Qiang Jun sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan cepat, dia meraih kerah pakaian Qiang Wangyi, dan menariknya turun dari dahan pohon.Qiang Wangyi terpelanting, lalu diseret pergi oleh Ayahnya seperti membawa anak kucing jalanan.“Akh!” teriak Qiang Wangyi meringis, sekaligus merasa sesak di leher karena kerah bajunya yang tertarik. Dia meronta-ronta. “Lepaskan aku! Ayahanda, lepaskan!”Di lapangan pelatihan ksatria istana yang luas.Qiang Jun melepas cengkeramannya yang kuat di leher Qiang Wangyi dengan sedikit kasar, hingga pemuda itu tersungkur.“Ugh! Kenapa Ayah tiba-tiba menyeretku ke sini?!” protes Qiang Wangyi. Perlahan bangkit sambil mengusap lehernya yang terasa panas, wajahnya masih merah oleh emosi dan rasa malu.Qiang Jun masih tak menjawab. Dia berjalan dengan menuju rak senjata di sisi lapangan, mengambil dua buah pedang latihan.

  • Kehidupan Kedua: Istri Pangeran Cacat Menuntut Balas   Bab 239

    Pertanyaan si pejabat tua itu sontak membuat mereka yang mendengarnya di aula istana ikut berbisik-bisik penasaran, seolah baru teringat akan sebuah masalah yang mengambang. Suasana yang tadi riang perlahan bergeser menjadi penuh dengan intrik dan desas-desus.“Benar juga. Kenapa tak diumumkan, ya?” “Tapi bukankah sudah jelas Pangeran Qiang Wangyi yang akan jadi penerus? Dia putra satu-satunya.” “Benar! Hanya dialah satu-satunya putra Kaisar yang sah.”Qiang Wangyi tentu saja mendengar bisikan-bisikan yang membelanya. Wajahnya yang tadi cemberut kini menyunggingkan seringai penuh kemenangan.Pandangannya yang menantang beralih ke arah adik perempuannya. “Kau dengar itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjadi pen—”Belum selesai berbicara dengan nada sombongnya itu, suara lain memotongnya. Sang Kaisar, Qiang Jun, akhirnya bersuara dengan tegas dan penuh wibawa.“Aku masih belum memutuskan, tidak perlu terburu-buru. Penetuan penerus tahta bisa ditunda sampai penerus itu benar-benar lay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status